Rainy (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 15 January 2016

Namaku Rainy. Dalam bahasa Indonesia artinya berhujan. Ibuku bercerita bahwa ketika aku dan adik kembarku akan lahir, hari sedang sangat panas terik dan ia sangat ingin hujan datang. Karena itulah aku dinamakan Rainy. Aku memang tidak seperti adikku yang mampu mengolah kalkulus dan memahami taksonomi dengan mudahnya tanpa harus mempelajarinya dengan konsentrasi tingkat tinggi.

Tetapi hidupku selama dua belas tahun bersekolah tidaklah sesuram namaku. Aku adalah bintang yang selalu dipuja-puji karena wajah ganteng, suara emas, dan petikan gitar mautku oleh setiap gadis di sekolah. Namun begitu kami beranjak dewasa, hidupku tak secerah ketika aku lahir dan tidak seterang ketika aku bersekolah. Gelap berawan dan terasa lembab, layaknya rainy yang sesungguhnya.

Aku terlalu asyik dengan band-ku sampai tidak memikirkan masa depanku sendiri. Satu per satu personil band-ku mulai undur diri untuk melanjutkan hidupnya ke arah yang lebih serius. Ada yang kuliah, ada yang kerja, bahkan ada yang memulai keluarga baru. Selama empat tahun, aku benar-benar hanyalah cowok sampah yang menguras uang orangtuaku untuk kebutuhan yang tidak bermanfaat sama sekali bagi masa depanku. Sedangkan adik kembarku telah lulus sebagai seorang sarjana kedokteran dan sedang menjalani coasnya demi hidup yang jelas lebih cerah dariku.

Kemudian, hal yang selama ini tidak ku duga akhirnya datang. Begitu kepergian adikku dari rumah untuk melanjutkan studi prakteknya, perlakuan kedua orangtuaku mulai berubah terhadapku. Ayahku jadi lebih sering memanggilku atau menyuruhku melakukan sesuatu dengan bentakan dan tidak lupa diakhiri dengan umpatan sadis yang menyayat hati. Ibuku mulai sering tidak berada di rumah. Ia lebih sering menghabiskan waktu luangnya bersama teman-temannya, dan hampir setiap hari pergi makan di restoran luar rumah bersama ayahku tanpa menyediakan makanan, bahkan makanan mentah, apa pun di rumah.

Aku terpaksa harus menguras tabunganku perlahan-lahan hanya untuk membeli nasi bungkus atau makanan instan untuk menghemat. Mereka bahkan tidak mau berbicara ataupun menegurku sama sekali. Namun ketika adikku pulang sekedar untuk melihat keadaan kami, semuanya mendadak berubah. Hidangan super lezat khas restoran mewah tersedia di atas meja, ayahku mengajaknya refreshing ke kota, ibuku seharian di rumah dan membuat kue-kue kering yang dibuatnya untuk oleh-oleh kepada teman-teman adikku, dan dia juga disuruh bicara mengenai banyak hal mulai dari awal makan malam sampai larut hampir subuh. Tak lupa, orangtuaku sesekali menyentilku di sela-sela pembicaraan mereka.

“..enggak kayak Rainy.”
“…bukan Rainy banget.”
“Rainy mana bisa gitu…” dan sebagainya.

Mereka kemudian membahas-bahas arti dari nama panggilan kami. Sunny yang dibaca Sanni memiliki suku kata pertama yang bunyinya sama dengan Son yang artinya anak laki-laki. Sedangkan Rainy yang dibaca Rayni, tidak memiliki makna apa pun. Sama seperti kenyataannya, seorang Rainy tidak memiliki makna apa pun bagi siapa pun. Awalnya aku hanya terus bersabar melihat tingkah orangtuaku dan mendengar ocehan mereka yang selalu pedas terhadapku. Aku menyadari aku memang bukan apa-apa dibandingkan adikku dan patut disalahkan karena menyia-nyiakan waktu serta uang selama empat tahun lamanya.

Adikku juga tidaklah kejam seperti perlakuan orangtuaku. Setiap dua kali seminggu ia selalu menghubungiku dan menanyakan kabarku. Ia membantuku mencari lowongan pekerjaan yang sesuai dengan bidangku. Ia begitu memperhatikanku. Tetapi sampai pada suatu hari, kekasaran kedua orangtuaku menjadi-jadi, membuat batas kesabaranku jebol dan melupakan keramahan yang diberikan oleh adikku.

Dua hari sebelum tahun baru ketika keluarga kami sedang berkumpul bersama keluarga besar untuk mengadakan acara kumpul akhir tahun bersama, aku melihat adikku tertawa bahagia di tengah anggota keluarga yang ada. Tanpa sengaja, aku berdoa untuk kematian adikku. “Seandainya Adikku tak ada di dunia ini.” Ucapku dalam hati dengan suara yang miris dan penuh dendam. Dan tepat pada pagi tahun baru ketika hujan begitu derasnya membasahi bumi, doaku terkabul. Adikku meninggalkan aku beserta keluargaku untuk selamanya.

Ketika perjalanan pulang dari acara kumpul bersama keluarga, kami sekeluarga mengalami kecelakaan parah. Kedua orangtuaku selamat dan hanya mengalami lecet di beberapa tempat yang tidak fatal. Sedangkan aku beserta adikku mengalai kondisi kritis. Sebelah paru-paru dan hati adikku rusak total karena tertusuk pasak besi, kemudian aku mengalami jantung bocor karena tertusuk patahan dari tulang rusukku.

Sehari setelah kejadian, adikku bertahan melawan sakit yang dialaminya dan aku entah mengapa bisa hidup dengan jantung setengah mesin. Namun pada saat malam harinya, tubuh kami mulai berulah. Adikku mengalami kejang-kejang oleh karena reaksi bakteri tetanus dari besi yang menusuknya. Sedangkan di sisi lain, mesin pembantu jantungku mendadak malfungsi. Di malam tahun baru yang seharusnya membahagiakan dimana semua orang berharap agar tahun baru menjadi tahun yang lebih baik dari sebelumnya, kami berdua menunjukkan tanda-tanda kematian.

Dokter menganjurkan kepada orangtua kami untuk segera melakukan transplantasi. Keuntungan besar bisa diambil karena kami adalah kembar identik dan resiko pasca operasi sangatlah minim. Hanya dengan menyumbangkan organ yang bagus dari salah satu tubuh untuk melengkapi kekurangan pada tubuh yang lainnya, salah satu di antara kami bisa selamat untuk bertahan hidup.

Karena begitu panik dan sangat putus asa, kedua orangtuaku mengiyakan semua anjuran dokter asalakan bisa mendapatkan hasil terbaik. Dengan berbagai alasan tertentu, dokter memutuskan untuk menukar jantung kami dengan harapan agar aku terselamatkan. Pemasangan jantung adikku ke tubuhku berlangsung sukses tanpa ada kendala. Dan sesuai perkiraan, tak lama setelah jantungku berhasil dipasang pada adikku, ia meninggal dengan penuh derita.

Orangtuaku begitu sedih atas kepergian adikku sampai lupa untuk menjahatiku seperti biasanya. Jangankan menjahatiku, mereka bahkan lupa untuk mengabari keluarga besar kami serta pihak-pihak lain yang wajib tahu atas kepergian adikku. Yang mereka lakukan setiap hari adalah meratapi barang-barang peninggalan adikku dan menangis sejadi-jadinya. Tentu saja aku marah dan aku sangat kesal melihat mereka terus meratapi orang mati. Tetapi sungguh, aku kecewa atas keinginanku yang tidak beralasan dan menyesal atas doaku yang sebenarnya tidak ingin ku ucapkan. Namun aku bukanlah dilahirkan sebagai pria pemurung yang akan putus asa terhadap apa yang dialami. Aku tak ingin lagi menyia-nyiakan kesempatan hidup yang telah diberikan adikku kepadaku.

Tanpa kenal lelah dan letih, aku mempelajari semua buku-buku kedokteran dan catatan-catatan yang ditinggalkan adikku. Seluruh laporan tugasnya dan semua rekaman pelajarannya, semuanya ku rekam di dalam otakku. Aku tahu ilmu kedokteran lebih sulit daripada aljabar yang selama ini tidak pernah tercerna dalam otakku, tetapi entah mengapa semuanya menjadi sangat mudah ku pahami dan cepat ku ingat. Di luar dugaan, dalam waktu satu bulan aku merasa berhasil menjadi pengganti adikku.

Sampai menundukkan kepala aku memohon pada dosen-dosen universitas di tempat adikku kuliah untuk meminta maaf atas ketidakhadiranku selama sebulan lebih karena alasan sakit parah, namun tidak memberikan surat keterangan apa pun pada pihak fakultas. Aku juga memohon pada mereka untuk mengujiku ulang dalam tes tertulis, memperpanjang masa coas sebagai ganti kepergianku dan bersedia untuk diluluskan belakangan daripada teman sejawat seangkatanku sebagai kesungguhan dari penyesalanku. Tapi keajaiban datang padaku dan para dosen tidak memberikanku hukuman apa pun. Aku tetap diizinkan untuk melakukan tes tertulis dan mendapatkan nilai A untuk seluruh mata kuliah.

Setelah memberikan hasil ujian yang sangat memuaskan tersebut, aku bersujud di bawah kedua kaki orangtuaku agar mengizinkanku untuk menjadi pengganti adikku sebagai tebusan atas empat tahun hidupku yang ku sia-siakan dan sebagai hukuman atas harapanku yang membunuh adikku. Awalnya mereka diam saja melihat permohonanku yang sudah di luar batas pemikiran orang waras.

Namun aku terus membujuk mereka, aku menunjukkan niatku yang sungguh besar dengan suara serak yang lantang dan sambil menangis aku berkata bahwa biarlah dunia menganggap bahwa “Rainy”-lah yang telah mati. Dan berkat tekadku yang sangat gigih itu, saat ini sudah dua tahun aku resmi menjadi sosok yang menyandang gelar yang paling dicita-citakan semua anak ketika mereka masih bermain setiap harinya. Dokter Sunny, si spesialis heart beat maker, begitulah aku dikenal di bumi ini.

“Dok, pasien kesayangan dokter masuk lagi kemarin. Saya lihat seharian dia cemberut saja. Pasti dokter belum mengunjunginya, ya kan?”

Seorang suster tiba-tiba membuka topik yang asing ku dengar sebagai sarapanku pagi ini. Aku mencoba mengingat siapa saja pasien langgananku yang selama ini selalu ku tangani dengan hati-hati dan ku sayangi sebagai anggota keluargaku sendiri. Seingatku hanya ada satu pasien yang selalu cemberut bila aku tidak mengunjunginya sebelum ia tidur atau berniat meninggalkan rumah sakit. Tetapi pasien itu…

“Bu Marijah?” kataku cepat tanpa berpikir lagi karena begitu penasaran. Dengan spontan suster yang cukup berumur itu memukul pundakku.
“Hush! Tidak boleh sebut-sebut orang yang sudah pergi untuk candaan!” katanya dengan kesal. “Itu loh dok, pasien kesayangan dokter yang buat dokter dijuluki spesialis pembuat jantung berdebar-debar sejak awal masuk coas dulu.” Sambungnya lagi dan membuatku semakin merasa asing.

Aku hanya sempat coas selama satu tahun karena menyambung studi yang sedang dijalankan adikku dan empat tahun aku menjalani studi lanjutan untuk mengambil gelar spesialis jantung. Kalau pun pasien itu datang di saat aku yang sedang menjalani coas, mana mungkin aku mengingat kejadian lima tahun yang lalu kan? Dan seingatku, aku pertama kali dijuluki sebagai spesialis pembuat jantung berdebar-debar oleh seorang pasien bapak-bapak, selamat dari operasi yang ku lakukan, menyebutku sebagai dokter ganteng yang membuat berdebar-debar.

“Ya, ampun dok! Masa dokter lupa? Padahal waktu itu dokter cerita kalau namanya sama dengan nama kakak dokter! Aduh… siapa namanya ya? Namanya inggris-inggris gituloh dok!” sahut suster itu lagi membuyarkan nostalgia singkatku. Tapi tunggu dulu. Nama kakakku? Maksudku, kakak Sunny? Aku?
“Ra-Rainy?”
“Ya, ya! Namanya Rainy!” seru suster itu begitu ku sebutkan namaku dengan canggung.

Dengan penuh penasaran aku langsung mengunjungi pasien itu sambil berjanji akan membayar hutang kunjungan rutinku yang ku lakukan setiap pagi pada pasien lain. Dengan alasan bahwa ingin mengecek ulang statusnya, tanpa ragu aku melangkahkan kaki menjuju kamar di tempat si “Rainy” itu dirawat inap. Ajaibnya, aku punya keycard kamar pasien itu dari titipan orangtuanya untuk ku gunakan kapan pun ku butuhkan. Aku memang belum mengenal siapa dia, tapi tanpa segan aku langsung menggunakan keycard itu dan membuka kamar tanpa sebelumnya mengetuk pintu. Padahal perasaanku bilang kalau dia adalah perempuan dan setidaknya aku harus sedikit memberinya privasi. Apalagi dia dirawat di vvip room.

Sketsaku tentang seorang gadis muda bandel yang memiliki rambut berpotongan bob berwarna pirang canggung, kulit pucat yang dipenuhi plester hansaplast di titik-titik strategis, serta raut wajah cemberut yang minta dimanja, hilang tertiup angin yang datang entah dari mana dan tergantikan oleh sesosok gadis dewasa yang begitu ayu seperti putri keraton. Rambut hitam legam yang panjang lurus, kulit putih langsat yang mulus, serta wajah berseri-seri, semuanya membuat napasku tercekat seketika. Ini pertama kalinya aku bertemu dengannya tapi aku seperti melihat perubahan yang begitu drastis terhadapnya.

“Yo, dokter!” Sapanya dan membuatku ingin segera mencubit pipinya. Namun ternyata itu cuma suara asing dari kepalaku. Nyatanya, sedari tadi dia hanya melirikku dan mengamatiku yang sedang mengecek status kesehatannya tanpa berkomentar apa pun.

“Kenapa kamu tidak ribut seperti biasanya?” tanyaku untuk memecah keheningan. Gadis itu sedikit kaget dan tersenyum begitu lebar untuk menahan tangisnya yang hampir pecah. Dan aku merasa kaget juga. Dari mana aku tahu kalau biasanya ribut? Dengan tampang kemayu seperti ini, sepertinya sangat asing bila dia adalah gadis lasak seperti yang dicitrakan oleh kalimatku tadi. “Ternyata dokter masih ingat aku.” Katanya tiba-tiba, membuyarkan kebingunganku. Aku tersenyum saja dan mengacak-acak rambutnya sebagai responku.

“Ternyata dokter tidak berubah.” Katanya lagi dengan girang.

Bersambung

Cerpen Karangan: Arthamy
Facebook: Arthemis Amy
Nama: Arthemis Amy
Tempat lahir dan tempat tinggal saat ini: Medan
Status: Single, dan mencoba untuk terus menjomblo sampai di saat yang tepat
Biografi singkat: Seorang mahasiswa yang sedang berjuang mendapatkan gelar abadi dari profesi yang paling diidamkan banyak orang dan masih mencoba membiasakan diri dengan hari-hari penuh perputaran antara kematian dan kehidupan. Seorang gadis biasa yang menginginkan cerita cintanya seperti komik dan novel fiksi romantis remaja.

Cerpen Rainy (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Suami Baru

Oleh:
Shania, 24 tahun, wanita yang baik dan patuh pada permintaan kedua mertuanya. Dia hanya bisa keluar rumah jika bertemu ibu atau adiknya, Emira. Shania saat ini sedang di rundung

Cemara Kecil Untuk Ibu

Oleh:
Aku memandang ibu dengan gelisah. Beliau terbaring lemas di ranjang kamar tidur sembari sesekali terbatuk kecil. Sekarang giliran aku memandang bapak penuh harapan. Mata ayah sayu, dan terlihat merah

Hidupku Adalah Warnanya (Part 1)

Oleh:
Orang bilang aku aneh, ya memang Aku akui pendapat mereka, karena aku memang aneh, Aku memiliki dua bola mata yang berbeda warna, kiri coklat, sedangkan yang kanan hitam, itu

Lilin 17 Tahun Ku (Part 2)

Oleh:
Tak terasa alarm di ponselku sudah berdering. Itu menunjukkan bahwa sudah pukul 04.00 WIB. Ini memang sudah menjadi kebiasaanku bangun jam 4 pagi. Aktivitas yang aku lakukan saat masih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *