Raisya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 25 July 2014

Raisyaaa, semua karenamu
“Raisyaaa.. Raisyaaa” panggil wanita tua di hadapan Raisya.
Seolah tak menggubris, Raisya hanya terdiam kaku, bibirnya terkatup, dan matanya tertutup. Suasana sunyi, yang terdengar hanya kicauan burung kacer bernyanyi tanpa melodi.
“Raisyaaa.. Raisyaa” sahutan itu kembali menghujam panca indera Raisya. Egois memang, jika tetap menyahut walau tak disahut. Tapi entah kenapa, sahutan demi sahutan tak kunjung membangunkan Raisya.
“Naaak. Bangun nak..” kali ini wanita tua itu mencoba mengguncang-guncangkan tubuh mungil berusia 12 tahun itu. Berharap Raisya dapat merespon panggilannya.
Sang wanita tua mencoba mencari urat nadi Raisya, ditekan pelan pergelangan tangan Raisya, ya ternyata masih bersuara. Telinganya mencoba mendekati tempat degup jantung Raisya, untuk berharap masih berbunyi. Ya, cara itu berhasil. Dia mendengar detak jantung Rasya.
“Raisyaa, kenapa kamu naak, kenapa tiba-tiba kamu pingsan?” cetus wanita itu mengusap kepala Raisya yang masih tak sadar dengan lembut.

Wanita tua itu, melangkahkan kakinya menuju laci meja belajar Raisya, meraih sebuah botol kecil, berisi air. Dengan langkah tergopoh, dia kembali menuju ranjang Raisya. Botol kecil itu dibuka, dan diarahkan ke telapak tangannya. Telapak tangan yang sudah mengerut itu diusap halus ke kepala dan ke hidung Raisya. Dia masih tetap tersedu dalam kesunyian suasana. Seolah-olah ada suatu beban yang membuatnya tak berdaya.
“Hughh..” desahan napas pendek itu, keluar dari mulut mungil Raisya, diikuti gerakan tangannya mencoba mencari-cari sesuatu.
“Ibuu” lanjutnya pelan dan berangsur mulai membuka mata.
“Iyaa nak” raih wanita tua itu menitih Raisya untuk duduk. Tangannya di pundak Raisya, dan matanya melirik sedu.
“Buu.. Maafin Raisya”
“Maaf kenapa naak?”
“Raisya udah ngerepotin Ibu” sahutnya menatap wajah wanita tua itu iba.
“Nak. Gak usah pikiran itu, Ibu ini orangtuamu, sudah seharusnya ibu mengurusmu, menjagamu, dan tetap di sampingmu apapun itu saatnya.”
“Iya buu. Raisya tau. Tapi sudah berkali-kali Raisya merepotkan Ibu, membuat Ibu panik karena kondisi fisik Raisya. Raisya yang tak sempurna tanpa kaki yang utuh sudah keterlaluan mengganggu Ibu. Raisya bosaaan bu, bosaaaan” tangis pecah belah mengikuti nada suara Raisya.
“Sudah naaak. Sudah.. Ibu gak mau dengar kata-kata itu lagi” sahutnya memalingkan wajah.
“Ibu, Raisya bosan dengan keadaan ini, Raisya gak punya kaki, Raisya penyakitan. Raisyaa. Raisyaa gak seperti teman seusia lainnya. Raisya pengen seperti Jihan, Cinta, Ana, Meida dan Rita itu buu. Raisya ingin seperti mereka.” jejahnya sambil memplitir bantal di atas pahanya.
Wanita tua itu hanya terdiam mendengar curahan hati anaknya. Dia bukan diam seutuhnya, tapi memikirkan apa yang bisa dilakukannya untuk mewujudkan keinginan Raisya. Dia semakin terpukul karena keadaan, keadaan miskin yang membuat Raisya lahir cacat tidak sama seperti anak-anak kebanyakan. Waktu kecilnya, habis dengan air mata dan derita. Raisya lahir tanpa ayah, karena ayahnya pergi meninggalkan ibunya jauh hari sebelum kelahiran Raisya. Di gubuk tua beratap jerami, berdinding kayu, dan berlantai tanah Raisya besar, sudah 12 tahun, 144 bulan, Raisya menghabiskan waktunya. Sang Ibu, punya keinginan besar untuk menyekolahkan Raisya, namun setiap sekolah yang ditujunya, selalu menolak keadaan fisik dan keadaan ekonomi Raisya.
“Ibuuu kenapa Ibu diam? Beri Raisya kebahagiaan buuu” tangis Raisya semakin menjadi-jadi.
“Nak. Di dunia ini hidup ratusan juta manusia, satu pun manusia itu tidak ada diciptakan sempurna fisiknya oleh Tuhan, ada yang punya kaki tapi tak bisa melangkah ke tempat yang baik, ada yang punya tangan hanya digunakan untuk hal yang tak perlu, ada pun yang punya mata hanya dipakai untuk melihat hal yang buruk. Setiap manusia itu selalu memiliki kekurangan, yang sempurna itu hanya satu nak, Tuhan. Zat yang menciptakan Ibu, Raisya, dan manusia lainnya. Orang fisiknya bagus kalau hatinya jelek tetap aja jelek nak” sergahnya berharap Raisya mengerti.
“Buu, pokoknya Raisya gak mau tau. Raisya pengen mati aja sekalian bu. Raisya lahir penuh kekurangan tanpa kelebihan. Raisya benci Raisya” omelnya mulai memukul dirinya sendiri.
“Pukul ibu nak kalau kamu marah, pukul ibu, pukul! Ibu ya salah! Ibu jadi orangtua yang gak berguna, tidak dapat beriin kamu kesenangan, tidak dapat memberimu kebahagiaan. Maafin ibu naaak, maaf” ucap wanita tua itu menggapai tangan Raisya dan menciumnya.

Kali ini Raisya hanya bisa diam. Dia tak bersuara, mungkin dia merasa bersalah sudah membuat ibunya bersedih lagi. Dia tak mau merespon, keadaan kembali sunyi. Raisya memperbaiki badannya untuk kembali tidur. Sang ibu tanpa diminta membantu Raisya, menyelimuti Raisya dan mengusap rambut Raisya hingga Raisya terlelap.

Sudah seharian Raisya belum makan. Dia terus merintih kesakitan memegang perut. Sang ibu memang sudah tua umurnya sudah menginjak 56 tahun, pahit getir kehidupan sudah dirasakan puluhan tahun, dia sudah kebal dengan rasa susah. Tapi tidak untuk Raisya, gadis yang masih belum bisa menerimaan keadaan, terus merintih kesakitan.
“Buu, Raisya lapar..” sahutnya semakin menjadi.
“Iya nak, Ibu belum dapat cucian nak, beras kemaren juga habis nak. Raisya sabar dulu ya sayang,” sahutnya menatap Raisya iba.
“Iya bu. Raisya paham. Ibu Raisya boleh minta sesuatu gak bu”
“Apa nak?” tanya Ibunya bingung.
“Raisya benar-benar bosan hidup buu. Raisya pengen mati aja bu. Sekarang Ibu gak usah mikirin Raisya makan apa. Raisya pengen mati, walaupun mati dengan kelaparan” pernyataannya penuh tekanan.
Sang ibu kaget, aliran darahnya terasa berhenti ketika mendengar pernyataan sang anak yang sangat kejam, hatinya terasa teriris. Dengan langkah sigap, dia berlari keluar, tanpa merespon pernyataan Raisya.
“Ibu. Saya boleh ngutang bu. Anak saya belum makan, nanti sore saya bayar bu setelah saya dapat setoran nyuci.” pinta Ibu Raisya menghampiri warung nasi Bi Atik.
“Kamu yakin kamu bisa bayar? Memangnya kamu ada uang” liriknya menatap Ibu Raisya sinis.
“Iya bu, saya janji. Ketika setoran dapat saya langsung bayar kesini bu.
“Baiklah” jawab Bi Atik singkat dan berangsur membungkus nasi pesanan Ibu Raisya.
Ibu Raisya terlihat agak merona, dan berlari menuju rumahnya.

“Raisyaa.. Raisyaa, ini naaak Ibu bawa makanan” sahutnya tergopoh-gopoh diiringi langkahnya.
Dia kaget ketika menemui Raisya tergeletak di lantai. Dia menangis histeris, suaranya memang keras, tapi tak satu pun tetangga memperdulikannya. Itu karena perbedaan yang membuat keluarganya dibedakan. Sang ibu, menggendong Raisya berbaring di kasur. Tetesan demi tetesan air mata, tergerus mengalir di pipinya. Berkali-kali dia memanggil nama Raisya dan berulang dia mengusapkan air di botol ke kepala dan ke hidung Raisya.
Raisya masih tak merespon.

Hingga sore menjelang, Ibu Raisya masih tetap berada di samping Raisya.
Tiba-tiba saja jemari Raisya bergerak. Dia kembali merintih kelaparan.
Sang ibu, jalan seperti Raisya menuju bagian luar untuk mengambil bungkusan nasi. Dia tidak berjalan, malah menggeser-geserkan badannya ke lantai. Seperti apa pergi seperti itu dia datang. Raisya yang berada di dipan, kaget melihat tingkah ibunya.
Dia heran akan apa yang dilakukan sang Ibu. Akan tetapi sang Ibu masih tetap dengan tingkahnya. Piring dan bungkusan makan dibukanya lamat-lamat. Lalu menyuapkan nasi ke mulut sang anak.
“Bu. Kenapa Ibu begitu?” tanya Raisya heran.
“Sudah. Makan dulu nak “ ujar Sang Ibu.
“Yaa. kenapa ibu begitu?” tanya Raisya berulang.
“Mulai sekarang Ibu bakalan jalan seperti ini. Biar kita sama, biar Raisya gak sedih lagi.”
“Tapi bu, kenapa harus begini?”
“Karena hanya dengan cara ini ibu bisa nunjukin rasa sayang ibu ke Raisya, ibu gak bisa ngapa-ngapain lagi. Ibu sayang Raisya.”
“Ibuuu, berdiri buu, gak usah begitu” sahut Raisya bersalah.
“Gak usah nak.” cetusnya melepaskan tangan Raisya.
Raisya semakin bersalah telah membuat ibunya menjadi begitu. Dia memang menginginkan kebahagiaan, tapi tidak menghasilkan penderitaan untuk ibunya.

“Marnii. Marnii, keluar kau” sahut seseorang dari luar.
Ibu Raisya keluar dengan keadaan mengesot seperti Raisya hingga keluar. Raisya mengikuti ibunya dengan rasa haru.
“Berdiri bu. Berdiri” teriak Raisya sedu.
Ibunya tetap saja berjalan seperti itu, dia tak memperdulikan teriakan sang anak.
“Maaf bu. Maaf saya gak bisa bayar sekarang, saya belum nerima setoran buu.”
“Apa kau bilang? Kau belum dapat setoran? Lalu kenapa tadi kau minta makanan? Dasar kau!” teriaknya menggelegar.
Di balik pintu kamar, sesekali Raisya memergoki sang Ibu. Dia terus menangis, air matanya semakin tak terbendung, hatinya sakit.
“Iya bu, maafkan saya”
“Maaf? Hanya itu yang bisa kau lakukan? Kalau kau belum bayar kau ganti dengan kursi ini” omelnya menunjuk kursi peninggalan nenek Raisya.
Sang ibu semakin kaget termasuk Raisya yang kemudian menuju Ibunya dan Bi Atik.
“Bi.. maafin ibu saya, ini semua karena saya bi. Ini tabungan saya bi, ambil saja untuk bayar makanan tadi. Ini bi.” ujar Raisya menyerahkan uang 7 ribu.
“Sinii” tariknya kasar “Dasar keluarga miskin, gak berguna” cetusnya tajam dan pergi meninggalkan Raisya dan Ibunya

Cerpen Karangan: Anggun Langi Sripati Dewi
Facebook: anggunlangi.blogspot.com

Biodata Penulis:
Nama: Anggun Langi Sripati Dewi
Sekolah: SMKN 3 Padang
Fb: Anggun Langi Sripati Dewi
Blog: anggunlangi.blogspot.com
e-mail: anggunlangi_03{-at-]yahoo.com anggunlangi.sripatidewi[-at-]yahoo.com

Cerpen Raisya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Masa Tua

Oleh:
Aku adalah seorang wanita yang sangat beruntung, di saat yang sama aku merasa wanita yang sangat malang. Bulan depan genap delapan puluh empat tahun usiaku. Aku beruntung karena bisa

Gadis Bermata Bening Itu

Oleh:
“bruuk”, gadis itu terjatuh lagi, membuat orang orang yang berjalan di sekitarnya merasa heran karena gadis itu sudah jatuh dua kali karena tersandung Gadis itu merintih melihat kakinya yang

Karena Aku

Oleh:
Ayah dan ibuku bekerja sehari semalam. Ini tugasku untuk menjaga adikku. Suatu sore adikku terlihat tidak semangat. Aku mengecek keadaannya. Ternyata dia mengalami demam biasa. Kami sering bermain dokter-dokteran

Senandung Rindu

Oleh:
Ingin kupetik bintang yang bertabur di langit malam, lalu kugenggam erat. Kudekap, kusimpan di sudut jemari agar suatu saat bila aku kembali, kupersembahkan untukmu bunda. Lihatlah cahaya yang ditumpahkan

The Tuesday

Oleh:
Pernah merasa seperti di atas awan? Melayang terhembus angin yang memang diharapkan datang, menerobos badai yang bahkan dulunya takut untuk dilewati, dan memekik senyum yang hampir mekar karena terjebak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Raisya”

  1. Mayla Salma says:

    Astaghfirullah.. Sejahat itunya Bi Atik memperlakukan Raisya sama ibunya.. Menyayat hati banget.. Bagus ini ceritanya. Bukti kasih sayang ibu Raisya pada anaknya di luar akalku. Ya ampun..

    TOP!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *