Rajutan Kasih Dari Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Rohani
Lolos moderasi pada: 19 June 2017

Pagi ini aku berangkat dengan rasa sedikit kesal. Bukan marah, hanya rasa yang mengganjal di hatiku.
“Hati-hati berangkatnya, Ndah” pesan ibuku yang kujawab dengan deheman. Aku tau yang kulakukan tidak benar, tapi emosi sedang memengaruhiku.
“Aku berangkat, Assalamu’alaikum” ucapku lalu berangkat.

Tak berapa lama aku sampai di sekolah sebelum bel masuk, aku tak sengaja berpapasan dengan Marta, teman sebangkuku.
“Kamu kenapa, Ndah?” tanyanya.
“Gak, aku cuma sedikit pusing” jawabku.
“Ke UKS aja, atau minta obat” kata Marta perhatian.
“Gak usah, aku gak apa” jawabku.

Bel masuk berbunyi, ibu guru masuk dan semua anak di kelas menjadi tenang.
“Pagi anak-anak” dijawab serempak oleh anak-anak kelasku.
“Ada yang tidak masuk?”
“Tidak, bu” jawab kami serempak.
“Bagus, materi kali ini ibu menyinggung sedikit tentang.. Hari ibu. Apa yang kalian lakukan di hari ibu?” tanya ibu guru.
“Angkat tangan yang ingin jawab!”

“Saya biasanya memberi ibu hadiah”
“Saya makan malam bersama”
“Saya masak bersama, bu”
“Kalau saya mengucapakan terima kasih, kalau tidak begitu ya.. Memberikan puisi” aku terdiam mendengar jawaban satu-persatu dari teman-temanku.
Aku jadi teringat ibu, aku merasa bersalah dengan apa yang kulakukan tadi pagi. Karena melampiaskan rasa kesal pada ibu yang tidak tau apa-apa.

“Apapun yang kalian lakukan, hal yang terpenting adalah lakukan dengan tulus. Seorang ibu akan merasakan ketulusan anaknya, ia tak minta apapun selain kasih sayang anaknya yang tulus” ucapan ibu guru membuatku semakin merasa sangat sangat bersalah.

“Indah kamu kok nangis? Kamu gak apa?” tanya Marta padaku. Aku tersenyum lalu mengangguk.
‘Ibu maafkan aku’ ucapku dalam hati.

Sepulang sekolah, aku mencari ibu. Tapi tidak ada, di kebun juga tidak ada.
“Di mana ya ibu?” gumamku sendiri.
Tak berapa lama terdengar seruan salam dari orang yang ku yakini adalah ibu.
“Walaikumsalam bu, dari mana?” tanyaku senang. Ibu tidak menjawab malah menarikku masuk ke kamarku.
“Coba kamu pakai ini? Semoga saja kamu suka” kata ibu sambil mengeluarkan sesuatu dari tas kantong yang dibawanya tadi. Ternyata sebuah baju yang bertuliskan namaku.
“Ibu beli di mana?” tanyaku terharu.
“Ibu jahit di bu Tin” kata ibu. Aku menatap baju itu dan menatap ibu yang sedang tersenyum penuh ketulusan.

Aku langsung berjongkok di depan ibu sambil menangis. “Ibu maafin, Indah. Indah selalu buat ibu susah, Indah membuat ibu sedih. Indah belum bisa membuat ibu senang, tapi malah membuat ibu susah. Seharusnya, Indah yang beri ibu hadiah” kataku terisak.
“Indah berdiri nak” Ibu membantuku berdiri dan memelukku.
“Kamu gak buat ibu susah, ibu udah maafin Indah. Indah gak perlu memberi ibu apa-apa, Indah cukup belajar yang baik dan jadi anak yang baik, ibu sudah senang” aku membalas pelukan ibu.
‘Oh, Ya Allah. Aku merasakan kasih sayang ibu” batinku semakin menangis dan memeluk ibu erat.
Aku hanya bisa memeluk ibu dengan menangis. Aku yang seharusnya memberi ibu hadiah, tapi malah ibu yang memberiku hadiah, sebuah rajutan kasih dari ibu.
‘Ibu maafkan aku dan terima kasih untuk segalanya’ ucapku dalam hati.

Cerpen Karangan: Yulia Indah
Facebook: Yulia Indah Adhityaliti
Ambil makna kisah ini. semoga menginspirasi

Cerpen Rajutan Kasih Dari Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mereka Begitu Indah

Oleh:
Aisya Putri Khalifah atau biasa dipanggil Putri, ya itu namaku. aku anak 2 dari 3 bersaudara. Kakak dan adekku semuanya perempuan. Aku mempunyai orangtua yang sangat aku sayangi. Aku

Alea

Oleh:
Cahaya mentari telah menyinari pagi ini, kabut dingin pun perlahan menghilang, hanya tertinggal tetesan embun di pucuk dedaunan itu. Alea bangkit dari tidurnya, ia merasa mungkin ini sudah pagi.

Ambisi Berakhir Lari

Oleh:
Berantakan. Semua yang ada di depanku berantakan. Diri ini tak kuasa lagi menguak kesendirian yang memilukan. Cukup! Aku tak bisa menerima kenyataan ini. Semuanya terasa mimpi. Delusi yang nyata.

Cintaku Karena Allah

Oleh:
Sinar sang surya telah meninggi di atas jam 12.00 WIB, surya yang sangat terik, tak ada awan yang menghalanginya, tak ada 1 burung pun yang terlihat melintasi langit, tak

Anak Ayah

Oleh:
Sudah beberapa lama, si bungsu meringkuk di atas kertas gambarnya. Gerutu dan umpatan pelan terdengar selama ia berusaha menggambar sebuah mobil berdasarkan contoh yang diberikan gurunya. Dengan satu desahan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *