Ramadhan Terakhir Bersama Gita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Ramadhan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 July 2016

Hai…
Aku kerap disapa dengan sebutan Nita. Bulan ini, telah memasuki Bulan Suci Ramadhan. Dan hari ini, telah memasuki hari ke-13 di Bulan Ramadhan. Sampai saat ini, Aku telah berpuasa selama 13 hari berturut-turut tanpa bolong. Namun, lain halnya dengan Gita, saudara kembarku. Ia hanya berpuasa 4 hari, entah sakit apa yang diidapnya namun ia sering mimisan. Aku kasihan dengan Gita, telah bertahun-tahun ia selalu begitu. Dari usia 5 tahun kami berpuasa, ia berpuasa tanpa bolong. Namun, berangsur-angsur kini sampai hari ke-13 hanya 4 hari. Sering sekali pula, Gita pingsan.

Ditengah malam yang sunyi, Aku dan Gita terus berjalan di lorong kegelapan. Kami terus berjalan ke depan, tujuan Kami entahlah namun Gita mengajakku pergi ke suatu tempat. Tatapannya kosong, ia memegang eratku. Sesekali, Aku menatapnya. Ia hanya tersenyum dan mengalihkan pandangannya.
“Hey, Kita mau pergi ke mana?” tanyaku kepadanya yang telah lelah. Rasanya, Kami sudah berabad-abad tak sampai. Bahkan, Aku merasa Kami berada di jalan yang salah.
“Apakah ini jalannya salah Ta??” lanjutku lagi, namun Gita hanya tersenyum dan terus tersenyum. Matanya yang jernih semakin lama meredup seperti mataku. Senyumannya saat ku bertanya pun mulai sirna.

Selama bermiliaran tahun Kita berjalan, setengah tubuh Gita seperti menghilang. Bulu kudukku mulai menaik. Ia menampakkan senyum sebelum hilang. Lalu ia pergi bersatu padu dengan udara. Aku hanya diam membisu dan terpaku melihat Adik satu-satuku ini. Apakah ada pertanda buruk yang terjadi? Tiba-tiba, lamunanku buyar karena dentuman yang sangat keras dari arah barat. Aku mengikuti asal suara yang masih terdengar terulang-ulang itu. Walau semakin lama, suara itu mengecil.

Kulihat satu makam berukuran sedang. Suara itu tak terdengar lagi. Batu nisan terukir nama yang indah, dan seakan aku tak percaya. Itu nama Adikku, Gita Ramadhani. Gita, apakah ia benar-benar pergi meninggalkan dunia ini? Wafat, tertulis tanggal hari raya Idul Fitri. Bukankah hari ini masih hari ke-13 memasuki hari ke-14? Ataukah Idul Fitri tahun lalu. Atau apa? Aku sungguh tak mengerti simbol tahun yang tertera di sana. Aku menangis histeris, tak peduli simbol itu. Rindu menusuk hati terhadap Adikku satu-satunya. Kuingin Ia kembali ke dunia ini. Oh ya Allah, bantulah hamba…

Alarmku berbunyi meninggalkan dunia mimpi.
“Itu hanya mimpi, Alhamdulillah,” Aku pun mengucap rasa syukur yang laur biasa. Di sebelahku, terdapat Gita yang sedang mimisan. Aku pun kaget bukan main, memanggilkan Ibu yang sedang ada di dapur.
“Ibuuu, Gita mimisan gimana nih???”
“Hahh,”
Ibu tak kalah kagetnya dengan Aku. Ia langsung menyiapkan tissue dan sapu tangan. Serta obat dan air hangat pun tak lupa. Gita hanya sibuk dengan tissuenya yang tinggal tipis. Ia mengelap darah yang telah berceceran.
“Gita sayang, kamu tak apa-apa. Ayo Kakak bantu,” ucapku kepada Gita dengan perasaan yang sangat khawatir. Dan dengan cepat, Alhamdulillah Ibu datang dengan cepat. Ibu memberi obat-obatan kecil dan aku membersihkan darah Gita. Yang aku sedih, Gita tak pernah ingin dibawa ke dokter.

Mata Gita terlihat sayu. Tubuhnya pun panas, hari ini ia memaksakan puasa. Padahal, kondisinya belum pulih.
“Ayolah Kak, Bu hari ini saja…”
“Hmm, baiklah. Jaga kesehatanmu, jangan lari-lari,” ujar Ibu dengan terpaksa dan perasaan masih saja khawatir.
Wajahnya kembali bersinar cerah, senyum manisnya kembali menghiasi pipi. Ditambah lagi dengan lesung pipinya yang indah dan membuatnya istimewa. Jika Adikku tersenyum maka Aku juga ikut tersenyum. Akhirnya, Kami bertiga sahur dengan kebersamaan yang tinggi.

“Kak, ayo kita ke mall. Aku pengen beli jilbabku,” ya, Gita memang gadis remaja hijabers. Sedangkan Aku, tidak hanya dengan alasan kecil.
“Bukannya kamu masih sakit Ta?”
“Ayolah Kak, hari ini saja. Aku mau borong sampai akhir bulan Ramadhan. Sebelum aku meninggalkan Kakak,”
“Lho kamu mau ke mana Ta? Kok borong sih, kan bisa nanti-nanti. Tapi maksud Kakak, kamu masih sakit. Hmm, tapi oke deh,”
Senyumnya kembali mengembang, namun Gita tak menjawab pertanyaanku. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman, sama seperti Gita.
“Bu, Aku dan Kak Nita pergi dulu ya…” teriak Gita dengan semangat menggebu-gebu kepada Ibu yang lagi menjemur pakaian.
“Oke,” sahut Ibu singkat dengan keras.

“Gita sayang, hari ini kita pakai taksi saja ya,” beri tahuku kepada Gita.
“Lhoo kenapa Kak?” tanyanya bingung.
“Kenapa gak pake sepeda saja?’
“Kamu masih sakit kan,”
“Hm…” Gita berpikir panjang dan lama dan akhirnya,
“Ia deh Kak, ayo,”

Kami akhirnya sampai ke mall. Aku ingin berbicara namun, Gita terlanjur bicara duluan
“Kak, ke atas dulu yuk,”
“Iya,”
Ternyata, Ia membeli hijabnya di toko hijab yang indah. Setelah mencoba-coba, Gita menarik lenganku dan berlari menuju eskalator. Aku mengikutinya dengan heran, dan akhirnya aku berkata,
“Lha, kok buru-buru Ta? Kakak mau ke toilet dulu,”
“Iya, Aku tunggu di starbucks Kak,”
Perjalanan ke toilet kutempuh selama beberapa menit. Namun, tiba-tiba petir menyambar hatiku. Terdapat sebuah firasat buruk tentang Gita. Dadaku sesak memikirkannya, Aku agak cemas dan langsung berlari setelah dari toilet.

“Gita sayang Adikku, Kau tak apa-apa?” tanyaku dengan teriakkan dari jauh. Ia melambaikan tangan tersenyum lemah. Aku berlari membawa asesoris yang telah kubeli. Terpontang panting aku berlari hampir saja gelang kaca yang kubeli pecah. Namun, akhirnya tidak juga.
“Gita…” lirihku melihat plester menempel di jari manisnya.
“Ada apa dengan jarimu?”
“Kejepit pintu Kak,” serunya sambil memegang plesternya, seperti menyembunyikan sesuatu.
“Ohh, Kamu tak apa-apa sekarang?” tanyaku lagi dengan perasaan bercampur aduk.
“Tidak apa-apa, Kakak kenapa gak usah takut gitu. Aku gak apa-apa,” untuk pertama kali, kulihat ia polos. Polos, tak seperti biasanya.
“Bagaimana jika kita ke rumah sakit?”
“Gak usah Kak, aku sehat,”
“Hmm, baiklah kalau begitu ayo cepat kita pulang,”
“Lhoo, kok buru-buru gitu sih. Aku mau ke toilet dulu Kak,”

Kalau tadi, Aku yang bilang buru-buru kini Gita. Dan sekarang Kami telah sampai di rumah kami yang sederhana. Dengan segera kami berbuka, shalat Magrib, serta tarawih pun tak lupa. Namun Gita tampaknya tak kuat, ia tertidur pulas dengan penat dan keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya. Aku membiarkannya dan segera pergi ke masjid.

Saat. Pulang kulihat, darah bercecer di kasur. Kali ini, bukan dari hidung melainkan dari jarinya. Luka tadi, di pintu katanya? Aku baru sadar, tak sama sekali Ia melewati pintu. Hanya Aku, pintu toilet. Hmm, Aku tahu kebohonganya terungkap. Pastinya, bukan pintu.
“Sekarang Gita, Kamu jujur sama Kakak kamu kejepit apa?” tanyaku dengan nada tinggi. Sehingga membuatnya ketakutan.
“Eskalator Kak,” katanya pelan, nyaris tak terdengar.
“Tapi, tolong Kakak jangan kasih tahu Ibu. Dan jangan pernah Kakak kasih tau sepupu Kita, Nenek kita. Dan jangan Kakak memberi tahu siapapun. Kakak juga gak boleh mengajakku ke rumah sakit, puskesmas, UKS atau yang lainnya. Kakak juga gak boleh kasih obat ke Aku. BIARKAN AKU SENDIRI,” ujarnya membaca hatiku. Aku diam membisu.

Sampai hari terakhir Ramadhan, Gita mengurung diri dengan pandangan kosong. Dan tangannya masih terus-terusan mengeluarkan darah. Sampai pada akhirnya, tubuhnya menjadi sekecil tulang. Aku kasihan dan khawatir pada Gita, namun saat Aku mendekatinya tatapan tajam darinya merupakan hadiah untukku.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
Bunyi takbir menggema di Masjid. Semua berbondong-bondong menuju ke sana untuk Masjid. Namun, tidak untuk Gita. Ia tampak tenang di rumah. Dan Ia menyuruhku untuk segera pergi Shalat. Akhirnya, dengan terpaksa dan berat hati aku Shalat meninggalkan Adikku di rumah. Di Masjid, Aku bertemu dengan Bang Renal, Kakak sulungku. Ia baru pulang dari Jakarta sana, Aku berbahagia sekaligus cemas. Aku ceritakan kejadian yang Ku alami dengan Bang Renal. Wajahnya pun menjadi murung sepertiku.

Kami tak langsung berkunjung ke rumah Sanak Saudara. Melainkan di rumah, terlihat Gita tergeletak di kasur tak berdaya. Bang Renal yang menyangkanya pingsan berteriak dari kamar Ku dan Gita,
“Ibu… Nita… Lihat sepertinya Gita pingsan,” jeritnya khawatir, dengan jantung berdetak-detak.
“Dan lihat, ada sepucuk surat darinya, berdarah,” lanjutnya membuka lembaran surat yang ternyata dari Gita.
“Napasnya sudah tak ada…” ucap Bang Renal pelan. Aku yang berduka tak punya harapan.
“Denyutnya telah hanyut pergi,” Bang Renal menangis histeris dan Ibu pun juga ikut menangis. Seharusnya, hari ini hari kemenangan yang membuat Kita bahagia. Namun, malah hari ini Kami berduka.

Tangisku pecah, perlahan Bang Renal membaca surat dari Gita, yang isinya adalah:
Untuk Kak Nita, Ibu, dan Bang Renal yang tersayang.
Bang Renal, selamat datang kembali di rumah. Bang, selamat berbahagia tanpaku. Yang selalu membuat Abang kesal, marah, dan sedih. Kak Nita, terima kasih untuk Kakak yang selalu merawatku menjagaku dan segalanya kutumpahkan untuk Kakak yang tercinta. Dan Ibu, terima kasih Engkau telah melahirkanku dengan susah payah dan merawatku sampai kini, Aku telah berumur 15 tahun. Namun, Aku punya satu rahasia yang telah kupendam selama ini. Aku mengidap penyakit anemia. Pernah dulu saat umurku masih kecil, yakni genap ulang tahunku dan Kak Nita 9 tahun. Aku mengecek kesehatanku, dan ternyata positif anemia. Aku tak punya harapan lagi, aku tak kuat. Dan kemarin, saat Aku dan Kak Nita pergi. Pergi ke sebuah mall, jariku terjepit eskalator. Kak Nita terus bertanya dan Aku menutupinya. Aku hanya tak ingin merepoti Ibu, Kak Nita, dan Bang Renal. Aku juga tak mau, Kalian terus KEPO bertanya kepadaku. Jadi, Aku hanya sanggup memberikan su

Hanya teruputs sampai huruf u. Tangisku kembali membesar,
“Bang Renal, Ibu maafkan Aku. Aku tak bisa menjadi Kakak yang baik dikala Adikku sakit. Aku bodoh, bahkan sebagai saudara kembar yang selalu bersama, Aku tak tahu penyakit Adikku yang menggenaskan. Aku… Aku… Sungguh meminta maaf sebesar-besarnya,”
“Nita Adikku, sungguh itu bukan salahmu. Itu takdir yang mengatakan begitu. Ikhlaskan Dia..” Bang Renal masih terisak-isak menatap Gita yang terbaring dengan senyuman. Dikala itu, teringat tentang mimpi di hari ke-13. Namun, biarlah kupendam sendiri. Aku tak mau membuat manusia yang kusayangi sedih. Ramadhan terakhir bersama Gita, membuatku sadar. Akan kesalahanku yang banyak.

Pemakaman Gita berjalan lancar. Kutaburi bunga melati, dan berdoa kepada Gita. Semoga Ia bahagia dan tak lelah menungguku kelak nanti. Aku juga membacakan salah satu Surah di Al-Qur’an yang membuatnya tenang. Aku harap, Gita tak marah denganku. Aku harap, Bang Renal dan Ibu tak marah denganku. Sebagai Kakak Gita, Aku akan berkunjung ke makamnya setiap bulan. Dan Aku tak akan absen pada bulan Ramadhan. Bulan suci yang membuat Aku sadar. Bulan terakhir dikala Aku bersama Gita. Bulan yang membuatku…

Cerpen Karangan: Tita Larasati Tjoa
Facebook: Tita Larasati
Hi… Follow IG aq yaa… : laras_189
Tenang aj… Nanti aq follback deh…
Janji deh…

Cerpen Ramadhan Terakhir Bersama Gita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Istri Virtual

Oleh:
“Sayur Jengkol sudah matang.” Sheila menulis kalimat itu di dinding facebook suaminya di android pemberian mertuanya dua hari yang lalu.. Ia tidak menunggu jawaban tapi mengepak barang-barang berharganya di

Hari Ulang Tahunku

Oleh:
“Huuahh..” sambil menguap aku bangkit dari ranjangku. Bunyi jam beker membangunkan aku dari mimpi semalam. “Huh, sial sekali..” pikirku dalam hati. Perkenalkan namaku Agatha Rheynata, panggil saja aku Rhey.

Ulang Tahun Terakhir Adina

Oleh:
“Dika, Dina ayo berangkat yuk” kata papa dan mama sambil berjalan menuju mobil. “Wait pa” kata Dina sambil mengambil tas kakaknya Dika dan memberikannya. “Terima kasih Din” kata Dika.

Selamat Tinggal

Oleh:
Namaku Dita Novelina Prasityani, biasa dipanggil Dita. Aku tinggal di Jakarta, sekarang aku duduk di bangku SMA Citra Pahlawan Kristen kelas 11G. Aku adalah bintang sekolah di SMA ini,

Broken Home Tak Selamanya Menyakitkan

Oleh:
Namaku Afrizal Prambudi. Aku biasa dipanggil dengan sebutan Rizal atau Ijal. Menurut kebanyakan orang aku adalah anak yang beruntung. Tapi kenyataannya tidak, aku adalah anak broken home yang selalu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *