Raysa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 11 December 2016

Raysa adalah seorang gadis kota yang hidup serba berkecukupan. Ayah Raysa seorang Direktur di perusahaan swasta Indonesia, maka dari itu Raysa tidak pernah merasa kekurangan, apapun yang dia inginkan pasti bisa didapatkan dengan mudah. Tapi karena sering dimanja, Raysa menjadi gadis yang pemalas, egois dan selalu menghambur hamburkan uang. Orangtua Raysa tidak tau lagi bagaimana caranya merubah sifat buruk anaknya itu, mungkin kalau saja dia tidak seperti sekarang mungkin Raysa tidak akan menganggap harta adalah segala galanya.

Saat Raysa pulang sekolah, Raysa melihat rumahnya didatangi dua orang seperti polisi yang memasang tulisan yang bertuliskan “Rumah ini disita”. Dia lalu segera masuk dan menghampiri papanya.
“Ada apa ini pa?” Tanya raysa
“Rumah kita disita sayang” jawab papanya dengan nada sedih.
“Apa!, kenapa pa kita salah apa, lalu kita akan tinggal dimana?” kata Raysa panik. Papanya hanya bisa menggeleng tanpa menjawab pertanyyaan Raysa, dia seakan tidak tega melihat anak kesayangannya sedih seperti itu.
“Raysa, kamu harus sabar, papa kamu sekarang bangkrut sayang, semua aset papa kamu disita bank, kita semua tidak punya apa-apa lagi” jawab mamanya sambil memeluk Raysa. Raysa lalu menangis dan memarahi papanya, dia tidak sanggup harus hidup miskin, kemudian papanya teringat kalau masih punya rumah di desa, dia lalu mengajak keluarganya untuk ke desa, awalnya Raysa tidak mau tapi akhirnya mau juga, daripada dia di kota tidak punya rumah, pikirnya.

Setelah sampai di desa, dia melihat rumah kecil dan tua.
“Pa, ini Rumah siapa?” Tanya Raysa.
“Ini rumah nenek kamu dulunya, sebelum kamu lahir ray” kata papanya.
“Terus kita akan tinggal disini gitu pa, aku nggak mau, aku nggak sudi tinggal di rumah jelek kayak gini” kata Raysa.
“Raysa, jaga bicara kamu, bagaimanapun kita harus bersyukur punya tempat tinggal.” kata papanya membentak Raysa. Raisya kemudian masuk ke kamar dan mengunci pintu.

Esok harinya, Raysa tetap saja tidak mau ke luar kamar, dia tetap saja tidak mau terima dengan keadaan dia sekarang.
“Ray, kamu buka dong pintunya, mama bawa makanan nih buat kamu, kamu makan ya dari kemarin kan kamu belum makan” kata mamanya lembut.
“Nggak, Raysa nggak mau makan” kata Raysa
“Ray, kamu buka ya pintunya, mama mau ngomong sebentar”. Lalu Raysa membuka pintu dan langsung memeluk mamamya.
“ma, kenapa ini semua terjadi pada kita, emangnya kita salah apa?” kata Raysa sedih
“ini cobaan buat kita sayang, agar kita lebih bersyukur dengan apa yang kita punya” jawab mamanya menasehati Raysa.
“tapi ma, ini tetap saja nggak adil”
“semuanya adil Ray!”
“nggak, ini semua gara gara papa, kalau saja papa nggak bangkrut, kita nggak akan kayak gini.” jawab raysa
“kamu jangan bilang gitu, ini semua bukan salah papa, sekarang kamu makan, tadi papa sudah beliin nasi bungkus buat kamu” kata mamanya sambil menyodorkan nasi bungkus.
“aku nggak mau makan, makanannya nggak enak.” jawab Raysa sambil melempar nasi bungkus.
“Raysa, apa apaan kamu!” bentak mamanya

“Ada apa ini!” sambung papanya habis pulang kerja narik angkot.
“Ini pa, raysa nggak mau makan, dia malah membuang nasi bungkus tadi.” jawab mamanya pelan.
“kamu kenapa Raysa?”
“Ini semua gara gara papa, aku benci sama papa, aku mau pergi aja biar mama sama papa senang.” kata Raysa mau ke luar. Saat Raysa sampai di depan pintu tiba tiba saja papanya jatuh pingsan. Raysa kemudian menghampiri papanya sambil menangis, mamanya lalu memanggil dokter agar ke rumahnya.

“Gimana dok, keadaan papa?” kata Raysa cemas.
“papa kamu kena stroke Ray, dia sekarang lumpuh.”
“apa, papa!” jawab raysa kemudian lari ke luar sambil menangis.

Dua jam Raysa duduk di taman sendiri sambil termenung, tiba tiba ada seorang anak sebayanya yang ikut duduk menemani Raysa.
“kamu kenapa?” tanyanya.
“tidak apa apa, kamu siapa?” kata Raysa sambil mengusap air matanya.
“aku Dira, kamu Raysa kan?” kata Dira
“kok kamu tau?” kata Raysa heran.
“ya, aku pernah lihat kamu!”
“dimana?”. Tanpa menjawab pertanyaan Raysa dia lalu mengajak Raysa ke sebuah tempat.

“ini dimana?” Tanya Dira
“ini tempat tinggal aku.” kata Dira sambil menunjuk sebuah perkampungan kumuh.
“jadi kamu tinggal disini?”
“iya, itu adik adik aku” kata dira sambil menunjuk anak anak gelandangan yang sedang main.
“ayah dan ibu kamu mana?” Tanya Raysa
“mereka sudah tidak ada, aku hanya tinggal bersama adik adikku”
“jadi kamu yang menjaga mereka?”
“iya, aku juga yang mencari uang untuk biaya hidup mereka sehari hari” kata dira sedih.
“aku turut prihatin dengan kamu!” kata Raysa ikut sedih.
“ya beginilah, tapi aku tetap sabar, mungkin ini sudah takdirku.” mendengar kata kata dira raysa langsung teringat nasihat ibunya. Entah kenapa dia seperti sudah mengenal dira sebelumya. Setelah cukup lama bersama dira akhirnya raysa berpamitan pulang.

Saat raysa tiba di rumah, dia melihat ayahnya terbujur lemas di kamar, raysa tiba tiba saja merasa jiwanya sakit, dia tidak sanggup melihat ayahnya yang dulunya masih terlihat muda dan kuat sekarang hanya bisa tidur di kamar, tanpa disadari raysa menumpahkan air matanya.
“kamu kenapa ray?” Tanya mamanya yang mengejutkan raysa.
“ma, maafin raysa ya, ini semua salah raysa, gara gara raysa papa jadi kayak gini” kata raysa sambil memeluk mamanya.
“Ray, ini bukan salah kamu, ini semua cobaan, kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri?” kata mamanya dengan sabar.

Setelah kejadian itu, Raysa semakin hari semakin berubah. Dia sering membantu mamanya membereskan rumah dan juga selalu merawat papanya dengan kasih sayang. Suatu hari mamanya juga melihat Raysa jualan kue bersama Dira.

Hari ini ulang tahun Raysa yang ke 12, dia awalnya sudah menduga kalau ulang tahunnya tidak akan dirayakan, karena dia tahu kalau orangtuanya sudah tidak punya apa apa lagi, bahkan untuk makan saja susah.
Raysa terbangun dari tidurnya, dia terkejut setelah melihat dirinya berada di tempat tidurnya dulu sebelum dia jatuh miskin. dia lalu bergegas ke luar kamar. dia bingung kenapa suasana begitu sepi dan gelap, tidak lama kemudian lampu menyala Dan banyak orang berkumpul di rumahnya termasuk dira, dan lebih terkejutnya lagi, dia melihat papanya sudah sehat seperti sedia kala. Mamanya lalu menghampiri Raysa sambil membawa sebuah kue ke hadapan Raysa. Raysa masih bingung dengan semua ini, lalu papanya menjelaskan, sebenarnya dia tidak bangkrut, dia juga tidak lumpuh semuanya hanya berpura pura saja. begitu juga dira, dia bukan anak jalanan, tapi dia anak dokter yang memeriksa papanya kemarin, ini semua mereka lakukan agar Raysa dapat menjadi anak yang baik dan dapat dibanggakan kelak. Raysa tidak percaya dengan semua ini, dia lalu berterimakasih kepada semuanya karena berkat mereka, dia menjadi anak yang lebih baik.

Cerpen Karangan: Novita Layla
Facebook: Novitha Layla

Cerpen Raysa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nasihat Terindah

Oleh:
Sekitar tujuh tahun yang lalu, aku dan keluargaku tinggal di daerah pedesaan yang amat ramai dengan banyaknya tetangga. Di rumah tersebut aku tidak hanya tinggal dengan keluargaku, namun ada

Hidup Sang Petualang Cilik

Oleh:
“Aku masih ingat sekali terakhir aku berpetualang pada umur 9 tahun sekarang umurku 10 tahun, menurutku itu petualangan yang paling menyenangkan” Ucapku sambil menulis di buku dearyku. Besok aku

Maaf

Oleh:
Aku merasa diriku memang pengecut. Hanya duduk di kamar dengan hati gelisah. Padahal mungkin itu kesempatan terakhirku agar masalah cepat terselesaikan. Hal itu karena ia akan pergi jauh. Apalah

Selamat Tinggal Manis

Oleh:
Cuaca di siang ini lumayan terik. Panas matahari membakar kulitku. Hari ini aku pulang sekolah lebih cepat. Biasanya aku pulang jam 14.30, hari ini aku pulang jam 13.00 karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *