Rela

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 3 May 2017

“Kalian sudah berkumpul bersama sekarang. Ibu gak tau harus sedih atau bahagia,” ucapku sembari terus mengusap tetesan air mata yang sedari tadi pagi terus-menerus keluar tanpa henti. “Aku bahagia karena kalian sudah bersatu sekarang, membina keluarga bahagia di sana. Tapi, yang membuatku sedih adalah…”

“Hai, Tiara. Lagi apa kamu?” tanya seorang pria dari sebuah telepon yang digenggam oleh Tiara, anakku. “udah makan belum? Kalau belum, sini aku suapin hehehe,” tambahnya.
Sontak Tiara nyeletuk, “ih, kamu nih. Ada Ibuku tau…”
“oh hehehe. Assalamualaikum Tante, apa kabar?”
“Waalaikumussalam Baik, Nak Baraga. Nak Baraga sendiri gimana kabarnya? Ayah Nak Baraga sehat juga?”
“Alhamdulillah sehat walafiat Tante. oh iya, Tiara mana Tante, kok diam aja?”
“Apa nyari-nyari, dasar caper weeek.”

Mendengar suara Baraga membuatku tenang karena hanya dialah seorang pria yang mau berhubungan dengan Tiara secara ikhlas dan tulus. Tiara memang jarang bergaul dengan teman-temannya karena menderita autis. Banyak caci dan maki yang diterima Tiara dari teman-temannya dan itu membuatku merasa terpukul. Kesedihan selalu menggeluti hatiku. Namun, Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberikan setitik cahaya bagi Tiara. Senyumnya kini mekar kembali berkat rasa cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh Baraga, teman masa kecil Tiara sewaktu kami masih tinggal di rumah yang lama beberapa tahun yang lalu.

Baraga merupakan sosok pria yang gagah dan tampan. Di usianya yang masih muda, dia telah berhasil mengembangkan perusahaan ayahnya di bidang advertisement (periklanan). Dia juga berasal dari keluarga baik-baik, sementara ayahnya dan aku sangat akrab, baik dalam hal pekerjaan maupun kekeluargaan dan bahkan kami dulu sering piknik keluarga bersama dan Baraga sudah aku anggap seperti anakku sendiri.

“Siapa juga yang nyariin kamu, aku nyariin Tante Nanny kok weeek,” ledek Baraga seraya membuat Tiara tersipu malu.
“Bu, Baraga nakal nih.”
“Sini biar Ibu cubit Baraga.” Niatku menghibur Tiara memang berjalan lancar, kini ekspresi malu di wajahnya kian menghilang. Senyuman yang manis dari gadis belia yang cantik kini mampu menghiasi kepedihan dalam hatiku. Andaikan nasibnya bisa lebih baik. Oh, Tuhan kenapa aku tidak pernah mengucap rasa syukur padamu, ampunilah hambamu ini Ya Allah.

“Aduh… Aduh… Sakit nih, Tante…,” gurau Baraga seakan-akan aku mencubitnya sungguhan.
Tiara langsung menyambar gurauan dari Baraga, “hahaha syukurin kamu week week. Makanya jangan nakal jadi orang.”
“Iya deh iya. Eh Tiara, aku mau berangkat kerja dulu ya. Assalamualaikum.”
“Yaaah…,” keluh Tiara. “tapi, nanti telepon lagi ya.”
“Beres deh, tapi jawab dulu dong salamnya.”
“Iya hehe waalaikumussalam.”

Tetesan air mata ini tiba-tiba mengalir membasahi pipiku. Air mata kebahagiaan yang disalah tafsirkan oleh Tiara, wajar apabila Tiara mengira aku menangis sedih, karena mungkin di dalam pikirannya aku tengah bersedih karena Baraga pergi bekerja.

“Bu, kenapa Tiara gak kerja?” Pertanyaan yang seketika membuatku menghentikan air mataku sejenak. “barusan Ibu kok nangis? Baraga nanti pasti nelpon lagi kok, Bu hehehe.”
Andai saja kamu bisa bekerja seperti Baraga, atau paling tidak kamu bisa mengenyam pendidikan lebih tinggi dari pada hanya menjadi lulusan sekolah lambat belajar (SLB).
“Tiara mau kerja, Nak?” tanyaku berusaha melegakan hatinya yang penuh dengan pertanyaan yang sering kali dia tanyakan.
“Iya, Bu. Tiara pengeeen banget kerja,” ucapnya manja membuat hatiku serasa tak tega jika terus memikirkan keadaannya.
Segera aku menyuruhnya berdiri dan mengajaknya pergi ke dapur yang tak jauh dari ruang tengah, “Tiara, ini pekerjaan buat kamu, ya.”
“Bantuin Ibu masak?”
“Iya dong, kan anak Ibu yang cantik ini juga harus bisa masak hehehe,” tuturku sembari menaikkan tepian bibirku ke atas kepadanya, memberikan tanda bahwa aku menyayanginya sepenuh hatiku. Di balik senyum bahagiaku terdapat ribuan kesedihan yang selama ini kupendam demi buah hatiku satu-satunya, apalagi sejak kepergian ayahnya sepuluh tahun yang lalu yang meninggalkan luka begitu kelam di hatiku. Kematian yang begitu mengenaskan, menggantung diri di dalam kamar tidur kami akibat tidak kuat menahan rasa malu dan tidak bisa menerima kenyataan bahwa anak yang dibesarkan selama ini ternyata mengidap autisme. Sedangkan aku tidak mungkin mengikuti jejak ayah Tiara. Tanggung jawabku begitu besar, di hadapan Tuhan Yang Maha Esa aku telah berjanji akan merawat Tiara hingga maut menjemputku.

Sebulan telah berlalu. Keakraban mereka bisa meringankan sedikit beban hidupku sebagai seorang wanita single parent. Walaupun pekerjaanku hanya sebagai buruh cuci panggilan, tapi aku bersyukur masih bisa menghidupi keluarga kecilku. Paling tidak aku tidak terlilit hutang oleh pihak mana pun. Walaupun makan seadanya, aku sudah begitu bersyukur.

Baraga beberapa hari ini jarang mampir ke rumah, entah kesibukan apa yang ia hadapi sekarang ini. Tiara selalu bertanya padaku, di mana Baraga…? Di mana Baraga? Dan itu membuat kepalaku menjadi pening. Amarah yang tak kuat lagi kupendam kini kulampiaskan pada putri kesayanganku, “Baraga sudah menikah! Jangan tanya lagi!”
Tatapan matanya kini tertunduk ke bawah, akan tetapi dia tidak menangis, dia tersenyum kepadaku.
“Ibu, kalau Baraga sudah menikah, kenapa kita tidak diundang?” Pertanyaan yang sangat polos, dia mudah sekali percaya dengan omonganku. Apa yang telah aku perbuat? Ya Tuhan, maafkan hambamu ini.
“Mungkin Baraga terlalu sibuk, Nak.”
“Ooh…”

Sudah dua hari berlalu, status berpacaran yang pernah mengikat kedua insan yang masih belia ini sekarang sudah lenyap termakan waktu. Hari ini Tiara menjadi murung akibat tak ada kabar dari Baraga sama sekali. Aku pun juga merasa cemas dengan keadaan Tiara yang semakin memburuk belakangan ini.
Baraga telah mengikat hubungan dengan Tiara tepat di hadapanku dan tak lupa juga meminta restu dariku. Karena kebahagiaan putriku yang nomor satu, aku hanya bisa pasrah menerima apa pun dan siapa pun yang bisa membuatnya bahagia, itulah janjiku pada-Nya.
Apakah Tiara masih memikirkan Baraga? Semoga saja keadaannya tidak semakin parah.

Seminggu kemudian, dikala berbagai masalah menghampiriku, rasanya tak mampu lagi aku menahan beban berat di bahuku ini. Otakku serasa mau pecah, bagaimana tidak, seluruh langganan cuci baju panggilanku tiba-tiba memutus hubungan dan alasan mereka pun sama yaitu karena pekerjaanku tidak sempurna dalam mencuci, pakaian mereka tidak wangi bahkan ada yang sampai menjamur. Semua ini terjadi karena Baraga, dialah penyebab perginya pelangganku dan sekaligus seseorang yang paling bertanggung jawab atas jatuh sakitnya Tiara setelah tiba-tiba menerima sebuah pesan bergambar dari BBM(Blackberry massanger)-nya sehari yang lalu yang berisikan sebuah foto mesra antara seorang wanita yang sebaya Tiara dan pasangannya yang tak lain adalah Baraga. Isi dari pesan Baraga bertuliskan, aku sudah menikah, ini istriku hehehe jangan cari aku ya Tiara, Bye : * (emoji ciuman). Bukan hanya Tiara yang syok, bahkan aku hampir pingsan karenanya.

Aku merasa diremehkan oleh Baraga. Kenapa dia mempermainkan perasaan gadis yang hidupnya sudah penuh dengan penderitaan ini. Di mana janji yang dia ucap dulu di depanku? Apakah semudah itukah untuk melenyapkan janjinya? Benar-benar tak pernah kusangka sebuah alat pahat yang seharusnya mengukir senyuman dari sebuah batu malah mengukir sebuah kesedihan bagi pemilik batunya juga.

“Tiara, kamu tiduran aja, ya,” ucapku sembari mengecup keningnya. Aku tak kuat jika terus-terusan melihat kondisi Tiara yang semakin memburuk. Tubuhnya semakin lemas, demam di tubuhnya semakin tinggi.
“Ibu mau ke mana? Tiara ikut, ya,” rengeknya membuat hatiku meleleh. Tidak! Aku harus kuat demi keadilan bagi putriku!
Tangan Tiara yang menggenggam telapak tanganku harus rela kutepiskan seraya aku melangkah menghilang melewati pintu kamarnya. “Ibu Cuma sebentar. Kamu jaga diri ya, Nak.”

Sekarang aku sudah berada di depan gerbang rumah keluarga Anthony. Keluarga dari Mustofa Anthony ayah seorang Baraga Anthony yang telah tega mempermainkan dan menyayat hati putriku tercinta.
“Baraga! Keluar kamu! Baraga!”

Tak ada jawaban, hanya suara tiupan angin yang berembus menyeberangi telingaku. Sempat aku menoleh ke kiri sejenak, kulihat rumah megah bercat putih yang memiliki dua lantai dan juga punya banyak kenangan yang terpendam bersama kematian suamiku, tepat di jendela sebelah kiri lantai dua hidupnya dan masa kecil Tiara berakhir. Itulah alasan kenapa aku mengajak Tiara pindah rumah, aku malu terhadap tindakan suamiku yang memalukan. Semua tetangga menggunjingku, kecuali Mustofa, tak kupungkiri itu.

“Cari siapa?” Tiba-tiba muncullah seorang wanita tua yang kelihatannya seperti seorang pembantu. Dia mungkin pembantu baru karena aku tidak mengenalnya.
“Baraga mana? Kalau ada Mustofa juga mana? Panggil mereka! Cepat!” bentakku barusan memberikanku sedikit kelegaan akan sesaknya napas ini. Beberapa detik setelah aku meneriaki nama mereka berdua, lalu muncullah seorang pria bertubuh tinggi kurus dari dalam rumah yang berjejer dengan bekas rumahku dulu.
“Kamu? Nanny, kan?”
“Ya! Mana anakmu? Kenapa dia mempermainkan perasaan anakku? Suruh dia keluar!”

Sesaat setelah mendengar pertanyaanku barusan, Mustofa membuka gerbang dan menghampiriku. “Nanny, maafkan putraku, ya.”
“Putramu adalah seorang yang munafik! Baik di depan tapi busuk di belakang! Dia..”
Pernyataanku terhenti seketika setelah Mustofa menyentuh bibirku dengan jari telunjuknya.
“Cukup Nanny, cukup… Ada sesuatu untuk putrimu, ini dari Baraga. Surat ini diberikan padaku sehari sebelum hari kepergiannya…” ucapnya terhenti sembari memberikan sepucuk surat padaku. Surat yang berhiaskan oleh pita merah dan sebuah foto milik Baraga yang sedang berpose lucu dengan Tiara yang menempel di bagian belakangnya. Foto ini diambil kira-kira beberapa minggu yang lalu setelah Baraga menyatakan cintanya pada Tiara. “bacalah,” lanjutnya.

Hai Princess,
Maaf kalau pesan dan fotoku kemarin membuatmu bersedih. Dia itu sepupuku, bukan istriku kok hehehe. Aku harap kamu membaca pesan terakhirku ini dan aku harap juga kamu mau maafin aku, ya. Agar aku dimasukin ke surga hehehe. Dan alasan kenapa aku pergi ninggalin kamu itu karena malaikat maut sudah gak tega dengan penyakit tumor yang bersarang di otakku ini, sakiiit banget rasanya. Tapi jangan khawatir ya, aku sekarang udah terbebas dari penyakit ini kok.

Bye, Tiara sayang :*
Beloved, Baraga Anthony

*glek*
Air mataku mengalir semakin deras, rasa malu yang kutimpa karena telah menghina Baraga begitu kasarnya. Baraga melakukannya semata-mata hanya karena tidak ingin melihat Tiara menangis meratapi kematian Baraga.

“Maafkan putraku, ya. Beribu maaf kumohonkan tulus padamu, Nanny,” katanya sembari mengepal telapak tangan kiriku. Aku terdiam terpaku meratapi kesedihan yang melandaku, melanda kami semua. Cobaan apa lagi Tuhan? Kenapa tidak kau ambil saja aku? Kenapa?

Sejenak kuhela napas panjang, mengambil sedikit ketenangan dalam dinginnya pagi ini.
“Ehm. Sebentar, Mustofa… Aku..,” ucapku terhenti sembari melepas genggamannya. Kuraih ponsel dari dalam tas merah yang menggantung di lengan kiriku. “aku mau foto dan kirim surat ini ke Tiara, aku gak mau dia terus-terusan sedih karena sebenarnya ia telah dibohongi.”
“Tunggu, Nanny! Nanti dia akan semakin sedih!”
“Itu lebih baik daripada dia harus bersedih karena kebohongan belaka!”

Beberapa menit setelah aku mengirimkan pesan bergambar melalui BBM dan rupanya sudah di read oleh Tiara, lalu Tiara membalasnya, Oh, jadi gitu ya, Bu. Ya sudah gak papa, aku terima kok ; ) (emosi senyum).
Begitu lega bercampur khawatir akan Tiara yang sedang sakit di rumah. Setelah bercerita tentang kondisi Tiara kepada Mustofa, ia meminta untuk mengantarku pulang dengan mobil mewah warna hitam miliknya. Dia seorang duda, istrinya menceraikannya dan meninggalkannya karena dia pernah bangkrut beberapa tahun yang lalu. Baraga pernah bercerita kalau ayahnya tengah mencari calon istri yang muslimah dan aku akan selalu mendukungnya karena aku tahu bahwa Mustofa adalah lelaki yang baik.

Satu jam dalam perjalanan menuju kediamanku dengan Mustofa dan dia segera masuk ke dalam rumah bersamaku karena aku menyuruhnya untuk menengok Tiara yang sudah lama tak berjumpa dengan Mustofa, tetangga yang paling menyayanginya dulu.

“Di mana Tiara, Nan?”
“Di kamarnya, Mus. Masuk aja.”

“Tiara..” panggil Mustofa sembari sesekali mengetuk pintu kamar Tiara.
“Tiara…” Entah kenapa tidak ada jawaban dari Tiara, apa dia tidur?
“Buka aja Mus, pintunya gak dikunci kok.”
“Tiara… Om Mustofa masuk ya…”

*ceklek*
Pintu kamar dibuka oleh Mustofa.

“Astagfirullahhaladzim!!! Tiara!” Teriakan dari Mustofa yang disusul juga dengan teriakanku. “Ya Allah! Tiara!!!”

Betapa terkejut dan tersayatnya hatiku saat kulihat putriku tergeletak di lantai dan sudah tak bernyawa lagi. Darah yang sudah mengering tampak jelas di pergelangan tangannya. Sebuah pisau dapur yang digenggamnya membuktikan kalau dia sudah mengakhiri hidupnya dengan tangannya sendiri. Ya Tuhan, kenapa engkau mengambil putriku dengan cara seperti ini? Isak tangisku semakin menjadi-jadi, pita suaraku tak ada hentinya berteriak meronta-ronta meratapi kepergian putriku satu-satunya.

“Ini cobaan… Kamu harus sabar.” Mustofa mencoba menghiburku yang sedang menangis di sebelah tubuh putriku tercinta. Aku menangis, tak ada guna, Tiara tidak akan pernah kembali ke dunia ini. “Kita harus segera urus jenazahnya Tiara ya… agar bisa dimakamkan secepatnya,” tambahnya. Aku hanya menganggukkan kepalaku di tengah kesedihan yang menguasai hatiku.

Sore ini aku dan Mustofa sudah berada di pemakaman. Kami berdua sepakat untuk mengubur jasad Tiara di sebelah makam Baraga, berharap mereka bisa dipersatukan di alam sana.

“Kalian sudah berkumpul bersama sekarang. Ibu gak tau harus sedih atau bahagia,” ucapku sembari terus mengusap tetesan air mata yang sedari tadi pagi terus-menerus keluar tanpa henti. “Aku bahagia karena kalian sudah bersatu sekarang, membina keluarga bahagia di sana. Tapi, yang membuatku sedih adalah… Ibu sekarang harus hidup sendiri.”
“Tenanglah, Nanny. Kamu bisa tinggal denganku…”
“Terimakasih ya, Mus.”

Sekian

Cerpen Karangan: Qomarudin
Facebook: m.facebook.com/qomar.btbx.3
Assalamualaikum semua 😉
Makasih ya udah mampir di cerita saya. Perkenalkan saya Qomarudin dari Kota Malang. Umur saya pada tahun 2016 ini adalah 19 tahun, tapi sayangnya para wanita menafsirkan saya sudah berumur 25 tahun ke atas. Uh, menyebalkan. Ditambah lagi saya masih single loh hehehe.
Btw kalau mau chat sama saya bisa langsung buka FB saya kok. Saya juga sering share cerita-cerita juga.
Sekali lagi terimakasih yaaaaaaaaa 😀

Cerpen Rela merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kado Terakhir Untuk Bunda

Oleh:
Jam weker usangku masih menunjukkan pukul tiga pagi. Namun seperti biasa aku terbangun untuk salat tahajud. Aku segera bangkit dari tempat tidur untuk mengambil air wudu. Seusai salat aku

Raisa

Oleh:
Sekitar satu tahun yang lalu, Raisa mulai merasakan jatuh cinta. Awalnya, Raisa tak mengerti apa itu cinta. Ketika Raisa mulai mengerti apa itu, di saat itu juga Raisa mulai

Andri Sayang Papa (Part 1)

Oleh:
“huft, capenya.” keluh Andri sambil duduk pelan. “kamu habis dari mana aja Ndri? Jam segini baru pulang! Akhir-akhir ini kamu pulangnya malem terus, kamu tuh anak cewek, ndak baik

Cinta Yang Tak Bersatu

Oleh:
Tiba-tiba saja aku terbayang masa lalu ku tentang grup band kecil yang diketuai oleh Rafa sebagai drummer, Zilla sebagai vokalis, dan aku sebagai gitarisnya. Saat dimana kami masih memakai

Raden Anak Teman Bundaku

Oleh:
“huf huf huf… desah ibu Indah ketika akan segera melahirkan, pada saat itu juga di ruang kamar yang sama ada seorang ibu yang akan melahirkan juga namun berbeda nasib

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Rela”

  1. dian_Hardianti says:

    Fb nya yng mana yah kok aq ga nemu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *