Remi dan Sepeda Kumbang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 2 December 2017

“ke mana si remi? Jam segini kok belum pulang! Mau jadi apa dia tiap hari main aja kerjaannya?” kata pak amir kepada bu narsi yang baru saja meletakkan kopi hitam di atas meja untuk suaminya itu. “udahlah pak biarin aja dia main, kan bentar lagi dia pulang kasihan kan masa belajar terus!” jawab bu narsi dengan pelan. kemarahan di wajah pak amir mulai reda, saat menyeruput kopi buatan istrinya itu.

Bu narsi dan pak amir adalah orangtua yang sibuk dengan pekerjaan, mereka jarang menghabiskan waktu bersama anak semata wayangnya. Hal ini dimanfaatkan remi untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman sebayanya dengan bermain sepeda karena dengan cara itulah remi bisa menghapus rasa kesepian. Remi bahagia saat memacu sepeda kumbang pemberian neneknya, hadiah itu didapatkan remi karena berhasil mendapat ranking di kelas. bagi remi hanya sepeda yang bisa mengerti perasaannya, remi sangat menyayangi sepeda tersebut, bahkan sebelum berangkat ke sekolah remi berpesan kepada sepedanya agar menunggu dia pulang dan mereka akan bermain bersama-sama.

Hari itu, sesampainya remi di rumah, remi disambut dengan omelan pedas dari ayahnya karena lebih sibuk dengan sepeda ketimbang berdiam diri dalam rumah. bu narsi sebagai ibu hanya bisa memeluk remi dan meminta remi untuk sabar menanggapi omelan ayahnya. Remi tersenyum kepada ibunya, dia kemudian bergegas mandi dan pergi ke masjid. Rutinitas ini sudah remi lakukan sewaktu masih tinggal bersama neneknya.

Keesokan harinya, saat bangun tidur remi menikmati sarapannya sendirian. Kedua orangtuanya sudah berangkat kerja sebelum remi bangun. Kadang, remi merasa iri pada teman-temannya yang bisa berkumpul dengan orangtua dan menikmati sarapan pagi bersama.

Hari itu dimulai remi dengan cara yang berbeda, remi yang biasanya berjalan kaki ke sekolah kini memilih pergi dengan membawa sepeda kumbang kesayangannya. di sekolah remi tidak berkonsentrasi menerima pelajaran, pikirannya penuh dengan sikap orangtuanya yang lebih banyak mencurahkan waktu untuk pekerjaan ketimbang berkumpul dengan remi.

Dalam perjalanan pulang, remi diajak adit untuk makan siang bersama “main ke rumahku yuk mi! Kita makan bareng!” remi langsung menerima ajakan tersebut. Dalam perjalanan, mobil yang dikendarai ayah remi berpapasan dengan mereka. Karena takut dimarahi oleh ayah akhirnya remi melajukan sepedanya “adit, aku duluan yah! Dadah..” adit meneriaki remi agar dia kembali tapi nihil, ayah remi yang penasaran lalu mengejar remi. Ketika remi berbelok menuju gang dekat sekolah, tak sengaja ada seekor kucing yang melintas karena kaget remi pun menghindar namun naas, truk bermuatan penuh muncul dari arah depan dan menabrak remi.
Suasana mendadak chaos, orang-orang yang berada di sekitar segera berteriak dan berlari menolong remi yang terjerembab ke dalam selokan. Sepedanya patah, diikuti darah yang mengucur deras dari kepala remi.

Ayah remi yang baru tiba, langsung panik melihat kerumunan orang. “REMI!” teriak beliau saat melihat anaknya yang sekarat. Supir truk memilih melarikan diri karena takut dihakimi massa. Ayah remi menangis, dalam perjalanan menuju rumah sakit.

Hari itu, adalah hari terakhir remi bersama dengan sepeda kumbangnya. Ibu narsi dan pak amir menyesali semua yang sudah terjadi. Mereka sadar atas perlakuan pada anak semata wayangnya. Kedua orangtua remi hanya bisa meratap pilu, melihat tubuh remi yang terbujur kaku di kasur rumah sakit. Kini, pak amir dan bu narsi melewati hari mereka dengan kesedihan yang mendalam, rumah kini menjadi sepi tak ada lagi bisa dimarahi, tak ada lagi pelukan penuh kasih. Kini remi dan sepeda kumbang menjadi kenangan.

Cerpen Karangan: Rizal Rahman
Facebook: Rizal Rahman
cuma pria humoris yang suka pada sastra dan penikmat semua kopi. Twitter: @rizalistis BBM: 2313B4CB

Cerpen Remi dan Sepeda Kumbang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lidah Doni

Oleh:
Lidah itu lunak. Tak bertulang. Susah diatur. Semaunya saja. Beda dengan mata. Bisa dipejam. Kalau tak mau melihat. Beda dengan hidung. Bisa ditutup. Jika tak mau menghirup. Tapi lidah

Gerdika Adiyaksa

Oleh:
Di sebuah desa, hiduplah seorang ibu dan anak laki-lakinya. Nama anak laki-laki itu Gerdika Adiyaksa. Mereka hidup sebagai keluarga sederhana di desa tersebut. “Gerdika, ayo antar ibu ke pasar!”

Sahabat Tak Akan Runtuh

Oleh:
Halloo perkenalkan namaku karina andriani bisa dipanggil karin, Sekarang aku duduk di kelas 8 smp. Sifat ku orangnya emosional, gak sabaran! Namun, dan walau sifat ku seperti itu aku

Aku Ingin Emak Masuk Surga

Oleh:
Hiks… hiks… Kulihat emak terisak di tepi ranjang di kamarnya, Aku tidak tahu apa gerangan yang membuatnya menangis sore ini. Kubiarkan dan Aku berlalu masuk ke kamarku, tentunya sambil

07.30

Oleh:
“Gubraaakk!!” Haduh keadaan jalanan di sekitar sekolahku memang tak pernah kunjung baik. Berkali-kali angkutan umum yang kunaiki terjebak beberapa detik di lubang yang sama. Aku memang berniat untuk memiliki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *