Restu Orangtua

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 September 2018

Aku adalah siswa SMA yang baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai seorang siswa SMA. Kelulusan menjadi bukti tanda perpisahan serta dimulainya awal baru bagi kehidupanku. Perjuangan yang harus aku tempuh tidak semudah yang aku kira. Mencari univeritas adalah hal tersulit yang pernah aku alami selama ini.

“peserta bernama Maulana Idham dinyatakan gagal dalam penerimaan mahasiswa baru” tertulis di layar pengumuman dengan warna merah yang menunjukan aku gagal dalam jalur penerimaan mahasiswa.
“Gagal lagi yah, hm.. aku gak tau harus gimana lagi… sudah berkali kali aku mendaftar tapi gak ada yang mau nerima aku” ucapku berguman kecewa.

Aku melihat banyak kawan kawan yang sudah diterima di universitas yang sebenarnya bukan menjadi prioritas utama mereka. Mereka hanya asal mengambil jurusan dengan prinsip ‘yang penting kuliah’. Aku tidak ingin menjadi orang orang yang mudah pasrah seperti mereka. Walaupun sudah 5 kali gagal aku tetap berjuang keras supaya bisa diterima di perguruan tinggi yang aku inginkan.

Hari itu aku menjalankan tes SBMPTN, salah satu jalur yang memiliki peluang terbesar untuk diterima, apabila kita bisa menyusun strategi yang tepat. Dengan kemampuanku yang biasa biasa saja, aku tidak terlalu berharap diterima di perguruan tinggi yang memiliki ranking tinggi.

“Gimana dham? Lanjut ke mana SBM?” tanya salah satu temanku yang sudah diterima di salah satu universitas
“kayanya Unibraw deh ri, tapi aku juga gak yakin bisa nyampe kesana enggak” ucapku
“Jangan gitu dong, lu harus semangat ya!” ucapnya menyemangatiku

Aku pun berjuang pagi sore bahkan malam supaya bisa diterima di Unibraw. Terkadang ketika teman temanku mengajak keluar untuk sekedar nongkrong dan main, aku menolak mereka karena alasan belajar. Padahal aku ingin sekali ikut dengan mereka. Lalu beberapa hari setelah tes sbmptn, orangtuaku menyuruhku untuk mendaftar di salah satu sekolah kesehatan yang ada di kotaku.

Aku sangat bingung, aku bahkan tidak tertarik sedikit pun dengan kesehatan. Bahkan melihat dokter saja aku tidak berani. Aku pun ingin menolak keinginan kedua orangtuaku. Aku pun mengerjakan tes untuk masuk sekolah kesehatan tersebut dengan asal asalan. Bahkan aku sudah yakin tidak akan diterima di sana. Jurusan yang aku ambil adalah voice teraphis, aku tidak tau jurusan macam apa itu, dan bagaimana peluang kerjanya.

Beberapa minggu kemudian, hasil pengumuman dari SBMPTN dan tes sekolah kesehatan diumumkan secara serentak. Betapa terkejutnya aku, anak yang sudah 5 kali ditolak di universitas akhirnya justru diterima di dua universitas yang dinilai memiliki rank tinggi. Aku diterima di keduanya. Betapa bahagianya aku, namun kebahagiaan sesaat itu berubah menjadi kegundahan. Sudah pasti orangtuaku ingin aku masuk ke sekolah kesehatan itu. Namun di sisi lain aku sangat ingin masuk ke Unibraw. Akhirnya setelah merundingkan dengan orangtuaku, aku pun dengan terpaksa mengambil sekolah kesehatan. Aku sangat kecewa, namun aku tidak ingin menjadi anak yang membangkang. Jadi kuputuskan untuk mengikuti keinginan kedua orangtuaku.

Dan benar saja, aku bersyukur bisa masuk sekolah kesehatan itu. Di sana aku belajar banyak hal, hingga akhirnya bisa lulus dengan IPK yang membanggakan kedua orangtuaku. Aku pun bekerja di salah satu rumah sakit unggulan di kota ini. Seandainya aku mengambil pilihanku sendiri, apakah aku bisa sukses tanpa restu kedua orangtuaku?

Cerpen Karangan: Mr. I

Cerpen Restu Orangtua merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kakek dan Nenek Membenciku

Oleh:
Cerita ini diangkat dari sebuah kisah nyata dari seorang anak yang bernama Savana. Ia adalah seorang anak korban dari perpisahan orangtua. Karena perpisahan kedua orangtuanya ia dan adik perempuannya

I Love You My Brother (Part 2)

Oleh:
Hingga ujian Kakak yang memasuki hari kedua aku tetap menahan rasa haus di tenggorokanku bila aku merasa haus. Jika menunggu ia pulang aku pasti kehausan. Aku memutuskan untuk mengambil

Penantian Itu Rasa Sakit

Oleh:
MALAM kembali menyapaku, menyapa aku yang lagi-lagi disini merasakan jemariku saling berkejaran. Ini rutinitasku, yah setidaknya aku lebih mempercayai benda mati tak bernyawa ini untuk menyimpan rahasia kecil yang

Rumah Dari Tangan Ayah

Oleh:
Di masa mudaku dan tahun-tahun rapuh, Ayahku mengajakku tinggal di sebuah rumah yang tampak seperti buah permai di puncak bukit yang dikelilingi sungai jernih dan gunung-gunung beku yang menggigil.

Titik

Oleh:
Langkah buram sudah kumulai saat aku terlahirkan di dunia, kalian mungkin tidak menyangka bagaimana aku bisa hidup tanpa kedua tangan, wajahku tidak setampan lelaki yang kau temui sepanjang langkah,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *