Rindu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 30 November 2015

Lambaian angin seakan mengajak jiwa untuk beranjak dari alam bawah sadar. Mulai, sedikit dan akhirnya… yess aku berhasil menyelesaikannya. Ku berjalan menyusuri jalan setapak yang licin hasil dari tangisan bumi tadi malam. Ku pegang kuat dan erat benda itu tak akan ku beri kesempatan orang lain untuk menggapainya apalagi menyentuhnya. Dengan hati dan kaki aku berjuang. Membawanya menuju tempat peristirahatan terakhir umat manusia.

Dari kejauhan aroma bunga kamboja dan melati mulai menyeruak dan memasuki rongga hidung kecil ini. Ku letakkan benda itu tepat di depan batu kecil hitam di atas gundukan tanah merah yang masih basah. Dan lagi lagi aku tak bisa menahan butiran air mata ini. Menetes dan menetes hingga akhirnya goresan tinta di benda itu luntur. Ya mungkin benda itu tak berarti, tak bisa menyampaikan arti kerinduan yang bertahun-tahun mengekang di hati.

Sosok Ibu yang tak pernah ku lihat rupanya. Sungguh aku merasa berdosa tak bisa membalas ketulusannya yang 9 bulan mengandungku. Cinta dan kasihnya selama ini hingga aku berumur 3 bulan dan tepat di situ juga ibu menutup umurnya untuk selama-lamanya. Terkadang terlintas di pikiran dangkalku dan di hati kecilku, “Tuhan.. kenapa kau ambil nyawa Ibuku sebelum aku merasakan ketulusan kasih sayang seorang Ibu hingga aku remaja seperti ini.”

Ya, aku iri dengan teman, aku sedih ketika teman bercerita kehidupan mereka yang nampak mengasikan karena Ibu. Beda dengan diriku. Ucapan kalimat ini selalu hadir dalam setiap lantunan doaku, “Tuhan… aku ingin bertemu dengan Ibuku, walaupun hanya dalam mimpi. Aku ingin memeluknya, menyentuhnya, mendekapnya. Aku ingin menceritakan semua tentang kehidupanku, tak ada yang bisa ku percaya di dunia ini. Aku butuh teman, teman yang menjadi sahabat yang abadi. Dan aku pikir, hanyalah Ibu yang bisa jadi sahabat terbaik dan segalanya.” Sekali lagi aku rindu Ibu.

Cerpen Karangan: Indri Septi Ningsih
Blog: indrirumil.blogspot.com
Facebook: Indri Septy Louis

Cerpen Rindu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Darah Di Ujung Daun

Oleh:
Sungai mengalir dengan deras. Bunyi arusnya membuat burung berkicauan. Seketika dari ufuk timur mentari menampakkan dirinya. Keheningan pun tak berlangsung lama. Banyak petani yang mulai berangkat untuk bekerja. Banyak

Me and My Beloved

Oleh:
Aku tidak henti-hentinya memainkan pulpen yang ada di tangan kanannya. Mataku menerawang, dia tidak sedang fokus kepada pulpen itu. Lalu cerita 23 jam yang lalu kembali terputar di otakku.

Adalah Waktu

Oleh:
Putaran jarum jam dinding yang berdetak mengitari angka-angka yang tercantum dengan ditemani dinginnya udara yang tercipta dari hembusan AC yang menyala di sebuah ruangan yang lumayan cukup luas untuk

I Love You Mom

Oleh:
Hari-hari aku jalani dengan susah payah. Berusaha untuk tetap sekolah. Ayahku sudah meninggal. Hanya ibu yang ku punya di dunia ini. Aku selalu iri melihat teman-temanku di antar-jemput oleh

Tersesat Waktu Dua Belas Januari

Oleh:
Arah jarum jam telah menunjukkan angka dua belas, pertanda satu detik kemudian hari mulai berganti. Dengan dinginnya angin malam yang menyapu dedaunan untuk berayun-ayun mengikuti arah angin. Namun kenapa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *