Rindu Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 August 2019

“Kreeeek” suara pintu kubuka dengan pelan.
Gara-gara matahari menyengat seperti lebah membuat seluruh tubuhku terasa panas. Kuistirahatkan sejenak tubuhku di atas kursi goyang dan kupejamkan mata sambil mendengarkan radio tua peninggalan bapak.

“Kok tumben baru pulang jam segini?” tanya ibu yang sedang di ruang makan.
“Iya, tadi ada rapat buk.” jawabku singkat.
Aku melamun dan merenung ketika mendengarkan lagu “Ibu”.
“Sangat tulus kasih sayang dan pengorbananmu buk, semoga aku bisa menjadi anak sholeh.” batin hatiku. Perlahan mataku menangis karena teringat pertanyaan ibu setahun yang lalu sebelum meninggal.

Hari-hari kulalui tanpa kedua orangtua. Memang terasa berat. Semenjak ibu meninggal tak terdengar lagi cerewet manis dalam nasehat-nasehatnya yang menyemangatkan diriku. Memang sih, dulu aku sering tak mendengarkan nasehatnya. Ibu begitu sabar dalam mendidik dan tidak bosan-bosan mengingatkan jika aku bersalah. Hatiku begitu sedih dan menyesal ketika tidak bisa menemani ibu menghembuskan nafas terakhirnya.

Kenangan itu masih aku ingat, dulu waktu aku masih kecil, ibu selalu menuruti permintaanku. Ya, ketika ibu sedang sakit, aku memaksanya untuk ikut denganku pergi jalan-jalan di alun-alun rembang. Hanya untuk menikmati indahnya bulan dan bintang ibu rela sampai kedinginan. Aku tak menghiraukan menggigilnya. Tapi, aku sekarang hanya bisa menyesal. Giliran ibu yang memintaku untuk menemani permintaan terakhirnya waktu ibu sedang sakit, padahal hanya ingin mengenang di alun-alun rembang, aku malah menolak, tidak punya waktu dan sibuk bekerja.
“Jika aku tahu itu adalah permintaan terakhirmu, akan aku habiskan malam itu bersama-samamu ibu” ibuuuuuuuuu!!!, teriakku dalam hati.

“Buk maaf kan anakmu ini” penyesalanku.
Kupandangi foto wajah tersenyum lebar yang menempel di dinding.

Berkat do’a dan dukunganmu selama ini, sekarang aku menjadi orang sukses.
Allohummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani shoghiro. Do’aku untukmu setiap sholat lima waktu.
Penyesalan selalu datang terlambat, sifat kesatria itu mau mengakui kesalahan dan mau mengoreksi letak kesalahan walau sudah terlambat.

Cerpen Karangan: Nurul Sa’adah
Blog / Facebook: Nurul nurul

Cerpen Rindu Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kehancuran Dalam Do’aku

Oleh:
Dalam sepi dikeheningan malam aku berdo’a pada tuhan, do’a yang selalu aku panjatkan disetiap sujud dan sholatku. do’a itu hanya aku dan tuhan saja yang tahu, aku tak ingin

Kehilangan Cinta Dan Sahabat

Oleh:
3 tahun yang lalu, tepatnya saat aku masih SMP kelas 9. Aku mempunyai seorang teman cowok, namanya Yoga. Kita berteman dari SD. Karena pertemanan kita yang terjalin cukup lama,

Kotaku Yang Malang

Oleh:
Namaku Sasha. Setiap hari aku berangkat sekolah dengan menaiki mobil yang pintu dan jendelanya ditutup rapat. Orang lain pun juga sama sepertiku. Sekarang sudah jarang sekali orang berjalan kaki

Pengorbanan Ibuku dan Penyesalanku

Oleh:
“Nak tolong ambilkan kacamata ibu nak” “Ih ambil snediri emang gak bisa makannya jadi orang itu jangan cacat donk” “Masya allah nak jangan ngomong begitu” “Assalamua’alaikum” ‘Wa’alaikum salam eh

Kembalilah

Oleh:
PROLOG *Syurrrrrrrrr Hujan deras membasahi daerah Jakarta. Terutama sekitar daerah sekolah Dan rumah gue, daerah gue emang lagi rentan banjir. Makanya pulang sekolah kali ini gue lewat dari sekitar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *