Rindu Istana Kecil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Keluarga, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 2 August 2019

“Buk, ibuk..” lirih dibalik mimpi seorang gadis kecil di dalam tidurnya. Kelopak mata sayunya terbuka perlahan. Cahaya berkabut melingkupi pandangannya, seiring dengan sebutir air mata yang lolos dari pelupuknya.

Diseret kecil tubuhnya bertopangkan tangan. Sambil menyandarkan tubuhnya di dinding, didekapnya erat bantal guling dengan isak tangis yang tak kian mereda “Buk, aku kangen. Kapan ibuk pulang?” gumamnya sendu.

Terdengar suara pintu kamar terbuka, dan terlihatlah sang nenek, “Mimpi lagi?” tangan keriputnya mengusap pelan kepala berambut tipis gadis kecil itu. “Kangen sama ibuk ya?” nenek tersenyum lembut. “Oh ya, besok ibuk sama bapak pulang katanya, jadi sekarang tidur ya, ini masih jam 1 malam” lanjutnya lagi.
Binar kebahagiaan terpancar dari mata gadis itu “Bener, nek?” dan dibalas anggukan oleh sang nenek.

11 tahun berlalu, kepulangan orangtuanya dari kampung dan tinggal bersama hanyalah penantian. Karena setelah ini, gadis itu akan melanjutkan pendidikan ke tempat yang mungkin lebih jauh lagi.

Cerpen Karangan: Diah Wulantika
Blog / Facebook: Diah wulantika
Anak pertama dari 5 bersaudara.
Kelas XII SMA N 1 Belitang.

Cerpen Rindu Istana Kecil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terima Kasih Kakak

Oleh:
Suatu hari ada kakak beradik yang selalu rukun. Sang Kakak bernama Erlinda yang berumur 20 tahun dan sang adik bernama Riana yang berumur 15 tahun. Riana dan Erlinda memiliki

Di Balik Sebuah Payung

Oleh:
Terik. Hari ini begitu panas, sampai-sampai cahaya matahari membuat kulitku hampir terbakar, jemuran pun sekejap kering. Bau asap-asap polusi menyergap masuk ke paru-paru membuat kotor udara. Ditambah suara bising

Terima Kasih Bunda

Oleh:
Tes.. tes.. tes.. tetes hujan perlahan-lahan turun dan akhirnya menyentuh tanah, langit masih terlihat mendung dan tak terlihat sinar kemilau sang mentari yang selalu tersenyum dengan hangat kepadaku. Kriek..

Harusnya

Oleh:
~ Kau lebih dari sekedar bintang-bintang. Kau lebih dari sekedar sang rembulan ~ Suara Naga Lyla mengalun dari ponselku. Pertanda sebuah pesan baru masuk. Dengan cepat, jemariku meraih ponsel

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *