Rindu Kebahagiaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 6 January 2017

“Shela, ayo cepetan. Kita habis ini jualan, loh!” Teriak kakakku, Shafa. “Iya, kak. Tenang aja, aku udah siap kok” kataku juga teriak.

Beginilah hari-hari kami biasanya. Pagi hari aku dan kak Shafa harus berjualan keliling. Aku sekarang duduk di bangku kelas 3 SD, kakakku kelas 6 SD. Kami sama-sama masuk siang. Aku dan kak Shafa bisa sekolah karena bantuan beasiswa, ayah dan ibuku tak tahu kemana. Kami hanya hidup berdua di sebuah rumah kecil.

“Ya udah, ayo kita jualan kuenya. Keburu kesiangan. Kamu jualan di pasar ya, kakak jualannya di terminal” kata kak Shafa. “Oke, kak” kataku sembari mengacungkan jempol.

Aku pun berjalan menyusuri pasar. Tetapi belum ada 1 orang pun yang memberi barang daganganku. Karena lelah, aku beristirahat di kios Bu Reni, seorang penjual baju yang sudah akrab denganku. “Bu, numpang duduk ya, kayak biasanya, capek, nih” kataku sambil mengusap keringat yang bercucuran di leher. “Iya, Shela, enggak apa-apa kok kalo kamu juga mau jualan di sini” ucap Bu Reni yang ku jawab dengan senyum. Beberapa lama kemudian, di kios Bu Reni kedatangan pembeli. “Bu, beli bajunya. Model terbaru 2017 yang mana ya?” Kata sang pembeli. “Kalo gamis di sebelah sana, yang kerudung-kerudung di depan” kata Bu Reni ramah sambil menunjuk gamis dan kerudung. Saat sedang asyik memilih gamis, pembeli itu mengetahui keberadaanku di kios Bu Reni. “Eh… Ada adik cantik, kamu anaknya Bu Reni?” Katanya. “Enggak kok, bu. Saya cuma penjual kue, saya capek. Makanya saya istirahat disini” jawabku. “Aduh… Gak usah takut, jangan panggil aku dengan sebutan bu, panggil aku dengan sebutan tante, oh iya nama tante, tante Sarah” ucapnya sangat-sangat ramah. “Tante Sarah, nama saya Shela” kataku ragu-ragu. Kami pun berbincang-bincang. Melihat daganganku masih banyak, tante Sarah membeli semua daganganku. Sebenarnya harga kue itu sejumlah 45 ribu rupiah. Tapi ia memberiku uang 100 ribu rupiah. Tidak mau diberi kembalian lagi, aku berterima kasih kepadanya. Aku bingung, sebenarnya siapa Tante Sarah? Mengapa ia sangat baik padaku? Aku merasakan kalau Tante Sarah pernah ada di hidupku.

Keesokan Harinya, aku berjualan lagi. Tapi aku tak sengaja tersandung batu, dan akhirnya aku terjatuh. Kaki kiri dan lengan tangan kananku luka dan berdarah. Tante Sarah yang melihat kejadian itu langsung menolongku. “Shela, kamu enggak apa-apa kan?, ayo ikut Tante ke rumah tante” ajak tante Sarah. Aku hanya mengangguk sambil menahan rasa sakit.

Sesampainya di rumah tante Sarah, aku terkejut. Rumah tante Sarah sangat besar dan mewah. Tante Sarah mengajakku ke kamarnya. “Shela, kamu tiduran dulu ya, di kasurnya tante. Tante mau ambil obat buat kamu” katanya. “Iy… Iya, tante” jawabku terbata-bata sambil melihat lukaku. Sambil menunggu tante Sarah, aku melihat-lihat foto yang ada di ruangan itu. Salah satu foto yang membuatku terkejut adalah foto keluarga tante Sarah. Yang terdiri dari suaminya, dan kedua anak perempuannya. Tiba-tiba Tante Sarah yang membawa obat datang mengejutkanku. “Shela, sini, tante obatin lukanya” ucap tante Sarah. “Iya, Tante” kataku. Saat mengobati luka di kakiku, tante Sarah melihat tanda lahir. “Shel, tanda lahir kamu persis kayak anak Tante. Tante enggak tau kemana dia sekarang sama kakaknya, soalnya tante sama suami tante dulu tinggalin mereka karena cari duit” jelas tante Sarah. “Beneran Tante? Kalo aku sih justru ditinggal ayah sama ibu, aku enggak tau mereka dimana sekarang” jelasku juga. “Kasihan kamu, ya udah, ayo sekarang kamu tante anter ke rumah pakai mobil” tawar Tante Sarah. Aku pun mengangguk.

Kak Shafa yang sudah pulang dari berjualan. Terkejut melihat kedatangan tante Sarah. “Mama…” Teriak kak Shafa. “Mama? Apa maksud semua ini” tanyaku. “Shel, ini mama kita, yang dulu pernah ninggalin kita selama ini” jelas Kak Shafa. “Kok kamu bisa inget?” Tanya tante Sarah. “Ma, saat Mama ninggalin aku dulu, aku berumur 3 tahun, dan aku masih inget wajah Mama, nama mamapun Sarah” kata Kak Shafa sambil menangis. Mama pun langsung memelukku dan kak Shafa. “Aku gak percaya” ucapku yang mungkin bisa membuat hati Tante Sarah dan Kak Shafa hancur. “Shela, kamu beneran anak Tante. Buktinya, tanda lahir itu…”
“Pokoknya aku enggak percaya, aku maunya test DNA” kataku menangis sambil masuk kamar dan membanting pintu dengan keras.

“Mama… Apa Tante Sarah beneran Mamaku, Mama…” Tangisku di kamar.
“Shela…” Panggil kak Shafa. Aku pun menoleh.
“Tante Sarah udah pulang kok” kata Kak Shafa
“Beneran, kak?” Tanyaku
“Iya, ya udah, kakak mau beli makanan dulu, ya, kamu tadi dapet uang gak waktu jualan?” Tanya kak Shafa balik
“Dapet kak, tapi cuman 5 ribu” kataku sedih
“Enggak apa-apa, kayaknya uang kamu sama uang kakak udah cukup buat beli dua porsi nasi” jawab kak Shafa, lalu ia pergi keluar untuk membeli nasi uduk.

Keesokan harinya…
“Kak Shafa, kita jadi kan test DNA?” Tanyaku pada Kak Shafa.
“Jadi, kok” jawab Kak Shafa singkat.
Beberapa lama kemudian mobil Tante Sarah datang, ia menyuruhku dan Kak Shafa masuk dan pergi ke tempat test DNA. Kata dokter, hasilnya boleh diambil 3 hari lagi.

3 hari kemudian…
Aku yang sedang membereskan rumah kaget melihat kedatangan tante Sarah dengan mimik mukanya yang terharu. Aku memang tidak berjualan hari ini, karena kak Shafa tidak memperbolehkanku, alasannya kaki dan tanganku masih sakit. Sambil menunggu Kak Shafa datang, aku dan Tante Sarah berbincang-bincang. Tiba-tiba terdengar suara Kak Shafa.
“Gimana Tante, test DNA nya?” Tanya Kak Shafa penasaran.
“Iya, aku enggak sabar” Kataku juga penasaran.
“Dan hasil test DNA nya… Kalian memang benar anak saya” Jawab Tante Sarah gembira bercampur terharu sambil memelukku dan Kak Shafa.
Aku dan Kak Shafa segera membereskan barang-barang. Karena Tante Sarah meminta kami untuk tinggal di rumahnya hari ini juga.

Malamnya di rumah Mama…
“Tante, suami tante mana?” Tanyaku.
“Jangan panggil Tante, panggil aku Mama” Jawab Mama.
“Ayah mana, Ma?” Ucapku mengulangi pertanyaanku yang tadi.
“Ayah kamu udah meninggal saat bekerja” kata Mama sedih.
“Udah, Ma. Jangan sedih. Kita kan udah bersama lagi” ucapku dan Kak Shafa kompak.
“Ya, sudah. Tidur sana, besok kalian harus sekolah” kata Mama, aku dan Kak Shafa mengangguk.

“Mudah-mudahan kebahagiaan ini selalu abadi, dan kami tidak akan terpisah lagi. Ayah… Aku dan kakakku sudah bertemu dengan ibu…” Doaku saat di kamar. Kemudian, aku mematikan lampu dan tidur untuk melanjutkan hari esok…

Cerpen Karangan: Nisrina Kamiliya
Facebook: Nisrina Kamiliya Riswanto
Hai, Nisrinest. Alhamdulillah… Ini adalah cerpen ke 11 ku, jangan lupa baca cerpenku yang lainnya. Jangan lupa juga baca cerpen adikku, Najmahdiya Zineta Riswanto. Terima kasih… Love you all…

Cerpen Rindu Kebahagiaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mutiara Hati Yang Terlupakan

Oleh:
Bukan orang yang sepandai Albert Einsten. Bukan juga orang yang sekaya Presiden Obama di Amerika. Sederhana, tidak banyak tingkah, lugu, pendiam, itulah diriku. Tidak banyak teman yang kumiliki, ‘sendiri’

Cucu yang Menyesal (Part 1)

Oleh:
Gubuk tua, kumuh, dan hampir tidak layak pakai. Di sanalah aku dan kakek tinggal. Aku terpaksa tinggal bersama kakek karena orang yang aku hormati meninggalkanku saat aku berusia 1

Rindu Membawa Korban

Oleh:
Ayu menangis tanpa mengeluarkan suara, di tengah malam yang sunyi di atas ranjangnya. Dia sangat sedih karena Ayah dan Ibunya berpisah, semenjak umur 3,5 tahun Ayu tinggal bersama wanita

Ketika Kebaikan Mendatangkan Ujian (Part 1)

Oleh:
Assholaatukhoirumminannaum.. Allahu akbar, Allahu akbar. Laailaahailallaah.. Suara kumandang adzan Subuh telah membangunkanku dari tidurku. Berat sekali aku membuka mata ini, serasa ada lem yang melekat pada kedua mataku, sehingga

Peri Gigi Tania

Oleh:
Tania adalah seorang gadis cilik yang rajin, baik, cantik, dan cerdas. Ia adalah anak yatim alias tidak punya ayah lagi. Ibunya, dia dan Tara, adiknya, kemudian tinggal bersama paman

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *