Rindu Nenek Menggerutu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 21 April 2017

“Rio notanya mana?” Tanya nenek yang sedang mencari nota di kardus yang masih dipenuhi dagangan. “Ya gak tau lah nek, orang rio dari tadi lagi bungkus gula merah” jawabku santai. “Biasanya kan suka ada di atas kardus, atau enggak di kasih ke rio” lanjut nenek “ya di kardus lah nek, orang pak hajinya juga gak ngasih ke rio” jawabku dengan nada bicara agak keras karena nenek terus bertanya padaku, aku pun tak tau di mana nota itu. Aku berniat mengambil minum dari dapur. Terlihat nota ada di atas meja makan. Aku segera mengambilnya “nih notanya nek” ujarku memberikan nota itu “tuh kan di kamu rio” jawab nenek “orang aku nemunya di meja makan kok, nenek kali lupa” kataku menunjuk ke arah dapur saat berkata di meja makan. “Oh iya, tadi nenek udah dari dapur lupa” lanjut nenek dengan tersenyum. “Kan!” ucapku pelan lalu meneruskan membungkus gula merah.

“Rio berangkat” kataku yang mencium tangan nenek yang sudah keriput. Tapi aku tak langsung berjalan. Aku berdiri mengangkat kedua alisku pada nenek dengan tersenyum melirik ke arah kaleng yang berisi sejumlah uang hasil dagang kami. Nenek pun berjalan ke arah kaleng itu, lalu mengambil uang 5000 untukku. “Nih” ucap nenek yang memberikan uang itu “uang lagi uang lagi” gerutu nenek yang meninggalkanku yang tengah tersenyum. “Rio berangkat nek!” Teriakku yang berlari ke luar. Aku menaiki sepeda yang sudah nenek belikan 2 bulan yang lalu.

Berbicara tentang nenek, yap dia adalah nenekku. Nenek yang sangat cerewet, suka marah tapi dia mungkin menyayangiku. Aku tak tinggal dengan nenek sepenuhnya, hanya siang saja tinggal di rumah nenek, untuk sekedar membantu berdagang sembako. Kalau malam tiba, aku pulang ke rumah orangtuaku yang tak jauh dari rumah nenek. Setiap hari, aku selalu meminta jatah uangku karena sudah membantunya berjualan. kadang-kadang aku tidur di rumah nenek semenjak kakek tiada namun hanya hari libur saja. hari-hari semenjak kakek tak ada lebih bayak aku habiskan di rumah nenek ketimbang di rumahku. Nenekku adalah orang yang sangat pelupa tingkat tinggi, dia suka lupa menyimpan nota atau hal lainnya. Dan ujungnya aku yang disalahkan, begitulah dia. Tapi walau begitu, aku menyayanginya seperti cucu-cucu lain yang menyayangi neneknya.

“Hati-hati rio banyak mobil truk” kata bibi ketika aku bertemu di jalan “iya bi, rio berangkat dulu ya sudah kesiangan” kataku berteriak dengan menggoes sepeda. Benar sekali banyak truk di jalan yang mengangkut pasir. di jalan yang bisa dikatakan jelek dan juga sempit terlihat sebuah truk yang melaju cukup cepat, dan “brukkkkk” truk itu dan sepedaku bersenggolan sehingga aku terjatuh.

Warga yang melihat langsung membangunkanku yang terkapar di pinggir jalan. Tempurung lutut sebelah kiriku sepertinya bermasalah, jadi warga yang kebetulan melintasi jalan menggunakan motor mengantarkanku pulang. Aku meminta kepada bapak-bapak yang menolongku untuk mengantarkanku ke rumah nenekku saja, karena orangtuaku sedang bekerja di kebun. Sampailah, nenekku terlihat panik melihat aku yang kesakitan. Tentangga pun berdatangan ke rumah nenek untuk melihatku. “Kalo di jalan hati-hati makanya, bikin nenek panik aja” gerutu nenek yang memberikan secangkir teh hangat padaku. Saat itu ada tukang pijit yang dipanggil ke rumah nenek. Aku dipijit, nenek terus menggerutu dan berbicara, memang baik niatnya menasehati tapi rasanya terlalu berlebihan.

Beberapa bulan kemudian
“Nek rio main dulu ya!” Teriakku pada nenek yang sedang membungkus makaroni. “Jangan lama rio!” Jawab nenek aku hanya mengangguk. Baru 30 menit aku bermain layang-layang bersama teman-temannku, ridwan yang habis jajan dari warung nenekku berkata “rio, kamu disuruh pulang sama nenek kamu!”. Aku terpaksa pulang dengan kesal, karena baru saja main nenekku sudah menyuruhku pulang.

“Nek, rio kan baru setengah jam main udah disuruh pulang lagi” teriakku pada nenek yang sedang menggoreng telur di dapur. “Main terus, nungguin warung sana. Nenek mau mandi dulu” jawab nenek “pasti nunggu warung lagi, nunggu lagi” gerutuku yang berjalan menuju warung.

“Sama-sama” ucapku pada pelanggan. “Rio makan dulu” teriak nenek dari dapur. Aku pun segera menuju dapur. Piring yang berisi lauk pauk, sayuran juga nasi sudah tersaji di atas piringku. Tak berfikir lama aku langsung melahapnya.

“Eh Ridho, kamu ke mana aja jarang main ke sini?” Kataku pada ridho, sepupuku. “Enggak ke mana-mana kok kak” jawab ridho. “Beli basreng yu!” Ajak ridho “yuu!” Jawabku. “Nek, rio sama ridho mau beli basreng dulu ya” kataku pada nenek yang sedang melayani pembeli. “Sebentar, ini uangnya” kata nenek yang segera memberikannya padaku dan pada ridho yang sudah di ujung pintu.

Kami pun membeli basreng, “kamu dikasih berapa rid?” Tanyaku yang melihat ke arah uang yang dipegang ridho. “7 ribu” kata ridho.. “ohh” jawabku. Sudah beberapa kali nenek membeda-bedakanku dengan ridho. Ridho selalu mendapat lebih kasih sayang dan juga uang dari nenek, jarang dimarahi pula. Nenek beralasan kalau dia memberi uang lebih pada ridho karena ridho jarang datang ke rumahnya, sedangkan aku setiap hari mendapat jatah. Tapi aku kan walau setiap hari diberi jatah, kerena aku membantu nenek menunggu warung, benar kan? Tapi sudahlah, aku sudah terbiasa seperti ini, bukan masalah yang besar untukku. Tapi aku hanya bingung, bukankah aku juga cucunya tapi kenapa rasanya dia lebih menyayangi cucu yang lain dibading aku.

Hujan turun dengan deras. Aku sendiri menonton tv sambil menunggu warung. Aku sebal sama nenek, dari setelah shalat dzuhur dia tidur di kamar, sampai menjelang adzan ashar. “Nenek enak tidur aku disuruh tunggu warung” gerutuku dalam hati. Seperti biasanya, aku selalu shalat ashar di rumah. Aku pun berniat membangunkan nenek yang sedang tertidur, lantaran aku akan pulang ke rumah. “Nek, nek” kataku yang menggoyang-goyangkan tubuh nenek. “Nek rio mau pulang!” Kataku dengan ketus karena sebal padanya. Nenekku pun duduk “nenek pusing rio, nanti kalau sudah shalat asar ke sini lagi” jawab nenek. “Yaa” jawabku dengan pelan yang meninggalkan nenek.

Segera aku berkata pada orangtuaku yang pulang dari kebun “pak, bu nenek sakit. Jadi nenek nyuruh rio nunggu warung lagi.” Kataku “iya, udah makan?” tanya ibu yang meletakan cangkul yang bapak berikan “udah bu, rio pergi dulu ya!” Ucapku yang segera berlari menuju rumah nenek. Tapi, warungnya tutup. Aku pun menuju ke arah pintu untuk menuju ke dalam rumah. Nenek terlihat sedang tertidur, namun sekarang di kursi tidak di kamar. Terbangunlah nenek mendengar suara pintu yang terbuka “rio, panggil ibu dan bapakmu, bilang pada mereka kalau nenek sakit” katanya dengan suara pelan.

42 hari kemudian
Sangat berbeda ketika nenek sudah tak ada. 40 hari nenek meninggal. Aku fikir sakit nenek 42 hari lalu hanya sakit biasa, tapi ternyata 2 hari setelah ia mengeluh sakit dia meninggal. Dan yang membuat aku sangat menyesal adalah aku tak melihat nenek menghembuskan nafas terakhirnya. Aku sangatlah sedih dan hancur ketika nenek meninggal. Walau apapun tentang nenek yang kadang buatku marah atau kesal, namun dia adalah nenek terbaik dalam hidupku. Banyak yang aku rindukan tentangnya, terlebih aku rindu nenek menggerutu padaku.

Cerpen Karangan: Renita Melviany
Facebook: Renita melviany

Cerpen Rindu Nenek Menggerutu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Amare, Di Dalam Mimpi

Oleh:
Mimpi bukanlah kata yang asing bagi kita semua. Dalam kamus, mimpi adalah sesuatu yang kita lihat atau rasakan saat tidur. Jadi, tentu saja mimpi itu tidak nyata. Tapi bagaimana

Kau

Oleh:
Entah sampai kapan aku memikirkan dia. Sebenarnya aku tidak mau memikirkan dia, tapi dia selalu ada di pikiranku. Dia pun selalu ada di mana aku ada. Memang dia aneh.

Hitam

Oleh:
Hembusannya kian sunyi, membisu di pelataran desa yang penuh dedaunan jatuh, angin bisu. Kini jalan-jalan desa berwarna hitam, merata dengan bebatuan kecil yang berada di dalamnya persis seperti brownies

Aku Ingin Sekolah

Oleh:
“Ibu, Mila ingin sekali bisa sekolah kaya temen temen Mila yang lain” keluh Mila kepada Ibu nya. “iya Mila, ibu tau kamu mau sekolah. tapi mau diapain lagi, ibu

Hanyutnya Cinta Bundaku

Oleh:
Hidup tanpa seorang ibu bagai hidup tanpa arah dan tujuan. Sejak kecil mereka (Orang tua Risa) meninggalkan Risa di tepi jalan. Nek Midah lah yang dengan sabar, cinta, kasih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *