Rindu Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 4 April 2017

Jam Rolex yang dikenakan di tangan kanan Durma menunjukkan pukul 13.00. Durma telah tiba di Stasiun Gambir. Dengan sepucuk tiket kereta api Argo Jati di tangan kanannya. Ia pergi seorang diri ke Cirebon, melepas rasa rindu dengan mimi (nenek) nya yang sudah lebih dari 5 tahun tidak berjumpa. Kereta Argo Jati dijadwalkan berangkat pukul 14.15 dan sampai di Stasiun Cirebon pukul 18.30. Masih ada waktu 1 jam bagi Durma membeli cemilan untuk makan di dalam kereta.

Setelah ia membeli cemilan, ia langsung menuju ke peron jalur 2 Stasiun Gambir, untuk masuk ke dalam gerbong kereta. Ia berada di gerbong 7 nomor bangku 12 E. Pukul 14.15 kereta pun berjalan meninggalkan Stasiun Gambir menuju Stasiun Cirebon. Bangku di sebelahnya kosong, sehingga ia bisa leluasa untuk berbaring di kedua bangku tersebut. Tidak lama setelah Durma duduk, pemeriksaan karcis dilakukan oleh petugas, dan pramugari yang cantik nan elok menawari Durma makanan dan minuman.
“Mas, mau pesan makanan atau minuman?”, Tanya pramugari cantik nan elok dengan senyum ramahnya.
“Gak usah mbak, saya belum lapar dan haus”, jawab Durma dengan senyum ramah pula.

Kereta sudah berjalan sampai melintasi Stasiun Karawang. Persawahan, pabrik industry, sungai-sungai, dan rumah-rumah masyarakat menemani perjalanan Durma. Durma menatap ke arah persawahan di daerah Karawang dan saat itu pula terlintas di pikirannya serpihan pengalaman masa lalu Durma dengan miminya. Rasa rindu kepada miminya bergerumul di hati dan pikirannya. Sudah tidak sabar Durma bertemu dengan miminya. Durma teringat ketika berusia 5-6 tahun, bagaimana dulu miminya mengasuh ia dengan penuh kasih sayang. Durma ingat miminya tidak pernah marah walaupun Durma berbuat salah, dan juga ketika Durma tidak sengaja memarahi miminya waktu Durma masih remaja yang labil. Ia ingat dengan segala kebaikan yang dirasakan Durma dari miminya. Ia ingat sewaktu mimi nya jatuh tergeletak tidak sadarkan diri di dapur sesaat sebelum Azan Magrib berkumandang. Sontak yang saat itu Durma dan kakaknya sedang ada di rumah, membopong ke kamar Durma dengan tangis lirih. Miminya hanya pingsan, karena terkena dehidrasi ringan akibat memaksakan diri berpuasa. Mengingat kejadian tersebut membuat Durma meneteskan air mata dan membasahi kedua pipinya.
“Sehatkah mimi di sana? Sentosakah mimi di sana? Bahagia kah mimi di sana?” gumam Durma di dalam hati sesaat setelah air mata membasahi kedua pipinya.

Kereta sudah masuk di Stasiun Cikampek, itu tandanya sudah semakin dekat dengan Cirebon. Hanya membutuhkan waktu 45 menit untuk sampai di Cirebon. Durma memejamkan matanya sambil mendengarkan lagu dari hp nya menggunakan headset. Durma terbangun ketika pramugari memberitahukan kepada para penumpang, bahwa kereta sudah sampai di daerah Cirebon. Sekitar pukul 18.30, Durma sampai di Stasiun Cirebon. Sesampainya di sana, Durma menyempatkan diri terlebih dahulu solat magrib di masjid depan Stasiun Cirebon. Rencananya, Durma akan menginap di salah satu hotel bintang 2 di sekitar stasiun, supaya tidak merepotkan miminya. Akan tetapi, karena seluruh hotel penuh, akhirnya Durma menginap di rumah miminya. Jarak dari stasiun ke rumah miminya termasuk jauh. Sekitar 20 km dari stasiun. Durma naik angkot warna biru muda dari stasiun ke arah Sunyaragi. Ia harus berganti angkot 2 kali. 1 kali di depan Grage Mall dan di depan RS Gunung Jati.

Sekitar pukul 19.25, Durma sampai di rumah miminya. Terlihat dari depan, rumahnya tampak sepi dan tidak menunjukkan suatu aktivitas yang terjadi. Durma membuka pagar rumah miminya yang berwarna putih. Ia mengetuk pintu rumah miminya sebanyak 3 kali.
“Assalamualaikum” saut Durma dengan penuh seyuman rindu di bibirnya.
“Waalaikumsalam, Eh, Ya Allah Durma datang, mimi sangat rindu dengan kamu dan kedua orangtuamu” jawab miminya dengan pelukkan erat dan kecupan di pipi kanan Durma.
“Iya mi, Durma juga rindu dengan mimi” jawab Durma dengan dengan raut wajah yang sedih.
Lalu, mimi mengajak Durma untuk masuk ke dalam rumah.

Mereka berdua duduk di kursi panjang di ruang tamu rumah. Dengan kipas angin otomatis kecil di atasnya, sejuk pun terasa. Tatanan di ruang tamu tidak berubah dari 5 tahun yang lalu. Masih ada lukisan kapal laut dan puisi yang berjudul ayah ciptaan salah satu cucunya mimi, yang sebelumnya tinggal 1 rumah dengannya. Rak berwarna cokelat di ruang tamu pun tidak pernah berubah posisinya semenjak Durma dilahirkan. Radio tua yang masih tergeletak di rak tersebut, Foto-foto mama (kakek) yang masih terpampang di dinding ruang tamu masih juga tidak berubah posisinya.

“kamu tidak bersama ayah dan ibu ke Cirebon?” Tanya mimi dengan suara pelan.
“Tidak mi, biayanya tidak cukup jika Durma ke Cirebon dengan ayah dan ibu” jawab Durma dengan nada lesu.
“begitu rupanya, tapi ayah dan ibu sehat Dur?”
“Alhamdulillah mi, sehat-sehat aja, kalau mimi sehat?” Tanya Druma sambil menatap badan mimi yang sangat kurus.
“Alhamdulillah Dur, mimi sehat selalu. Mimi juga sangat segar dan tidak pernah merasakan segala penyakit berat” jawab mimi dengan nada meyakinkan
“Berbeda sekali dengan ayah di rumah ya” Durma berucap di dalam hati.
“Alhamdulillah kalau begitu mi. mimi di rumah sendirian? Tanya Durma sambil menatap pintu pagar yang terbuka.
“Iya, sekarang mimi tinggal sendiri di rumah. Tetapi mimi tidak merasakan suatu kesepian karena tetangga sekitar sangatlah baik dengan mimi. Mereka sangat perhatian dengan mimi”. Jawab mimi dengan memandang mata Durma.

Setelah bercengkrama sebentar di ruang tamu, Durma diajak mimi untuk makan malam. Lauk di meja makan sudah tersedia dari sore hari dan hanya ada 1 mangkuk tempe orek, 1 bakul nasi putih, 1 ikan tongkol, dan 3 tahu goreng. Sangatlah sederhana apa yang disajikan oleh mimi. Sangat sederhana kehidupan mimi sedari dulu. Dan kesederhanaan tersebut terbawa hingga ayah dan ibu Durma.

“Dur, kamu tidak keberatan kan jika makan makanan seperti ini? Tanya mimi dengan senyuman ramah di wajahnya.
“Tidak kok mi, Durma sudah terbiasa di rumah makan seperti ini” jawab Durma sambil memegang sendok di tangan kanannya.
Sembari makan Durma diberi oleh mimi wejangan kehidupan yang sangat bermanfaat.
“Dur, manusia itu harus selalu sadar akan kesederhanaan. Karena dengan kesederhanaan kita manusia dapat terjauh dari sikap pongah terhadap segala hal. Dan jika manusia sangatlah jauh dari kesederhanaan, itu membuka jalan bagi manusia itu sendiri menghancurkan segala kehidupan yang sudah dibangunnya.” Ucap mimi dengan nada bijak.

Makan malam pun selesai, Durma meletakkan tas yang dibawanya di kamar mimi, karena rencananya malam itu Durma tidur berdua dengan mimi. Durma membereskan barang-barang yang dibawanya. Sikat gigi, sabun, dan odol dikeluarkannya dari dalam tas dan diletakkan di kamar mandi di sebelah ruang dapur. Tidak lupa pula Durma mengeluarkan buku bacaan yang dibawanya, Hantu-Hantu Marx karya Jacques Derrida. Jam yang tergantung di dinding kamar mimi menunjukkan pukul 21.30. Mimi masuk ke dalam kamar. Ia menyuruh Durma untuk membeli obat nyamuk di warung mbok Kusni di depan rumahnya dan mengunci pintu setelahnya. Mimi sudah terbaring di tempat tidur saat Durma datang membawa obat nyamuk pesanannya.

“Mimi sangat rindu dengan ayah dan ibumu, juga kakak-kakakmu serta cucu mimi.” Tandas mimi dengan mata tertutup.
“Iya mi, Durma mengerti. Ayah dan ibu tidak punya biaya untuk ke Cirebon. Kakak Durma kerja mi, jadi tidak bisa ikut menemani Durma ke sini. Kebetulan juga Durma mendapatkan tiket kereta murah. Jadi Durma sempatkan ke Cirebon deh.” Jawab Durma sembari menyalakan korek.
“Untungnya kamu datang Dur, kamu obat rindu bagi mimi saat ini. Terkadang mimi terjebak pada situasi kerinduan akan keluarga besar. Terkadang mimi tejebak di dalam kesepian bahkan kehampaan, karena tidak ada keluarga besar di saat mimi sendirian di rumah. Terkadang mimi gundah gulana dan risau akan keadaan dimana mimi harus meninggal tanpa ada sanak keluarga di sekitar mimi.”
“Iya mi. Ayah dan ibu serta Durma selalu mendoakan mimi agar selalu sehat, dipanjangkan umurnya, dan selalu terjaga oleh rida dan kasih sayang Tuhan” ucap Durma sambil memegang buku yang dibawanya.
“Dur, kita diciptakan Tuhan dengan penuh kasih sayang. Kita mengemban amanah dari Tuhan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta dan manusia itu sendiri. Kita harus selalu ingat akan tanggung jawab tersebut. Dan kita harus senantiasa berusaha untuk menerapkan amanah tersebut. Banyak manusia di muka bumi ini yang pintar agama, tetapi sedikit yang menghayati nilai-nilai agama dan sifat-sifat keTuhanan. Nah, mimi mau kamu selalu berusaha untuk menghayati agamamu supaya kamu bisa menjadi manusia yang rahmatan lil alamin dan ummatin”. Gumam mimi dengan senyuman di wajahnya.
“Iya mi, Durma akan selalu berusaha untuk mencapai itu”. Jawab Durma sembari berbaring di samping mimi.
“Dur, kamu juga tidak boleh takut akan segala sesuatu. Jangan membuat dirimu menjadi hamba dari tuhan yang kamu takuti. Kamu jangan menjadi hamba dari kematian, kemiskinan, hantu, preman, kondisi dimana kamu dibuat jauh dari Tuhan Semesta Alam, dan yang terpenting adalah orang yang kamu sayang. Jangan membuat saingan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Jangan sampai kehendak takutmu membentuk tuhan saingan tersebut. Manusia harus selalu yakin bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa melindunginya agar manusia dapat terbebas dari tuhan-tuhan yang bukan sepatutnya kamu sembah.” Ucap mimi sambil mengusap rambut Durma.

Selama 1 jam mereka berdialog melepas rindu. Mimi pun terlelap tidur sedangkan Durma melanjutkan dengan membaca buku Hantu-Hantu Marx. Sebelum tidur, Durma menatap dengan saksama raut wajah, tubuh kurus, dan senyuman yang masih terpatri di bibir mimi.
“Semoga mimi selalu diberi kesehatan dan terjaga oleh kasih sayang Nya.” Pinta Durma di dalam hati.

Durma pun memejamkan matanya. Mengingat hal-hal indah yang pernah dilakukan dengan miminya. Dan berharap suatu saat bisa melakukan hal-hal inda yang pernah dilakukan dulu. Durma pun terlelap tidur.

Azan Subuh berkumandang. Durma pun bangun, ia juga membangunkan miminya yang tidur di samping kirinya. Ketika ia membangunkan miminya, terasa tidak ada napas yang keluar dari hidungnya, detak nadi yang berhenti dari tubuhnya. Ternyata miminya sudah meninggalkan dunia yang fana ini. Air mata mengucur deras membasahi pipinya. Ia meminta tolong dengan tetangga sekitar dengan isak tangis kesedihan di raut wajahnya. Durma dan tetangga yang datang masuk ke kamar dan membopong miminya dengan tangis menggebu-gebu di hatinya. Diletakkanlah miminya di meja ruang tamu yang ukurannya besar. Durma menyium kening miminya dengan tangis di wajahnya. Dan Durma pun menelepon ibunya.
“Bu, mimi sudah tiada. Ia meninggal saat Durma tidur di sebelahnya.” Ucap dengan nada suara tersedak-sedak akibat tangisannya.

Durma duduk di bangku panjang tempat dimana ia bertemu mimi satu malam sebelumnya. Menatap wajah miminya dengan raut penuh ketidakpercayaan. Apakah aku sedang bermimpi? Apakah aku sedang berada di imaji-imaji ideku? Apakah aku sedang berada di dunia mimpi? Tanya Durma dalam hati.

Rindu selama 5 tahun yang dipendamnya terbayarkan ketika bertemu dengan miminya. Sekaligus itu menjadi rindu terakhir baginya. Teringat kembali percakapan terakhir yang dilakukannya sebelum tidur. “Dur, kamu jangan pernah takut kehilangan orang yang kamu sayang”. Kalimat tersebut membuat tangis Durma mengendur dan senyum datar keluar dari bibirnya.

“Mi, semoga mimi tenang di sana, semoga amal baik mimi menjadi jembatan mimi untuk masuk ke surganya Tuhan Yang Maha Kuasa, dan semoga kebaikan mimi selalu terkenang pada orang-orang yang mendapat percikannya, semoga”. Ujar Durma di dalam hati sembari mencium kening miminya untuk kedua kalinya.

Cerpen Karangan: Fachri
Facebook: muhammad fachri darmawan

Cerpen Rindu Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Terakhir Dari Ayah

Oleh:
Aku bukan terlahir dari orang kaya dan berpendidikan. Hidup dengan sederhana dan tidak kemewah-mewahan. Kini usiaku 17 tahun. Aku bersekolah di SMK N 1 Karanganyar. Mungkin ayahku mencari uang

Impian Anak Kampung

Oleh:
Di pagi yang cerah Anugrah bergegas menyiapkan pakaian dan peralatan sekolah, Anugrah begitu bersemangat pagi itu karena ada pelajaran yang sangat ia sukai, yakni olahraga. Ketika tiba di sekolah,

Satu Hari

Oleh:
Hai teman-teman perkenalkan namaku Asya nabila assyifa, biasanya teman-temanku memanggilku Nabila. aku mempunyai teman akrab namanya Frizka andrianti, panggilannya Frizka. Frizka orangnya baik, cantik dan pintar tetapi suka penyendiri

Midnight Clown (Part 1)

Oleh:
Aku menatap dengan perasaan sedih dan iba, ketika melihat seorang wanita tua yang sudah tidak berdaya, di atas tempat tidurnya. Yaa… Tuhan, sebentar lagi pasti ia akan meninggalkan dunia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *