Ruang 18

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 January 2016

Melewati semilir angin malam dengan sejuta kebisingan suara mobil ambulans membuat udara ini begitu sangat sesak. Ku termangu dengan ayah dalam meratapi ibu yang kini terbaring di atas ranjang dalam ambulans dengan gantungan infus di tangannya. Aku tak menginginkan semuanya pergi secara perlahan, termasuk ibuku. Terlalu banyak kenangan dan cerita yang telah aku, ibu, dan ayah rangkai dalam jagat raya ini.

Kini ibu dengan penyakitnya yang ganas menggerogoti seluruh tubuh ibu yang suci, kanker payudara yang hinggap di tubuh ibu sejak dulu sampai sekarang masih dirasakan, bahkan semakin parah. Aku tak tahu harus bagaimana, hanya bisa mengirimkan doa untuk sang ibu yang menjadi harapan dari setiap hari-hariku. Tetesan air mataku terus mengalir dari kelopak mata yang kian sendu dengan ratapan hati yang sangat memilukan.

“ya Allah bantulah Ibuku dalam menyembuhkan penyakitnya.” Ujarku dalam isak tangis yang tak kunjung reda di dalam mobil ambulans. Suara ayah menghentikan isak tangisku, dengan penuh kelembutannya ia menasihatiku. “sudah nak, Ibumu akan sembuh, kamu harus sabar dan tabah, apa pun yang terjadi itu kehendak yang maha kuasa, kita hanya bisa terus berdoa dan ikhtiar dalam kehidupan ini.”

Memang benar apa yang dikatakan ayah, bahwa aku harus bisa menerima apa pun yang terjadi. Tapi bagaimana jadinya jika ibu benar-benar mendahulukanku dan ayah? apa aku harus menggantikan peran ibu sejak aku masih duduk di bangku SMP.

Ya Allah… aku tak bisa membayangkan kehidupan yang kelam di esok hari. Bisa jadi ayah akan memberhentikan pendidikan sekolahku saat ini karena tidak mungkin ayah akan melanjutkan sekolahku dengan hasil dari kerja ayah sehari-hari sebagai buruh petani yang cukup untuk biaya makan kami saja. Aku terus memikirkannya selama dalam perjalanan menuju rumah sakit umum Raden Soedjono Selong. Ketika mobil sudah berada dalam halaman rumah sakit para perawat yang bertugas ke luar dari dalam seolah-olah tahu bahwa pertanda dari mobil ambulans ini. Mereka segera membawa ibu ke Ruang Gawat Darurat (UGD).

“Yah, bagaimana dengan biaya rumah sakit ibu? apa Ayah mempunyai uang untuk membayar semua perawatan Ibu di rumah sakit ini?” Ujarku dengan polos kepada ayah yang tengah duduk sambil menutup mata dengan kedua tangannya yang kasar bekas kerja keras yang terus menerus dilakukan di ladang.
“tenang saja Nak, demi kesembuhan Ibumu Ayah akan lakukan segala cara untuk membiayai pengobatan Ibumu. Selama pekerjaan itu halal dan baik.” Ucapan ayah memang selalu membuat hatiku selalu tenang di saat aku dilanda kepedihan yang mendalam.

Ayah seolah-olah tahu apa yang tengah aku rasakan saat ini, sikapnya yang bijak dan ramah dengan penuh kasih sayangnya kepadaku dan ibu serta kepada adikku yang masih berumur dua tahun yang dititipkan di tetangga sebelah, sebelum kami pergi ke rumah sakit tadi. Terkadang ayah juga seperti serigala yang mengaung kelaparan dengan amarahnya yang sering kali muncul dengan tiba-tiba. Tak peduli apa yang ada di depannya untuk diobrak-abrik bahkan sampai akan mencelakakan kami semua sekeluarga.

Waktu terus beranjak larut malam, para dokter yang menangani ibu tak kunjung-kunjung ke luar sejak pukul 21.24 WITA sampai saat ini jam menunjukkan pukul 22.10 WITA. Apa penyakit ibu sangat parah sekali sehingga mereka ke luar sangat lama sekali? Aku bertanya tanya pada hatiku yang sedari tadi mengikuti arah keadaanku yang pilu ini.
“Ayah… kenapa para dokter itu belum ke luar juga, Rina jadi kasihan pada Adek di rumah?” ucapku pada ayah.
“Sabar Nak, ayo kita salat isya di musala sembari berdoa pada Allah semoga Ibu cepat sembuh!” ujar ayah mengajakku dengan menuntun langkahku yang telah gontai dari tadi karena merasa kelelahan.

“ya Allah ya Tuhan kami, bantulah hambamu yang tak berdaya ini. Tiada lain tempat kami mengadu selain kepadamu ya Allah. Engkau maha segalanya bagi kami, engkaulah yang berhak mengatur kehidupan di bumi ini. Berilah kami kekuatan dalam menerima segala keputusanmu yang telah engkau rencanakan wahai Tuhanku. Tabahkan segenap jiwa anak hamba dalam menerima semuanya.”

“Semoga engkau selalu memberikan keluarga hamba kehidupan yang jauh lebih baik dari kemarin, kami tak bisa membendung deraian air mata akan cobaan yang engkau berikan. Sembuhkanlah penyakit istri hamba, kasihanilah dia. Hamba mohon sungguh padamu ya Allah.” ayah meneteskan butiran air matanya sambil berdoa, aku pun ikut menangis dengan penuh harap kepada yang maha kuasa. Aku langsung memeluk ayah yang dari tadi tak henti meneteskan air matanya. Kami saling berpelukan dalam deraian air mata yang berlinang.

Di tengah-tengah kami sedang menangis, ibu di dalam ruang UGD sedang berjuang menempuh kerasnya alat-alat dokter yang tak henti-hentinya mereka luncurkan ke tubuh ibu yang lemas tak berdaya. Suara mesin detakan jantung pun terus berbunyi dengan normal pertanda bahwa nyawa ibu masih ada. Mungkin para dokter sudah tak kuat lagi sehingga mereka perlahan-lahan merapikan tubuh ibu yang terkulai lemah. Seluruh alat telah dibersihkan dari darah ibu. Dan akhirnya para dokter itu ke luar dari UGD. Aku dan ayah yang sudah dari tadi menunggu langsung menanyakan keadaan ibu.

“Dok, bagaimana keadaan istri saya. Apakah bisa teratasi penyakitnya?” tanya ayah dengan sopan.
Salah satu dokter menjawab pertanyaan bapak dengan bijaksananya ia berucap sepatah demi sepatah kata. “Istri Bapak Alhamdulillah, semoga pertolongan Allah masih ada ya Pak. Teruslah berdoa kepada Allah!” ayah pun tidak mengerti dengan perkataan dokter itu, dia mengatakan semoga pertolongan Allah masih ada.

Apa ibu masih belum baik? semakin hari pikiranku menjadi jadi dengan sejuta bayang bayang tentang ibu. Perlahan aku mulai memikirkan ibu yang telah tiada. Nasibku tanpa ibu masih dalam pertanyaan relung hatiku yang mendalam. “maksud dokter apa? Saya tidak mengerti.” Jawab ayah sambil mengejar langkah dokter itu.
“kita lihat saja besok Pak, untuk saat ini istri Bapak masih istirahat. Saya akan panggil Bapak besok pagi.” ujar dokter itu mengakhiri perkataannya yang membuat ayah bertanya-tanya.

Saat fajar menyibakkan sedikit demi sedikit cahayanya, ku terbangun dan melihat ayah sudah tak di dalam musala. Ku teringat dengan ibu yang ada dalam ruang UGD. Lalu aku berlari secepat mungkin melewati kamar-kamar yang terisi penuh dengan pasien-pasien yang tengah berjuang melawan arus kesakitan yang mereka derita. Namun tiba-tiba aku berhenti pada sebuah ruangan yang berisi seorang perempuan separuh baya duduk sedang melihat ke arah gorden jendela. Entah ia melihat ada seseorang atau hanya sekedar mengkhayal. Diam-diam aku terus memperhatikannya hingga sampai pada dadanya yang terpasang selang untuk memompa jantungnya.

“Ya Allah betapa menderitanya perempuan itu tak ada yang menemani.” bisik hatiku sambil terus memandang perempuan separuh baya itu.

Ia melihatku dan tertawa aku berada di ambang pintu sendirian. Perempuan itu sangat cantik jelita walau ia lemah dan tak dapat berbuat apa-apa dengan dayanya yang terkuras habis hingga membuat tubuhnya habis dimakan oleh penyakitnya. Ia kemudian mengulurkan tangannya tanpa bersuara, pertanda ia menyuruhku untuk segera memeluknya. Aku pun mengikuti isyarat yang diberikan. Saat tubuhku mendekat di sampinya, ia memelukku dengan penuh kehangatan dan serasa mengalir kasih sayang yang sama seperti yang ku rasakan pada ibu.

Dia terus memelukku dengan penuh kesejukan hingga tak kuasa menahan bulir air matanya. Ia mulai menumpahkan tangis pilunya dalam dekapan pelukannya barsamaku. Aku tak mengerti mengapa dengan perempuan ini bisa merasakan kehangatan kasih sayang yang begitu persis dengan ibuku. Perempuan yang tak ku kenal namanya ini mulai meneteskan air matanya dalam pelukanku. Entah mengapa aku tak tahu. Teringat akan ibuku, ku lepaskan pelukannya yang begitu hangat dan sedikit menenangkan jiwanya.

“Tante, maaf. Aku harus menemui Ibu yang saat ini sedang operasi.” Ujarku meminta pamit pada wanita yang ku panggil tante itu. Ia meneteskan air mata lagi, aku tahu dia tak ingin berpisah denganku namun aku juga harus mencari ayah dan melihat kondisi ibu. “Aku akan kembali lagi, tenang saja.” kataku untuk menenangkan hatinya yang mungkin kini tengah pilu dan sendu meratapi kondisinya saat ini.

Setelah berkeliling mencari ayah dan kamar tempat ibu dirawat, aku masih tak kunjung menemukan ayah dan ibu. “oh Tuhan, di mana Ibu, ke mana ayah?” lirihku dalam hamparan rumput hijau rumah sakit. Tak ku sadari ayah yang aku cari berada di depanku. Ayah seperti merunduk seakan menangis dalam dekapan tangannya. Aku memutar jalan pikiran otakku, “oh tidak, ini tidak mungkin, Ibu masih hidup.” bayangan ibu terus menjalar dalam benakku. Memutar angan-angan yang akan terjadi setelah aku menanyakannya pada ayah.

“Ayah kenapa? Rina mencari ayah ke mana-mana.” Sapaku dengan memeluk ayah, ayah ternyata menangis, dugaanku benar. Namun akankah dugaanku ini benar lagi? Otakku terus berputar mengingat ibu. “Ayaaaah, Ayah kenapa? Jawab Yah, di mana Ibu, aku mencarinya ke seluruh ruangan rumah sakit namun tak ada, Ayah.. jangan diam saja! Ibu masih hidup kan yah?!” ucapanku agak terlalu keras pada ayah.

Aku ingin ibu tetap hidup. Perlahan-lahan ayah memelukku, mendekapku dengan linangan air mata penuh kesejukan. Membelai rambutku dengan tangannya yang kasar. Tangan ayah kasar karena bekerja keras banting tulang menghidupiku dengan berbekal kerja di sawah nan luas di bawah terik matahari. “Ayah, Ibu masih hidup kan?” tanyaku dengan isak tangis masih ku rasakan.
“Ibumu sudah tenang Nak,” ujar ayah dengan lemas dan begitu tenang. Namun, aku masih tak tahu akan kebenaran ucapan ayah.
“Ibu di ruangan mana, Yah? Ayo kita ke sana jika ibu sudah tenang.”

Ayah membawaku berjalan lagi mengitari seantero isi rumah sakit, aku berharap ibu masih hidup. Namun keyakinanku kini pudar oleh ayah yang membawaku ke ruangan dekat musala. Di samping musala itu ada ruang mayat. Yah, aku hafal betul ruang itu karena dekat dengan pintu ke luar. Aku masih terus berpikir dan bayang-bayang ibu semakin dekat.
“Ibuuuuu, Ibu masih hidupkan, kata Ayah Ibu sudah tenang, Ibu bangun,” teriakanku menggelegar.

Terasa hati yang begitu disayat pisau, menggores hati kecilku ini, akankah ibu meninggalkanku yang kecil ini. Bidadarimu yang siap terus menari di pagi harimu, “oh Ibu, aku tak sanggup!” lirih hati kecilku berkaca-kaca akan semua ini yang begitu cepat berlalu. Terus ku putar kenangan bersama ibu dalam dekapanku yang tak di respon oleh ibu.

Kepergianmu membuat hidup ini terasa berhenti berputar, aku tak tahu harus bagaimana. “Aku menyanjungmu penuh cinta dan kasih. Kau berharap kelak aku bisa menggantikan posisimu, bisa membanggakanmu lewat prestasiku. Namun akankah ibu bisa melihatku saat ini. Aku tak kuat dengan kelakuan ayah yang setiap hari seperti macan yang mencari mangsa. Adikku kini tengah sakit. Rina tak bisa apa-apa Bu..” lirih hati kecilku yang tengah memandangi wajah lucu adikku yang sudah terpasang impus.

Aku teringat lagi akan dirimu yang dulu juga terpasang infus di rumah sakit ini. Rina kasihan melihat adik sakit sesak. Takut kejadian yang pernah ibu alami terulang lagi. Batinku terus berucap pada relung bawah hatiku yang tak kunjung melihat kebahagiaan. Aku teringat lagi akan wanita kurus berparas cantik yang ku panggil tante saat berlari mencari ruang ibu. Akankah ia masih berada di sini? Lirih hatiku terus bertanya-tanya dan berharap ia masih di sini sebagai jawaban hatiku yang ingin merasakan pelukannya lagi seperti pelukan ibu.

Aku berjalan menyusuri ruang demi ruang yang akhirnya aku masih hafal dimana wanita itu berada. Aku melihatnya lagi, dan ternyata ia masih mendengar kata batinku. Ia tahu aku tengah berada di ambang pintu. Seperti biasa ia memberikan senyum yang begitu menawan padaku, dan tangannya yang putih dan lembut tak berat diulurkan padaku. Aku pun berlari sambil menangis dan tanpa sengaja aku memanggil dengan panggilan ibu.

“Ibuuu, aku merindukan dekapanmu. Aku ingin Ibu hidup bersamaku, aku tak kuat menanggung beban ini. Aku masih kecil Bu. Aku ingin Ibu ikut ke rumah.” Suaraku di respon oleh wanita itu, ia memberikan lantunan suara yang begitu merdu. Perlahan namun memberiku kesejukan yang sangat mendalam.
“Ibu akan selalu berada di sampingmu Nak, Ibu akan selalu menjagamu di setiap mimpi indahmu di kala tidur. Memberikanmu sejuta kebahagiaan yang engkau inginkan.” ucapannya sungguh membuat hatiku tergetar, suaranya yang begitu sama dengan ibu.

Belaiannya yang kini ku terima begitu nyaman seperti ibu membelaiku. Isak tangisku pun reda mendengar suaranya yang lembut. Aku merasa malu dan tersipu mengakui tante itu sebagai ibu, aku langsung berlari menuju ambang pintu. Dan berucap padanya sembari meneteskan air mata, “aku akan kembali, semoga kau masih di sini tante, maaf jika aku memanggilmu Ibu.” Aku berlari sembari mengingat kenangan bersama ibu, yang kini telah tenang di alam sana seperti kata Ayah.

Tiba-tiba ayah muncul di pintu kamar tempat adik dirawat. Ayah sepertinya ingin memukuliku lagi, dan menyuruhku untuk berhenti sekolah. Wajahnya seperti macan yang siap memangsa buruannya. Ayah tak seperti biasanya di kala ibu masih ada, ia begitu baik dan tahu apa yang aku inginkan. Namun sekarang, mungkin ayah tak terima akan semua ini. Ayah sepertinya juga tak sanggup kehilangan ibu.

“kau ikut Ayah pulang sekarang, cepaaat!!” bentak ayah sambil menyeretku ke luar. Aku tak kuat menahan cengkeramannya hingga aku jatuh dari kursi.
“untuk apa Yah, Adik Lia masih sakit, siapa yang menjaganya?” lirihku dengan sisa tangis yang mulanya reda terpaksa ku keluarkan lagi.
“ikut saja, ada yang mau Ayah katakan.” ujar ayah menimpaliku.

Orang-orang di sekitar halaman rumah sakit semuanya heran melihat bapak yang begitu ganas menyeretku dengan paksaan. Entah apa yang akan terjadi setelah aku sampai rumah dan apa yang ayah akan lakukan lagi padaku. Begitu banyak derita yang ku alami setelah ibu tiada. Aku merasakan beribu siksa dan kepedihan, termasuk dengan adikku. “duduk di sini, jangan ke mana-mana!” pinta ayah padaku. Aku hanya bisa merintih dengan kepedihan yang mendalam. Begitu kasarnya bapak menyeretku pulang meninggalkan Lia yang saat ini sendirian di rumah sakit.

“Rina, tatap mata Ayah.” Ujar ayah.
“Iya Ayah, apa yang Ayah mau tunjukkan pada Rina?” ucapku membalas.
“Ayah mau kau menikah dan berhenti sekolah.” ucap ayah.

Deg.. bayangan yang aku takut-takuti selama ini benar adanya, padahal aku masih duduk di bangku SMP. Aku ingin sekali sekolah seperti teman-temanku. “Apa Yaaah, Rina masih kecil, apa bisa nanti membahagiakan calon suami Rina? Ayah.. tolong pikirkan dulu rencana Ayah, Rina sudah banyak tersiksa oleh sikap Ayah. Siapa yang akan menjaga dek Lia jika Rina menikah nanti, dan suami Rina tak mengizinkan Adek Lia untuk tinggal bersamanya.” Ayah sepertinya tak peduli dengan kata-kata yang ku ucapkan tadi sehingga ayah bersikeras untuk menikahkanku dengan pria yang belum ku kenali.

“Ayah sendiri yang akan merawat Lia, Ayah tak punya apa-apa lagi untuk merawat Lia dan membiayai kamu sekolah Nak,” ucap ayah sembari meneteskan air mata.
Kini ku kembali melihat wajah ayah yang bening dan bola matanya yang agak memerah kembali meneteskan air matanya. Aku tak tahan dan langsung memeluknya.
“Iya Yaaah, Rina akan turuti perintah Ayah. Rina mau menikah dengan pria pilihan Ayah, Rina tahu pilihan Ayah pasti terbaik untuk Rina.”

Hari itu juga aku dinikahkan dengan laki-laki yang bernama Ayarif, memang Ayarif sepintas yang aku lihat begitu tampan. Namun akankah aku bisa membahagiakannya dengan umurku yang masih kecil ini, dan akankah ia bersedia menerima kehadiran Lia di dalam kehidupannya. Aku terus memikirkan kehidupanku yang dulu ku bayang-bayangkan kini menjadi kenyataan. Setelah akad nikah selesai, aku ingat tentang nasihat ibu.

“Nak, jika kamu kelak telah menikah, kamu harus memakai kerudung ketika ke luar rumah dan melepasnya jika suamimu menyuruh.” Oh ibu, nasihatmu kini kan ku laksanakan. Aku langsung memakai jilbab untuk pergi ke rumah sakit menjemput adik Lia yang sendirian di ruangan yang penuh dengan bau obat-obatan itu. Ayah lebih memilih mengurung diri di kamar dia tak mau mengantarku. Aku duduk di teras menunggu siapa yang bersedia mengantarku ke rumah sakit, jarak rumah sakit terlalu jauh dan aku pun tak mempunyai ongkos untuk pergi ke sana.

“Ayah tak mau mengantarmu? Mari aku antar jika Adik bersedia” ujarnya dengan penuh kesejukan. Suaranya mengagetkanku dalam renunganku yang tengah menutup wajah dengan kedua tanganku, menggetarkan seluruh tubuhku. “oh Tuhan, sungguh merdu suaranya mengajakku untuk pergi bersamanya.” gumamku dalam hati, hingga aku terbata-bata menerima ajakannya.
“ii, yaa. Aku bersedia Kak” balasku.

Kini suamiku tidak seperti yang ku kira, begitu baik dan ramah. Aku sangat bersyukur padamu wahai rabb atas sedikit cahaya yang kau berikan. Aku telah tiba di rumah sakit, ku bawa adikku pulang dengan penuh gembira dengan suamiku Syarif, yah Kak syarif yang berbudi baik dan penolong hidupku.
“biar Kakak saja yang membawa Lia, adik kan cape,” ujarnya penuh kelembutan .
Ya Allah batinku meraung saat Kak Syarif bicara lagi padaku. Aku masih malu-malu membalas ucapannya.
“iya Kak, silahkan.” balasku.

Saat aku handak pulang, aku teringat lagi pada wanita yang ku anggap ibu itu, aku ingin kembali lagi bertemu padanya.
“Kak..” ucapku malu-malu tidak jauh setelah ke luar dari ruang rawat adik Lia.
“iya dek” jawabnya membuat hatiku luluh dan semakin terpesona.
“adik mau mampir ke ruang 18, apakah boleh?” ucapku agak memelas.
“oh, iya tentu. Ayo kita sama-sama ke sana” balasnya.

Subhanallah, sedikit-sedikit benih cinta ini muncul pada hatiku.
“Ibuu, ternyata Ibu masih di sini” ucapanku agak sedikit mengagetkan tante yang ku anggap sebagai ibuku sambil memeluknya.
“iya nak, Ibu masih di sini. Nak Rina?” ucap tante itu memanggil namaku. Dari mana ia tahu.
“iya Bu, dari mana Ibu tahu namaku?”
“suamimu inilah anak Ibu” ujar tante itu.
“Ibu, apa Ibu tidak berbohong?” sambil meneteskan air mata haru aku tak percaya.

Tante itu kembali memelukku dan membelai jilbabku. Ia pun menangis juga melihatku menangis haru tak percaya akan keajaiban yang terjadi.
“benar dek, Kakak adalah anak dari Ibu yang selama ini Adek kunjungi dan lihat.” Aku semakin meneteskan air mata haru tak percaya semuanya kan terjadi, selama ini aku hanya berangan-angan memiliki ibu seperti tante ini. Dan sekarang itu menjadi kenyataan, aku sangat berterima kasih padamu ya rabb.

Cerpen Karangan: Shollina
Facebook: Sholli Wasallim

Cerpen Ruang 18 merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kasih Sayang

Oleh:
Hai! Kenalkan namaku keke. Keke anak primary 5. Keke mempunyai kakak bernama tita. Tita elmentry 2. Tita dan keke tidak pernah akur. Setiap hari mereka selalu berantem. Hari ini

Aku (Tidak) Mau Punya Adik

Oleh:
Betapapun kerasnya mencoba, tetap saja aku tidak bisa fokus pada pelajaranku, pada makan siangku, pun pada kelas musik yang biasanya sangat menghiburku. Aku terpikirkan sesuatu. Tadi pagi di dapur

Tak Bisa Mengulang Waktu

Oleh:
Pagi-pagi sekali, samar-samar sahutan ayam membangunkanku. Kala mentari masih malu-malu menampakkan dirinya. Kurasakan hembusan angin dingin membelaiku. Aku melirik ke jendela kamar yang sepertinya terbuka. Ternyata dugaanku benar. Aku

Allah Itu Adil

Oleh:
Terdengar suara riuh rendah di lokal Aqira, yaitu IV-D. Pak guru sedang membagikan hasil ulangan Matematika. Semuanya takut dan agak deg-degan sambil menelan ludah. Menurut mereka, matematika adalah mata

Kanaria dan Putih

Oleh:
Kalimat itu pendek saja, namun artinya terasa amat panjang bagi hidupku. Sekilas saja pernah diucapkan, namun sepanjang hari aku telah mengingatnya. Waktu itu, entah kesekian kali dalam tahun di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *