Ruang Waktu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 19 January 2018

Rintikan hujan masih berjatuhan saat ini, jalanan yang masih basah akibat hujan semalaman membuat suasan pagi ini pun terasa begitu dingin dan menusukku.

Aku duduk menikmati pagi ini, suasana hati yang tak seindah pemandangan pagi ini. Namun dinginnya suasana ini menggambarkan bagaimana hatiku.

Aku memang mempunyai banyak masalah dalam hidupku, beban yang tak kunjung hentinya 6 tahun bukan waktu yang singkat. Untuk menjadi, seorang gadis dengan status broken home sepertiku ini. Mama yang meninggalkanku ketika aku duduk di bangku kelas 3 smp saat saat, dimana aku membutuhkan support dan segala kasih sayang darinya. Namun sayang, kesedihan memberikan aku segalanya dan menutupi kebahagiaan yang ku miliki..

Aku mengikhlaskan apa yang telah pergi aku mengikhlaskan mama yang pergi tanpa melihat ku dulu, ini memang bukan salah siapa siapa jika keadaan seperti ini siapa yang akan disalahkan? Ayah? Orang lain? Atau diriku sendiri. Tak ada yang bisa disalahkan. Garis takdir sudah menentukan segalanya, skenario sudah ditetapkan tuhan dan aku hanya mengikuti alur yang telah ditetapkan.

Dua tahun berlalu,
Setalah mama pergi meninggalkanku. Ayah pun sudah mendapatkan kebahagiaannya kembali. Aku senang mendengarnya, kebahagiaan ia dapatkan kembali. Entah meski 2 tahun berlalu aku masih saja tak mampu menerima keadaan yang aku terima saat ini. Aku masih merindukan sosok mama yang dulu selalu menyapaku dengan lembutnya, aku tau dulu memang hubungan dengannya tidak begitu baik. Tapi, rasa kehilangan yang begitu berat membuat kesedihan dan kehancuran tak bisa ku kontrol saat ini. Seringkali, aku melamun mengulang kembali kenangan yang tak akan lagi bisa ku ulang kembali. Hehe, tak apa yang terpenting mama sudah tenang di sana.
“Mah aku merindukanmu”

Aku tersenyum menatap langit yang mulai cerah,
Aku tetap duduk di tempatku hingga akhirnya ayah menghampiriku dengan senyumannya

“Disini sejak tadi apa yang kau lakukan?”
“Ah, ayah iya aku sejak tadi di sini. Biasa aku hanya duduk menikmati hujan dengan udara yang sejuk”
“Masih kah kau suka dengan hujan?”
“Masih”

“Mengapa adakah yang spesial di antara hujan itu?”
Aku hanya terdiam lalu tersenyum, lalu menjawab. “Hehe hujan itu seperti sesuatu yang spesial, kadang aku bisa merasakan ketenangan saat didekatnya. Entah kenapa aku suka sekali dengan hujan”
“Kau itu memang tak ada berubahnya” senyumnya
Aku hanya tersenyum kembali saat menatapnya.

Bukan tak ingin menampakkan sebuah kesedihan yang terjadi aku hanya tak ingin memperlihatkan sesuatu yang sedih dan sulit padanya, makanya aku selalu berusaha untuk menyimpannya sendirian.

Keesokan harinya
Ini hari pertama ku sekolah, setelah libur sekolah dan kenaikan kelas kemarin, kini aku kelas 3 smk. Hehe masa masa yang sebentar lagi akan memulai kehidupan yang sesungguhnya…

Aku beranjak turun dari kamarku dan menemui ayah dan bunda.
“Pagi” senyumnya
“Pagi bun pagi yah” aku kembali menyapa dan tersenyum padanya.

Aku tau keadaan hati tak bereaksi apa apa setelah aku mendapatkan kehidupan ini dan mama baru. Hanya saja, aku bahagia bisa melihat ayah tersenyum. Meski ia tak tau, seberapa luka yang kusimpan sendirian.

“Bagaimana hari ini? Bahagia kah?” tanya ayah
“Ah, ayah tau aku selalu bahagia bukan? Pernahkah melihatku sedih”
“Tidak juga sih”
“Ya berarti tandanya aku akan selalu bahagia dan selalu bahagia”, dan selalu menyimpan sedih ini sendiri, ucap batinku

Ayah hanya tersenyum menatapku, aku segera pamit berangkat menuju sekolah agar suasana pun tak semakin merumit.
“Bun, yah aku berangkat”
“Hati hati yaa.”
“Iyaa”

Aku segera keluar pergi meninggalkan mereka dengan hati yang sedikit hancur. Ya begini lah aku, hidup dengan kesedihan yang selalu tersembunyi.

Aku segera masuk ke mobil dan menyuruh pak broto menjalan kan mobilnya menuju sekolah.
“Pak jalan”
“Baik non”

Kuhabiskan perjalanan menuju sekolah dengan air mata yang menetes, entah mungkin rasa sakit yang semakin menumpuk ini membuat air mata tak bisa menahannya lagi. Hingga aku tak sadar aku sudah sampai di sekolah. Aku segera menghapus air mata dan turun dari mobil.

Aku berjalan menuju kelas dengan mata yang sembab, hati yang hancur. Sudahlah lupakan, mau menangis bagaimana pun tak akan berubah segalanya. Aku terus berjalan melewati lorong hingga akhirnya aku masuk ke dalam kelas. Disambut beberapa sahabat yang melihatku aneh. Mungkin karena mata yang begitu sembab.

“Hey hey, ada apa? Koo matanya sembab banget? Abis nangis ya?” tanya vinka yang beranjak dari tempat duduknya.
“Ah, tak apa hanya saja aku kelelahan jadi mataku seperti ini” senyumku menutupi semuanya
“Hey kau berbohong kah?” ujar rio sambil menaruh kedua tangannya di dada, seperti orang yang benar benar ingin sekali meluapkan amarahnya
“Kau ini selalu saja menutupi, sulitkah untuk jujur dan bercerita?” timpa nada yang mencoba ikut ikut marah.

Aku hanya tersenyum dan menjawab “Hanya sedikit hati yang terluka” senyumku dengan sangat bahagia.
Aku segera meninggalkan mereka dan duduk di tempatku, aku hanya tak ingin berlama lama bersandiwara, lagi pula, bagaimana pun diceritakan pun mereka tak akan mengerti maksud hatiku.

“Hey kau ini menyebalkan sekali” ujar rio yang menghampiriku
“Lisa bisakah ceritakan pada kami ada apa denganmu?” tanya nada dengan kelembutannya
Ya mungkin seperti itu hanya untuk membuatku bercerita, tapi entah mengapa apapun yang dilakukan mulutku akan selalu tetap bungkam.

Bel bunyi pun masuk hingga akhirnya mereka pasrah dan kembali ke tempat duduk mereka. Jam belajar pun berlangsung dengan sangat tenang, bagaimana tidak tenang bu eka. Guru yang terkenal dengan killernya di sekolah ini, hingga anak anaknya pun menyebutkan dirinya sebagai “Lady devil” karena galak dan killernya ia.

Hingga saat akhirnya pelajaran bu eka sudah selesai.
“Baik anak anak sampai sini pelajarannya, mohon prnya jangan lupa dikumpulkan minggu depan”
“Baik bu” ujar anak anak.

Ya kembali ke masalah awal, lagi lagi mereka menghampiriku dan masih saja dengan pertanyaan yang sama, menanyakan ada apa dengan mataku yang sembab.

“Masih ada niatan kan untuk menanyakan hal itu?” ujarku pada mereka
Aku mengambil novel yang kubawa dan mencoba tak terfokus dengan mereka agar mereka melupakan kejadian yang sudah terjadi tadi.

“Kau ini selalu saja mengalihkan seperti ini” ujar nada
“Apa? Ada apa? Salahku apa?” ujarku dengan memasang wajah polos
“Kau ini, aku tau kau sedang sedih tapi tak ada niatan sedikitpun untuk bercerita pada kami apa yang sedang kau sedihkan”

“Haruskah aku bercerita?” tanyaku sambil menutup novelnya
“Iya” ucap mereka bertiga
“Tapi aku tak ingin bercerita sama sekali” ujarku sambil membuka novelnya kembali
Mereka hanya memasang wajah kesal karena ulahku, aku tertawa hanya untuk memastikan pada mereka aku baik baik saja.

Waktu berlalu dan jam pulang pun telah tiba

“Lisa?” panggil vinka
“Iya ada apa?”
“Kau benar tak apa?”
“Masih juga dipertanyakan?”

“Aku hanya tak ingin kau terluka dan sedih. Aku tau kau sedang mengalami masa yang berat hanya saja kau tak menceritakannya pada kami”
“Vin, sudah ku katakan bukan aku akan selalu baik baik saja hatiku pun baik” entah mengapa dada mengapa menyesak saat mengatakan hal berbohong seperti ini, namun semua kulakukan hanya untuk menutupi rasa sakit yang tak pernah aku tunjukan, biarkan senyuman melakukan tugasnya meski itu bohong sekalipun.

“Aku pamit pulang ya”
“Kamu gak akan bareng sama kita?” tanya rio
“Hehe gak papa ri, aku udah dijemput sama supir aku balik duluan ya”

“Ya udah deh, hati hati ya sa”
“Always hehe” senyumku

Aku beranjak pergi dari mereka dan meninggalkan mereka, aku masuk ke dalam mobil dan kembali lagi, kembali larut dalam rasa sedih. Seperti memakai dua topeng sekaligus dalam hal ini. Topeng senyuman yang selalu aku pakai saat didepan bunda ayah dan teman teman yang lain. Lalu kubuka lagi setelah tak ada orang. Hanya kesunyian dan air mata yang menjadi temanku.

Pandangan yang selalu melihat ke arah luar jendela mobil, air mata yang berjatuhan membuat hati semakin tak karuan. Aku tak memutuskan untuk pulang terlebih dahulu aku meminta pak broto mengantarkanku ke tempat yang biasa aku kunjungi selagi aku sedang sedih, iya aku kembali ke tempat tenang itu.

Dan aku sampai di tempat itu,
Aku turun dan menyuruh pak broto untuk mencari tempat istirahat sekaligus menungguku.
“Pak saya mau ke sana, bapak istirahat aja nanti kalo saya udah selesai saya balik lagi kok”
“Baik non”

Aku berjalan menuju suatu tempat yang luas jauh dari orang orang, sunyi dan benar benar sunyi. Aku berjalan terus berjalan, hingga aku tepat pada ujung tempat itu, tempat yang biasa aku datangi. Aku menangis sesukaku, aku mengeluarkan apa yang sedang aku rasakan, kehancuran dan luka aku tumpahkan dengan teriakan yang begitu kencang air mata terus berjatuhan dan berjatuhan.

“Sudah lega kah?” seseorang datang dan menghampiriku, entah siapa dia.. Aku rasa aku tak pernah melihatnya di sini lalu bagaimana dia bisa tau, tentang tempat ini?

“Kau siapa?”
“Haruskah aku mengatakan siapa aku” senyumnya
Entah mengapa, senyumnya begitu tenang saat kutatap.

“Melamun ya” senyumnya kembali dan menatapku
“Bagaimana kau bisa tau tentang tempat ini?” ujarku
“Aku sering ke sini”

“Sering? Tapi aku tak pernah melihatmu sebelumnya”
“Tapi aku sering melihatmu” senyumnya
Aku hanya terdiam, bagaimana bisa ia sering melihatku dan aku tidak.

“Aneh ya hehe”
“Kau lisa bukan?”
“Eh bagaimana ia bisa tau apa yang aku katakan?” ujarku dalam hati

“Bagaimana apa kau sudah lega? Apa lukamu sudah sembuh?”
“Pria ini sebenarnya siapa? Bagaimana tau namaku lukaku dan sebagainya” batinku

“Kau ini, siapa sih bagaimana bisa tau namaku sampai sampai bicara soal lukaku”
“Kau ini lucu sekali. Aku tau namamu karena kau sering menyebutkan namamu setiap kali kau berteriak” tawanya
“Hei apanya yang lucu” ucapku dengan sebal
“Kau ini lucu, lucu sekali. Bagaimana bisa perempuan cantik sepertimu terluka dan mempunyai kesedihan yang begitu dalam”

“Lalu apa urusanmu, kau ini menyebalkan!”
Aku hendak beranjak pergi darinya namun suara itu kembali berbicara.. “Hei, jika kau merasa terluka kembalilah aku akan, menemanimu di sini untuk mendengarkan ceritamu itu” senyumnya

Aku hanya terdiam, dan kembali melangkah pergi darinya entah siapa pria itu, tapi yang aku tau ia sudah mengganggu waktu kesendirianku. Aku kembali kedalam mobil dan menyuruh pak broto untuk segera pulang.

Sesampainya di rumah.

“Dari mana? Kenapa baru pulang?”
“Hanya mencari ruang waktu untuk sendiri yah”
“Kau tau sudah jam berapa ini?”
“Aku tau ini jam 5 sore”

“Bisakah untuk tidak sering pergi, kau ini menghabiskan waktu di luar untuk hal hal yang tak berguna”
“Aku hanya pergi untuk menenangkan fikiran saja apa itu salah?”
“Tidak salah, hanya saja sering kali tak ingat waktu!”
“Aku pergi pun, karena untuk menenangkan diri mencari sesuatu yang tak pernah aku dapat di sini”

“Apa? Bicara sekali lagi” nada bicara ayah semakin meninggi tapi aku tak peduli, aku hanya bicara sesuai hati, aku sudah lelah jika terus seperti ini.
“Ayah? Mengapa kau berubah? Kau sudah bahagia? Dan aku senang kau bahagia. Tapi mengapa kebahagiaan aku kau lupakan begitu saja!” air mata mulai menetes dari mataku tangan yang mengepal karena ingin sekali melampiaskan segalanya.
“Apa maksudmu!”

“Sebelum kau menikah kau memperlakukanku dengan sangat baik bukan? Lalu mengapa saat ini setelah kau menikah dan memiliki segalanya kau selalu melupakanku. Bukan kebutuhan yang kau lupakan tapi hati dan kebahagiaanku yang kau lupakan!”
“Bicaramu tak bisa dijaga” tangan yang sudah hampir dekat dengan pipi ku namun tertahan karena ucapanku
“Apa silahkan tampar aku sesukamu silahkan”
Air mata ku terus menetes tak hentinya. Yang aku ingat hanya satu, jika mama masih ada ia akan menghalangi ayah berbuat kasar padaku..

Tapi saat ini? Hanya aku yang bisa melakukannya sendiri. Haruskah aku merasakan luka lagi di bibirku, haruskah aku merasakan sakit dan lebam lagi pada bagian wajah dan badanku?, haruskah kembali lagi terluka?
Hati ini saja sudah terluka lalu, fisik ini? Haruskah terluka kembali. Air mata tak ada hentinya menetes, dada yang semakin menyesak karena harus menahan semua rasa sakit yang aku tahan selama bertahun tahun hingga sampai saat ini.

“Mah, aku membutuhkan ruang waktu bersamamu. Merasakan kasih sayang sesungguhnya yang selama ini tak pernah aku dapatkan lagi” tangisku.

Cerpen Karangan: Mutya Zulmi
Facebook: Mutyaazulmi

saran dan kritik sangat diperlukan. bisa kasih saran dan kritik langsung ke media sosial milik saya yaa.
Ig: mutzlmy_
Line: Mutyaazulmyy21
Thanks 🙂

Cerpen Ruang Waktu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kepedihan Hati

Oleh:
Rasa sakitku semakin hari kian bertambah, aku sudah tak kuat dengan siksaan ini. Aku sudah bosan melihatnya lagi. Rasanya aku ingin pindah sekolah, tapi tanggung aku sudah kelas 6,

Apakah ini Mimpi?

Oleh:
Malam itu terasa sangat mencekam. Saat hujan turun, kudengar suara tangisan Adly, adik sepupuku. Dia terus menangis tanpa henti, saat itu ia berumur dua bulan, ia hanyalah seorang bayi

Ayah Atau Pacar

Oleh:
Nama gue Tyas, tahun ini usia gue 23 tahun. Gue kuliah jurusan hukum semester 7. Tadi waktu di kampus, dosen ngasih tugas ke kami untuk membuat sebuah makalah tentang

Senja Dan Pertemuan Singkat

Oleh:
Ia melihat senja dengan tatapan kosong, gadis itu seakan berbicara pada senja, ia berada di ambang kesedihan yang amat dalam, kesedihannya terpancar jelas dari raut mukanya. Hatinya seakan berkomunikasi

Jangan Menyerah

Oleh:
Walau dunia tak seindah surga tapi inilah duniaku, tak tau harus senang atau sedih, semua yang kualami adalah pelajaran berharga sepanjang hidup. Manusia tak bisa memilih dari rahim siapa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *