Rumah Dari Tangan Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 1 February 2017

Di masa mudaku dan tahun-tahun rapuh, Ayahku mengajakku tinggal di sebuah rumah yang tampak seperti buah permai di puncak bukit yang dikelilingi sungai jernih dan gunung-gunung beku yang menggigil.
Saat pertama kali melihat rumah dari luar, Aku takjub dan berharap bisa menghabiskan liburan musim dingin ini dengan sedikit sentuhan berwarna. Namun apa yang setelah itu kulihat dalam rumah adalah pandangan jijik dan mengerikan. Sarang laba-laba ada dimana-mana, di langit-langit rumah, dinding dan properti seperti meja dan tempat perapian kecilnya. Dinding-dinding kayunya seperti pipa hitam di pabrik.

Aku berjalan pelan tetap waspada agar tidak terperosok di antara pijakan lantai papan kayu yang telah rapuh dimakan usia. Sementara ayah menaruh kardus di samping kotak yang dibawanya masuk tadi dan menjatuhkannya di kaki tangga. Setidaknya, sebagian besarnya hari ini akan ada dua perdebatan dengan ayahku. Kesenangan apa yang aku dapatkan di musim dingin tahun ini? Juga inikah hadiah yang ia janjikan karena aku menang olimpiade sains tingkat SMP di sekolah dua bulan lalu?

Jika suasana terus macam ini, maka akan menghancurkan rencana bersenang-senang dan melupakan semuanya. Bahkan dari detik ini aku sudah kehilangan rencana menghabiskan malam sambil makan chicolota berminyak dan menonton pertandingan di televisi.

“Apa kita akan tinggal di sini ayah?”
“Begitulah,” kata ayah santai saat membawa berbagai perkakas, berupa cat dan kuas.
“Aku tidak ingin tinggal di sini?”
“Kenapa?”
“Karena suasana di sini sangat buruk dan menakutkan.”
“Oh ya?” Ayah melihat ke sekeliling sekilas sambil membersihkan bajunya. “Paling tidak ini awal yang bagus.”
“Tidak, ini benar-benar tidak bagus. Apa ayah tidak mempedulikan kesehatanku?”
“Pertanyaan yang bagus, nak,” katanya tersenyum. “Aku mencintaimu dan almarhum ibumu. Mana bisa aku tidak peduli denganmu, kita hanya perlu beberapa sentuhan di sini. Olesan kecil cat di dinding seperti mengoles selai dari roti. Membersihkan langit-langit dan lantai dari kotoran tikus. Membetulkan perapian dan menghiasinya dengan jari-jari kreasi. Ayolah, ini akan menyenangkan.”
“Tapi aku tidak suka menghias. Kecuali… baiklah,” kataku terpaksa. “Tapi bagian mengusir tikus untuk ayah.” Kami tersenyum.

Penuh hari ini kami kerjakan untuk tugas rumah. Denah rumah yang ayah buat persis dengan rumahnya, kecuali sedikit modifikasi. Trim dinding dan lantai telah dikelupas untuk memunculkan warna kayu alami dan dipelitur, kemudian dinding-dindingnya dicat hijau tua hangat, sehingga menonjolkan warna madu pada lantai kayunya. Ia juga telah memasang lampu model antik di langit-langitnya tinggi.
Lorong rumah itu seharusnya ditutup karpet, pikirku. Karpet tua, sedikit gundul, dan penuh karakter. Dan mungkin ayah berniat mengecat ulang meja di dekat pintu.

Ayah kembali sambil membawa dua helai handuk berwarna biru tua. “Ayah sudah membuat beberapa perubahan bagus di sini.”
“Masa?” Ayah melihat ke sekeliling sambil menggosok-gosok rambut dengan handuk. “Paling tidak ini awal yang bagus bukan?”
“Benar-benar bagus,” ujarku sambil berjalan masuk ke ruang duduk. Perabotan-perabotan harus diperbarui. Ditutup taplak atau lebih baik lagi, diganti dengan yang baru. Dan poster penyanyi bryan adams yang diidolakan ayah adalah satu satunya pemandangan unik di dinding. Gambar itu hampir memenuhi setengah sisi dinding. Warna hijau dinding-dinding ruang duduk itu sedikit lebih tua, dan interior kayunya benar-benar indah. Tempat perapian kecilnya dibuat dari batu granit coklat muda dan dibingkai kayu ek berwarna madu dengan rak lebar di atasnya.”
“Ya Tuhan, ini benar-benar indah, yah. Sungguh.” Aku berjalan melintasi ruangan menghampiri perapian, jari-jariku mengelus rak di atas perapian. Rak itu berdebu, tapi kayu di bawahnya benar-benar terasa halus. “Oh, coba lihat apa yang kaulakukan pada jendela itu!”
Jendela itu disekat rak-rak, dengan ukiran-ukiran di pinggirnya. “Ini jenis detail yang dibutuhkan untuk ruang seukuran ini. Membuatnya tampak indah tanpa kelihatan sempit. Membuatnya tampak nyaman.”
“Ayah sedang berpikir untuk melapisi bagian depannya dengan kaca -­mungkin kaca buram. Belum diputuskan. Tapi ayah akan melakukan hal itu pada lemari built-in di ruang makan, jadi mungkin yang ini akan dibiarkan tetap terbuka saja. Yang terpenting bahan untuk membuatnya juga tak ada.”
Aku baru tahu jika ayah tukang yang andal dan jika dia melakukan keahliannya ini sebagai pekerjaan. Pelanggan pasti bangga pada hasil karyanya, dan sikap antusias lebih puas lagi.
“Bagian Dapur sudah selesai, kalau kau mau melihatnya,” Ujar ayah tersenyum enteng.
“Dapur adalah ruangan terpenting.” Ayah membuka pintu dapur.
Sebelum ayah membawaku ke sini, ternyata dia melakukan sedikit renovasi di bagian dapur. Ayah mengganti lantai dapur dengan keramik berukuran besar yang warnanya senada dengan meja dapur dan memilih warna putih untuk lemari-lemarinya. Beberapa di antaranya mempunyai daun pintu berkaca. Ia juga memasang meja untuk acara makan-makan santai, dan menambahkan jendela sehingga pemandangan halaman belakang rumah bisa dilihat di dapur. Ambang jendela itu dibuat dari batu dan sengaja dibuat lebar untuk menaruh pot-pot berisi tanaman bunga atau tanaman bumbu yang cantik.”
“Aku suka sekali bagian dapur ini. Mungkin aku bisa menghabiskan seharian bermain di sini.”
“Tapi kau yakin tidak ingin menghabiskan seharian di sebuah tempat lain yang sekiranya lebih menakjubkan?”

Ayah kemudian membawaku ke bagian kamar dekat ruang utama. Dinding kamar berlatar keliaran hutan dan ketenangan awan. Rak-rak buku lengkap dengan meja belajar memang disiapkan ayah untuk aku tetap mengingat musim dingin ini bukan hanya sekedar liburan tetapi juga untuk mengasah otak. Ranjang dan kasur hangat dari sutera dan bermotif tokoh kartun Donald Bebek yang kusukai. Kali ini aku benar-benar betah. Ayah menekan sebuah tombol dan membuat lantai kayu di bawah terbuka. Awalnya aku mengira diletakkan teknologi untuk membuatnya terbuka, tetapi setelah ayah menjelaskan caranya bekerja, ternyata itu hanya sebuah rancangan kayu biasa yang dibuat dengan detail hingga terlihat seperti teknologi mesin.

Ruangan bawah itu adalah tempat bermain dengan temperatur hangat. Cahaya lampu terang cukup menerangi seluruh sudut ruangan. Lantainya terbuat dari kayu Aspen dan dinding-dinding masih berupa bata merah yang memantulkan cahaya.
“Kayu Aspen adalah kayu berkualitas, putih dan halus. Memiliki satu kekhasan aroma yang kuat. Cukup ideal dan mengesankan,” kata Ayah mengajar.

Di ruangan bawah itu juga diletakkan barang-barang yang punya arti penting. Ayah masih menyimpan dua gambar yang kubuat untuknya waktu aku masih kecil dulu, seperti gambar hati dengan garis bergerigi bertulis ‘I Love U forever, Daddy’. Juga gambar rumah kotak-kotak dengan atap segitiga. Matahari besar dan bundar. Burung-burung berbentuk huruf W yang beterbangan.
Aku tahu. Ayahku memutuskan untuk menyimpan kenangan masa lalu daripada memikirkan masa depan yang belum tentu menyenangkan baginya. Karena ia tahu cara mengartikan kebahagiaan sebenarnya, dengan melihat orang-orang di sekitarnya bahagia, begitulah cakapnya.

Dua hari setelah berakhirnya musim dingin dan pulang ke rumah kami yang terletak di desa elite di pinggir kota. Aku terpukul atas kematian ayah yang mendadak. Dia meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Mobil yang dia kendarai ditabrak sebuah truk pengangkut kayu. Sebenarnya kematiannya bukan karena kecelakaan, melainkan lebih tragis, tertimpa kayu besar dari truk yang jatuh saat berusaha menyelamatkan diri. Sebelum dia meninggalkanku dia sempat menulis sebuah surat berisi perkataan di atas meja kerjanya. Rumah dari tangan ayah sekarang ayah serahkan ke tanganmu. Berjanjilah kau akan membuatnya lebih indah dan aku yakin dunia akan menengokmu.

Setelah aku beranjak dewasa aku menepati janji itu, dan butuh beberapa tahun untuk menciptakan bangunan berarsitektur luar biasa. Tanpa melupakan tugas kuliah aku terus mengepakkan mimpi-mimpiku. Hingga aku lulus dan bergelar sarjana arsitektur, aku fokus pada pembangunan rumah. Untuk bisa menfasilitasi pembangunan yang kubuat, aku juga bekerja bisnis renovasi rumah bagi klien-klienku yang aktif. Bisnis yang bagus saat ini, jadi itulah intinya.

Aku menikah di umur 25 tahun dengan wanita yang bekerja di sebuah restoran piza yang ia warisi dari mendiang ibunya. Sampai kami memiliki seorang putra, pembangunan yang kubuat akhirnya selesai. Rumah yang ayah bangun dan aku bangun menjadi sebuah bangunan berarsitektur tinggi. Dan diantara pejabat dan bangsawan kaya raya berniat membelinya. Tapi masa bodo untuk hal itu. Aku tidak berniat untuk menjualnya. Mimpi ayahku sekarang terbang bersama mimpiku. Dan untuk satu-satunya alasan aku berada di sini sebab atas keberadaan ayahku. Terima kasih ayah. Terima kasih selamanya.

Cerpen Karangan: Musa Bastara

Cerpen Rumah Dari Tangan Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bangun Ayah, Jangan Tinggalkan Aku

Oleh:
Saat itu langit tampak mendung, aku masih di kampus untuk mengerjakan tugas yang diberikan dosen namun saat aku mengerjakan tugas aku merasa tak tenang, fikiranku terbayang pada sosok ayah

Memori Cinta

Oleh:
“Ibu… ini aku bu, tari anakmu, aku mohon ibu lihat aku!” Berulang kali perkataan itu kulontarkan kepada ibuku, tapi ibuku tak pernah menjawab perkataan itu. Tangisanku memuncak disaat rombongan

Tuhan Izinkan Dia Hidup

Oleh:
Masa muda masa yang penuh warna, derita, bahagia, dan juga penyesalan bercampur jadi satu. Begitu juga dengan masa mudaku, aku selalu berpikir seandainya saja aku tidak memilih jalan itu

Sebuah Penyesalan

Oleh:
Bogor, Rumah Sakit PMI, Selasa 18 September 2012, 03.25 WIB “Mah, bangun Mah…! Jangan tinggalkan Angga sendiri! Angga belum siap ditinggal Mamah! Angga janji kalau Mamah bangun, Angga akan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *