Rumah Deja Vu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 6 November 2013

Siang itu aku dan keluarga sedang dalam perjalanan menuju rumah baru di kota Bandung. Sepanjang perjalanan, kami sibuk dengan kegiatan masing-masing. Kakak laki-lakiku fokus menyetir, Ibu tertidur di jok depan, dan adik kecilku menikmati susu botolnya di pangkuan Ibu. Sedangkan aku, sibuk dalam lamunanku menatap setiap sudut jalan yang terlewati. Banyak pikiran terbesit bagai klise diputar bergantian. Salah satunya, pikiran tentang keluarga ini yang sudah tiga kali pindah rumah. Kali ini Ibu memilih kota di mana kini Kakakku kuliah. Tujuannya agar Kakak tidak tinggal di kost-an dan Ibu bisa memantaunya secara langsung.

Berat rasanya bila harus berpisah dengan teman, sekolah dan lingkungan di tempat tinggal sebelumnya. Ditambah lagi aku semakin jauh dengan Ayah. Sudah 10 tahun sejak Ibu dan Ayah bercerai. Aku jarang bertemu Ayah, dan aku sangat merindukannya. Terkadang aku merasa Ibu seolah ingin menjauhkan kami dari Ayah dan ini salah satu caranya, pindah rumah. Karena kesal, sepanjang perjalanan aku hanya diam dan bicara seperlunya. Perjalanan terus berlanjut, perlahan aku merasakan kantuk hingga akhirnya tertidur. Enam jam perjalanan entah kenapa terasa cepat. Mobil ini berhenti, lalu Ibu membangunkanku, ia bilang kita sudah sampai. Dengan sempoyongan aku turun dari mobil dan membuka mata lebar-lebar untuk melihat rumah baru. Kesan pertama aku sedikit kecewa, rumah ini kuno, dan berada di hutan.

Ibu, Kakak, dan para kerabat yang ikut membantu proses pindah rumah, sibuk memindahkan barang. Sedangkan aku hanya diam memperhatikan keadaan sekitar sini. Di hadapanku berdiri kokoh bangunan dua lantai klasik Eropa. Dikelilingi pohon pinus, cemara dan pohon tinggi lainnya. Lebatnya pohon bagai tudung mengatapi, sehingga nampak teduh dan gelap. Dingin, sunyi, serasa ada di ruang hampa. Pohon-pohon di sini seolah hanya properti mati karena tak terasa semilir angin sama sekali. Setiap sudut kuperhatikan teliti, tidak ada kendaraan berlalu lalang dan aktivitas manusia lainnya. Kudekati gerbang besi berkarat terdapat ukiran bertuliskan “Deja Vu” kemungkinan itu merupakan nama dari rumah ini.

Rumah peninggalan penjajahan belanda ini terkesan mistis. Warna dinding yang usang tanpa di cat ulang, pencahayaan dan ventilasi yang kurang. Ukuran jendela dan pintu yang menjulang tinggi dari ukuran pada rumah umumnya. Ditambah masih ada barang-barang kuno peninggalan pemilik rumah ini. Aku dan Ibu berbeda, ia menyukai hal klasik itu sebabnya rumah seperti ini yang dipilih, alasan itulah yang membuat kukesal dan merasa Ibu egois. Setelah semua barang ditata rapi, kami pun makan siang. Saat makan, Ibu, Kakak dan Adik mengobrol, namun aku tetap diam karena kecewa dengan rumah yang harus ditempati. Ibu tahu sejak tadi aku diam karena kesal, ia pun meminta maaf karena tidak ada pilihan selain menempati rumah ini. Tanpa sengaja, aku bicara pada Ibu bahwa kita pindah karena ia ingin manjauhkan kami dari Ayah. Karena sedikit menyesali ucapanku, aku pun memilih pergi tanpa menghabiskan makan siangku.

Aku memilih untuk mengurung diri di kamar lantai atas. Kamar tua dan menyeramkan, banyak bercak-bercak hitam di dinding seperti darah kering, tapi aku tidak peduli. Kurebahkan diri di kasur tua berenda peninggalan rumah ini. Kasurku entah Ibu simpan di mana aku, masih belum siap bicara padanya. Berjam-jam aku mengurung diri, entah sudah pukul berapa, sejak tadi kuperhatikan semua jam di sini mati, begitupun dengan jam tangan baruku. Benar-benar bosan, bahkan aku tidak bisa chat atupun online karena sejak tadi tak ada sinyal. Kesal tingkat dewa, tempat ini jauh dari peradaban. Aku pun merenung dekat jendela berhiaskan tirai usang. Kuperhatikan keadaan sekeliling rumah ini. Satu hal menarik pandanganku, di halaman bawah kamarku ada tiga jajar kubangan tanah cukup dalam dan panjang.

“Tok… tok… tok” Ketukan pintu mengalihkan perhatianku dari kubangan tanah. Kubuka pintu, namun tak ada siapa pun. Saat berbalik ke arah jendela hari sudah gelap, padahal jelas-jelas tadi masih siang. Belahan dunia mana ini? Kenapa waktu berjalan sangat cepat? Dari sini terdengar canda tawa Ibu, Kakak dan Adik di lantai bawah. Aku memperhatikan mereka dari balkon, Ibu melihatku dan memintaku turun untuk bergabung. Namun, aku memalingkan wajah dan kembali ke kamar. Belum sampai pintu kamar, Kakak berbicara padaku “Ami.. Terus saja kamu mengacuhkan Ibu, sampai nanti kamu menyesal tidak akan pernah bertemu Ibu lagi” Ucapannya membuatku tertegun, tapi aku melanjutkan langkah dan kembali diam di kamar.

Di kamar aku merenungkan perkataan Kakak, aku pun sadar bahwa sikapku telah melukai perasaan Ibu. Suara mereka masih terdengar di ruang bawah, namun perlahan terdengar sayup-sayup suara lain, asing dan bukan suara dari keluargaku. Semakin keras dan jelas, suara itu seperti rintihan wanita dan suara pria yang membentak. “Ampun.. ampun” lirih dan terdengar pilu. Lalu terdengar benturan keras berkali-kali dan lirih itu melemah, justru suara pria itu yang menggila. Angin yang sejak tadi tidak muncul justru kini berhembus kencang menerpa jendela hingga terbuka. Setahuku tidak ada rumah lain selain rumah ini. Karena takut, aku bergegas turun menghampiri keluargaku. Namun di bawah mereka sudah tidak ada. Kucari mereka ke setiap ruang, tetap tak ada siapapun.

Tiba-tiba TV menyala, dalam layar TV muncul seorang wanita berkebangsaan asing seusia Ibu, mengenakan gaun putih dan berada di kamarku, semua properti sama. Tiba-tiba seorang pria datang menghampiri wanita itu. Ia mencaci maki lalu memukuli dan menendang wanita itu dengan keras. Miris aku melihatnya, wanita itu menangis dan menjerit kesakitan suaranya persis yang barusan terdengar, begitu pun dengan suara si pria. Seolah bertransformasi menampakkan wujudnya melalui TV. Aku tidak tahu apa yang kulihat saat ini tapi aku terus menyaksikan wanita itu disiksa. Sampai tergolek lemah dan berlumuran darah. Wanita itu kemudian berbicara
“Narnia… pulanglah nak! Ibu minta maaf, seharusnya Ibu mempercayaimu, pulang nak!” Lirihnya, namun pria itu kembali memukulinya, tiba-tiba gambar layar menjadi buram, kemudian jernih kembali. Kali ini dengan latar berbeda, pria itu berada di lahan bawah pojok kamarku tempat tadi aku melihat tanah berlubang. Kemudian ia menyeret wanita yang dianiayanya, dan meletakkan tubuhnya di tanah. Ia lalu mengambil cangkul dan menggali tanah cukup dalam, kemudian menyeret tubuh wanita itu lalu memasukannya ke dalam lubang tanah. Setelah itu TV mati dengan sendirinya, aku melangkah mundur sambil menggelengkan kepala. Aku pun berteriak memanggil Ibu, Kakak dan Adik namun tak ada yang menyahut. Tiba-tiba “Tok…tok…tok” terdengar ketukan di pintu utama, lalu aku membuka pintu, tetapi yang berdiri di hadapanku seseorang yang tidak kukenal. Perempuan blasteran seusiaku dengan wajah tatapan kosong, sembab seperti habis menangis. Hidung dan matanya merah, kemudian dia mengatakan hal yang tidak kumengerti.
“Tolong antarkan aku bertemu Ibu!” Katanya, sambil menatap sayu dan perlahan menghampiriku. Aku terus bertanya dia siapa dan mau apa, tapi yang dia ucapkan hanya minta diantarkan bertemu ibunya. Aku takut perempuan ini gila sehingga kudorong ia keluar pintu. Tapi perempuan itu malah terus mengetuk dan bilang ia tahu dimana Ibu, Kakak dan Adikku. Kemudian kubukakan pintu. Lalu ia menyuruhku mengikutinya.

Aku pun membuntutinya dengan penuh penasaran. Ia mengajakku ke lahan dimana aku melihat lubang tanah siang tadi. Sesampainya di tempat itu, kulihat lubang tanah itu kini menggunduk dan ditancapi batu nisan. Tanah ini mengingatkanku dengan apa yang kulihat di TV yang barusan menyala dengan sendirinya. Tempat dimana seorang pria mengubur wanita yang dianiyayanya. Tapi jumlah gundukan tanah yang ditancapi batu nisan ini ada tiga. Salah satunya berukururan kuburan anak kecil. Ya ampun, kenapa ada pakaian Ibu, Kakak, dan Adik yang tadi mereka pakai? Pakaian ketiganya berlumuran darah. Dengan sigap aku menghampiri satu-persatu kuburan tersebut, memperhatikan tulisan pada nisan dengan teliti, semua tertera nama keluargaku. Aku terkejut sekaligus bingung, tidak percaya dengan apa yang terjadi. Kulihat perempuan yang berdiri di sampingku, ia menatapku tajam, rambut panjangnya menutupi wajah, sambil menunduk ia tersenyum sinis. Tiba-tiba ia mengacungkan kampak ke arahku, dan berkata,
“Sekarang giliranmu, beri tahu aku dimana Ibuku!” Ucapnya dengan wajah menakutkan. Kubilang padanya, bahwa aku sama sekali tidak tahu apapun tentang hari ini, tentang dia, apalagi yang ia cari. Jawabanku seolah membuatnya marah, ia menjatuhkan kampaknya ke arahku namun dengan sigap aku menghindar, dan lari menjauhinya. Cuaca tidak mendukung, hujan turun deras mengurangi jarak pandangku yang berusaha mencapai pintu rumah. Sementara perempuan berkampak itu terus mengejar dengan tatapan tajam. Akhirnya aku masuk ke dalam rumah dengan basah kuyup, kedinginan, kebingungan dan ketakutan. Kukunci semua pintu dan jendela rumah. Kulirik ke arah luar, perempuan itu sudah tidak ada.

Aku belum mampu bernapas lega, hanya bisa menangis, memanggil ibu, kakak dan adik. Berharap apa yang kulihat barusan salah dan mereka masih hidup. Beberapa menit suasana di sini begitu sunyi. Tetapi “BRAAK..BRUUGH” kampak itu menancapi pintu kayu berulang-ulang hingga terbuka. Aku menjerit dan berlari menaiki tangga, tapi aku terpeleset hingga jatuh dan merasakan sakit yang luar biasa di bagian kakiku. Apa daya aku tak mampu berdiri, sebisa mungkin menghindar walau harus menyeret tubuhku. Sampai pada titik terlemah aku tak bisa bergerak, ia mulai mengayunkan kampaknya ke arahku, dan
“AAAAAAAAA…” (Plaak) kenapa ditampar? Bukankah dia membawa kampak?
“Bangun, Mi… kita sudah sampai?” mendengar suara Ibu, aku terbawa ke alam sadar. Ternyata kita memang baru sampai, rumah horor dan kejadian aneh itu semua hanya mimpi saat aku tertidur sepanjang perjalanan. Perasaanku luar biasa lega, kupeluk Ibu, Kakak, Adik dan mereka kebingungan dengan tingkahku. Ketika turun, aku terkejut bukan main, semua yang ada di sini sama dengan mimpi burukku barusan, rumah dua lantai klasik Eropa, gerbang berkarat bertuliskan Deja vu, pohon pinus, cemara dan pohon tinggi lainnya. Tapi ternyata bukan itu rumah baru kami, melainkan rumah minimalis yang ada di sebelahnya.

Semua barang pun dipindahkan, tidak seperti di mimpi kali ini aku membantu dan tidak acuh pada Ibu, melalui mimpi barusan aku sadar sikapku salah. Setelah semua barang ditata rapi, aku menceritakan mimpiku pada Ibu. Karena rumah itu bernama De’ja vu, aku takut mengalami istilah itu, yakni sesuatu yang pernah dialami terulang kembali. Kakak bilang mimpiku itu berupa amanat jadi aku harus mencari tahu apa maksudnya. Ibu mengajakku melihat rumah sebelah. Di rumah itu aku tidak melihat kuburan yang ada di lahan bawah kamar, melainkan tanah yang rata namun tertancap batu cukup besar. Kami lalu bertemu dan berkenalan dengan kek Rahmat, penjaga rumah Deja vu. Melalui kek Rahmat aku tahu cerita pemilik rumah ini, padanya pula aku menceritakan mimpiku. Kemudian Ia menunjukan foto-foto pemilik Deja vu, semua yang ada di foto sama dengan orang-orang yang aku impikan. Wanita berkebangsaan Belanda yang disiksa dalam mimpiku adalah pemilik rumah ini bernama Serra, suaminya meninggal saat perang. Ia tinggal dengan putrinya, bernama Narnia. Semenjak menikah dengan pria bernama Surip. Serra dan putrinya selalu bertengkar karena putrinya tidak pernah menyukai ayah tirinya. Sampai pada akhirnya Narnia pergi dari rumah. Setelah itu Kek Rahmat juga tidak pernah bertemu dengan Serra dan suaminya. Secara sukarela kek Rahmat tetap menjaga rumah ini dan berharap bertemu dengan majikannya.
Melalui cerita kek Rahmat aku bisa menyimpulkan sesuatu. Mimpi ini kemungkinan pesan dari Serra, ia tidak pergi kemanapun melainkan terkubur di rumah ini. Tujuanku selanjutnya mencari Narnia, dan memberitahukan padanya, bahwa Ibunya telah dibunuh Surip suaminya. Usia Narnia saat ini kemungkinan sama dengan Ibu, jadi ada harapan aku bisa bertemu denganya. Setelah panjang lebar kami berbincang, kami pun pulang. Di rumah baru, seharian aku menghabiskan waktu bersama Ibu, Kakak, dan Adik dengan canda dan tawa. Syukurnya tak ada gangguan hantu atau apapun walau kami penghuni baru di sini. Bahkan Deja Vu nampak indah setiap kulihat dari jendela kamarku.

Sebulan kemudian di sekolah baruku, aku berteman dekat dengan Sarra. Saat berkunjung ke rumahnya aku mendapati apa yang aku cari selama ini. Ibunya Sarra ternyata adalah Narnia, sayangnya ia sudah meninggal saat melahirkan Sarra. Kepada Sarra aku lalu menceritakan mimpi dan hubunganya dengan rumah Dejavu, Ibu dan Neneknya. Kebetulan saat itu Ayahnya Sarra ada dan mendengarkan perbincanganku dengan Sarra. Ia lalu memintaku menemaninya ke rumah Deja vu. Ayahnya Sarra lalu menjelaskan bahwa dulu istrinya – Narnia – beberapa kali datang ke Deja vu namun rumah itu selalu kosong. Sehingga Narnia berpesan pada Ayahnya Sarra untuk mencari ibunya.

Setibanya di De’ja vu, aku menyarankan Ayahnya Sarra untuk menggali tanah yang ditancapi batu besar, lalu tanah itu pun digali. Ternyata dugaanku benar tulang-belulang manusia ditemukan, dan aku yakin itu nyonya Serra karena ada pakaian yang dikenakannya dalam mimpiku. Sarra dan Ayahnya nampak sedih. Mereka menemukan Ibunya Narnia walau dalam keadaan pahit. Hari itu pula kerangka Serra dikubur berdampingan dengan kuburan Narnia. Misi ku selesai, mereka akan selalu bersama di alam sana. Sungguh merupakan pelajaran teramat besar. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan Ibu, tak akan kubiarkan ia menderita. Terimakasih Tuhan, kaulah yang memberi mimpi dan amanat ini, membuatku lebih sadar akan pentingya seorang ibu untuk selalu disayangi di sepanjang hidupnya.

Cerpen Karangan: Maharani Riestania
Facebook: Maharani Riestania
Maharani Riestania, mahasiswa jurusan Sastra inggris Universitas pendidikan Indonesia
asal, Kuningan jawa barat
lahir,08 Desember 1993

Cerpen Rumah Deja Vu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Yang Turun Sepanjang Hari

Oleh:
“Aku percaya hujan yang turun akan selalu membawa ingatan, juga perihal rindu yang datang dari masa lalu.” Koran Pagi: “Air jatuh ke bumi dengan kecepatan yang rendah karena titik

Untuk Kakak

Oleh:
Aku dan rana adalah sepasang saudara kembar yang lahir 16 tahun yang lalu. Orangtuaku memberikan nama yang mirip kepada kami berdua yaitu Rana dan Rena. Meskipun kembar tetapi wajahku

Gerbang Neraka

Oleh:
Gerbang neraka. Begitulah mereka menyebut tempat ini. Tempat yang dahulu adalah tempat tinggal seorang kakek pemuja makhluk terlaknat yang tewas atas perbuatannya ini, kini menjadi tempat mengerikan yang tak

Ulang Tahunku Yang Kelima

Oleh:
Yang menjerit di bawah kakimu -aku adalah kanak yang pernah singgah di rahimmu. Aku tahu kau adalah wanita yang cantik, bermata bulat, berhidung mancung, bibirmu bak rekah bebungaan di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Rumah Deja Vu”

  1. Lena Sutanti says:

    keren

  2. Rifan Dervin says:

    Kerenn.. baca cerpin ini bikin hati saya dag.. dig.. dug.. belalang kuncup 😀

    hhihi

  3. Vanabie says:

    Seru banget ceritanya,aku suka cerita yg bikin takut 😀

  4. N21 says:

    Keren , atmosfernya kerasa 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *