Rumah Duka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 March 2014

Gemerlap lampu alun-alun kota mewarnai pekat malam. Di jalanan, pedagang-pedagang kaki lima berjajar. Segerombol orang terbirit-birit, datang untuk menyaksikan ludruk di alun-alun kota. Elwi, sebagai pelakon perempuan pada ludruk itu sudah beraksi, lalu pelakon-pelakon lain pun beraksi secara bergantian, maupun bersama. Setiap babak pun silih berganti, orang-orang memperhatikan dengan saksama, seolah terbius dengan tontonan ludruk, hingga sepertiga malam pun berlalu.

Saat Elwi sampai di rumahnya pagi hari, dingin mulai menyelimutinya, ditambah lagi dengan rasa kantuk yang teramat, membuat ia tertidur lelap di atas kasur lembutnya. Pagi yang biasanya ia mengantarkan anak perempuannya sekolah, namun tidak pada pagi ini. Anak perempuannya diantarkan oleh Enda, istrinya. Setelah terjaga dari lelapnya, ia bergegas mandi, lantas keluar menuju beranda rumahnya. Ia duduk santai sambil menyulut rok*knya dan menyeruput kopi yang sempat ia buat sebelumnya.

Rasa tenang tiba-tiba menjadi kacau, saat istrinya datang dan langsung memarahi dirinya, karena sudah tak ada sisa persediaan uang untuk makan dan memenuhi kebutuhan hari-hari mereka. Begitu pun dengan biaya sekolah Helda, anak perempuan mereka yang seminggu lagi ujian. Pihak sekolah telah meminta agar melunasi uang ujian Helda sebelum pekan ini.

“Kamu itu bagaimana sih, Mas, sudah tak dapat menafkahi kami, tak mampu beri uang saku pada anak kita, apalagi dengan anak kedua ini yang akan segera lahir. Dasar laki-laki tak bertanggung jawab, miskin dan menyusahkan!” cemooh Enda.
“Iya, Nda, nanti Mas carikan. Mas akan usahakan pinjam ke tetangga sebelah,” ucap Elwi meyakinkan dan sedikit memelas.
“Hutang mulu Mas ini, saya tak ingin kita tambah melarat dengan beban hutang, Mas.” Air mata Enda menetes di antara rasa kecewa yang menderanya.

Akhirnya, rasa kecewa Enda pada Elwi memuncak. Ia tak sabar menghadapi kehidupan dengan lelaki yang tak bertanggung jawab seperti Elwi, yang hidupnya juga kelam. Selain sebagai pelakon perempuan dalam pentas ludruk, ia juga tak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

“Kalau Mas sudah tak mampu memenuhi kebutuhan kami, lebih baik ceraikan saya sekarang, Mas,” tukasnya perih, “biarkan Helda bersama saya. Saya tak ingin Helda susah dan kelaparan jika dengan Mas.”
“Enda, kenapa kau berkata seperti itu, apakah kau tidak sayang lagi padaku?” tanyanya dengan penuh harap.
“Sekarang saya sudah muak sama Mas, dan saya juga jijik sama pekerjaan Mas sebagai pelakon perempuan dalam ludruk itu.”
“Maafkan aku, Nda. Sesuai dengan permintaanmu, aku akan menceraikanmu sekarang, dan jagalah Helda, Nda,” kilahnya sembari menyeka air mata yang mulai merembes ke pipinya.

Rasa perih bergejolak dalam hati Elwi, ia sangat menyayangi Enda, namun entah mengapa semua hilang sudah, yang dulunya Enda menyayanginya, kini ia minta cerai. Namun ia hanya bisa bersabar, dan sesuai kemauan istrinya itu, ia rela kehilangannya, demi kebahagian Enda dan Helda.

“Selanjutnya Mas mau ke mana?” tanya Enda kemudian setelah Elwi terdiam.
“Entahlah, mungkin aku akan pulang ke desa, tempat ibuku,” jelasnya ragu.

Elwi mulai mengemas pakaiannya, dan sesaat kemudian Elwi pergi dan meninggalkan rumah Enda, sedangkan Helda yang masih belum datang dari sekolah, ia relakan tinggal dengan Enda, meski berat ia melepas Helda, dan melupakan segalanya.

Helda tak pernah tahu bahwa kedua orangtuanya telah bercerai, hingga setelah tiga hari ayahnya tak terlihat lagi, ia bertanya pada Enda: “Ke mana ayah, Bu? Aku sangat merindukannya,” tanya Helda sambil menarik-narik baju Enda agar segera menjawab.
“A… ayahmu sudah tidak ada di sini lagi,” jawabnya gugup.
“Ke mana, Bu? Aku ingin melihat ayah, ditemani ayah dan diantarkan ke sekolah oleh ayah, hem… hem…” Helda menangis sesengukan, lalu Enda memeluknya erat.
“Maafkan ibu, Helda, ibu telah meminta cerai padanya, sekarang ayahmu tinggal bersama nenek,” Enda menjelaskan dengan haru, lalu ia menangis juga bersama Helda.

Pejalanan pulang ke desa, Elwi hanya berjalan kaki. Jarak ke rumah neneknya di desa hanya 5 kilometer, ia pun tak punya uang untuk menggunakan jasa angkot agar mempercepat sampainya di desa.

Berat ia langkahkan kaki meninggalkan rumah Enda, apalagi jika teringat Helda yang sangat ia sayangi. Elwi selalu saja terbayang; bagaimana jika Helda menanyakan: ke mana ayah. Karena Elwilah dulu, setiap hari yang mengantar Helda ke sekolah, menemani dalam belajar Helda, dan menaruh ember berisi air putih di kakinya saat belajar, agar Helda tidak mengantuk.

Sampai di rumah ibunya, ia hanya diam terpaku, dan sejenak ia tercekat. Di rumah ibunya itu, bergerombol orang-orang datang, dan ia tak tahu suatu hal apa yang terjadi. Di gapura rumahnya, berkibar dua bendera kecil berwarna kuning, tanda ada kematian. Elwi hanya menatap pilu. Saat ia mulai masuk ke beranda rumah itu, orang-orang tengah menshalati mayat ibunya. Sedangkan Elwi hanya ternganga, karena sebelumnya ia tak pernah tahu cara menyalati mayat. Ia juga tak pernah tahu, ibunya akan secepat itu tiada. Saat pulang ke rumah ibunya, tak sedetik pun ia sempat bercengkrama dengannya; bercakap-cakap, cerita masa lalu tentang mendiang ayahnya, dan lain sebagainya. Ia menyesal karena tak berkunjung sama sekali di hari-hari sebelumnya.

“Ibu, jangan tinggalkan aku.” ia merintih, dan tak rela ditinggal ibunya secepat itu.
“Sudah, sudahlah, Nak. Ikhlaskan saja ibumu. Biarkan ia tenang di alam sana. Sabar ya,” bujuk salah seorang tetangga yang hadir di rumah duka itu.

Diusungnya keranda mayat ibunya itu. Setelah acara penguburan selesai, sejenak Elwi terdiam, ia memeluk nisan ibunya sambil memohon maaf, karena tak sempat memberi kabar, dan tak pernah bisa membalas segala pengorbanan ibunya selama ini.

Hari demi hari kian berat ia jalani, ia masih tak menyangka, semua yang ia miliki, tiba-tiba menghilang dari hidupnya; istri, anak, bahkan kini ia harus merelakan ibunya dipanggil yang kuasa.

Setalah kematian ibunya, ia hidup sendiri di rumah peninggalan ibunya itu, dan bekerja sebagai tukang pijat. Namun akibat dari kebiasaannya saat di kota, ia sekarang memakai kerudung dan baju kebaya, mirip perempuan umur 40 tahunan. Menjadi pelakon perempuan dalam ludruk itulah yang menyebabkannya jadi berpenampilan seperti itu. Elwi pun diubah menjadi Elna. Dengan pekerjaan itu, ia tetap hidup berkecukupan bersama kucing piaraan yang ia anggap sebagai bagian dari keluarganya.

Saban hari, lebih dari dua orang datang untuk dipijatnya, kadang-kadang ia juga berjalan ke perumahan, dan memijat orang-orang di perumahan yang menjadi langganannya itu, kadang setiap minggu, kadang pula pada setiap dua kali dalam seminggu.

Kian hari kucing yang ia pelihara bertambah banyak, hingga suatu hari, ia memutuskan untuk membuang sebagian kucing itu. Dengan tanpa bertanggung jawab ia membawa anak kucingnya dengan karung, lalu ia lepas di jalan setapak dekat perumahan warga, hingga ia diusir warga sebab mereka tidak suka bila ada kucing di rumah mareka. Namun tak hanya sebab itu, ia seringkali bertengkar dengan warga di dekatnya, sebab cemoohan orang-orang yang mengatakannya w*ria. Ia juga dituduh mencuri pada sebuah toko di dekat rumahnya. Hingga menjelang malam, orang-orang datang dengan obor untuk mengusir dan membakar rumah peninggalan ibunya itu.

Kini ia tidak punya apa-apa lagi. Namun bagi pelanggan pijatnya, ia tetap datang ke rumah mereka, dan mendapat uang atas jasa memijatnya itu, hingga ia dapat membangun rumah kembali di desa seberang, dan jauh dari perumahan warga dan tempat tinggal sebelumnya. Ia hidup tenang di sana, dan tak diulanginya lagi kecerobohan yang dulu ia lakukan.

Seminggu ini ia mengidap penyakit liver, begitu juga dengan telinganya yang mulai terasa sakit, mendengung. Pekerjaanya pun terbengkalai. Pelanggan jasa pijatnya pun tak pernah ia datangi lagi. Di kamarnya ia meringkuk sendirian di atas ranjang bambunya dengan penyakit parah yang tak kuasa ia bawa ke dokter. Di samping masalah dana, ia juga tak mampu lagi melangkah jauh, sakit pada perutnya yang terus terasa dililit rantai besi, membuatnya hanya bisa terbaring tak berdaya. Para warga pun tak ada yang tahu akan hal itu.

Setiap sayup-sayup terdengar suara adzan dikumandangkan, ia merasa terpanggil, ia ingin belajar agama dan belajar shalat. Namun kini lambat baginya, ia terbujur kaku di kamarnya, kadang ia menyelonjorkan kakinya, lalu meringkuk kembali seperti semula.

Rasa sakit tak terkira terus melilit perutnya, ia sekarat, hingga kematian pun datang meringkusnya, sebab maut tak bisa ditampik. Ia kejang. Perlahan darah meleleh pada telinganya. Selama tiga hari, tak ada seorang pun yang tahu akan kematiannya. Tubuhnya mulai membusuk dan dikerumuni lalat-lalat hijau, lalu ulat-ulat pun mulai menyembul di kepalanya. Bau busuk tersebar di awang-awang kamarnya, hingga menembus daun pintu, dan tak lama kemudian sampai di jalanan, tempat warga berlalu-lalang.

Adalah Kang Najib, seorang pengembala kambing, yang pertama kali mengetahui hal itu. Melesat ia memberi tahu warga, lalu berduyun-duyunlah mereka datang ke rumah duka itu. Sampai di sana, mereka semua mual-mual, tak sanggup akan bau busuk itu, lalu salah seorang dari mereka memberi kabar mantan istrinya itu.

Sesaat kemudian, Enda datang bersama Helda, dan anak kecil yang dua tahun lalu Enda lahirkan, lalu orang-orang beringsut, mundur, lalu pulang begitu saja, tak mau mengurus mayatnya. Mereka merasa jijik dengan bau busuk, apalagi penuh ulat. Di sana tinggallah Enda dan Helda yang mengurus mayat itu dengan telaten. Mereka memandikan mayat itu dengan berlinangan air mata, mengkafaninya dengan kafan yang mereka bawa, lalu mengusungnya ke pusara dekat rumah duka itu. Enda menggali lubang kubur, Helda membantunya, dan anak kecil itu hanya menangis. Lalu ditimbunilah lubang kuburan itu dengan tanah, juga air mata.

Cerpen Karangan: Dika Afandi
Facebook: http://facebook.com/DikaAfandi
Dika Afandi, lahir di Sumenep, 06 April 1995. Kini, bersekolah di MA Tahfidh Annuqayah. Ia pun aktif menulis bersama Komunitas Cinta Nulis (KCN) PP. Annuqayah Lubangsa Selatan. Blog pribadinya yaitu bisa diklik http://dika-afandi.pun.bz . Ikuti twitternya @DikaAfandi. Untuk info bisa melalui email : dika.afandi[-at-]ovi.com, atau tambah facebook http://fb.com/DikaAfandi

Cerpen Rumah Duka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Sangat Menyesal

Oleh:
“Ih, kakak Ndeso, banget sih! masa Slime sama Squishy aja gak tau!” ejekku kepada kakak sulungku, Nadifa, masa sama Slime dan Squishy aja gak tau? Huh Norak banget! “Nadine!

Belenggu Tabir Kepalsuan

Oleh:
Jejak hujan masih membekas remang di antara rumput dan dedaunan. Helai daun yang gugur menyimpan sajak-sajak kepedihan. Nyiur melambai masih menyisakan gerimis di daun jendela. Menyingkap resah dalam hulu

Bunga Terakhir

Oleh:
Seikat bunga mawar, banyak orang berfikir tentang keindahan bukan tentang perjuangannya. Adakalanya benar, tetapi tidak dengan gadis yang bernama Melati. Namanya Melati, seorang gadis tanggung dan dewasa untuk seumuran

Antara Cinta dan Persahabatan

Oleh:
Mentari dan rembulan, mereka tak pernah bertengkar, mereka tak pernah bertabrakan saat muncul di langit, mereka tak bersahabat tapi saling melengkapi. lalu bagaimana dengan persahabatan di bumi? mereka selalu

Sepenggal Nama Dalam Kenangan

Oleh:
Malam itu, semilir angin menembus kulit. Membuat tubuh ini semakin menggigil. Orangtuaku berkali-kali telah mengingatkanku, “Jangan sering-sering duduk di dekat jendela, Caca! Berapa kali ibu sudah mengingatkanmu, tapi kamu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *