Rumahku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 11 November 2014

Aku membuka pintu rumahku setelah aku membuka kuncinya, dengan perlahan aku membukanya. Ku ucapkan salam tapi tak ada yang menjawab. Sejenak aku duduk di kursi ruang tamu, aku menghirup udara suasana rumahku yang selalu ku rindukan. Aku menutup mataku perlahan mencoba untuk mengingat kembali semua kenangan di rumahku saat terakhir kali aku meninggalkannya.

Aku berdiri kembali, mataku memandang ke arah jarum jam dinding. Aku tiba-tiba menangis tak mengerti, jam itu telah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Keluargaku menjanjikan pada pukul itu, kami akan pergi ke tempat yang selalu ku harapkan. Ku palingkan pandangan ke arah kanan dinding, terdapat pigura foto yang tertempel di sana. Ada foto keluargaku tanpa ayah, dan foto semua pribadi masing-masing.
Ku pandangi foto keluarga tanpa ayah itu, lalu aku mengambil foto keluarga yang ada di dalam dompet milikku. Semuanya terlihat sama, kedua foto keluarga itu tidak terdapat foto ayah. Tak pernah berubah, ayahku selalu sibuk mementingkan pekerjaannya.

Aku memutar pandanganku ke arah kiri dari pundakku, aku melihat televisi yang tak seperti dulu lagi. Kini, ukurannya lebih besar dan lebih bagus dibandingkan sebelumnya. Aku berharap, ayahku juga bisa berubah seperti televisi yang ada di rumahku itu. Rasanya seperti tidak mungkin tapi apa salahnya jika aku berharap seperti itu.

“Hallo…,” ucapku, berharap ada yang menjawab.
“Hallo… hallo… hallo…” ucapku lagi, aku melambaikan tangankur ke setiap sudut rumahku. Tak ada yang membalas lambaian tanganku. Pikirku semuanya bodoh tapi rupanya aku yang terlihat gila.

Aku membuka pintu kamarku, ku lihat warna cat temboknya belum berubah. Hijau adalah warna cat tembok di kamarku, padahal aku menyukai merah muda. Ku rapatkan kedua tanganku ke dinding kamarku, kurasakan dari sentuhan tanganku ke dinding kalau udara di kamarku lembab. Itu adalah pengaruh karena aku sudah lama tak mengurus kamarku dan tak ada yang mengurusnya selain aku semenjak bibi tak tinggal di rumah kami lagi.

Ku tarik kain seprei yang sudah berbau itu karena telah lama tak dibersihkan, ku ganti dengan yang baru. Semua buku bacaanku yang disimpan di kamar jadi kotor terkena debu, aku membersihkannya dengan kemoceng yang tergantung di dinding kamar samping lemari besar milikku.

Ku alihkan pandanganku ke samping kanan dekat lemari belajar, ada komputer lamaku yang sudah terlihat usang monitornya, begitu pun semua kabel dan CPU. Aku membersihkannya perlahan, belum saja lama aku membersihkan semua isi di dalam kamarku, aku sudah banyak mengeluarkan keringat. Mungkin karena aku tidak terbiasa bekerja seperti ini.

Saat aku menyapu lantai, aku menemukan foto di bawah meja belajarku, ada fotoku bersama bibi jannah. Aku menangis tak sadarkan diri, rupanya aku sangat merindukan dia. Dia sudah lama tak mengunjungi rumah ini lagi semenjak aku memvonis nya mencuri tablet mahal milikku yang baru ku beli tiga minggu sebelumnya. Aku merasa bersalah padanya, tabletku sudah ditemukan di kelasku saat aku lupa membawanya lagi. Aku sudah sering minta maaf tapi ia hanya mengangguk saja. Foto itu masih saja kupandangi, ku tempelkan di dinding kamarku. Tepatnya jika aku bangun tidur, foto itu lah yang akan pertama aku lihat saat aku membuka mata.

Aku segera selesai membersihkan kamarku, kemudian aku menyemprotkan parfum milikku ke tiap sudut di kamarku. Akhirnya, aku selesai membersihkan kamarku.

Handuk dan tempat sabun mandi pribadi milikku sudah tersedia di kamar mandi, aku segera mandi. Kunci pintu di kamar mandiku rusak, aku tak mempedulikannya.

Cerpen Karangan: Ihda Ulfah Arismika
Facebook: https://www.facebook.com/ihdaulfah
Nama: Ihda Ulfah Arismika.
Tempat, Tanggal Lahir: Sukabumi, 01 Mei 1995.

Cerpen Rumahku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lenyap

Oleh:
Nasi, asam pedas, dan secangkir kopi hitam menyambut kepulangannya, tak sabar apa reaksi yang akan ia tunjukan hari ini, karena semenjak kami menikah ia tidak menunjukan reaksi baik padaku.

Sepotong Pizza untuk Sang Adik

Oleh:
Di sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari perkotaan terangkai rumah kecil nan mungil berdindingkan kayu dan beratapkan kardus-kardus bekas. Rumah yang terlihat kecil bahkan tak layak dihuni dan

Di Atas Kertas Ku Berjanji

Oleh:
Ku tuliskan secarik kertas itu, tanda kekesalanku hari ini. Aku tak mengerti mengapa aku dianggap berbeda. Tatapan mereka, menganggapku seperti hewan yang menjijikkan bahkan lebih dari itu. Aku hanya

Selalu Ada

Oleh:
Aurel… sahabat baikku sekaligus seniman cilik. Beratus-ratus lukisan hasil karyanya dipajang di sebuah ruangan khusus yang sengaja dibangun untuknya. Kanvas, kuas, cat air, dan perlengkapan melukis lainnya tersusun lengkap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *