Saat Pena Berbicara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 2 June 2016

Bibir manis itu tidak lagi untuk berkata, di sudut kamar tanpa cahaya dia duduk termenung dengan meneteskan air mata. Entah apa yang ia rasakan? Entah apa yang ia pikirkan? Entah siapa yang ia butuhkan? Ketika ia tak sanggup lagi untuk berbicara, yang ia ingat hanya selembar kertas putih dan sebuah pena bertinta hitam. Dari lamunannya ia tersadar tanpa berpikir panjang ia berdiri lalu jalan menuju di mana kertas itu ia simpan. Dengan tetesan air mata yang mengalir di pipinya, ia ambil kertas dan sebuah pena tersebut ke tempat di mana ia mulai bersandar.

Tetesan air matanya tak sanggup lagi ia tahan tetes demi tetes terus berjatuhan, namun tak menghalanginya untuk menuangkan kemarahan nya lewat kertas yang ia genggam. Tanpa banyak berpikir dan tanpa ia sadari jari–jari manis itu mulai menari di atas kertas putih yang belum tergores tinta. Rangkaian kata yang indah dan cantik terus menghiasi selembar kertas itu, kata demi kata, kalimat demi kalimat dan paragraf demi paragraf telah berbaris rapi. Kini selembar kertas itu telah penuh dengan rangkaian kata yang indah.

“El, kamu lagi apa? Dari tadi murung terus di kamar?” terdengar suara dari luar, sapaan seorang wanita tua kepada Elia. “Gak Mah, Elia lagi baca-baca buku!” jawabnya ketika masih di dalam kamarnya. Tidak pernah ada sepatah kata pun yang ia ceritakan kepada ibunya tentang masalah yang ia hadapi.
“Ya sudah, Mamah tunggu di meja makan yah?”
“Iya Mah.”
Ia selalu berpikir bahwa masalah yang ia hadapi akan selesai tanpa harus melibatkan orang lain.
“Malam semua,” ketika sesampainya Elia di meja makan yang sudah ditunggu oleh keluarganya.
“Eh, kamu. Udah belajarnya?”
“Udah Mah,” sedikit senyuman manis yang ia berikan kepada ibunya.

Makan malam yang menyenangkan, seperti tak pernah ada masalah sedikit pun yang mereka rasakan, namun bagi Elia keluarga mereka tak lengkap ketika sang ayah tak berada di tengah-tengah kebahagiaan mereka. Orangtua Elia sudah lama berpisah, sejak kecil Elia sudah ditinggal oleh ayahnya, ayah Elia lebih memilih perempuan lain dibanding ibunya, tapi Elia tak pernah sedikit pun membenci ayahnya, meskipun yang sebenarnya ayahnya yang salah. Karena itu ia selalu murung dan selalu berharap kasih sayang dari seorang ayah, tapi apalah daya ibu Elia tidak pernah mengizinkan Elia bertemu dengan ayahnya. Permasalahan yang berat bagi Elia, dia selalu iri ketika melihat keluarga teman–temannya yang utuh. Tapi Elia juga berpikir tidak mungkin dia harus menyalahkan orangtuanya yang telah membuat dirinya seperti ini, tidak pernah mendapat perhatian dari seorang ayah.

“Selamat pagi sayang, bangun eh siang tahu kamu kan harus sekolah?” pagi yang cerah ketika sang ibu membangunkan putri kesayangannya itu.
“Ehmm.. iya Mah, selamat pagi juga! Iyah, ini Elia bangun.”
“Ayo cepetan, beresin tempat tidur kamu, terus pergi mandi, siap-siap berangkat sekolah, Mamah tunggu di meja makan yah?” sebuah perhatian kecil yang setiap hari Elia dapatkan dari seorang ibu yang begitu menyayanginya.
“Iyah Mah.” jawab Elia.

Elia sadar bahwa kasih sayang seorang ibu itu begitu besar, tapi bagi Elia kasih sayang seorang ayah juga begitu penting baginya. Elia baru kelas 2 SMA, dari kecil Elia tidak pernah mendapat perhatian dari ayahnya. Ibunya yang bekerja keras mencari uang untuk membiayai Elia sekolah dan menghidupi keluarganya. Elia anak bungsu dari 3 bersaudara, dia anak perempuan satu-satunya di keluarga itu, kakak-kakaknya sudah menikah bahkan sudah punya anak. Makanya ibunya begitu menyayangi Elia, bahkan ibu Elia rela menjadi ibu begitu pun menjadi ayah bagi Elia. Pagi itu..

“Aduh, maaf yah Mah, udah nunggu lama yah.” dengan tergesa-gera Elia sampai di meja makan.
“Kamu ini kebiasaan deh, ini udah siang, gimana kalau kamu terlambat sekolah.” teguran ibu Elia.
“Iya Mah maaf, ya udah Elia jalan dulu yah.” sambil meminum susu yang sudah disiapkan oleh ibunya lalu Elia mencium tangan ibunya, dan tergesa-gesa pergi menuju pintu keluar.

“Eh, kamu gak makan dulu?”
“Gak ah Elia udah kesiangan nih,” berteriak lalu pergi.
“Dasar anak itu, selalu saja seperti itu.” kata ibu Elia ketika berbincang dengan kakaknya yang paling tua.

“Mah, kita harus hati-hati menjaga dia, Elia sudah makin dewasa. Dia sudah tahu pergaulan di luar sana!” kekhawatiran kakaknya terhadap Elia.
“Iya, Mamah tahu itu. Tapi semakin hari dia semakin nakal, tidak mau mendengarkan orangtua bicara. Apalagi sekarang-sekarang Mamah perhatiin dia sering banget murung di kamar, seperti punya masalah,” kata ibunya dengan penuh kekhawatiran.
“Sudahlah, mungkin aja dia sedang punya masalah dengan teman-temannya. Nanti juga dia cerita sama kita.”
“Ya sudah biarkan sajalah.”

Hanya Elia, Elia, dan Elia yang selalu mereka pikirkan. Tapi mereka tidak pernah sadar bahwa Elia membutuhkan kasih sayang seorang ayah. Sebelum masuk SMA Elia punya 2 sahabat yang lebih mengerti dan peduli kepada Elia namun setelah perpisahan itu, Elia tidak bertemu lagi dengan mereka. Tapi sekarang Elia lebih banyak menyendiri dibanding berbincang dengan teman-temannya di kelas, ketika di dalam kelas dia tidak pernah bercerita tentang masalah atau apa pun itu. Kecuali hanya membahas pelajaran yang mereka pelajari.

Setiap hari ketika Elia sendiri dia pasti ditemani oleh buku harian kesayangannya dan sebuah pena bertinta biru, apa pun yang ia pikirkan pasti akan ia tuliskan di buku tersebut, apa pun masalahnya ia pasti ceritakan semuanya lewat buku itu. Karena itu kenapa Elia tidak pernah bercerita kepada orang lain, baginya menulis adalah sahabat yang setia ketika suka maupun duka.

Cerpen Karangan: Lia Dewi Nursapitri
Facebook: Elia Dewii Nursafitrii

Cerpen Saat Pena Berbicara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tertulis Kisah Cinta di Batu Nisan

Oleh:
Kehadiranya tidak pernah terbayangkan sebelumnya.. Andai tidak terjadi kejadian seperti itu apakah aku akan mengetahuinya (aku tidak tahu) — Sudah lama aku seperti ini, aku tidak mampu untuk memulai

Di Ujung Jembatan

Oleh:
Hujan kembali membasahi bumi, menemani langkah kaki gadis kecil itu. Sedari tadi tak bisa diam. Lari kesana kemari, tak peduli air hujan yang telah membasahi tubuh kecilnya. Tapi selalu

Mengejar Matahari

Oleh:
“Uhuuk.. Uhuuk.. Uhuuk…!!”. Juleha yang menyunggi nampan yang berisi jajanan pasar, menahan batuk dengan tangan kanannya, lantas ia mencoba menaruh sunggihannya di atas meja. Mendengar suara batuk-batuk dari sang

Kerja Keras Itu Kuncinya

Oleh:
“Cuci… cuci sendiri, makan… makan sendiri… ehei” Nyanyiku terus-menerus, akhir-akhir ini banyak orang-orang yang memanggilku ke rumah mereka, untuk makan, tentu saja bukan, mereka hanya memintaku untuk mencucikan baju

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *