Saat Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 22 January 2016

Entah apa yang ada di pikiranku dulu. Aku benar-benar sangat acuh aku tak peduli dengan kondisi ibuku yang sedang sakit bahkan aku juga tak peduli saat ibuku masuk ke ICU. Dulu aku belum paham apa itu ICU yang ku tahu itu hanya sebuah ruangan yang berisi orang-orang sakit. Aku juga tak berpikir bahwa ICU adalah akhir hidup dari ibuku.

“Key, yang sabar ya.. aku yakin kok Bibi pasti sembuh.” hibur Lila sepupuku.
“ya La, aku juga yakin..” kataku dengan senyum yang dipaksakan. “daripada sedih mending kita main aja yuk.” ajak Lila. Tanpa berpikir panjang aku langsung mengiyakan ajakan Lila. Aku bermain dengan Lila hingga aku lupa bahwa di sini aku sedang menjaga ibuku yang sedang sakit di rumah sakit.

“Assalamualaikum..” kata seorang suster yang masuk ke ruangan di mana ibuku dirawat.
“walaikumsalam..” jawab semuanya yang ada di ruangan itu.
“Pak, hasil tes tadi sudah ke luar, dan hasilnya menunjukkan bahwa Ibu Hannah kekurangan darah dan perlu 2 kantong darah..” kata suster tadi. Why? Apa itu kurang darah. Bahayakah? Lalu dari mana 2 kantong darah itu bisa didapat. “darah, aku saja..” kata paman. “jangan, darah aku saja..” kata kakek.
“sudah-sudah lebih baik kita ke PMI saja membeli darah semoga golongan darah A masih ada..” Usul Bibi.

Sebenarnya ingin sekali mengatakan, “darahku saja, aku kan anaknya mungkin darah aku dan Ibu sama.” Tapi aku sama sekali tak punya keberanian untuk mengatakan hal tersebut. Aku sangat takut dengan jarum suntik. Golongan darah A sudah dibeli, aku benar-benar takut melihat selang bening yang ada di tangan ibuku berubah menjadi merah. “Paman, aku takut..” kataku. “ya sudah kalau kamu takut, kamu ke rumah Paman saja tidur dengan Lila..” usul paman. Untuk kedua kalinya tanpa babibu aku langsung mengiyakan usulan paman dan langsung pergi ke rumah paman.

Di rumah paman kecemasan, kekhawatiran terus merasuk dalam diriku. “O.. Tuhan berdosaku aku meninggalkan Ibuku yang sedang lemah tak berdaya di rumah sakit..” kataku dalam hati. Aku mencoba untuk tenang dan mencoba memasrahkan semuanya kepada Allah SWT. Keesokkan harinya, saat fajar mulai menyingsing aku terbangun dari tidurku. Kembali ku rasakan kecemasan dan kekhawatiran. Setelah mandi aku bergegas pergi ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, alangkah terkejutnya aku ibu yang ku sayangi sudah tidak mengenaliku. Sungguh hatiku hancur, aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Pak, Bu Hannah harus dipindahkan ke ICU..” kata dokter. “baik dok, tolong lakukan apa pun yang terbaik untuk istri saya..” kata ayah. ICU why? Apa itu ICU kenapa harus dibawa ke ICU. Aku menangis sejadi-jadinya di samping ranjang ibuku. Di ICU tak ada ruang untuk penunggu duduk. Kembali aku menginap di rumah sepupuku Lila. Sebelum pergi aku pamit pada ibu yang tak sadarkan diri, “Bu, Keyra pamit dulu ya.. Keyra mau nginep di rumah paman dulu..” kataku sambil meneteskan air mata. Tanpa ada jawaban aku langsung pergi meninggalkan ibu.

“Lila, baca yaasin yuk..” ajakku.
“iya tapi kita makan dulu ya..”
“Oke..”

“Ya sin.”
“wal quranil hakim.”

“Wadrib lahum masalan as-habal qaryati izja ahal mursalun.”
Kring.. Kring.. tiba-tiba handphone-ku berdering. Ternyata telepon dari bibi.
“halo assalamu.alaikum?”
“walaikumsalam, Key lagi apa?”
“lagi ngaji Bi..”
“Key, yang sabar ya..”
“sabar kenapa Bi? Apa yang terjadi? Ibu baik-baik saja kan?” tanyaku panjang lebar.
“Key, Ibumu sudah nggak ada,”

JEDARRR… Rasanya jantungku meledak apa maksud nggak ada? Apakah itu berarti ibu meninggal. Ya Allah semoga saja bukan itu maksudnya. “Bi, nggak ada gimana?”
“Ibumu sudah dipanggil Allah Nak?” Tangisku langsung pecah mendengar kabar itu, rasanya hatiku hancur berkeping-keping. “Ya Allah, kenapa engkau panggil orang yang ku sayang secepat ini. Kenapa engkau panggil Ibu di saat aku belum tahu apa arti kehidupan.. Ya Allah aku butuh Ibu..”

3 hari setelah kepergian ibuku. Aku baru menyadari bahwa saat pamitan di ICU adalah saat terakhir aku melihat ibu. Yang ku sesali dari kepergian ibuku adalah aku belum bisa membahagiakannya. Ya penyesalan memang selalu datang di akhir. Tapi aku yakin semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Aku tak pernah tahu hal ini akan terjadi karena hidup dan mati hanya Allah yang tahu dan aku sebagai manusia hanya bisa menyesal dan bersyukur atas kehendak-Nya.

Cerpen Karangan: Icha Agustin
Facebook Agustin Sone Porepers. Maaf jika cerpennya tidak berkualitas.. Wkkwk saya juga sedang belajar. Terima kasih 🙂

Cerpen Saat Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terima Kasih Bunda

Oleh:
Tes.. tes.. tes.. tetes hujan perlahan-lahan turun dan akhirnya menyentuh tanah, langit masih terlihat mendung dan tak terlihat sinar kemilau sang mentari yang selalu tersenyum dengan hangat kepadaku. Kriek..

This Is My Life (Part 1)

Oleh:
Angin berhembus pelan mengibarkan jilbabku. Aku menatap sekolahku. Itu bukan sekolah biasa, melainkan sekolah khusus untuk anak sepertiku. Sekolah khusus itu bernama Madrasah Ibtidaiyah Swasta Fathurrahman. Sekolah itu gratis,

Alasan

Oleh:
Pahit begitu terasa di pengkal tenggorokannya setiap kali ia menelan air ludah. Suara bergemuruh selalu muncul dari arah perutnya memprotes kepada sang pemilik yang tidak kunjung memberikan haknya. Entah

Sahabat Yang Harus Pergi

Oleh:
Namaku Naila Putri Aurora panggil aku Naila. Aku punya sahabat namanya Andriana Novilia panggilanya Vilia. Di rumahku. “Mama… Mama masak apa?” kataku. “Mama masak soto ayam dan minumnya vanila

Meja Istriku

Oleh:
“Kami nikahkan anak kami Rida Hidayati binti Hidayat dengan Muhammad Erwin Burhannudin bin Muhammad Subekti dengan maskawin sebuah meja bundar ukiran Jepara tunai.” “Saya terima nikah dan kawinnya Rida

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *