Sabtu Terakhir Bersama Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 November 2017

Sabtu, 08 Oktober 2016 22:35
Malam ini aku tak bisa tidur, teringat padamu. Jadi kuputusan untuk membuat cerpen ini, untuk mengenangmu. Ditemani dinginnya malam disertai gerimis ini.

Hari ini kau pulang lebih awal, kukira setelah sholat dhuhur kau akan kembali bekerja tapi ternyata kau malah tidur-tiduran. “Ayah, kok malah tiduran, cepet bangun balik lagi ke toko kasihan ibu sendirian”, ucapku setelah sekian kali. “Ah, berisik. Ayah lagi sakit”. Akhirnya aku masuk ke kamar sambil cemberut.

Sebulan terakhir ini kau memang jadi sering di rumah dari pada di toko, kau bilang kau sedang sakit tapi entahlah kau memang sedang sakit atau malas saja seperti biasanya. Aku memang selalu di rumah karena aku sudah lulus SMA, kau bilang aku juga harus membantu di toko daripada di rumah saja tapi aku tak mau. “Mil, sana pergi ke toko bantu ibu kasian sendirian”, katamu. ”Gak ah, males. Ayah saja”.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, selama seminggu ke depan akan diadakan pameran buku di kota. Juga seperti biasa, kita selalu ke sana sekeluarga untuk membeli buku tapi hari ini kau sibuk jadi malam ini kita tak bisa ke sana. Aku agak kecewa tapi aku tak mengutarakannya.

Esoknya, mendadak kau mengajak kami pergi ke pameran itu. Aku dengan antusias menyambutnya. Aku telah membayar 2 novel yang kini berada di tanganku, kau juga telah membeli 2 sarung, ”Ngapain beli ini? Lebaran kan masih lama, ramadhan aja belum”, ucapku sambil menunjuk sarung “Mumpung lagi promosi, ini keluaran terbaru loh, satu untuk ayah, satu untuk kakek buat lebaran”, katamu.

Hari ini hari kamis, selalu saja niat ingin mengunjungi makam mbah kakung -bapak dari ayah- gagal. “Padahal ini kamis terakhir sebelum puasa loh yah”, kata ibu ”Iya, ayah ini. Aku kan ingin tau makam mbah kakung. Orang-orang itu biasanya sebelum puasa itu nyekar”, ucapku panjang lebar tapi kau hanya diam.

Akhir-akhir ini kau terlihat lemas sekali. Kau juga jadi tidak nafsu makan padahal biasanya kau yang selalu menghabiskan makanan di rumah, kau bahkan memuntahkan kembali makanan yang sudah kau makan. Besok adalah hari pertama bulan ramadhan, ibu jadi cemas apakah kau kuat untuk puasa besok tapi aku selalu menyemangatimu untuk puasa. ”Masa’ sakit gitu aja ayah gak puasa, malu dong”.

Hari ketiga ramadhan ibu memutuskan untuk membawamu untuk rawat inap karena khawatir denganmu. “Ayah sakit apa bu?”, tanyaku setelah ibu pulang dari mengantarmu. ”Hepatitis B Ayah kambuh tapi tambah parah. Kamu siap-siap ikut ibu jaga ayah, ibu belum nebus obat di apotik”. Siangnya aku menungguimimu di ruanganmu. “Ayah jadi gak puasa deh karena diinfus, tapi gak papa ntar bayar hutang puasanya bareng aku”, ucapku. Hari-hari kulalui menungguimu, bahkan adikku tidak masuk sekolah untuk menungguimu. “Kamu gak sekolah?”, tanyaku ”gak, aku habis ujian jadi gak ada pelajaran. Jadi gak apa-apa aku nungguin ayah di sini”.

Pernah suatu pagi tak ada yang menemanimu, lalu sebuah sms masuk ‘kok gak ada yang ke sini, ayah sendirian’, seharusnya aku yang menungguimu tapi akhirnya adikku yang pergi. Adikku juga pernah bilang “mbak, waktu kita ke pameran sebenernya ayah capek tapi karena ingin menemanimu jadi ayah sempatkan”, aku jadi merasa bersalah karena pada saat itu kau sedang sakit.

Setelah 6 hari dirawat kau ingin pindah ke rumah sakit tempat kerja keponakanmu setelah ‘dipaksa’ oleh adikmu yang datang menjengukmu pagi itu. Akhirnya sore hari kita berangkat menuju rumah sakit itu; aku, kau, ibu, dan seorang pegawaimu sebagai sopir. “Semoga ayah cepet sembuh biar nanti ayah yang nyetir ntar kalo mudik”, katamu sebelum perjalanan. Setelah 2 jam perjalanan akhirnya sampai sudah, setelah melewati pemeriksaan di UGD kini ayah boleh isrirahat di ruangannya.

“Ayah kena kanker hati, kata dokter sudah parah jadi gak ada jalan lain selain transplantasi”, katamu. “kanker?”, tanya ibu tak percaya, “kok kamu malah keluar saat ada dokter? ibu kan tadi di kamar mandi”, sesal ibu padaku namun aku hanya terdiam. “Tapi kenapa kanker, padahal izam masih kecil”, ucap ibu sambil menahan tangis mengingat nasib Izam-adik terakhirku yang masih berumur 3 tahun. “Ayah gak apa-apa kok, umur ayah mungkin gak lama lagi”, aku tak kuat melihat pemandangan ini. Karena sakit ayah yang sudah parah, dokter memutuskan ayah untuk dirawat jalan saja. Jadi setelah 5 hari ayah sudah boleh pulang. Dokter juga bilang pada ibu untuk membuat kartu kesehatan program pemerintah sehingga biaya pengobatan ayah tidah membebani mengingat obat yang mahal dan pengobatan seumur hidup.

Hari ke hari sepertinya penyakitmu semakin parah saja, kau tampak lemas daripada biasanya. Sepanjang perjalanan pulang aku menangis dalam diam, ibu sangat lelah sehingga tertidur. Aku memengang lenganmu yang dulu kekar itu kini kurus tak bertenaga, kau seperti orang lain saja, badan yang dulu kuat itu kini lemah tak berdaya.

Keesokan paginya teman-temanmu datang menjenguk dan memberi nasihat. Hanya kau dan aku di rumah ini, kedua adikku di rumah nenek sedangkan ibu sedang pergi keluar. Aku hanya mempersilahkan tamu untuk menjengukmu langsung di kamar sedangkan aku tetap di luar. Sudah 2 hari kau tidak makan apa-apa dan kau juga tidak minum obat. ”Ayah, ini obatnya diminum” ”t t taruh s saja di situ”, ucapmu berulang ulang. Bodohnya aku yang tak mengerti dengan keadaanmu yang tambah parah itu, bahkan mengambil hp di depanmu saja kau kesulitan, namun aku mengabaikannya dan sibuk dengan ponselku.

Menjelang ashar aku mendengar rintihan, aku bergegas ke kamarmu dan mengecek keadaanmu. “Ayah… ayah… ayah”, panggilku, kau hanya meringis sambil menatapku. Kukira kau baik-baik saja jadi aku kembali, padahal mungkin saat itu kau membutuhkanku.
“Ayah… ayah… ayah”, panggil ibu setelah ibu pulang. Perasaanku tak enak, “AYAH BANGUN, AYAH JANGAN PERGI, AYAAAH…”, jerit ibu. Aku segera ke belakang “Bu, ayah kenapa? Bu, ibu bercanda ya?”, tanyaku tak percaya. Aku memeriksa nafas ayah dan denyut nadinya tapi tak ada lagi, tangan ayah pun dingin. Ibu histeris, aku tak tahu apa yang harus kulakukan, sedetik kemudian aku menangis dan menjerit tak percaya apa yang kulihat ini. Lalu tetangga mulai berdatangan dan mengurus jenazah ayah.

Sabtu, 18 Juni 2016 17:20
Hujan turun dengan derasnya, kini rumahku telah sepi, orang-orang sudah pulang karena sebentar lagi berbuka puasa. Aku menatap ke arah tubuh yang telah tertutup kain kafan itu masih tak percaya, kuharap ayah hanya tidur dan akan bangun tapi tidak. “Aku menyesal ayah, ayah harus bangun. Aku akan jadi anak yang baik”. Teringat ayah pernah berkata “Kamu itu anak yang ayah banggakan tapi kok kaya’ gini”, bahkan di saat-sat terakhirnya aku masih mengecewakannya, meninggalkannya. Aku memang anak yang jahat, ayah.

Kita memang tak pernah tahu kapan umur seseorang berakhir tapi sebaiknya kita selalu berbuat baik padanya agar tak kecewa pada akhirnya. Tak usah malu untuk memperlihatkan rasa kasih sayang kita padanya. “Berbuat baiklah pada kedua orangtuamu selagi mereka masih hidup”, dulu aku berpikir ‘ah, umur orangtuaku masih panjang’ tapi ternyata aku salah.

Cerpen Karangan: Camila Ahmad
Facebook: Camila ahmad
This is my first short story yg aku publish, so enjoy reading… untuk saran n kritik monggo di comment

Cerpen Sabtu Terakhir Bersama Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tangisan Seorang Ibu

Oleh:
Namaku Adinda Adya Shinta, kalian bisa memanggilku Dinda, aku sekarang ini masih duduk di bangku kelas 1 SMP, aku tinggal bersama ayah dan ibuku, kebetulan aku anak tunggal loh.

Mutiara Hati Yang Terlupakan

Oleh:
Bukan orang yang sepandai Albert Einsten. Bukan juga orang yang sekaya Presiden Obama di Amerika. Sederhana, tidak banyak tingkah, lugu, pendiam, itulah diriku. Tidak banyak teman yang kumiliki, ‘sendiri’

Andri Sayang Papa (Part 2)

Oleh:
Sudah terhitung beberapa minggu Intan di sini, sebentar lagi dia kembali untuk melanjutkan kuliahnya, dan hari itu dia menyempatkan untuk membeli segala kebutuhannya, jelas saja dia lebih memilih berbelanja

Aku dan Perempuan Tua

Oleh:
Namaku Lyra. Usiaku 15 tahun. Sejujurnya aku tak suka nama itu, terkesan terlalu cengeng. Tapi perempuan tua yang selalu mengetik sepanjang malam memberiku nama tersebut. Aku tak bisa mengelak

Si Dogol

Oleh:
Dogol adalah anak semata wayang dari pasangan ibu tuti yang hanya sebagai ibu rumah tangga dan bapak rahmat hanya seorang petani. sebenar nya dia adalah anak yang pandai hanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *