Sahabatku SG

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 18 August 2017

Mentari telah terbit dari ufuk timur menandakan satu hari baru telah datang, sungguh indah ciptaan Tuhan menghiasi pagi ini, bagi setiap insan pastinya ingin memulai hari baru ini dengan senyuman. Aku sendiri tidak memiliki kebijaksanaan dan hikmat yang cukup, namun aku hanya ingin melakukan yang terbaik setiap kali dan setiap hari dalam kehidupan yang semakin berubah ini. Nuansa pagi ini mengingatkanku pada masa kecilku, pohon-pohonnya masih sama seperti dulu, bahkan kicauan burung dan gemercik air di taman depan kamarku seolah-olah membawa kenangan itu kembali. Kusandarkan tubuhku pada dinding kaca sambil berpikir “Seperti inikah hidup yang harus kujalani saat ini?”.

“Syil sudah bangun yah, hari ini kita jadi jalan-jalan kan?” sapa Devi sambil mengusap matanya yang masih mengantuk.
“Wah, aku sempat lupa. Kamu sih kalo lagi semangatnya harus ingetin dong!” umbarku tersenyum.
“Ah kamu, kayak anak kecil saja mau diingetin terus!” ucapnya sambil tertawa.

Devi adalah sahabatku yang sangat peduli padaku. Semenjak aku ditinggal sendiri di rumah karena kedua orangtuaku pergi ke luar kota untuk menjalankan bisnis, Devi hampir setiap hari menemaniku di rumah. Persahabatanku dengan Kinny dan Devi adalah semangatku untuk tetap bertahan di tempat yang sunyi ini. Meskipun aku memiliki tetangga-tetangga yang ramah, aku tetap saja merasa kesepian.

“Syil cepat! Aku yang siapin sarapan yah! Tadi kuhubungi Kinny, sebentar lagi dia datang, sudah mau siap-siap katanya” kudengar lagi teriakannya mengingatkanku.
“Iyaaa, ini sudah beres juga” balasku sambil merapikan kamar.
Yah, begitulah sifat Devi, meski Devi adalah anak yatim yang berasal dari keluarga sederhana, dia tetap semangat setiap hari. Berbeda denganku, boleh dikata aku selalu mengeluh, aku takut gelap dan juga takut sendirian, meskipun kata orang kami adalah keluarga terkaya di desa ini. Tapi itulah aku Syila, penduduk desa menyebutku ‘putri manja dari kerajaan Artha’. Lain halnya dengan Kinny, dia berasal dari keluarga terpandang di desa kami, tetapi sikapnya sangat ramah dan baik hati.

Aku sangat bersyukur dengan kehadiran mereka, tanpa mereka, hidupku tak berarti apa-apa. Bersikap tegar menghadapi semua ini rasanya sulit, terkadang aku iri melihat mereka yang bisa bermanja dengan orangtua dan saudara mereka. Aku selalu bertanya dalam hati “Apakah aku bisa seperti mereka? Akankah papa meluluskan keinginanku untuk sekolah di luar kota agar aku bisa di dekat mereka?”
“Kamu masih terlalu polos Syila, papa tidak setuju. Di sini kan masih ada tante Mira yang jagain kamu. Sekolah di luar kota itu tidaklah gampang, mama dan papa sibuk dengan pekerjaan, kamu mau tinggal dengan siapa di rumah?” ucapan papa selalu terngiang di telingaku. Ingin rasanya aku memberontak kenapa aku harus dilahirkan dalam keadaan ini.

“Langitnya sangat cerah, sebaiknya kita ke kebun binatang dulu deh!” ucap Kinny.
“Iyaa, hari ini dan besok kan kita libur, jadi sebelum hari Minggu tiba, kita bisa saja jalan ke manapun yang kita inginkan” Devi menimpali.
“Terserah kalianlah, aku ikut saja yah!” kataku datar. Aku segera membanting setir mobil ke arah kebun binatang yang dimaksud Kinny. Di perjalanan aku masih kepikiran dengan semua kata-kata papa.

“Akhirnya tiba juga, tapi Syil dari tadi kamu diam terus, ada masalah apa?” tanya Devi.
“Bukan apa-apa, aku hanya sedikit pusing saja”
“Baiklah, kalau terjadi apa-apa, tanya kami yaa!” ucap Kinny.

Sepanjang hari ini kami keliling kebun binatang, juga mengunjungi water park yang kebetulan berdekatan dengan kebun binatang tersebut, kini waktunya kami pulang. Akan tetapi, aku tiba-tiba pusing dan tidak sanggup lagi untuk pulang. Kuminta Kinny untuk mengendarai mobil agar kami cepat tiba di rumah. Namun, malang menimpaku, di tengah jalan aku pingsan. Dalam kepanikan, Kinny dan Devi langsung membawaku ke rumah sakit.

“Dev, Syila kalau di kasih tahu tidak mendengar sih. Tadi kita tanya, dia ada masalah atau tidak, tapi katanya tidak apa-apa, jadinya begini” ucap Kinny dengan nada menyesal.
“Tidak apa-apalah, namanya juga tidak mau repotkan sahabatnya. Lagian juga kan, baru kali ini Syila tiba-tiba sakit. Mungkin Syila terlalu capek” balas Devi sambil menghibur.
“Dok, bagaimana keadaan teman saya?”
“Tenang nak, dia baik-baik saja, hanya perlu istirahat. Tekanan darahnya turun, kalian tidak perlu khawatir, dia sudah sadar. Kalian sudah memberitahu orangtuanya?”
“Terima kasih dok, iya dok, mereka sedang dalam perjalanan, jadi kami sudah boleh masuk dok?”
“Tentu saja, hubungi kami jika terjadi apa-apa pada Syila lagi”

Devi dan Kinny langsung berlarian menemuiku, “Mama dan papa sudah datang?” tanyaku. “Iya, sabar Syil, mereka dalam perjalanan”. Hari ini aku sangat bahagia, selain ditemani oleh kedua sahabatku, aku akan bertemu dengan papa dan mama.

“C’klok”, “Syilaa, kamu tidak apa-apa nak?” tanya mama khawatir. “Iyaa ma, Syila sudah sembuh kok, papa di mana?”
“Masih di luar nak, katanya ada urusan penting sebentar”
“Ah ma, papa selalu saja begitu, papa lebih cinta pekerjaan daripada Syila. Dari dulu Syila mau tinggal sama mama tapi papa selalu larang Syila, bagaimana kalau tidak ada Devi dan Kinny? Mungkin Syila sudah tidak ada sekarang” jawabku setengah berteriak.
“Sabar Syil, jangan berkata seperti itu, mama dan papa sibuk bekerja itu semua demi kamu kan?” Devi menghiburku.
“Iyaa, kita akan selalu ada buat kamu kok” tambah Kinny.
“Wah, anak-anak mama sekarang sudah pintar yaa. Devi, Kinny, maaf tante sudah merepotkan kalian, terima kasih nak, kalian sudah membantu tante dalam menjaga Syila”
“Tante tenang saja, kita bertiga sudah seperti saudara kok” ucap Devi dan Kinny serentak.
“Syila sayang, sudah baikan nak? Papa minta maaf tidak bisa datang cepat menjenguk Syila, sebagai gantinya papa akan urus pesta ulang tahun persahabatan kalian, tapi Syila harus janji tidak akan ngambek lagi” papa muncul dengan wajah sedih. “Benar pa? Kalau begitu Syila maafin papa” aku senang papa mengingat anniversary kami.

Hari ini, 13 Agustus adalah hari persahabatan kami, sudah 7 tahun kami bersahabat. Tentu saja, bagiku hari ini adalah hari yang paling menyenangkan, ditambah lagi mama dan papa tidak sibuk lagi dengan pekerjaan tetapi sibuk mengurus acara kami.
“Bagus sekali tante, baru hari ini aku lihat Syila sebahagia itu”
“Iya nak, ini kan pesta kalian, tante sudah menyiapkan semuanya dan kamu juga harus tahu dua hari yang lalu, tante mendapat telepon dari universitas Kiyoshi di Jepang. Katanya Syila lulus beasiswa, jadi hari ini kita rangkaikan dengan memberi Syila kejutan, tapi jangan beritahu Syila dulu” mata mama berbinar menjawab pujian Kinny.
“Wah! Puji Tuhan, ide yang sangat cemerlang tante, aku dan Devi sangat setuju. Oh yaa tante, Devi ada di mana?”
“Devi belum datang nak, tadi sudah menelpon. Katanya Devi agak telat datangnya”
“Oke, terima kasih tante, kami menunggu di dalam saja”

Dua jam kemudian, Devi belum datang juga padahal acaranya akan dimulai 5 menit lagi. Tiba-tiba, “tririri… tririri..” telepon rumah berdering. Aku berharap itu dari Devi, “Nak, ini dengan Syila teman Devi kan? Devi tidak bisa hadir hari ini, Devi masuk rumah sakit, kalau mau tahu keadaannya sebaiknya kamu ke sini nak!”, ‘tut.. tut.. tut..’ telepon langsung ditutup. Bagai disambar petir aku langsung terdiam, Kinny yang sedari tadi memerhatikan langsung menghampiriku, “Ada apa Syil? Devi sudah di mana sekarang?”
“D,d,devi masuk rumah sakit, aku baru saja ditelepon oleh pihak rumah sakit. Ayo kita ke sana” tanpa berpikir panjang, aku dan Kinny langsung pergi ke rumah sakit. Namun kami terlambat, Devi sudah tiada, mama Devi hanya terdiam tanpa air mata. Aku langsung menangis histeris, “Mengapa di hari ulang tahun kami Devi harus pergi? Tuhan begitu tidak adil”. “Nak, sebelum pergi tadi Devi menitipkan ini buat kamu dan Kinny” seorang dokter menyerahkan amplop berwarna hijau. Perlahan kubuka dan ternyata isinya adalah sebuah surat.

“Untuk sahabatku Syila dan Kinny, aku minta maaf jika hari ini aku tidak bisa hadir di pesta kita, sudah lama aku menantikan hari ini. Hari yang sangat penting buat kita bertiga, 7th anniversary.
Buat Syila sahabatku yang paling cantik dan pintar, selamat yaa, kamu lulus beasiswa Kiyoshi yang kamu impikan selama ini, kamu harus pergi ke sana Syil. Capailah cita-cita kamu dan jadilah dokter yang baik, aku selalu doain kamu Syil, jangan terusan jadi anak manja dan jangan marah-marah sama mama dan papa lagi. Seminggu ini mereka ambil cuti hanya untuk mempersiapkan pesta kita dengan baik.
Untuk Kinny chef kita yang imut dan ramah, aku minta maaf sebelumnya aku tidak minta izin dari kamu, aku sudah mendaftarkan Kinny sebagai salah satu chef muda di restoran yang selama ini Kinny impikan, berkas-berkas dan contoh masakan Kinny sudah diterima, direkturnya menerima Kinny tanpa syarat lagi. Kata mereka, masakan Kinny sangat lezat, melebihi chef profesional di restoran itu, selamat berjuang sahabatku. Aku akan selalu mendoakanmu semoga kamu bisa menjadi chef profesional juga.
Persahabatan kita sangat berarti bagiku. Kinny dan Syila tidak usah bersedih saat membaca surat ini, mungkin Devi sudah tiada tapi arti dari persahabatan kita tak pernah pudar. Jangan bersedih sahabatku, kalau Tuhan Yesus memanggilku, bersedialah menjadi yang terbaik demi persahabatan kita. Jangan menyesal karena ini yang Devi ingikan, Devi hanya ingin melihat kedua sahabat Devi bahagia”.

With Love,
DevinaCy
Devina Crosby

“Devii, kenapa kamu pergi secepat ini? Kita tidak mau Devi pergi!” tangis Kinny semakin meledak.
Sesaat kemudian, mama dan papa datang. “Syila, Kinny, mama minta maaf tidak memberitahu kalian tentang penyakit Devi, Devi meminta mama merahasiakan ini dari kalian. Devi tidak mau kalian khawatir, selama ini Devi sudah berusaha melawan penyakitnya supaya bisa melihat kalian selalu tersenyum” ucap mama dengan mata yang berkaca-kaca.
“Jadi selama ini mama tahu? Mama jahat, tidak memberitahu Syila” aku langsung memeluk mama.
“Apa tante tahu semua yang dilakukan Devi selama ini untukku dan Syila?” tanya Kinny.
“Tidak nak, tante hanya tahu tentang penyakitnya”
“Nak, jangan bersedih, ketika kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga buat kita, tetaplah bersyukur karena dibalik semuanya itu ada rencana Tuhan yang teramat indah bagi kita” sambung mamanya Devi.
Aku langsung terkejut, “Ya ampun Tuhan, begitu sabarnyakah keluarga Devi? Meski kehilangan mereka tetap bersyukur, ajari aku seperti mereka Bapa” pintaku dalam hati. Aku sendiri malu, berasal dari keluarga berada tetapi masih suka mengeluh.

Kehilangan seorang sahabat memang hal yang paling menyakitkan, tetapi aku bersyukur memiliki Devi sebagai sahabat yang mungkin orang lain tidak punya. Aku mengingat apa yang dikatakan guru SD kami saat melihat persahabatan kami dulu, “Teman yang baik selalu ada buat kita, teman baik selalu mengajarkan teladan kebaikan yang memperkuat iman kita. Jadi, jangan pernah melepasnya apapun masalah yang menimpa persahabatan kita”. Devi telah pergi tetapi kami tahu, dibalik semua peristiwa itu ada rencana Tuhan yang maha indah.

Tiga tahun setelah kepergian Devi, persahabatanku dan Kinny semakin erat. Devi telah memberi kami inspirasi serta motivasi, meski Devi tidak sempat merasakan cita-citanya untuk menjadi seorang penulis, tetapi apa yang dilakukannya untukku dan Kinny sudah lebih dari cukup. Salah satu cita-cita Devi juga terkabulkan, Kinny menjadi chef profesional muda yang terkenal, bukan hanya di daerah kami tetapi telah sampai ke luar negeri. Dan aku memutuskan untuk mengikuti kuliah di universitas Kiyoshi, di samping itu aku menulis puisi dan beberapa buku untuk melanjutkan cita-cita sahabatku Devi yang belum tercapai. Selamat beristirahat dalam damai bersama Bapa, Devi sahabatku, ‘Sylviny Girl’ selalu merindukanmu.

Cerpen Karangan: Junita Timang
Facebook: Junita Timang

Cerpen Sahabatku SG merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Malaikat Tidak Bersayap

Oleh:
Kehidupan sangatlah singkat, banyak remaja sekarang kurang memanfaatkan waktu mudanya dengan baik. Terkadang aku juga merasa belum memanfaatkan waktu luang dengan benar, Sejak kecil aku dilatih untuk mandiri oleh

Bumi Pertiwi (Part 1)

Oleh:
Penatnya Jakarta siang ini tak lantas membuat empat anak manusia yang dijuluki empat serangkai ini untuk berhenti menyelusuri hampir seluruh tempat yang ada di Jakarta. Saling bersahutannya suara klakson

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Matahari telah bersinar, embun masih menempel di dedaunan. Pagi ini udara begitu sejuk, hari ini aku akan berangkat ke sekolah. Aku adalah seorang siswi SMA. Sesampainya di sekolah, aku

Maafkan Aku Sahabat

Oleh:
“Tinna, bangun nak!” Ibu Tinna terus mengguncang guncang tubuh anak semata wayangnya itu. “Ya bu, hari ini Tinna bakal pulang telat deh kayanya bu. Nggak apa apa kan?” Tinna

Cacat Hati

Oleh:
Hari itu, senja mulai mendatangiku, adzan sudah di pangkal tenggorokan. Dan hatiku merintih kesakitan. Air mata mengalir membasahi pipiku yang melekat di atas bantal. Air itu menggenang kemudian meresap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *