Sajadah Milik Nenek

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 20 September 2014

“Karina! Bangun nak, sudah jam 4 sore, ayo mandi dan shalat Ashar dulu!” Mama membangunkanku. “Hoamm… Mama aku masih ngantuk!” jawabku. “Ayo Karina!” kata mama. “Iya Maaa” kataku. Aku lalu bangun dan mengambil handuk putihku. Aku segera mandi. Setelah itu aku memakai pakaian dan jilbab. Tak lupa aku berwudhu. Aku menyiapkan perlengkapan shalatku. Tapi ada yang kurang yaitu… “Oh ya sajadah! Hmm.. sajadahku di mana ya, apa dicuci Mbak Anik ya, aku tanya saja sama Mbak Anik!” gumamku. Aku segera menghampiri Mbak Anik yang sedang mencuci.
“Mbak Anik, sajadahku dicuci Mbak ya?” tanyaku. “Iya Karina, kamu mau shalat ya?” tanya Mbak Anik. “Iya Mbak” jawabku. “Ya sudah kamu pakai sajadah yang lain dulu ya!” kata Mbak Anik. “Iya”

Aku lalu mencari sajadah yang akan kupakai. “Oh gimana kalau aku pakai sajadah almarhum nenek saja!” gumamku. Aku akan menceritakan sedikit tentang nenekku. Nenekku adalah orang yang baik dan penyayang. Dia selalu rajin shalat dan beliau selalu shalat dengan menggunakan sajadah kesayangannya yaitu sajadah berwarna coklat yang lebar. Nenek meninggal karena sakit keras, sebelum meninggal beliau menitipkan sajadah kesayangannya kepadaku.
Kembali lagi ke cerita. Aku mencari sajadah nenek yang kusimpan di lemari. Akhirnya ketemu juga, dan aku segera shalat Ashar.
“Assalamualaikum waroh matullah, Assalamualaikum waroh matullah”
Selesai shalat aku berdoa kepada Allah SWT. Aku selesai berdoa.
Tiba-tiba seluruh tubuhku terangkat ke atas. Dan anehnya aku terbang bersama sajadah nenek. Aku mengelilingi dunia dengan menaiki sajadah nenek. Setelah lama berkeliling aku tiba di sebuah taman yang indah. Di sana aku bertemu nenek yang sedang duduk di kursi taman.

“Nenek, apakah itu Nenek?” tanyaku. Nenek tersenyum. “Iya Karina, ini Nenek” jawab beliau. “Nenek! Aku ingin selalu bersama Nenek, ayo pulang ke rumah, Nenek!!!” ujarku sambil menangis dan memeluk nenek. “Nenek tidak bisa pulang nak, Nenek hanya berpesan, kamu harus jadi anak yang baik dan pintar, jangan merepotkan Mama dan Papamu dan jaga Sarah adikmu, doakan Nenek dan rawatlah sajadah Nenek yang Nenek berikan kepadamu!” pesan nenek. “Iya Nek, Karina tidak akan melupakan itu!” jawabku sambil menangis. “Karina sekarang kamu harus pulang, Nenek juga harus pulang!” kata Nenek lembut. “Iya Nek, jangan lupakan aku dan doakan aku juga ya Nek” aku memeluk erat nenek.
Tiba-tiba suasana taman berubah menjadi suasana kamarku. “Kak Rina, Kak Karina sadar Kak, Kakak kenapa?” tanya seseorang. Aku membuka mataku dan tanpa sadar tenyata dari tadi aku memeluk Sarah! Hahahaha… Oh ternyata tadi hanyalah mimpi. Aku ketiduran saat aku selesai shalat tadi.
“Kakak kenapa kok meluk Sarah dari tadi? Kakak sakit?” tanya Sarah. “Eh, maaf Sarah enggak ada apa-apa kok!” kataku. “Ayo makan Kak, aku mencari Kakak malahan Kakak tidur dan tiba-tiba memelukku sambil menangis” kata Sarah. Aku segera melipat mukena dan sajadahku.

Aku segera berlari menghampiri mama sambil menangis. “Mama! Mama! Tadi aku mimpi Nenek Maa.. Aku kangen sama Nenek, hiks hiks hiks” kataku. “Sudah jangan menangis Karina, kamu dakan Nenek saja!” kata mama.

Itulah ceritaku… lucu karena aku malu karena memeluk Sarah tanpa sadar dan sedih karena aku kangen nenek.

Cerpen Karangan: Deshinta Maharani
Facebook: Deshinta Maharani

Cerpen Sajadah Milik Nenek merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Alea

Oleh:
Cahaya mentari telah menyinari pagi ini, kabut dingin pun perlahan menghilang, hanya tertinggal tetesan embun di pucuk dedaunan itu. Alea bangkit dari tidurnya, ia merasa mungkin ini sudah pagi.

Ibu Ku Di Mana

Oleh:
Selama ini aku hanya menunggu jawaban, jawaban dari orang yang sangat ku hormati selama ini, yang telah menjadikanku manusia sempurna di atas kekuranganku. Dialah sosok seorang yang telah berjuang

Makannya Kecil Kecil Jangan Pacaran

Oleh:
Mia dan adi adalah kelas 6. Mereka masih sekitar umur 13-14. Adit selalu memperhatikan mereka berdua. Dia berpikir “mia dan adi masih kelas 3, kecil-kecil sudah pacaran….” waktu jam

Gelang Emas Untuk Bunda

Oleh:
“Lind, besok kan Bunda ultah, kita kasih kado apa ya?” ucap Dila pada adiknya, Linda. “emm… bagaimana kalau gelang emas kak? Kan dari dulu, bunda ingin sekali membeli sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *