Sajadah Untuk Bunda (Batu Loncat Pertama)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 19 July 2017

“And when you want something, the universe conspire in helping you to achieve it”
Sebuah kalimat sederhana dari Paulo Coelho. Namun bisa menjadi sebuah cambuk raksasa bagi sebagian orang yang dapat melumat kata-kata itu dengan baik. Betapa beruntungnya mereka yang dilahirkan dari keluarga dengan segala kesempurnaan dan kecukupan materil. Berbanding terbalik dengan keadaanku yang terlahir di sebuah keluarga miskin, dengan segala kesulitan dan kekurangan di tiap harinya. Meskipun begitu, bersyukurlah aku mendapatkan orangtua yang rela berkorban segala demi mewujudkan citaku. Ayahku hanya bekerja sebagai buruh serabutan. Apapun akan ia kerjakan demi mengutip rupiah demi rupiah guna membiayai sekolahku. Sedang ibuku tak bekerja, kondisi fisik yang kian menurun akibat penyakit tumor payudara yang dideritanya membuat ibuku tak kuat jika harus ikut membanting tulang. Miris sering kali terasa olehku saat kulihat ibuku merasakan sakit yang kuyakin teramat itu. Sebenarnya, ibuku sudah menjalani operasi pengangkatan tumor payudara, namun itu sudah lama sekali. Operasinya berhasil, tumor itu dapat diangkat dan dikeluarkan dari tubuh ibuku. Namun, bak mengakar kembali, rasa nyeri sesekali menyerang ibuku, dan semakin sering belakangan ini. Tak putus do’aku tiap harinya, memohonkan kesembuhan atas penyakit yang dideritanya. Anak manakah yang tega melihat ibunya, surganya, sakit-sakitan.

Usiaku baru menginjak 9 tahun saat aku duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar di desa tempat asalku. Satu-satunya sekolah yang ada, dengan tenaga pengajar yang seadanya pula. Namun, cukuplah untuk menjadi batu loncatan bagi siswa siswi yang memang ingin merubah takdir keluarganya. Sejak kecil aku sudah diajarkan untuk tidak mengikuti jalan orangtua. Ayahku terutama, selalu mengingatkanku satu hal.
“Hiduplah di jalanmu sendiri, jangan pernah kau bercita-cita menjadi seperti bapakmu ini. Berdirilah, tatap dunia. Terbanglah setinggi-tingginya dan angkat bapak sama ibumu ke tempat yang tinggi.”
Begitulah selalu kata ayahku disela istirahat kerjanya. Ayahku rela berlumuran peluh, berhujamkan terik matahari, asal aku tak putus sekolah. Katanya ia tak menuntut apapun dariku, ia hanya ingin anaknya tak mengikuti jejaknya. Dan itulah yang memacu semangatku untuk terus belajar dan belajar, tanpa mengenal penat dan bosan. Keinginan merubah nasib kedua orangtua kujadikan cambuk pari yang menyadarkanku kala penat dan rasa bosan itu muncul.

Tahun terakhir di sekolah dasar kulalui dengan baik, Alhamdulillah aku mendapat peringkat ke dua siswa dengan nilai ujian tertinggi di sekolah itu. Sekalipun begitu, aku tetap bangga karena setidaknya aku berhasil melewati batu loncat yang pertama. Dan tahun depan aku siap melanjutkan ke jenjang menengah. Pun aku sekolah di satu-satunya SMP di kabupaten, aku tetap optimis, dan tekatku untuk merubah keluarga tetap tertanam kuat.

Libur sekolah selama dua minggu, kubuat sebagai persiapan memasuki lingkungan yang lebih berilmu. Hari pertama adalah masa orientasi siswa, hari itu kujadikan saat-saat untuk mencari teman yang kupastikan suatu saat akan berguna bagiku. Aku memang bukan tipe anak yang cepat bergaul, namun, keadaan memaksaku untuk cepat bergaul atau kau akan dikucilkan.

“Hoi, aku Ale. Salam kenal.” Kataku berlaga sok akrab pada seorang anak laki-laki yang tengah duduk sembari meneguk air minumnya.
“Hendrawan Dwiki Adiguna. Panggil saja Adi, atau kamu punya nama panggilan lain buatku, silahkan saja.” Katanya begitu ramah, sebenarnya aku sedikit terkejut. Pasalnya aku baru kali ini bertemu orang yang begitu santainya berkenalan dengan orang lain. Salut aku melihat anak itu, andai aku juga bisa sepercaya diri dia. Lama kami berbincang, saling mengenal satu sama lain. Hari-hari berikutnya Adi –begitulah kuputuskan untuk memanggilnya– menjadi teman baikku sekaligus sahabatku.

Masa remajaku berlalu seiring bertambahnya usia. Usiaku menginjak 16 tahun sejak dua minggu yang lalu, dan sekarang aku duduk di kelas 3 di salah satu SMA di kota. Aku pindah ke kota dan menetap bersama nenekku dan beberapa anaknya yang tidak lain adalah adik dari ibuku. Aku di sini untuk melanjutkan sekolahku. Selain itu, bersekolah di kota lebih menjamin keberhasilanku untuk bisa masuk ke perguruan tinggi yang akan menuntunku pada kesempatan kerja yang lebih layak. Setidaknya begitulah kata ayahku sesaat setelah aku memberitahukannya rencanaku untuk melanjutkan SMA di kota. Aku sangat bersyukur dilahirkan di keluarga yang begitu pengertian padaku. Aku ingat salah satu teman SMP ku dulu, dia awalnya anak yang rajin. Namun, semenjak kedua orangtuanya berpisah, dia berubah 360 derajat. Dia mulai bolos sekolah, menjadi pemalas, ribut dengan guru sudah menjadi kebiasaannya. Entah apa yang terjadi padanya sekarang, aku tidak begitu tahu. Dari sanalah muncul motivasiku untuk tidak akan pernah berniat mengecewakan orangtuaku yang sudah susah payah mencari uang untuk membiayai sekolahku.

Tahun pertama di SMA, tidak begitu buruk. Sebab, ada beberapa orang yang sudah kukenal, mereka ialah teman-temanku waktu di SMP dulu. Dan sekarang mereka juga mendaftar di SMA tempatku ini. Tapi, yang aku sedihkan, Adi tidak mendaftar di sini. Dan aku juga tidak mendapat kabar apapun di mana tepatnya ia sekarang. Yang aku tahu, dia setelah kelulusan langsung pindah ke Lampung. Katanya ingin melanjutkan SMA di sana.

Hari ini Selasa, dalam diam aku sayup-sayup mendengar teman wanita di kelasku bilang kalau hari ini guru olahraga tidak masuk. Kudengar juga alasannya karena dia sedang ada acara, semacam pernikahan? Aku tidak begitu dengar. Sudahlah, yang jelas ada jam kosong hari ini. Dengan begitu, aku jadi punya waktu untuk menyelesaikan cerita pendek karanganku ini. Aku mulai hobi menulis sejak ada seorang novelis yang datang ke sekolahku beberapa hari yang lewat. Dia bercerita bagaimana sebuah inspirasi dapat muncul, dan bagaimana menggerakkan tangan untuk menuangkan cerita itu ke lembaran kertas. Dia juga bilang kalau…

“Hei, apaan tuh?!” Tanya Boy langsung menarik kertas yang ada di atas mejaku.
Boy, begitulah dia dipanggil. Nama aslinya Rahmat Andika. Tidak ada yang istimewa darinya. Tidak. Selain motornya, dan dari sanalah muncul nama Boy dalam kehidupannya. Karena motor. Bermodalkan motor yang mirip dengan yang dimiliki artis di tv, dia menjadi tenar bahkan dipanggil dengan nama yang sama.
“Ohh.. nih.” Lanjutnya setelah melihat apa isi yang tertulis di kertas itu dan menyerahkannya kembali padaku.
“Kamu hobi nulis ya?.” Tanyanya lagi.
“Iya.” Jawabku singkat.
“Lalu kenapa nggak kamu kembangin?.” Usulnya.
“Aku mana punya komputer atau laptop, gimana caranya aku nyebarin ke orang orang?.” Tanyaku kemudian.
Kulihat dia berpikir sejenak. Kemudian mengacungkan jari telunjuknya.
“I have an idea. Aku punya laptop, kamu bisa pakai kapanpun kamu mau!.” Serunya.
Aku sedikit terkejut mendengar hal itu. Aku hanya terdiam tak berkata apa-apa.
“Kenapa?.” Tanyanya melihatku yang termenung.
“Oh, eh, tidak. Apa tidak salah tawaranmu itu?.” Tanyaku masih tidak percaya.
“Why not. You are my friend. Lagian, kamu juga selalu baik. Kamu gak pernah nolak saat aku minta bantuan.” Jelasnya.
Aku mengingat-ingat kejadian yang dia bicarakan. Lalu, ohh.. jadi ini yang dimaksud ayah, kebaikan akan berbuah manis pada waktunya. Aku mengerti sekarang. Terima kasih ayah.
Aku merasa sangat beruntung. Mendapat teman yang baik, dan selalu membantu disaat aku tengah dalam kesulitan.

“Oke. Besok aku bawa laptopnya. Dan kalau kamu sudah punya cerita untuk diposting. Aku bakal bantu kamu nge-post biar diliat banyak orang.” Katanya sungguh-sungguh.
Aku berterima kasih padanya, setelah semua yang dia lakukan hari ini. Meminjamkanku laptopnya, mengajarkanku membuat blog, cara memposting cerita di blog, dan mencarikan blog serta lowongan untuk penulis pemula sepertiku.
Aku menoleh ke arah jendela, menatap kedepan masa depanku. Akan kumulai dengan cerpen, lalu novel, lalu akan kulanjutkan dengan sebuah buku. Do’aku hari ini, lancarkanlah jalanku menjadi penulis terkenal. Amin.

Minggu pertama sejak naskah cerita pendek pertamaku dipublish. Sudah ada 30 pembaca. Meskipun begitu, aku yakin dalam waktu satu bulan akan bertambah banyak. Sekarang, hari-hariku disibukkan dengan menulis cerita baru. Aku tak melupakkan sekolahku, aku hanya menulis dikala ada waktu luang. Sampai satu ketika ..

“Ale, liat nih!!.” Seru Boy dari arah pintu.
“Apaan?.” Jawabku singkat.
“Nama kamu masuk dalam 10 penulis muda kreatif versi DailyTeen. Wow..!! keren kamu Le.” Kata Boy.
Aku yang tidak mudah percaya kemudian melihat handphone Boy dan benar. Namaku tertulis di sana. Alexander Milo. Wow!! Aku hebat!!.

Seminggu kemudian, aku mengirimkan naskah cerita pendek karanganku ke salah satu penerbit yang sedang mengadakan lomba bagi penulis pemula. Awalnya aku diberitahu oleh Boy, katanya hadiahnya lumayan. Mendengar itu, aku jadi termotivasi dan ikut mengirimkan naskah. Siapa tahu aku beruntung. Deadline pengiriman sudah lewat, tibalah saatnya untuk pengumuman nama-nama pemenang lomba cipta cerita pendek itu. Aku hanya bisa pasrah kepada Tuhan, karena dialah pengatur rezeki. Kalau memang ini jalanku, aku bersyukur. Kalau memang bukan, aku akan berusaha lagi di tempat lain.
Aku tengah mengetik sebuah kalimat untuk naskah cerita pendek terbaruku, saat Boy masuk dengan muka tertunduk melangkah ke arahku.

“What’s happen? Kenapa?.” Tanyaku penasaran.
Namun dia hanya menggeleng. Aku semakin penasaran. Lalu dia menunjukkan handphonenya dan berteriak.
“You win!! Kamu menang. Juara 2 lomba cipta cerpen bulanan DailyTeen.” Katanya mengagetkanku.
Aku terperangah. Benarkah? Aku menang?. Aku tidak tahu harus bicara apa. Aku hanya bisa berterima kasih kepada Tuhan.
“Lihat ini!.” Sambungnya.
Aku membaca tulisan di handphone itu. Juara 2 mendapat hadiah Rp 250.000,00 dan karyanya akan dipublikasikan.
“Wow! Hebat sekali!.” Kataku senang.
Aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Mulai sekarang aku akan lebih rajin lagi dan terus mengasah kemampuanku dalam menulis.

Masa SMA merupakan masa-masa transisiku. Aku mulai dikenal banyak orang terlebih karena karyaku yang masuk dalam deretan sepuluh besar di berbagai penerbit tiap minggunya. Aku beranjak dari kelas X ke kelas XI dan ke kelas XII. Sekarang aku berada ditahun terakhirku bersekolah di sini. Aku mulai jarang menulis sebab harus mempersiapkan diri untuk ujian nasional yang akan menentukan apakah aku akan lanjut ke jenjang yang lebih tinggi dengan karir yang mengikuti, atau aku akan terjebak di sini dan memalukan orangtuaku.

“Hei,.” Sapa salah seorang siswi kelas, tatkala melihatku termenung.
“Ada apa?.” Tanyanya kemudian.
Dia Lea. Elea Cantika. Salah satu gadis pujaan di sekolah. Dia menyapa duluan membuatku merasa tak enak kan jika tidak menjawab pertanyaannya. Jadi, aku jawab sekenanya saja.
“Tidak, aku hanya takut membayangkan kedepannya aku jadi apa.” Jawabku.
Mendengar jawaban itu, kulihat dia ikut termenung. Menatap kosong ke depan.
“And when you want something, the universe conspire in helping you to achieve it.” Katanya sejurus kemudian.
Aku memiringkan kepala, dan menatapnya.
“Paulo Coelho.” Katanya mengingatkanku. Tampaknya dia menyadari kalau aku lupa kata-kata itu dari siapa.
“Uh, ya. Lupa.” Jawabku sedikit kikuk.
Entah karena reaksiku atau apa. Kulihat dia tertawa kecil. Dan menutup mulutnya. Cantik sekali. Perbedaan status di antara kami cukup menjadi pemisah dan penyedarku untuk tidak macam-macam dengan gadis itu. Orangtuanya memiliki segalanya, sedangkanku tidak. Aku harus sadar diri. Begitulah selalu terngiang di kepalaku ketika aku mulai merasakan jantungku berdegup kencang saat bersama Lea.
“Hei, kamu udah makan belum?.” Tanyanya dan tanpa jawaban dariku ia langsung menyeretku ke kantin.

Dalam diam dan sepi, aku terbayang sosok ayahku dan ibuku yang entah sedang kerja apa, yang kuyakin tidak mungkin diam saja di rumah. Aku berdo’a selalu kepada Tuhan agar diberikan-Nya kesehatan dan dirawat-Nya kedua orangtuaku. Karena aku belum bisa pulang ke desa karena masih harus menunggu ujian dan kelulusan. Mungkin libur nanti, selayaknya libur sekolah tahun-tahun sebelumnya, aku selalu pulanguntuk berjumpa dengan orangtuaku.

Tok.. tok.. tok..
Bunyi ketukan pintu mengagetkanku. Terdengar suara pamanku dari luar pintu.
“Le, kamu sudah makan belum?.” Tanyanya dari luar tanpa membuka pintu.
“Sudah,” jawabku dari dalam kamar.
Tidak terdengar lagi suara pamanku di luar sana, agaknya dia sudah pergi. Aku pun kembali terlarut dalam lamunanku. Udara sejuk yang masuk ke dalam kamar membuatku betah. Aku berdiri menatap ke luar jendela sebentar, lalu merebahkan tubuhku ke atas kasur. Menatap langit-langit kamar, aku pun terlelap.

Hari ini Selasa, 14 Juni. Setidaknya begitulah yang tertera di arlojiku. Kutatap arloji pemberian ayahku –dulu sewaktu aku akan berangkat ke kota– itu. Aku berdiri di muka gerbang sekolahku. Sekarang adalah hari penentuan bagiku. Apakah aku akan melanjutkan mengejaar mimpiku atau berhenti sekarang.

“Now or never.” Kataku dalam hati.
Sesaat kemudian, ada seorang gadis yang sudah kukenal sekali. Lea. Dia tersenyum ke arahku.
“Hai, kamu siap?.” Katanya.
“For what?.” Tanyaku lugu.
“For today, kita akan lulus dan pergi dari sini secepatnya.” Katanya begitu bersemangat.
Namun, ada begitu besar keraguan dalam diriku. Perasaan takut akan keputusan sekolah begitu lekat menghantui pikiranku.
“Entahlah. Bagaimana kalau aku belum siap? Bagaimana kalau aku tidak bisa menerima keputusan dari sekolah? Dan.. dan bagaimana kalau aku tidak lulus?!.” Kataku dan tanpa sadar nada bicaraku meninggi.
Kulihat Lea hanya diam, aku merasa bersalah.
“Ma’af aku berteriak padamu.” Kataku kemudian.
“Ya. Setidaknya kamu harus optimis.” Jawabnya menenangkanku.

Kami berdua lalu masuk ke dalam sekolah dan satu yang kami tuju. Ruang guru. Kami berjalan ke sana untuk melihat daftar nama siswa yang lulus di papan pengumuman di samping ruang guru.
Kelompok IPA. Tidak. Kelompok IPS. Ini dia.
Aku dan Lea memperhatikan satu persatu nama yang tertulis di daftar itu. Daftar itu acak, dimulai dari nama dengan nilai tertinggi. Yang kutahu bukan namaku.
Adinda Putri, Suryati Rahma, Jogi Saut, Halimah Hassan, Grace Margaretha, Muhammad Aldhany, Elea Cantika. Aku berhenti membaca sejenak, lalu menatap ke orang di sampingku.
“Hei, selamat.” Kataku.
Kulihat dia hanya tersenyum. Aku kembali ke daftar tadi. Kembali membacanya dalam hati.
Nabila Meisaputri, Muhammad Fauzan, Irfan Fathurrahman, Tea, Jihan, Athira, Zahid, Irfan Hadiansyah, Nurul Aini, huft.. aku mulai lelah. Tapi aku tetap meneruskan membaca daftarnya, sampai kepada urutan terakhir. Aku tidak kunjung menemukan namaku. Deg! Jantungku serasa berhenti berdenyut. Darahku serasa berhenti mengalir.
“Hei,” kata gadis yang berdiri tepat di sisiku.
Aku tak menanggap. Kemudian, ..
“Hei, kamu gak apa-apa?.” Tanyanya kemudian, sambil memiringkan kepalanya mencari mataku.

Aku tertunduk, lalu terduduk lemas. Kakiku mati rasa. Apa ini?!. Aku tidak, LULUS??. Aku ingin teriak. Tapi, tubuhku kelewat lemas, aku mulai lunglai. Dan, .. MATI.

Cerpen Karangan: Ahmad Redho
Blog: ahmad-redho-illahi.blogspot.co.id

Cerpen Sajadah Untuk Bunda (Batu Loncat Pertama) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Persembahan Terakhir

Oleh:
Persahabatan bukan hanya sekedar kata, yang ditulis pada sehelai kertas tak bermakna, tapi persahabatan merupakan sebuah ikatan suci, yang ditoreh di atas dua hati, ditulis dengan tinta kasih sayang,

Perjanjian

Oleh:
Perjanjian Satu Gemericik cucuran air kran ditingkahi dentingan piring beradu dengan mangkuk, gelas dan sendok yang memenuhi wastafel, lekukan pencucian piring itu sudah tidak terlihat lagi tertutupi tumpukan piring

Corak Pelangi Dibalik Hujan

Oleh:
Sejuk kini meraba pori-pori kulit yang masih setia menemani suasana pagi yang kian bersahabat pada lembutnya hembusan angin yang terus bersenandung di pelupuk jiwa setiap insan yang rela terjamah

Wednesday

Oleh:
Dering bel berbunyi. Aku merasakan kakiku berat untuk melangkah keluar dari kelas. Bukannya aku sakit, malahan aku sehat sekali dan jarang terserang penyakit karena mamaku selalu rutin untuk menyuruhku

Celengan Ayam

Oleh:
Di musim hujan kala itu sama seperti apa yang ku rasakan sekarang di depan bangunan lapuk di sebuah kota bernama Solo, kota yang ku kenal dengan batiknya yang menusantara.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *