Sakaratul Maut Sang Bunda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 January 2017

Bulan ramadhan, bulan yang penuh berkah bagi umat muslim sepertiku. Kesuciannya, ketenangannya, membuatku gembira jika bulan itu menyapaku. Hari pertama puasa, aku tinggal di sebuah pondok pesantren, yaitu Al-Khodijah yang bertempat di surodinawan Mojokerto. Aku menghuninya selama 2 tahun ini. Aku belajar, mengaji, tertawa, menangis di pondok itu. Penjara suci itu sangat membuatku bahagia. Oh iya namaku Viola Darmayanti. Aku anak yatim sejak umur 9 tahun. Dan sejak itulah aku hanya hidup berdua bersama ibu.

Ibu, yah itulah sosok orang yang setia padaku. Ia membimbingku, menafkahiku tanpa seorang ayah. Bagiku dia adalah sesosok pahlawan di hidupku. Rutinitas ibu semenjak aku di pondok adalah menjengukku pada setiap hari minggu. “Belajar yang betul ya nak, Ibu sayang Viola” Ucap ibu padaku tiap kali bertemu. Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan kecupan di pipinya.

Seperti halnya di semua pondok, disaat ada bulan ramadhan pasti ada liburan pondok/pulang. Setelah 3 minggu aku berpuasa di pondok, telah tiba saatnya aku pulang. Aku pulang dengan sangat gembira, begitupun ibuku. Ibu sangat bahagia jika aku pulang, karena ibu hanya seorang diri di rumah, tanpa suami dan juga anak.

Berbuka puasa di rumah tak seperti berbuka puasa di pondok yang hanya makan dengan tahu, tempe dan kecap. Di rumah, ibu diam diam sudah memasak makanan favoritku tanpa sepengetahuanku, yaitu nasi goreng ala bunda dan es garbis buatan ibu. Alangkah senangnya hatiku.

“Allahuakbar! Allahuakbar!” Suara adzan menyapa telingaku. “Viola sayang, ayo berbuka puasa dulu” suruhanya dengan penuh kelembutan. aku pun berbuka bersamanya. kebiasaan ini berlangsung hanya seminggu. 7 hari kemudian tibalah hari kemenangan yaitu idul fitri, di mana semua umat muslim berjabat tangan bermaaf–maafan sebelum hari itu, ibu telah membelikan aku beberapa baju ada jubah merah, hem, rok, celana dan masih banyak lagi, betapa senangnya aku punya ibu sepertinya.

Hari pertama yang kukenakan adalah jubah mungil berwarna merah “subhanallah cantiknya anakku” puji ibuku kepadaku sambil menatap mataku. Ibu pun mengenakakan jubah merah persis sepertiku. “ibu cantik deh kayak aku” godaku. “ibu aku minta maaf kalau selama ini aku bandel aku nakal, aku gak pernah nurut sama ibu, aku sayang banget sama ibu, aku bersyukur punya sosok bunda seperti ibu. terima kasih bu atas segalanya” rintihku pada ibu sambil mataku berkaca-kaca, ibu hanya tersenyum padaku dan berkata “ibu juga sayang viola, ibu gak peduli viola nakal atau apapun. Bagi ibu viola adalah sebuah permata indah di lautan yang sulit ditemukan” sambil mengelus rambutku dan mengusap air mataku.

Setelah beberapa hari lamanya aku di rumah dan sekarang, hari ini adalah waktuku untuk mengabdi lagi pada bunyai seperti biasanya, ibu mengantarku sampai ke pondok dan akhirnya tibalah di pondok. Ibu meninggalkanku dengan bekas ciumannya di keningku. Sedih? iya pasti sejak ayah meninggal pada tahun 2009, ibu hanya serumah denganku saja. Kakak-kakakku sudah punya kehidupan masing-masing.

Seminggu berlalu, waktu sambang pun datang tepat pada pukul 10.00 ibu mengetuk pintu kamarku aku kaget dan dengan senangnya aku langsung memeluk ibuku dengan penuh rasa rindu. tapi anehnya, hari itu ibu agak berbeda. Ibu sangat memanjakanku tak seperti biasa ibu sangat menunjukkan rasa rindunya padaku.
3 jam berlalu, setelah sholat bersamaku, ibu pamit padaku untuk pulang, aku pun meng iyakan ibu. “hati hati di jalan ya bu, gak boleh sedih, harus semangat! Viola disini bahagia kok bu!” aku mencoba membuat ibu semangat. ibu hanya menjawabnya dengan senyuman dan mengecup pipiku lalu pulang.

Esoknya seperti biasa pagi pagi aku mandi, ngaji, lalu sekolah. Aku bersekolah di SMP MA’ARIF PURI waktu itu. Lalu aku pulang setelah dhuhur tepatnya pukul 13.30.
Alangkah terkejutnya aku, tiba tiba Vivi keponakanku menjemputku. Aku kira sih dia kangen sama aku. Tapi setelah mendengar kabar bahwa ibu sakit dan di rawat di rumah sakit, aku langsung panik, sehingga aku langsung keluar pondok tanpa sepengetahuan pengurus ataupun Bunyai.

Setelah sampai di RS, tepatnya di RS gedeg, Aku langsung menanyakan dimana ibu. “Ibu di UGD” Jawab kakakku. Tanpa takut, aku langsung menjenguk ibu di UGD dan memeluknya. Saat itu, ibu tak sadar, ia hanya ditemani dengan beberapa alat bantu, saat itulah aku menangis tersedu-sedu.

24 jam berlalu, ibu dipindah ke ruang khusus untuk diberikan perawatan intensif. Dokter mondar-mandir kebingungan memasang alat bantu di tubuh ibu. Aku hanya bisa menangis menghadapnya dan melihat ibu.

Beberapa jam silang, pemasangan alat-alat di tubuh ibu telah usai. Aku langsung menghampiri ibu yang tak bisa sadarkan diri. Ibu hanya bisa meneteskan air mata ketika mendengar suaraku. “Ibu, plis jangan tinggalin aku sendiri disini, aku gak bisa ngejalanin hidup tanpa ibu, Viola mohon ibu sadar di hadapan Viola sekarang juga! Sekarang bu sekarang!” Sentakku di telinga ibu sambil air mataku bercucuran. Ibu hanya meresponnya dengan air matanya dan nafas yang sesak itu.

Malamnya, setelah sholat isya’ aku berdo’a pada sang kuasa supaya ibu diberikan kesadaran. Tapi entahlah, doaku tak dikabulkan sang kuasa. Pukul 21.00 aku tertidur pulas di kursi tunggu depan kamar ibu. Tiba-tiba aku dibangunkan dan mendengar bahwa ibu telah menghembuskan nafas terakhirnya. Saat itu pukul 02.00 pagi. Alangkah terkejutnya aku hingga aku tak sadarkan diri.

Aku bangun dan tiba-tiba aku berada di kamarku. Aku kebingungan, aku menghampiri ibu, dan saat itu ibu telah dibungkus dengan kain kafan. Sungguh sedihnya aku. Aku mengantarkan ibu sampai ke peristirahatan terakhirnya. Hampir seminggu aku larut dalam kesedihan ini. Aku tak mau makan dan apapun itu.

Setelah kian lamanya aku sendiri, alias yatim piatu. “Viola… Sebenarnya ibumu tak ingin meninggalkanmu sendiri di dunia yang indah ini. Sakaratul maut saja ibumu seperti tak bisa melakukannya dan kesakitan karena dia tak bisa meninggalkanmu. Dia sangat menyayangimu. Lalu aku bisikkan di telinganya bahwa semua kakakmu akan menafkahimu dan menjaganya seperti ibumu menjagamu semasa hidupnya. Dan saat itulah dia baru bisa menghembuskan nafas terakhirnya bersama syahadatnya” Jelas kakakku panjang. Aku menangis mendengar cerita itu. Dan kakakku memotivasiku agar tetap semangat supaya ibu bahagia bisa melihat anaknya mandiri sepertinya.

Cerpen Karangan: Khoirun Nisak
Facebook: Nasyira Keseleo

Cerpen Sakaratul Maut Sang Bunda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


3 sekawan (Part 1)

Oleh:
TAK KENAL BOSAN Ini adalah sebuah kisah dimana masa-masa kecilku yang begitu ceria yang ditemani oleh sahabat-sahabatku penuh dengan history dan adventure. Aku yang baru saja ingin membaca diary

Kiran

Oleh:
Malam hari yang sunyi, terdengar desiran ombak yang begitu merdu. Di langit terlihat Bintang dan bulan yang indah jauh di atas sana. Kiran gadis remaja yang duduk di bangku

Untuk Nada ku

Oleh:
Sahabat adalah ia yang meraih tangan kita dan menyentuh hati kita. Dia orang yang dapat berkata benar kepada kita, bukan orang yang hanya membenarkan kata-kata kita. Kasih, gadis yang

Restui Bunda

Oleh:
Bunda, aku sering mendengar cerita dari kakek, kata kakek: ketika aku lahir aku sebesar botol. Dan hal itu membuat khawatirmu akan diriku. Apakah aku akan hidup di dunia? Dengan

Fara Adik Ku

Oleh:
Aku terbangun dari tidurku mencari-cari handphone (hp) ku yang sebelumnya aku taruh dengan asal di atas ranjang tadi. Aku tak menemukannya, aku melirik jam dinding di atas meja belajarku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *