Salah (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 August 2015

Yeeesss!!!! Akhirnya pulang sekolah juga. Setelah 5 jam aku bergelut dengan pelajaran di sekolah, akhirnya aku bisa pulang juga. Seperti biasa, bi ani yang sering menjemputku. Kadang kalau bi ani sibuk di rumah, sepedaku yang menemaniku. Kadang aku iri pada mereka yang bisa dijemput oleh orangtuanya ke sekolah. Mereka bisa dibawakan tas nya oleh ibu atau ayahnya. Sedangkan aku? Ibuku mungkin tak tau jam berapa aku pulang sekolah. Ayahku selalu sibuk dengan pekerjaannya. Aku sangat mengerti itu. Tapi tetap saja hati kecilku ingin ibu dan ayah ada di sini. Oiya aku lupa namaku indie, panggil saja aku kundi. Aku adalah anak tunggal dari ibu dan ayahku. Semua yang aku inginkan selalu terpenuhi. Kecuali waktu, aku tidak bisa menghabiskan waktu dengan ibu dan ayahku. Saat mereka pulang aku pasti sudah tidur, dan saat aku pergi ke sekolah pasti mereka belum bangun. Selalu bi ina yang ada di sampingku. Bi ina mungkin bisa kupanggil sebagai pengganti ibu.

Hari ini hari sabtu, sekolahku libur karena hari ini adalah hari pemilu. Karena umurku yang masih 10 tahun, aku tidak ikut pemilu. Hari ini aku membuat jadwalku sendiri. Hari ini adalah jadwalku bersepeda. Aku sangat suka bersepeda. Walaupun hanya keliling komplek, tetapi itu membuat hatiku tenang. Membuat rasa sepiku hilang. Tak lupa aku selalu membawa roti keju di dalam tempat bekalku. karena aku sering tiba-tiba lapar di perjalanan. Aku mulai mengayuh sepedaku dari blok satu ke blok lain. Nampak sepi di komplek ini. Bahkan tak ada yang menyapaku. Seperti kota mati yang tak berpenghuni. Hanya ada mobil dan motor saja yang sesekali melintas. Bosaaan. Aku pun turun dari sepedaku dan berhenti di pos satpam yang terkunci. Aku standarkan sepedaku dan aku duduk di teras pos satpam itu. Aku buka tempat bekalku dan aku makan roti keju yang ku bawa tadi. Rasanya tenang ditemani angin yang berhembus. Sesekali aku melihat ke arah rumah-rumah besar yang ada di depanku. Aku berfikir, sangat berlebihan sekali mereka yang membuat rumah seperti ini. Mengapa tanahnya tidak dibagi saja kepada anak-anak yang tidak punya rumah? Dan aku pun berfikir, mengapa ibu dan ayahku membuat rumah yang sebesar rumahku juga? Padahal hanya aku dan bi ina yang tinggal di dalamnya. Ayah dan ibu kan hanya numpang tidur saja.

Pandanganku pun terhenti pada sosok lelaki yang duduk di teras rumahnya sambil membaca buku. Nampaknya umurnya seumuranku, dengan kaos merah dan celana pendek yang dikenakannya. Siapa ya orang itu? Sepertinya aku tidak pernah melihatnya di komplek ini. Aku pun memandanginya lebih lama. Akhirnya dia melihatku. Tapi saat dia melihatku dia langsung memalingkan wajahnya dan masuk ke dalam rumah. Ada apa denganku? Apa aku terlihat menyeramkan? Apa aku seperti monster? Aku pun mencoba memanggilnya “hey, kamu” dia pun menutup pintu dan tak terdengar apa-apa lagi setelah itu. Akhirnya aku membereskan bekalku dan pergi pulang ke rumah, karena saat itu hari sudah sore. Aku takut bi ina mencariku. Sesampainya di rumah aku tidak berhenti memikirkan anak itu. “Dia aneh, dipanggil malah gak nyaut” gerutuku dalam hati. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaanku malam itu.

Keesokan harinya seperti biasa, aku pergi ke sekolah. Hari ini aku sendirian, bi ina tidak bisa mengantarku karena bi ina harus membantu ayah dan ibu mengemasi barang barang mereka. Karena ayah dan ibu harus pergi ke luar kota. Akhirnya sepedaku lah yang mengantarku ke sekolah. Sesampainya di sekolah, saat masuk ke kelas aku melihat dia. Ya, dia yang kemarin aku lihat. Dia yang memakai baju merah dan celana pendek. Sedang apa dia di kelasku? Aku panik, aku takut dia melihatku, jika dia melihatku nanti dia pulang ke rumahnya. Lebih baik aku pura-pura tak melihatnya saja. Aku duduk di bangkuku. Dan aku berharap dia tidak melihatku.

“TEEEEEETTT!!”
kamu tau itu bunyi apa?
Itu bunyi kentut.
Bukan, itu bunyi bel sekolahku. Saat bel itu berbunyi aku masih tetap duduk mematung di bangku tempatku duduk. Sampai bu guru datang
“selamat pagi anak-anak”
“selamat pagi ibu”
“sebelum belajar kita berdoa dulu ya, berdoa mulai…”
”Selesai”
“amin”
“anak-anak, hari ini kalian kedatangan teman baru, namanya rio. Rio, silahkan maju ke depan nak, perkenalkan diri kamu pada teman-teman”
Aku pun mulai panik. Rio? Siapa rio? Apa anak itu namanya rio? Apa dia anak baru? Apa dia akan bersekolah disini dan sekelas denganku? Bagaimana kalau dia bilang kepada teman teman kalau aku monster? Nanti aku tidak punya teman. Aku kan bukan monster. Bagaimana ini? BAGAIMANA?!!!
“nama saya Rio, saya baru saja pindah dari jakarta. Saya pindah ke sini karena suatu hal yang saya tidak bisa ceritakan. Terimakasih”
“loh rio, kok pekenalannya begitu?” tanya bu guru sambil mengerutkan keningnya.
“apa sudah boleh saya kembali ke bangku saya bu?”
“oh ya sudah kalau begitu” rio pun kembali duduk dengan wajah yang datar dan biasa saja.
“baiklah anak-anak, kita mulai pelajaran hari ini…”
Aku bingung, mengapa dia seperti itu, ekspresinya datar sekali. Sifatnya dingin dan agak misterius. Sepertinya dia tadi melihatku. Tapi kenapa dia tidak pulang ke rumahnya ya. Aku pun memandanginya dari tempat dudukku. Pandangannya hanya tertuju pada papan tulis tempat dimana bu guru menerangkan. Tapi tiba-tiba… dia menoleh ke arahku. “AAARRRGGGHHH” aku maluuu!!!
Aku pun membalikkan kepalaku dan berpura-pura tegar.

Sepulang sekolah, aku pulang dengan sepedaku. Hari sudah gelap, aku lupa membawa jas hujan. Tapi semoga saja tidak hujan. Aku pun mengayuh sepedaku dengan kecepatan tinggi. Aku kan sudah ahli, aku pasti baik-baik saja. Saat di tengah perjalanan hujan turun dengan sangat deras, aku pun bingung harus berteduh dimana, karena saat itu tidak ada warung atau apapun yang bisa dijadikan tempat berteduh. Karena sudah habis akal, ku kayuh saja sepedaku sampai ke rumah. Tetapi karena terlalu bersemangat dan karena aku tidak mengontrol kecepatan sepedaku, aku tergelincir dan jatuh. Tanganku menghantam trotoar jalan komplek. Dan tulang keringku terbentur pepohonan kecil yang tumbuh di sepanjang trotoar komplek. Astagaaa sakit sekali. Ingin menangis rasanya. Aku tidak kuat untuk bangun. Aku pun pasrah dan duduk di trotoar komplek. Memakai seragam putih merah, sendirian dan hujan. Saat hujan turun tak terasa ternyata aku sudah menangis dari tadi. Hanya aku bingung memastikan yang mana air mataku dan yang mana air hujan.
Dari kejauhan aku melihat seseorang sedang berjalan menggunakan payung. Memakai seragam sekolah yang sama sepertiku. “Tunggu, sepertinya aku kenal!” pikirku. Sedikit demi sedikit orang itu mendekat. Ternyata rio. Aku ingin sekali minta tolong. Tolong bantu aku berdiri dan antar aku ke rumah. Tapi dia tidak mungkin mau menolongku. Saat sudah dekat, aku berharap dia akan berhenti dan menolongku. Tetapi, teryata tidak. Melihatku saja sepertinya dia tidak. Dia malah melewatiku seperti tidak kenal. “ah sudahlah, untuk apa aku mengharapkan pertolongan dari orang seperti dia, dia tidak mungkin menolongku. Dasar orang jahat!” gerutuku dalam hati.

Setelah dia berlalu, aku tidak memandanginya lagi. aku hanya meratapi jalanan yang sepi dan berharap bi ina lewat di depanku. Lalu tiba-tiba air hujan tidak menetes lagi di kepalaku. “ada apa ini?” pikirku. Saat aku melihat ke atas, ternyata itu rio! Aku benar benar kaget. Sekaligus aku lemas karena aku sudah sangat kedinginan.
“berdiri kamu!”
“gak bisa.”
“dasar manja!”
“bantuin.”
“beneran gak bisa atau biar dibantuin?”
“aku gak kuat, kaki aku sakit!”
“manja! Sini pegang tangan aku!”
Aku pun akhirnya bisa berdiri. Rio sama sekali tidak menatap wajahku. Kenapa sih dia? Sebegitu jeleknya kah wajahku ini sampai dia tidak mau melihatku??!!!
“kamu pake sepeda?”
“iya, kamu bisa tolong bawakan?”
“kalau disini banyak orang, aku gak bakalan tolong kamu!”
“kamu gak ikhlas? Kalo gak ikhlas lebih baik gak usah.”
“udah deh naik!”
Rio pun memboncengku pakai sepedaku. Hari itu entah namanya hari apa. Karena aku yakin sehabis tragedi ini aku pasti sakit. Rio berhenti di teras ruko yang tutup di pinggir komplek.
“kok berhenti disini?” kataku
“kamu kedinginan kan? Ini pake dulu” rio melepaskan jaketnya dan memberikannya padaku.
“kamu gimana?”
“jangan sok perhatian, udah pake aja. Tapi nanti kembalikan ya!” Jawab rio ketus
“iya, udah. Yaudah yuk kita lanjut lagi. aku ingin pulang” sambungku.
“kamu gak lihat ini hujan masih besar! Apa gak bisa nunggu sebentar? Kalo kita pulang sama saja bohong! Nanti kita berdua basah! Lalu untuk apa aku pinjamkan jaketku untukmu kalau akhirnya harus basah-basahan lagi?”
Aku hanya diam dan diam. Rio nampak terlihat lelah. Sebenarnya dia bisa pulang duluan kalau dia mau. Toh dia kan membawa payung. Tapi dia baik juga, dia mau menolongku dan menemaniku disini. Aku jadi merasa bersalah sudah bilang dia jahat. Ternyata dia tidak terlalu jahat. Eh tapi dia memang jahat! Tapi, ah sudahlah untuk apa aku pikirkan ini. Mau baik mau jahat dia tetap aneh di mataku!

“rio, boleh aku tanya?”
“ya, apa?”
“aku melihatmu waktu itu di depan rumahmu sedang membaca buku, kamu lihat aku tidak?”
“nggak”
“ah bohong”
“ya sudah kalo gak percaya”
“kamu benar tidak lihat aku?”
“ENGGAK, udah diem deh! Nanti malah aku berubah pikiran! Kamu mau, pulang naik sepeda sendirian dengan kaki dan tangan yang sakit begitu?”
Aku pun menggelengkan kepala, “galak amat sih, kesel!” gerutuku dalam hati

Hujan pun berhenti dan rio mengantarku pulang. Saat di perjalanan kepalaku sudah sangat pusing. Aku menggigil. Kulit di tanganku berkerut. Bibirku pucat. Aku benar benar sangat sangat sangat kedinginan.
“rio” panggilku dengan nada sangat lemas
“apa lagi?”
“aku pusing”
“jangan pusing! Nanti kamu jatuh! pegangan!” Aku pun memegang pinggang rio.
“tas kamu mana? Sini aku yang bawa” aku pun memberikan tas ku kepada rio
“rio” untuk kedua kalinya, masih dengan nada yang sama
“apa lagi kundi”
Aku kanget betul. Itu kala pertama dia sebut namaku. Dari mana dia tau namaku? Ah sudahlah untuk apa aku pikirkan, toh kita kan sekelas, pasti dia tau namaku lah.
“jaket kamu basah”
“ya sudah nanti cuci di rumahmu!”
“rio…” ketiga kalinya dan masih lemas
“apa lagiii!!”
“makasih ya”
“iya!”
Ya Tuhan.. orang ini aneh sekali. Jawab sama-sama saja tidak. Dasarrr rio! Kamu aneh sekali. Super super aneh sekali.

Sesampainya di rumah, rio memarkirkan sepedaku di garasi. Bi ina kaget sekali saat melihat aku diantar rio, dan aku sangat kebasahan. Bi ina menyuruh rio mampir ke rumah untuk ganti baju atau sekedar minum teh hangat agar rio tidak terlalu kedinginan. Tetapi rio menolak dengan alasan sudah terlalu sore. “baiklah rio, terimakasih” itu kata-kata yang aku ucapkan dalam hati saat rio melangkah pulang dari halaman rumahku. Karena kalau aku bicara langsung pasti hanya dijawab “IYA”.

Betul saja, malam itu badanku panas dan lidahku pahit. Bi ina segera menelpon dokter. Untung saja aku hanya demam biasa. Kata dokter, setelah makan obat juga demamku akan turun, dan besok aku bisa sekolah seperti biasa. Dokter juga bilang, memar di kaki dan tanganku hanya memar biasa, akibat benturan yang cukup keras. Tapi memarnya akan cepat hilang. Aku merasa lega, ternyata aku baik-baik saja. Malam itu, aku pun tidur dengan perasaan yang.. entah apa namanya.

Keesokan harinya, aku pergi ke sekolah diantar bi ina. Saat sampai ke kelas, aku tidak melihat ada rio disana. Aku melihat bangkunya kosong. Ku pikir dia akan terlambat, ternyata hari itu dia benar-benar tidak masuk sekolah. Aku pun bertanya-tanya pada diriku. Ada apa dengan rio? Apa dia sakit? Pasti dia sakit karena mengantarku kemarin. Aku jadi merasa bersalah. Aku harus menjenguknya! Iya harus! Nanti sore aku akan ke rumahnya. Seharian di sekolah, aku berharap 1 jam itu menjadi 5 menit. Aku ingin lebih cepat pulang. Aku ingin tau kenapa rio tidak masuk. Jika dia benar-benar sakit karena mengantarku pulang kemarin, ya Tuhan berdosanya aku ini.

Cerpen Karangan: Natassiya Agatha
Blog: Natassiyaagatha.blogspot.com

Cerpen Salah (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ibu, Syurga Nyata Bagiku

Oleh:
Di sudut kamar bada maghrib, seorang wanita setengah baya duduk meyendiri setelah shalat maghrib. Pandangannya kosong menerawang jauh kedepan. Berat. Sepertinya ia memikirkan beban yang sangat berat. Ia hanya

Give Me a Second Change

Oleh:
Apakah kau tau apa yang kurasakan saat ini? tentu tidak. Apakah kau tau apa yang kuinginkan dan apa yang tersirat dalam hati rapuhku ini? kuyakin tidak. Kau tak mengerti

Terpisahkan

Oleh:
Namaku Keyla. Duduk di bangku SMP kelas 3. Aku mempunyai seorang sahabat bernama Meyla. Dia adalah kembaranku. Dari di perut ibuku aku sudah berteman dengannya. Dialah satu-satunya sahabatku di

Putri Cantik Se-kali

Oleh:
Hari itu langit begitu cerah, secerah suasana hati tuan putri cantik se-kali (cantik se-kali = cantiknya Cuma 1x, heehee, karena menurutnya jika cantiknya berkali-kali/sangat cantik itu udah biasa), mana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *