Salah (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 August 2015

Sepulang sekolah, aku mengayuh sepedaku dengan hati-hati karena memang tangan dan kakiku masih lumayan sakit. Sesampainya di rumah aku ganti baju, dan seperti biasa aku membawa bekal roti keju di dalam tempat bekalku. tidak lupa aku membawa jaket rio yang kemarin dia pinjamkan untukku.
“de kundi mau kemana? Kan baru pulang sekolah” tanya bi ina saat aku mengeluarkan sepeda dari garasi.
“aku mau sepedahan bi”
“tangan kakinya sudah tidak apa-apa? Nanti sakit lagi loh de”
“enggak kok bi, sudah baikan. Aku pergi dulu ya bi. Aku gak akan pulang terlalu sore. Dah bibi..” aku pun berlalu meninggalkan rumah.

Aku melaju menuju rumah rio, dan sesampainya aku disana,
“permisi… permisi…”
Lalu aku membaca “PENCET BEL” lalu aku pencet. Bagaimana kalau tulisannya “MAKAN BEL” pasti aku makan.
Beberapa menit kemudian, nampaklah sesosok rio yang membukakan pintu. Dengan mata merah dan jaket tebal di badannya.
“hai rio”
“kundi, ngapain kesini?”
“mau jengukin kamu sekalian ngembaliin jaket yang kemarin, nih” jaket itu ku berikan kepada rio. Dan rio pun mengambilnya
“emang aku sakit?”
“kalau kamu gak sakit berarti sehat”
“kalau aku sehat kamu ngapain jengukin aku?”
“kan kamu sakit?”
“aku gak sakit!”
“berarti sehat?”
“ah.. ya sudahlah, silahkan masuk”
“makasih he he he he”
Aku pun masuk ke rumah rio. Waaa keren sekali. Banyak benda benda seni di dalamnya. Ukiran kayu, patung batu, lukisan abstrak.
“rumah kamu unik ya”
“biasa aja. Kamu mau minum apa?”
“ah gak usah. Aku mau jus melon aja”
“gak ada melon. Katanya gak usah”
“aku bawa minum kok. Gak usah repot-repot rio”
“oh ya sudah”
Aku pun duduk di sofa ruang tengah rumah rio.

“kamu sakit ya?”
“enggak”
“ah bohong”
“iya aku gak jujur”
“bener kan kamu sakit?”
“iya, hanya gak enak badan saja. Eh kenapa bisa tau rumahku?”
“tau lah, aku kan pernah melihatmu di teras”
“oh”
“kamu lihat aku kan?”
“nggak”
“ah bohong lagi, dasar tukang bohong”
“iya aku lihat”
“lalu kenapa langsung masuk?”
“malas liat kamu”
“jahattt!!!”
“he he he enggak, waktu itu ibuku manggil, jadi aku masuk”
“oh gitu, aku kira kamu takut sama aku. Di rumah ada siapa yo?”
“gak ada siapa-siapa, aku sendirian. Mama lagi di luar kota, ikut pameran lukisan”
“oh mama kamu pelukis ya?”
“iya”
“siapa namanya?”
“stefany martha”
“oh, itu. Aku punya lukisannya di rumahku. Ayahku dulu pernah beli”
“oh gitu ya, makasih”
“pantesan rumah kamu banyak barang-barang seninya”
“iya”
“ayah kamu kemana?”
“ayah sudah pergi.”
“kemana?”
“ke surga”
“maaf yo, aku gak tau..”
“gak apa-apa. Jangan bahas lagi ya, aku kurang suka.”
“iya deh maaf ya. Kamu sudah makan?”
“sok perhatian, dasar cewek”
“aku serius, kalau kamu belum makan ini aku bawa roti keju. Aku juga laper nih soalnya”

Singkat cerita aku dan rio pun makan roti keju bersama. Ternyata rio suka keju. Banyak sekali kesamaanku dan rio. Rio juga suka musik, di kamarnya ada drum, gitar dan bass.
“kamu mau aku ajarin main gitar gak?” tanya rio sambil mengambil gitarnya
“boleh boleh, aku bisa sih. Tapi hanya beberapa kunci saja he he he”
“ya udah sini aku ajarin”

Rio mengajariku bermain gitar, itu pertama kalinya dia memegang tanganku. Dan pertama kalinya pula aku dan seorang lelaki bersama dalam sebuah ruangan. Hanya berdua. Aku tidak tau apa yang aku rasakan. Tapi semua hal negatif di dalam otakku tentang rio semuanya seakan hilang. Dia itu baik, dia manis, hanya kadang dia salah mengartikan maksudnya kepada orang lain. Karena sifatnya yang terlalu dingin dan entah mungkin masih banyak kemisteriusannya yang dia simpan sendiri. Aku tidak perduli itu. Yang aku tahu, dia adalah rio. Aku kenal dia sekarang. Dan dia baik. Dia adalah teman lelaki pertamaku. Aku nyaman, dan aku sayang dia.

Setelah itu aku dan rio bersahabat. Kami sering bersepeda bersama. Kami selalu membawa bekal yang sama. Rio selalu membuat aku tersenyum. Kami pun sangat akrab. Kami belajar bersama, mengerjakan tugas bersama, tertawa bersama. Ternyata, rio juga pandai melukis. Saat hari ulang tahunku rio menyelipkan kertas di buku paketku. Dan dia melukis wajahku disana. Lukisannya sangat indah. Dan ada tulisan “selamat ulang tahun indie, aku sayang kamu.” Entah apa maksudnya kalimat sayang yang dia tuliskan saat itu. Mungkin karena umurku yang masih seumur jagung, aku mengartikannya dengan artian pertemanan saja, tidak lebih. Jika aku menggambarkan sosok rio, dia itu sangat istimewa. Dia selalu ada saat aku membutuhkan. Saat orangtuaku tidak ada, dia selalu main ke rumahku. Dia bilang dia datang agar aku tidak kesepian di rumah. Aku tidak tau kenapa dia sangat ingin bertemu ayah dan ibuku. Dia bilang, dia ingin mengenal mereka. Tetapi karena ayah dan ibu sangat sibuk, maka keinginan rio itu belum bisa terwujud. Kadang juga kami berangkat bersama dari rumah, rio datang menjemput ke rumahku. Aku diboncengnaya sampai ke sekolah. Senang sekali aku bisa mengenalnya.

Hari ini hari pengambilan rapot. Ibuku datang ke sekolah untuk mengambil rapotku. Aku sangat senang sekali. Karena hari ini aku bisa pergi ke sekolah bersama ibu. Ternyata rapotku tidak buruk, nilainya tidak ada yang jelek. Ibu sangat senang melihat hasil belajarku. Ibu bilang ibu akan belikan aku sepeda baru. Ya, aku harus ceritakan pada rio. Dia harus tau semua ini. Pasti dia juga senang mendengarnya. Tapi perasaan kecewa menghampiriku, aku tidak bertemu rio di sekolah. Entah mengapa, aku sangat rindu padanya. Apa dia tidak mengambil rapotnya? Ah lebih baik aku ke rumahnya saja.

Sesampainya di rumah rio, hanya ada kakek tua yang sedang menyapu di halaman rumah rio. Sebelumnya aku tidak pernah melihat kakek ini, dia siapa? Apa mungkin kakeknya rio?
“permisi kek, rionya ada?”
“rio siapa ya nak?”
“itu kek, rio yang tinggal di rumah ini”
“oh, pemiliknya sudah pindah dari kemarin nak”
Aku pun terdiam. Pindah? Apa yang kakek ini katakan? rio tidak mungkin meninggalkanku. Rio kan sudah berjanji. Kami akan selalu bersama selamanya. Kami akan makan roti keju bersama. Dia juga belum selesai mengajariku bermain gitar!!! Rio pindah? Kemana!!!
“apa kakek tau kemana pindahnya?”
“kakek tidak tahu nak”
“baiklah kek, terimkasih ya”
Aku pun pergi dari rumah yang ‘dulu’ ditempati rio.

Sesampainya di rumah, aku menangis sejadi-jadinya. Aku sangat sedih. Rio, tega sekali kamu pergi. Kamu jahat!! Sangat jahat!! Apa jadinya aku tanpa kamu? Siapa lagi temanku mengadu kalau bukan denganmu?

Hari-hari ku jalani tanpamu rio. Sepi, sangat sepi. Tidak ada lagi yang ketus kepadaku hari itu. Tidak ada lagi temanku bersepeda. Aku sering melewati rumahmu, tapi selalu saja kakek itu yang ku lihat. Semakin sering aku bersepeda, semakin sakit hatiku. Dan parahnya lagi, saat aku mulai masuk SMP, bi ina keluar dari pekerjaannya. Bi ina menikah dan ikut suaminya ke banten. Aku sangat kesepian. Aku berharap ada yang bisa menggantikan posisimu rio. Tapi sampai sekarang, tidak ada. Ibu dan ayahku tetap sibuk dengan pekerjaannya. Aku sekarang sudah tidak mau lagi bersepeda. Aku lelah, bukan lelah karena mengayuh sepedanya. Tetapi aku lelah mengenangmu. Aku lelah mengenang saat kamu disini bersama dengan sepedamu. Di tengah keramaian aku tetap merasa sepi. Di tengah keramaian juga hanya wajahmu yang aku lihat. Ku hampiri sosok itu, namun semua itu semu. Tidak ada. Aku bingung. Aku kesal. Kamu jahat rio!

Saat aku lulus SMP, ibuku bilang aku akan melanjutkan sekolahku di jakarta. Karena ayahku akan membuat proyek disana. Aku iyakan saja kata-kata ibu. Lagi pula aku bosan dengan suasana disini, aku juga bosan mengenang kenanganku bersama rio. Aku berharap dapat membuka lembaran baru di sekolahku yang baru nanti. Aku sangat berharap itu. Ibuku sudah mendaftarkanku di SMA 20 jakarta selatan. Tanpa pikir panjang, aku setujui saja semua yang sudah ibu rangkai sedemikian rupa. Dan pada akhirnya aku pun harus pindah rumah juga, pindah sekolah, dan segalanya berubah. Rumahku di komplek ini juga dijual, entah kepada siapa aku tidak tau. Hilang sudah semua kenanganku di rumah ini. Tempat aku dan bi ina biasa bersama, tempat aku menunggu ayah dan ibuku pulang, dan tempat aku menangis saat rio meninggalkanku.

Saat aku akan pergi ke jakarta, aku menyempatkan diri untuk pergi ke rumah rio, emm maksudku rumah tempat rio ‘dulu’ tinggal. Saat aku sampai, kulihat rumah itu nampak sangat sepi dan banyak tumbuhan-tumbuhan liar yang sudah tumbuh memanjang disana. Entah sudah berapa lama aku tidak pernah melewati rumah ini. Seperti rumah hantu. Dimana kakek tua yang biasa menyapu halaman? Kalian mungkin tak menyangka, saat aku menanyakan kemana perginya si kakek kepada bapak bapak pemotong rumput di sebrang rumah rio, dia menjawab bahwa kakek itu sudah meninggal kemarin. Dia sakit sejak 3 bulan yang lalu. Tidak ada yang mengurusnya. Bahkan dia tidak pernah keluar rumah lagi sejak ia sakit. Ia hanya keluar pagi-pagi untuk berjemur di terasnya. Entah mengapa aku merasa kehilangan. Aku memang tidak tau siapa kakek itu. Tapi aku… ah sudahlah mungkin kalian juga pasti merasakan hal yang sama jika menjadi aku.

Singkat cerita, sesampainya aku di jakarta akhirnya aku sampai di rumah baruku. Kalian tau? Aku sebenarnya tidak mau menyebutnya rumah. Mungkin bisa aku sebut ini gedung rapat untuk DPR. Karena ukurannya sangat besar sekali dua kali tiga kali empat kali lima kali. Aku aneh pada ayah dan ibuku. Kenapa mereka membeli rumah yang sebesar ini? Aneh.. padahal aku sangat yakin pasti mereka jarang sekali pulang, apalagi dengan proyek ayahku yang sedang melejit naik. Sudahlah, untuk apa aku pikirkan, toh aku sudah sering merasakan ini. Saat itu hanya satu hal yang aku takutkan. Kalian tau? Bagaimana bisa aku tidur di kamar sebesar ini sendirian. Aku takuuut, sangat takut. Apalagi di kamarku ada jendela yang sangat besar juga. Seperti film horor, judulnya kamar besar kundi. Judul yang standar, baiklah lupakan.

Saat liburan aku habiskan di rumah baruku. Toh rumah ini seperti hotel. Aku tidak perlu liburan, semua sudah di sediakan disini. Aku minta pada ayah dan ibu agar dicarikan bibi baru pengganti bi ina, agar aku ada teman di rumah. Dan kalian tau? Keesokan harinya pengganti bi ina sudah datang. Entah ibu dapat dari mana dia. Namanya bi ratih, umurnya mungkin yaa 3 tahun lebih muda dari bi ina. Dan tenyata dia adiknya bi ina, pantas saja ibu cepat mendapatkannya, dan wajahnya tidak jauh berbeda. Bi ratih bilang, bi ina sering menceritakan tentang aku jika bi ina sedang pulang kampung
“kata bi ina kamu itu anak yang cantik dan baik, ternyata benar, ayu tenan kamu ndo”
“he he he, ah bi Ratih bisa saja, bi Ratih juga cantik kok”
“iya, bi ina juga cerita katanya ayah ibu jarang di rumah ya?”
“iya bi, itu pasti. Mereka terlalu sibuk”
“ya udah jangan terlalu dipikirkan ya ndo, biarin aja. Kan mereka begitu buat kamu juga. Dulu bibi pegen banget masuk sma kaya kamu ini, tapi sekolahnya jauh. Bibi harus naik mobil dulu biar sampai kesana (mobil angkot maksudnya. Maklum, bi Ratih asli dari Jawa Tengah jadi masih agak mendok begitu bicaranya) tapi bibi ndak punya biaya jadi bibi bekerja aja di kampung”
“ya udah bibi ikut sekolah sama aku saja kalo gitu, he he he”
“ya ndak bisa lah ndo, bibi ini umurnya sudah berapa. Bibi kerja sajalah disini, ha ha ha. Sekarang giliran kamu sekolah yang rajin biar sukses seperti ayah dan ibu, ya”
“oke deh biii” kataku sambil memeluk bahu bibi yang sedang memotong wortel di dapur

Singkat cerita, sejak aku di jakarta aku mulai bisa menghapus semua tentang rio. Hidupku sudah mulai kembali seperti saat sebelum aku bertemu dengannya. Aku senang, tapi kecewaku masih belum hilang seluruhnya.

Hari ini hari senin. Hari pertama aku sekolah, hari pertama aku menjalani ospek di sekolah baruku ini. Aku memakai keresek di kepalaku, membawa balon dan dikepang 15 ikatan di rambutku. Karena jumlah kepangannya harus sesuai dengan umurku. Ya aku lakukan saja semua itu, bagaimana lagi? namanya juga sekolah baru he he he. Saat mos (masa orientasi siswa) kelasku dibimbing oleh kakak pembimbing kelas 11, namanya revi. Dia baik, dan entah mengapa dia sering memperhatikan aku. Saat makan, saat games, saat baris, matanya selalu melihat ke arahku. Aku merasa biasa saja saat itu, karena memang mungkin kak revi begitu agar kelasku menjadi juara saat pemilihan kelas terkompak nanti. Tapi jika ada maksud lain entahlah, aku tidak terlalu memikirkan itu. Yang aku fikirkan adalah, kapan mos ini berkhir.

Hari ke dua, ke tiga dan ke empat. Ku jalani hari-hari saat mos dengan biasa saja. Tidak ada yang menarik disini. Hari ini adalah hari ke empat, hari di mana pengumuman dan pemberian hadiah kelas terkompak. Aku sih tidak terlalu berharap mendapatkan hadiah, karena aku yakin hadiahnya adalah piala, dan pasti pialanya hanya satu dan tidak bisa dibawa pulang. Tapi jika kelasku memang juaranya, ya pasti aku ikut senang kok. Saat itu seluruh siswa dan siswi peserta mos disuruh berbaris di lapangan sesuai kelas masing-masing. Aku pun berada di barisan kelasku. Aku melihat pak Bambng (kepala sekolah) sudah berdiri di podium dan menenangkan barisan-barisan yang ribut
“anak-anak, dimohon untuk tenang. Baris yang rapi karena di hari masa orientasi siswa yang terakhir ini bapak akan mengumumkan kelas terkompak”
Semua pun tepuk tangan
“untuk apa mereka semua tepuk tangan? Mereka senang? Kenapa harus senang? Aneh!” Pikirku dalam hati
“iya, anak-anak di hari yang berbahagia ini, …, … blablablabla” kalian pasti tau apa yang dibicarakan pak Bambang, semacam pidato yang aku lupa apa isinya. Karena isi pidatonya itu sangat panjang. Aku saja sampai mengantuk.
“seperti janji bapak tadi, hari ini bapak akan mengumumkan juara kelas terkompak”
“SUDAH TAU!!” kataku dalam hati sambil mengantuk
“Dan kelas terkompaknya adalah dari kelas…”
“dari kelas…”
“dan juara kelas terkompaknya adalah…”
Mungkin pak Bambang fikir dengan dia mengulur-ngulur waktu seperti itu aku akan merasa DEG-DEGAN? Tapi kenyataannya TIDAK SAMA SEKALI. Aku malah SEMAKIN MENGANTUK.
“Dan juaranya adalah kelas 10-A, selamat untuk kelas 10-A. Untuk kakak pembimbing silahkan maju ke depan untuk mengambil piala penghargaan”
“HOREEEE!! Eh kelas kita juaranya? Ih bener gak sih? Iya tau kelas kita juara. Ih ya ampuuun aku gak nyangka” itu bukan kataku! Itu percakapan teman-teman perempuan yang sebarisan denganku.
“oh juara ya, ya selamat deh” kataku dalam hati

Setelah itu, barisan diperintahkan untuk masuk kelas dan segera dibubarkan. Saat aku masuk kelas, aku masih biasa saja. Aku sedikit senang karena aku bisa pulang lebih cepat dari kemarin. Mungkin karena hari ini hari terakhir mos. Sampai akhirnya ada yang menghampiri saat aku sedang membereskan tas ku
“hey, selamat ya” ternyata itu kak revi.
“selamat untuk apa kak?”
“selamat karena kelasnya sudah menang”
“oh iya kak, itu kan berkat adanya kakak juga sebagai pembimbing di kelas ini”
“ya, kalau siswa-siswinya tidak kompak juga pasti tidak akan menang”
“he he he, iya ya. Ya sudah sama-sama deh”
“oh iya, nama kamu indie ya?”
“iya, nama kakak revi kan?”
“iya kok kamu tau?”
“Basa-basi sekali orang ini, ya jelas lah aku tau dia revi, kan dia kakak pembimbing di kelas yang aku tempati. Dasar laki-laki” pikirku dalam hati
“haloooo” sambung kak revi karena aku belum menjawab pertanyaannya tadi.
“iya tau lah, kan kakak adalah pembimbing kelas 10-A”
“ha ha ha, iya. Aku kira kamu kepo”
“hahahaha” tertawa garing. Kalian tau kan rasanya mengantuk, ingin pulang, lalu tiba-tiba ada kakak kelas yang menghampiriku. Dan blablablaaa dia berbicara yang sangat tidak penting. Intinya aku LAPAR DAN NGANTUK!
“kamu pulang sama siapa?”
“dijemput kak”
“dijemput pacar ya?”
“dijemput angkot kak”
“oh naik angkot, memangnya rumah kamu dimana?”
“di komplek perumahan karang asih blok B no. 32”
“wah, berarti kita satu komplek, aku blok F. Mau sekalian gak indie?”
“boleh, memang tidak merepotkan kak?”
“ya nggak lah, kan satu komplek. Ya sudah aku tunggu di parkiran ya”
“okeee”

Lumayan lah, hari itu kan aku sangat lelah. Kalau menunggu angkot pasti lumayan lama dan pasti macet juga. Untung ada kak revi. Aku pun segera membereskan tas ku, dan berjalan menuju parkiran
“tet… tet…” suara klakson motor kak revi ternyata.
“ayo naik”
Aku pun naik ke motor kak revi, semacam motor besar lah, aku tidak tau apa nama jelasnya dan jenis motornya.
“kamu laper gak?” tanya kak revi
“emmm enggak kak, memangnya kenapa?”
“mau makan dulu?”
“oh tidak usah kak, nanti aku kesorean. Nanti ibu nyariin”
“oh oke deh kalau begitu, kita langsung saja ya”
“iya”

Cerpen Karangan: Natassiya Agatha
Blog: Natassiyaagatha.blogspot.com

Cerpen Salah (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Rainbow Express

Oleh:
Jessie merasa bahwa dialah wanita yang paling beruntung di dunia. Mungkin ada benarnya, karena ayahnya adalah seorang pebisnins sukses, dilahirkan dengan wajah cantik, pintar, dan juga populer. Berbeda dengan

Tanpa Warna (Part 1)

Oleh:
Angin berhembus damai dari sela jendela, sangat sejuk di wajah rasanya. Tatapan kosong hati sepi entah apa yang kian terjadi. Suara orang tua yang sedang menjelaskan pelajaran bahkan tak

Sepucuk Surat Dari Masa Lalu

Oleh:
Sebuah kamar yang penuh kenangan sangat sayang rasanya bila di tinggalkan begitu saja. Apalagi jika di dalamnya terdapat barang-barang yang memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi hidup kita. Seolah

Primadona

Oleh:
Aku adalah perempuan tercantik di kelasku. Jika kau bertanya pada temanku, “Siapa gadis tercantik di kelasmu?” pasti mereka akan menjawab, “Tentu saja Hellena Campbell.” Itulah aku, ya, wajahku memanglah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *