Salah (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 1 August 2015

Di perjalanan kak revi selalu memperhatikanku lewat kaca spion motornya. Entah mengapa aku merasa risih. Aku tidak suka dia melihatku terus.
“ada apa kak? Kok melihatku dari kaca spion melulu?”
“hah? Mmm nggak. Aku melihat mobil di belakang kok” jawab kak revi sambil sepertinya dia menahan malu karena aku tau dia memperhatikanku dari tadi
“oh” jawabku
Sejak saat itu aku dan kak revi tidak berbicara apa-apa lagi. mungkin dia malu karena kejadian tadi.

“itu rumahku kak yang warna hijau”
“oh yang itu” kak revi pun menghentikan motornya di depan rumahku
“mau mampir dulu kak?” tanyaku menawarkan. Sebenarnya itu hanya basa-basi saja sih. Kan tidak enak, aku sudah diantar pulang tapi aku tidak mengajaknya masuk.
“nggak usah indie, aku langsung pulang saja. Sudah terlalu sore, lain kali saja ya”
“iya deh kalau begitu, terimakasih ya kak, hati hati”
“oke” jawab kak revi sambil melambaikan tangan kirinya dan berlalu.
Akhirnyaaa, aku sampai ke rumah juga, aku pun mandi, makan dan segera tidur. Karena aku merasa sangat lelah sekali.

Keesokannya di sekolah, aku belajar seperti biasa. Aku mulai kenal dengan orang-orang yang satu kelas denganku. Satu per satu aku mulai suka dengan kelas ini. Tapi tetap saja aku lebih suka diam, dan menikmati sepi. Aku duduk satu bangku dengan dica, ya dia teman satu kelasku. Dica adalah teman pertamaku sejak aku masuk ke sekolah ini. Dica anak yang baik, dia sangat mengerti sifatku. Dica dan aku sangat berbeda jauh. Dica adalah anak yang aktif, baru masuk sekolah beberapa hari saja dica sudah mendapat banyak sekali teman dari tiap-tiap kelas. Dica memang pandai bergaul, tapi satu kelemahan dica, dia kurang tekun belajar. Terkadang dia tidur seharian di uks, dengan alasan sakit kepla, sakit gigi, bahkan kadang dia bilang dia sedang datang bulan agar dia diizinkan tidur di uks. Padahal setauku, datang bulan kan satu bulan sekali, dia hampir seminggu sekali. Ya, itulah dica. Tapi dibalik semua itu dia sangat baik dan dia tidak egois.

Bel istirahat pun berbunyi. Seperti biasa aku memakan bekalku (roti keju). Entah mengapa aku tidak pernah bosan memakan roti keju, bagiku rasanya selalu enak.
“kamu suka banget ya roti keju?” tanya dica sambil menyalin catatanku, sudah ku bilang kan? Dica itu sangat tidak tekun dalam belajar.
“iya, aku suka banget!! Gak tau deh kenapa, pokoknya enak. Kamu mau coba gak?”
“emmm, nggak deh. Aku gak suka keju. Kamu seperti pacarku saja, suka sekali roti keju.”
“oh, pacar dica suka keju? Pasti orangnya tampan”
“iyalaaah, ha ha ha. Kok kamu tau?”
“tau lah, semua orang yang suka keju di dunia ini kalau dia laki-laki pasti tampan, dan kalau dia perempuan pasi dia cantik he he he.”
“kalau yang gak suka?”
“ya kamu bisa tebak sendiri lah” ledekku sambil menahan tawa
“yeeeh, konyol banget sih hahahaha”
Saat kami sedang asik mengobrol, puti (teman sekelasku juga) menyela pembicaraan kami
“kundi, tadi kamu dicariin kak revi tuh”
“oh ya? Ada apa memangnya put?”
“kurang tau sih, pokoknya kamu dicariin. Katanya kalau aku ketemu kamu, kamu disuruh tunggu di depan ruang osis”
“oke deh put nanti aku kesana, makasih ya”
“oke”
“Untuk apa ya kak revi mencariku?” tanyaku sambil mengunyah roti yang masih ada di mulutku
“CIEEEE, dicariin kakak tersayang tuh” ledek dica
“apa sih, aku saja gak tau kenapa dia mencariku” gerutuku membalas ledekan dica
“dia suka tuh”
“siapa?”
“pacarku”
“hah?”
“kak revi lah, masa pacarku”
“enggak lah, dia hanya kakak kelas biasa kok”
“yakin?”
“iya”
“aku sih gak yakin”
“dicaaaa, sudah deh aku gak mau bahas”
“he he he iya deh, aku gak akan bahas sekarang”
“iya bagus kalo gitu”
“tapi nanti”
“dicaaaaaaaa!!!”
Dica pun berlari ke luar. Aku sih tidak mau mengejar, aku kan lagi makan. Hahaha. Aku biarkan saja dia berlari keluar. Toh nanti dia pasti kembali lagi ke kelas.

Selesai makan, aku pergi menuju ruang osis. Aku penasaan juga untuk apa kak revi mencariku.
“kakak cari saya?”
“oh iya indie, sini”
Aku pun menghampiri kak revi yang sedang duduk di depan ruang osis
“ada apa kak?”
“gini, aku mau cari kado buat ulang tahun ibu. Tapi aku gak tau mau beli kado apa. Kamu bisa nemenin gak?”
Yang terlintas di pikiranku saat itu adalah “MALAS”
“mmm, kapan kak?”
“hari ini, pulang sekolah. Bisa?”
“harus hari ini ya?”
“iya, soalnya kalau hari lain nanti aku takutnya kamu atau aku ada yang gak bisa. Gimana?”
“oke deh kak, tapi ku gak bisa pulang terlalu sore”
“iya deh gak bakal terlalu sore”
“iya deh”
“ya sudah nanti pulang sekolah aku ke kelas kamu ya”
“oke deh kak”
Aku pun pergi dari tempat itu, aku sebenarnya malas menemani kak revi. Sangat sangat malas. Tapi kalau aku menolak, aku kasihan.

Bel pun berbuyi. Aku pun masuk kelas dan pelajaran dimulai kembali.
“habis ketemu kak revi ya?” ledek dica
“iya”
“apa katanya?”
“mau tau?”
“iya”
“tanya aja kak revinya”
“bener yah, aku tanya ah” dica pun berdiri
“ehhh jangan, kamu gila ya? Lagi pelajaran begini malah keluar!”
“ha ha ha, Emang dia bilang apa?”
“dia minta antar beli kado untuk ibunya”
“cieee, kan kan kan. Apa aku bilang”
“memang kamu bilang apa?”
“bilang cie”
“oh”
“dia suka tuh”
“enggak”
“kalau enggak, kenapa minta anternya sama kamu?”
“soalnya kalau minta antar sama kamu, dia gak bakalan mau”
“bukan gak mau, tapi dia takut kamu cemburu, ha ha ha”
“dicaaa, udah deh”

Bel pulang pun berbunyi, ini saatnya dimana aku harus mengantar kak revi. Baiklah, aku harus siap. Hingga akhirnya kak revi pun datang ke kelasku
“hai dica, indie ada?”
“ada kak, itu lagi beres-beres”
“oke deh tolong kasih tau ada aku disini”
“kundi, ada kak revi nih nungguin” teriak dica dari pintu kelas
“oh iya iya ca, bentar lagi”
“udah kak, saya duluan ya. Sudah dijemput soalnya”
“oh iya iya silahkan”
Aku pun menghampiri kak revi
“maaf ya kak lama, tadi buku aku diacakin sama dica”
“ha ha ha, iya gak apa-apa. Jadi kan?”
“iya kak, jadi”
“ayo kalo gitu”

Singkat cerita, aku dan kak revi pergi mencari kado untuk ibunya kak revi. Kami pergi ke sebuah mall, entah apa nama mall nya, aku tidak tau. Karena aku baru pertama kali pergi ke mall di jakarta.
“aku beliin apa ya?”
“buat ibu ya? Emmmmm gimana kalau boneka?”
“indie, umur ibuku sudah gak cocok main boneka”
“kalau baju?”
“aku takut nanti gak muat atau kebesaran”
“kalau tas?”
“emmmm, boleh juga. Dimana ya tempat tas”
“itu tuh kak, eh apa iya itu?”
“iya, kamu pilihkan ya. Aku tidak tau selera perempuan itu yang bagaimana”
“oke deh kak”

Aku pun memilihkan tas yang berwarna coklat muda, dengan manik manik di pinggirnya.
“kalau ini aja gimana kak?”
“yaaa, ini bagus. Tapi ibu suka gak ya?”
“menurut aku sih pasti bakalan suka, soalnya kan gak terlalu lebay dan ini kalau dilihat-lihat elegan loh kak, seperti tas yang harganya jutaan”
“iya juga sih, ya sudah deh”
Kak revi pun membawa tasnya ke kasir dan membayarnya. Kami pun keluar dari toko itu.

“indie, kamu laper gak?”
“emmm lumayan sih kak”
“ya sudah kita makan dulu saya yuk, itung-itung kamu sudah bantu aku cariin kado buat ibu, aku teraktir deh”
“ih, gak usah kak. Aku bawa uang kok. Merepotkan sekali, aku gak pamrih orangnya. Aku ikhlas kok membantu kakak”
“yeeee, iya aku tau kok kamu gak pamrih. Ini kan aku yang tawarin. Udah, iyakan saja. Ayo” kata kak revi sambil menarik tanganku ke sebuah tempat makan di mall tersebut.
“bentar ya indie, aku mau ke toilet dulu. Kebelet dari tadi”
“oh iya kak”

Aku pun duduk menunggu kak revi datang. Sambil menunggu, aku melihat menu-menu yang ada di tempat makan tersebut. Aku pun melihat ke sekeliling tempat makan itu, pandanganku tertuju pada seorang lelaki yang sedang duduk dan membaca buku. Terus dan terus aku pandangi. Aku seperti kenal sosok itu. Tapi aku tak bisa jelaskan. Siapa dia? Mengapa sangat mirip. Ahhh, tidak mungkin. Aku mulai berhalusinasi lagi.
“hey, lama ya?”
“ennggak kok enggak” jawabku terbata-bata
“kamu kenapa?”
“nggak apa-apa kok.”
“oiya, tadi aku ketemu dica waktu keluar dari toilet”
“oh ya? Mau ngapain dia?”
“ya dia mau ke toilet lah”
“maksud aku, dia ngapain kesini”
“yang pasti dia mau makan lah kundi”
“sama siapa?”
“katanya sama pacarnya”
“oh”
“eh, kamu pesan apa?”
“samain aja sama kakak deh, aku bingung he he he”
Belum selesai pembicaraanku dan kak revi tiba-tiba
“heh, kalian pacarannya ngikutin aku nih ah, gak asik” ternyata dica
“eh dica, sama siapa?”
“sama pacar dong he he he”
“mana? gak ada?”
“lagi ke toilet tuh dianya”
“oh gitu”
“iya, eh kalian udah lama disini? Aku boleh ikut gabung kan sama kalian disini?”
“baru kok, iya boleh lah dicaa” kataku
“eh dica, kamu pesan apa?” tanya kak revi meyodorkan menu
“aku pesan…” saat kak revi dan dica mengobrol aku mencari sosok lelaki yang tadi duduk di ujung sana. Tapi dia tidak ada, kemana dia? Apa tadi aku hanya berhalusinasi saja? Tapi, aku kenal orang itu.
“hai yang, lama banget” kata dica saat pacarnya datang ke meja kami.
“iya maaf tadi di wc ngantri”
“oh gitu, kenalin ini kak revi kaka kelas aku. Dan yang ini dica temen satu bangku aku”
Aku masih mencari lelaki tadi, aku yakin aku kenal dengan orang itu.
“kundi, hey kundi!” sambung dica sambil membunyikan jarinya di dekat mataku
“emmm, iya. apa?”
“ini kenalin, pacar aku”
“rio” sambil menyodorkan tangannya
“indie” sahutku
Dia adalah lelaki yang aku lihat tadi, namanya rio. Kalian ingat? RIO! Saat aku berjabat tangan dengannya, hatiku sakit. Aku seperti bisa merasakan aliran darahku. Badanku lemas, jantungku berdebar sangat cepat. Hatiku sakit, sangaaaat sakit. Aku seperti ingin menangis. Aku ingin pulang. Aku ingin menangis sejadi-jadinya.
Dia sama sekali tidak canggung, dia bersikap biasa saja selayaknya baru mengenal aku. Dia bertingkah mesra selayaknya orang berpacaran. Aku yakin dia rio, kata dica dia suka sekali roti keju. Iya dia pasti rio! Tapi mengapa dia tidak menyapaku. Dia tidak mengajakku bicara. Apa dia lupa? Apa dia sudah melupakan aku? Atau dia bukan rio? Kalau dia bukan rio, kemana rio yang aku kenal? Mengapa aku mengingatnya lagi. mengapa ingatan itu hadir lagi? mengapa semua jadi seperti ini? Rioooo, mengapa kamu hadir lagi? aku benci semua ini!!!

Cerpen Karangan: Natassiya Agatha
Blog: Natassiyaagatha.blogspot.com

Cerpen Salah (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bad Day

Oleh:
Butiran air memenuhi dedaunan di halaman rumahku. Cahaya pagi menyongsong dari ufuk timur, udara yang sedikit berkabut, serta sejuknya angin pagi menemani pagiku ini. Tanpa teman, tanpa sahabat. Aku

Setoples Lidah Kucing

Oleh:
Manis. Gurih. Renyah. Lembut. Hidup yang gue alami rasanya mirip kaya kue lidah kucing. Kue kesukaan gue. Sejak gue masih ngemut jempol sambil lari-larian cuman pake kolor sampe sekarang

Ditooo… Apa Lagi (Part 1)

Oleh:
Uahhhmmm… Dito menguap dengan malas. Pagi ini hawa dingin begitu menusuk, tapi yang begini malah asik buat bobo lagi. Eits… tapi ini sudah jam setengah tujuh saatnya bangun dan

Anakku Sayang, Maafkan Mamah

Oleh:
Suatu Kota Bekasi seorang remaja yang bernama Andi Bagas yang biasa dipanggil Agas kini berusia 18 tahun. Kini dia kuliah PTS di salah satu universitas favorit ternama di Bekasi,

Arti Sebuah Persahabatan

Oleh:
Sunyi. Sepi. Lara. Itulah yang dialami Ratih semenjak ditinggal pergi Ayah dan Ibu tercinta untuk selamanya. Ya, mereka sudah meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan saat bepergian ke luar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *