Salah Penipu Menipu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Keluarga, Cerpen Lucu (Humor)
Lolos moderasi pada: 22 February 2016

“Kenapa kamu selalu berbohong? kamu tahu tidak, kenapa smsmu tidak pernah aku balas? Karena selama ini aku lebih paham tentang karakter kamu daripada kamu sendiri. Kamu lebih mementingkan hari ini daripada masa depan, Kamu selalu saja suka bercanda yang membuat aku cemas. Kamu tidak pernah mau berpikir,” Sambil berbaring Roni mengetik pesan tersebut kemudian dikirim ke istrinya. Baru kali ini ia membalas sms dari istrinya. Setelah 5 hari sms itu dengan isi yang sama, dibiarkan menumpuk memenuhi kotak masuk pesan di hp-nya.

“Iya salahin aku terus, aku memang gobl*g, aku memang tol*l, sekarang mau kamu apa?” kurang dari 1 menit sms balasan dari Ana (istrinya) masuk.
“Seharusnya aku yang menanyakan hal itu kepadamu, selama ini aku sudah berusaha maksimal sebagai suami, tapi apakah kamu peduli dengan kondisiku sekarang ini?” Roni membalas.
“Oh, jadi selama ini kamu merasa keberatan memikul tanggung jawab sebagai suami?” Ana membalas.
“Percuma aku memberi penjelasan kamu, kalau kamu sendiri belum mengerti apa itu rumah tangga.” Balas Roni.
“Udahlah aku cape ngomong sama kamu, pokoknya kalau sampai besok kamu belum transfer, jangan salahkan aku ya kalau anak kita kenapa-kenapa.” Balasan Ana sedikit mengancam.
“Suara dengarkanlah aku (lagu nada tunggu di hp istrinya)” Sudah 5 kali lebih Roni menelepon istrinya. Tetapi tidak diangkat. “Sialan tidak diangkat,” Roni mengumpat.

Jam di dinding rumah bangunan setengah jadi menunjukkan pukul 11 malam, di luar rumah, hujan deras ditandai suara petir dengan kilatan cahayanya menghiasi malam itu. Roni ke luar dari kamarnya menuju lantai 2 bangunan rumah tersebut. Sesampainya di lantai 2 mampir ke sebuah kamar tidur. Dilihatnya 8 tukang pekerja bangunan sudah pulas tertidur. Mungkin mereka cape, soalnya tadi Roni mewajibkan semua pekerja lembur untuk menguber progres pekerjaan.

Roni sebagai mandor pemborong pekerjaan rumah tersebut sudah mendapat teguran dari Pak Doni sebagai ownernya. Karena 1 bulan lagi Pak Doni mau menempati rumah tersebut. Mau tidak mau Roni harus melemburkan pekerjaannya. Dan ia sendiri harus rela untuk tidak pulang. Kalau sebelumnya seminggu sekali pulang ke rumahnya di jakarta, tapi tidak dengan satu bulan kedepan sampai rumah itu jadi. Kebetulan Pak Doni merupakan owner baru untuk Roni, Pak Doni menjanjikan kepada Roni kalau rumah yang di bandung ini sudah jadi dan hasilnya rapi, ia akan diberi proyek lagi untuk merenovasi kantor Pak Doni yang di jakarta.

Di lantai 2 Roni berjalan mengelilingi dan mengecek semua ruangan sambil sesekali kepalanya mendongak ke atas untuk memastikan tidak ada atap yang bocor. Area lantai 2 kebetulan baru dipasangi rangka-rangka plafon rumah. Karena belum tertutup gypsum jadi memudahkan Roni untuk mengecek atap rumah tersebut. Roni juga bersyukur karena adanya hujan deras tersebut malah sangat membantunya untuk mengetahui pasangan genteng atap rumah tersebut apakah sudah benar dan maksimal. Sudah hampir 15 menit dia mengeceknya. Tidak ditemukan tetesan air hujan dari atap rumah tersebut.

“Allhamdulillah semuanya aman, tidak ada yang bocor,” Roni bersyukur. Karena merasa semuanya aman dan tidak ada masalah, Roni kembali ke kamarnya di lantai bawah untuk istirahat.
“Maju tak gentar membela yang bayar,” suara bunyi hp Roni terus menerus berbunyi. Roni terbangun, dilihatnya jarum pendek jam di dinding kamarnya mengarah ke angka 5. Suara hp-nya terus berbunyi. Dia bangkit menuju meja tempat menaruh hp-nya yang semalam di cas sebelum tidur. Dilihatnya nama pemanggil di layar hp itu.

“Pak Doni pagi-pagi telepon ada apa ya?” gumamnya.
“Ya Pak Doni, selamat pagi.”
“Selamat pagi Mas Roni, sorry pagi-pagi saya telepon, soalnya sebentar lagi saya mau ke bandara Mas,”
“Ya Pak, tidak apa-apa, ada apa ya Pak?”
“Saya hanya mau memastikan, progres rumah sudah sampai mana Mas Roni?”
“Oh, siap Pak. Progres minggu ini sudah sesuai permintaan bapak yang minggu kemarin. Genteng atap sudah terpasang, warna cat kamar tidur utama sudah selesai saya ganti sesuai permintaan bapak, keramik kamar mandi masih 1 ruangan lagi dan minggu depan selesai, plafon lantai 2 hari ini mulai ditutup, prinsipnya pekerjaan besarnya tinggal itu Pak, yang lainnya perapihan yang kecil-kecil, dan finish pengecatan.”

“Jadi akhir bulan ini sudah bisa ditempati ya Mas?”
“Ya Pak dari garis besar yang sudah saya sampaikan tadi paling tidak 2 minggu lagi sudah selesai semuanya. Kebetulan semalam di sini hujan Pak, saya cek kondisi semua ruang lantai 2 aman, tidak ada yang bocor.”
“Oh ya, wah bagus kalau begitu Mas. Saya makin suka cara kerja Mas Roni.”
“Sudah menjadi tugas dan kewajiban saya Pak. Soalnya kalau pemasangan atap tidak benar, dan kedepannya ternyata bocor, saya juga nantinya yang repot Pak.”
“Hahaha, ya ya betul itu Mas, jadi pointnya tidak ada kendala ya, jangan sampai karena saya uber waktunya nanti hasilnya tidak rapi loh Mas Roni.”
“Untuk hasil kerapian pekerjaan saya jamin Pak, kalau nanti bapak melihat tidak ada yang rapi, saya selanjutnya tidak usah dikasih proyek lagi. Hehehe.”
“Oke, oke, sip kalau begitu Mas.”

“Ya Pak, ini saya mohon maaf sebelumnya,”
“Ya Mas Roni, ada apa?”
“Tolong untuk hari sabtu nanti pengambilan uang kasbon saya untuk membayar tukang ditambahin ya Pak. Soalnya minggu ini kerja tukang saya lemburin terus, jadi agak membengkak dari biasanya.”
“Oh, oke tidak masalah Mas, besok disms saja berapa jumlah yang harus saya transfer.”
“Baik Pak, terima kasih banyak, besok juga sekalian saya kirim foto-foto progres di lapangan Pak.”

“Siip, oke kalau begitu Mas, saya segera mau berangkat ke bandara, mungkin kurang lebih 5 hari saya di luar kota, kalau ada apa-apa Mas Roni sms saja, dan hari sabtu minggu depan saya mau ngajak istri dan anak-anak melihat rumah ya Mas. Tolong jangan sampai istri saya setelah sampai sana ngomel-ngomel melihat progres rumahnya masih jauh dari harapan. Nanti saya bisa perang dunia kedua,”
“Baik Pak, saya pastikan progres terus berjalan dan ada kemajuan, hati-hati di jalan ya Pak.”
“Terima kasih Mas Roni.”

Dinginnya udara pagi kota Bandung menambah malasnya Roni untuk segera mandi. Di ambilnya teko listrik untuk memanaskan air membuat kopi, agar bisa menghangatkan tubuhnya. Belum selesai menuang air dari galon isi ulang ke dalam teko, tiba -tiba terdengar bunyi sms di Hp-nya. “Kamu itu memang suami yang mau enaknya sendiri, anak sedang sakit bukannya cepat ditransfer.” begitulah isi sms dari istrinya. Roni mulai ada rasa cemas, dia paling tidak suka mendengar kabar kalau anak laki-lakinya yang masih berumur 3 tahun sakit. Ia menyentuh nyentuh layar hp-nya, masuk ke menu m-bankink. Di pilih menu cek saldo di rekeningnya. Terlihat di layar hp angka Rp.100.000.

“Waduh saldoku tinggal 100.000, apa iya sih, Tole sakit, perasaan waktu aku tinggal ke bandung baik-baik saja.”
Roni mencoba untuk menelepon istrinya, tapi lagi-lagi hasilnya seperti tadi malam, (tidak diangkat)
“Ampuuunn ini yang tidak aku suka, kalau memang urgen, ya mbok diangkat gitu loh hp-nya,” gumamnya dalam hati.
“Booosss, ono opo kok koyo wong bingung (ada apa seperti orang bingung).” Suara si Supri salah satu tukang mengagetkannya. “Aseemmm ngaget ngageti wae cuk. (bikin kaget aja), gak ada apa-apa, Pri kamu mau ke warung ya? Aku nitip rok*k yo.”
“Yo bos, aku minta kasbon ah 50.000 udah gak pegang duit nih bos.”
“Kebiasaan kamu, kalau hari jumat pasti minta kasbon. Lagi kosong ini pri, besok baru dapet duit dari Pak Doni. Sabtu minggu kemarin semuanya kan sudah lunas gajiannya, masa sekarang sudah habis.”

“Ya bos sudah habis, sebagian bayaranku tak buat kirim kampung, kan bos sendiri yang aku minta tolong transfer ke kampung, mosok lali.”
“Oh yo yo, aku lupa Pri soalnya banyak yang diurus, tapi bener ini sekarang lagi kosong. Udah kamu makannya suruh tulis mbak inem aja dulu sekalian rok*kku, suruh tulis masukin di bonku, besok sore dibayar.”
“Siaaap bos, wah pelanggaran iki.” Supri menggerutu.
“Sudah buruan sana, mulutku udah kecut ini.”

Supri bergegas menuju warung makan mbak inem yang jadi langganan Roni dan tukangnya. Beberapa tukang lain ada yang baru bangun, ada juga yang selesai mandi. Sebelum jam 7 Roni harus menyelesaikan masalah sms dari istrinya. Ia tidak mau hal-hal yang tidak jelas mengganggu konsentrasinya dalam bekerja. Karena tiap ditelepon istrinya tidak mau mengangkat, ia mencoba telepon Mas Heri tetangga kontrakannya, untuk mengetahui kondisi sesungguhnya.

“Assalamualaikum Mas Heri, sorry iki aku ganggu,”
“Waalaikumsalam. Oh ya Mas Roni ndak apa-apa, ada apa Mas? Tumben minggu kemarin gak pulang, kok betah banget di bandung Mas, banyak neng geulis ya. Hehehe,”
“Yo Mas, kerjaanku gak bisa ditinggal, soalnya sebentar lagi yang punya rumah mau nempatin, jadi terpaksa gak pulang kalau belum selesai, istriku ada di rumah gak Mas?
“Oh, kenapa mau ngomong ya Mas, kebetulan tadi aku lihat pagi-pagi ke luar bawa motor sama si tole, katanya mau ke pasar Mas.”

“Oh, ya udah Mas kalau gitu, matur suwon yo Mas,”
“Yo podo-podo Mas Roni. Ojo lali yo oleh-olehnya kalau pulang, hehehe.”
“Tenang wae Mas, entar aku bawain peuyeum bandung, mau yang semlohai, apa yang sedikit tomboi, di sini banyak kok. Hahaha.”
“Wah kalau itu mah namanya peuyeumpuan Mas, hahaha.” Sekarang Roni sudah tahu kondisi anaknya setelah menelepon Heri tetangganya.

“Sialan istriku, butuh duit sampai tega-teganya menipu aku, bilang anak lagi sakit.”

Memang Roni merupakan tipe orang yang tidak mudah percaya kalau belum melihat atau mendengar langsung. Dia sudah sering dibohongi istrinya mengenai uang. Kalau ada salah satu keluarga dari istrinya yang perlu uang. Pasti istrinya ada saja alasan untuk membohonginya, agar ditransfer. Apalagi kalau posisi proyeknya jauh di luar kota. Tiap hari ada saja ulah istrinya untuk minta ditransfer. Padahal Roni sudah memberi jatah khusus perbulan untuk kebutuhan rumah, kadang juga sering tiap bulan memberi uang buat mertua perempuannya yang sudah tua. Tapi karena pengaruh dari saudara-saudara istrinya, kadang Roni tidak menganggap serius sms atau telepon dari istrinya yang berkaitan dengan uang. Dia sudah tahu kalau itu hanya akal-akalannya saja.

Sebenarnya Roni ingin keuangan itu yang memegang istrinya, tapi karena Ana dilihatnya belum dewasa dan tidak bijak menggunakan uang, akhirnya diputuskan untuk tidak memberi tanggung jawab itu. Karena pikiran istrinya masih konsumtif mengenai uang. Pernah dicobanya memberi modal untuk usaha counter pulsa, tapi hasilnya sia-sia. Counter tutup dan uang modal pun akhirnya amblas ditelan jin. Dari pengalaman itulah ia jadi lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan rumah tangganya.

“Bos iki rok*ke.” Supri datang dari warung makan, sambil mengasih sebungkus rok*k ke Roni, bersamaan beberapa tukang yang baru selesai makan di warung yang sama.
“Yo, matur suwon Pri.” Roni segera membuka bungkus rok*k tersebut, kemudian mengeluarkan satu batang untuk dibakarnya. Sambil menyeruput kopi yang telah dibuatnya, dia menikmati suasana udara pagi yang tadinya terasa dingin mulai berubah menjadi hangat ditambah sekarang hatinya sudah tenang, Tidak perlu ada lagi yang dikhawatirkan mengenai Tole anak kesayangannya.

Tak terasa, sudah habis satu batang rok*k di tangannya, ia melirik jam dinding. Dilihatnya jam menunjukkan pukul 7:10 menit. Dia bergegas mengumpulkan semua tukangnya untuk membagi tugas pekerjaan dan arahan tentang pekerjaan hari ini, biasanya dibutuhkan waktu 15 sampai 30 menit untuk memberi arahan kepada setiap tukang, Baru mereka bekerja masing-masing sesuai arahan tersebut. Tepat pukul 7:30 semua tukang sudah kebagian tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Mereka mulai bekerja. Setelah dirasa semua tukang berjalan sesuai rencananya. Barulah Roni bersiap-siap untuk mandi. Setelah mandi tugasnya hanyalah mengawasi dan mengontrol setiap tukang agar pekerjaannya tidak salah dan rapi, dari situ juga Roni bisa menilai siapa-siapa tukang yang benar-benar bekerja dan mana tukang yang hanya besar omongnya saja tapi nol besar dalam hasil pekerjaannya.

Itulah kegiatan Roni yang selalu dilakukannya, sudah hampir 10 tahun ia menggeluti pekerjaan tersebut. Jadi dia sudah paham betul karakter-karakter tukang. Pengalamannya ini didapat waktu ia masih ikut orang belajar di proyek mulai dari dasar sebagai kenek. Karena Roni disiplin dan mau belajar akhirnya menjadikannya seperti sekarang ini. Saking cintanya dengan pekerjaan ini kadang urusan keluarga dinomorduakan. Dia selalu berdoa dan berusaha suatu saat nanti punya perusahaan seperti kontraktor-kontraktor besar. Agar bisa membuka lapangan pekerjaan. Cita-cita yang sungguh mulia.

Selesai mandi tiba-tiba hp-nya berbunyi, nada suara sms masuk terdengar. “Buruan cepet ditransfer.” itulah isi sms yang tertera nama istrinya. Karena Roni merasa ditipu, setelah dia tadi telepon Mas Heri dan tahu keadaan Tole sebenarnya, ia pun tidak mau kalah akal. Dia mencoba untuk mengerjai istrinya. Dicarinya pesan bukti transfer terkirim yang sudah pernah dikirim ke istrinya minggu lalu. Di ubahnya nominal transfer menjadi 10.000.000 tidak lupa juga dirubah jam dan tanggal transfernya sesuai hari ini. Setelah selesai baru ia kirim ke istrinya, sambil senyam-senyum.

“Sayang terima kasih ya, aduh banyak banget ini transfernya, gak salah ini sayang,” istrinya membalas.
“Dasar perempuan, kalau sudah dikasih duit baru sayang-sayang,” Roni kesal dalam hati.
“Sudah buruan bawa Tole ke dokter,” Roni membalas.
“Iya sayang, ini mau siap-siap jalan ke dokter. Muuuaaaah sun jauh ya sayang.” balas istrinya.
Roni masih senyam-senyum sambil berjalan ke lantai 2 untuk mengontrol pekerjaan tukangnya.

15 menit kemudian, “Maju tak gentar membela yang bayar.” hp-nya kembali berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Dilihat nama pemanggilnya. “Mas Heri telepon, ada apa ya?”
“Halo, iya Mas Heri ada apa?”
“Mas Roni iki mba Ana mau ngomong,”
“Halo sayang apa kabar, tadi kata Mas Heri kamu telepon aku, sorry sayang aku ini baru pulang dari pasar. Tadi aku beli Hp sama mainan buat Tole sayang,” istrinya menjelaskan
“Ohh istri gemblung, ditransfer suruh bawa Tole ke dokter, malah duitnya buat beli Hp dan mainan.” Ia menggerutu dalam hati. “Tapi aku tadi kan transfer bohongan, istriku dapat duit dari mana ya,” Ia makin bingung.

“Halo Ma halo, sebentar pelan-pelan ngomongnya. Jelasin ke Papa kenapa Mama telepon pakai hp-nya Mas Heri, dan kenapa Mama ke pasar beli Hp. Terus dapet uang dari mana?”
“Ya Pa, sebelumnya maafin Mama ya, Papa jangan marah,”
“Ya, Papa gak bakal marah, tolong dijelasin,”
“Sudah seminggu ini Hp Mama, dompet dan semua isinya termasuk kartu Atm kecopetan, waktu Mama ke pasar, Mama gak sadar karena hp dan dompet aku taruh tas. Pas mau bayar belanjaan eh, ternyata tas sudah robek, sepertinya dirobek pakai silet sama pencopetnya. Mana Pin Atm disimpen di Hp juga, dan Mama belum telepon pihak bank untuk memblokir rekening mama, untung saldo di rekening 0 Pa.”

“Ya, Papa juga tahu kapan duit transferan Papa betah ngendep di rekening Mama, palingan cuman mampir lewat aja. Tapi kenapa Mama waktu itu gak langsung ngabarin Papa? kalau yang masalah serius dan penting begini Mama anggap tidak penting, tapi kalau masalah minta duit Mama cepet banget”
“Tuh kan, katanya tadi tidak marah, Mama waktu itu takut Papa marah”

“Ini Papa bukan marah Ma, maksudnya Papa, tolong Mama bisa membedakan mana masalah penting dan mana masalah main-main, Mama seperti menganggap Papa ini bukan seorang suami. Tapi kalau masalah uang baru menganggap Papa sebagai suami. Terus Mama tadi bisa beli Hp dan mainan tole dapet duit dari mana?” Roni menyelidiki sambil penasaran.
“Semalam Mama dapet arisan Pa, 5 juta. tadi Mama beli HP 3 juta terus beli mainan Tole 200 ribu, sisanya 1.800.000 Mama beliin cincin”
“Tumben kali ini istriku pikirannya gak eror, ada ke pikir beli cincin.” Roni sedikit senang melihat ada sedikit perubahan pada istrinya.

“Lain kali kalau ada apa-apa kabarin Papa, jangan ngabarinnya kalau perlu duit saja,”
“Ya Pa, maafin Mama ya, Papa kapan balik?”
“Papa belum tahu baliknya, kurang lebih 2 sampai 3 minggu lagi, nunggu rumahnya ditempati, tanpa Mama minta, Papa sudah maafin Mama, hati-hati di rumah, jaga Tole baik-baik. Ya udah Ma Papa mau nerusin pekerjaan.”
“Ya Pa, hati-hati kerjanya ya?”
“Ya Ma, Mama juga hati-hati di rumah, nanti tolong nomor Hp mama yang baru di sms ke Papa”
“Ya Pa.”

“Hahaha…” Tiba- tiba tawa keras Roni memecah konsentrasi para tukang yang sedang bekerja. Ia membayangkan bagaimana perasaan sakit hati dan wajah tertipunya si pencopet setelah tahu kalau atmnya kosong. “Woi bose kesambet (kesurupan) hahaha!!” teriak Supri sambil ketawa. Bunyi pesan masuk terdengar dari Hp Roni, dilihat lalu dibacanya.
“Bang*at, Anj*ng, dasar orang kere!” begitu isi smsnya.
“Kenapa sayang, transfernya masih kurang ya. Ini aku trasnfer lagi,” Roni membalas sms tersebut, sambil menambahkan bukti transfer lagi dan nilainya diubah menjadi 20.000.000.
“Ber*ngsek!!” si penipu membalas makin kesal.
“Wahahaha!!” Tawa Toni makin kencang.

“Pengumuman pengumuman nanti makan siang semua tukang gratis makan sepuasnya di warung mbak inem ya, aku yang bayar,” Roni bikin kaget semua tukang.
“Hore hore, asyik asyik, suit suit!!” suara riuh tukang pada senang,
“Tumben bos traktir kita semua, habis dapet nomor ya? hahaha!!” celetuk Supri.
“Nomor gundulmu kuwi, aku lagi seneng aja,” Roni membalas.
“Senang kenapa bos?” Tukang lain bertanya penasaran.
“Aku habis kena tipu,” Semua tukang bengong tidak percaya.
“Sudah sudah, ayo kerjanya dilanjutkan, waktu jam istirahat makan siang masih 3 jam lagi.”
Semua tukang kemudian bekerja kembali sesuai tugasnya dan makin tambah giat kerjanya. Karena nanti siang semua dapat makan gratis dari Roni.

Cerpen Karangan: Darco
Blog: http://tujuhinterior.blogspot.co.id
Bloger belajar menulis.

Cerpen Salah Penipu Menipu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Menyayangimu Kak (Part 2)

Oleh:
Kak Nico basah kuyup pulang sekolah hari ini karena kehujanan. Andai ia tidak bermain lebih dulu bersama teman-temannya pasti ia bisa pulang tanpa kehujanan. Ia melepar dengan asal sepatu

Aku dan Keegoisanku

Oleh:
“Aku hanya ingin berdiri saja disini, jangan ganggu aku!.” Kalimat itu aku berikan untuk Kak Gee yang setengah jam yang lalu mengajakku beranjak pergi dari tempat ini, tempat yang

Kenangan Emak Tik

Oleh:
Seorang ibu tak mungkin meninggalkan anaknya, tapi seorang anak pasti akan meninggalkan ibunya bahkan ada yang tak menghiraukan nasib ibunya. Ketika melihat sosok Emak Ijah di telivisi aku lantas

Gitar Ayah

Oleh:
Masih ku ingat saat Ayah menggendongku yang terlelap di pangkuannya dan meletakkanku di ranjangku yang hangat. Sebuah melodi selalu mengalun dari dirinya diiringi gitar kesayangannya. Lagu favoritku adalah Shalawat

Suffering

Oleh:
Malam berbalut mendung menjadi saksi buta sebuah perjalanan sesosok gadis kecil yang masih setia berjalan di atas trotoar jalanan tanpa alas kakinya.. Gadis yang mungkin masih berusia 10 tahun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *