Salah Sangka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 15 December 2014

“Waalaikumsallam.”
Lalu aku memasuki mobil. Pak Budi sopir pribadi keluargaku sudah berada di dalam mobil. Pak Budi menghidupkan mobil dan segera berangkat.

Aku memasuki ruang kelasku dengan terburu buru. Ternyata belum banyak anak yang berangkat. Ternyata hari ini adalah hari Sabtu. Kalau Sabtu masuknya agak siang. Hehehe, udah pikun nih.
Aku melihat Nathan duduk sendirian di bangku pojok belakan sambil baca buku dan sesekali menulis di buku itu. Dia itu cowok pinter, tapi terkenal pendiemnya. Dia enggak suka bergaul sama teman teman di sekolah. Dia itu dingin, judes pula.
“Nathan baca buku apa tu? Ada PR ya. Ahh, enggak deh perasaan. Coba aku cek” gumamku.
Aku pun membuka tas dan ku keluarkan semua isi tasku. Ku buka semua buku catatanku tetap saja aku tidak menemukan tanda tanda ada PR.
‘ah sudah lah. Lupain aja soal PR’ batinku.

Guru kelasku sudah masuk ke dalam kelas. Beliau menyuruh kami untuk mengumpulkan fotocopy akta kelahiran. Aku melihat Nathan mengumpulkannya. Seketika aku melihat tanggal lahirnya.
‘Haaa… 8 Desember? Bukannya itu besok ya?’ batinku.
Aku punya fikiran untuk memberinya hadiah.
‘Tapi Nathan kan cowok nyebelin di muka bumi ini. Ngapain aku harus kasih hadiah.’ batinku
“Revana Falian. Ayo kumpulkan.” Panggil guruku.
“Baik bu.” Kataku sambil mengumpulkan.

Bel tanda pulang sekolah pun berbunyi. Aku segera mengambil sapu untuk membersihkan kelas karena hari ini jadwal piketku.
“buku siapa ini, kok kelihatannya aku pernah liat deh?” gumamku sambil mengambil buku itu. Dan ku buka buku itu.
“Ini buku Nathan to. Besok aku kembaliin sambil ngasih hadiah ahh..”

Pulang sekolah aku pergi ke mall untuk membeli hadiah buat Nathan. Di dalam mobil aku melihat lihat apakah ada alamat di buku itu. Setelah berpuluh puluh kali aku membuka lembaran kertas buku itu, akhirnya ketemu juga. Besok pagi aku akan mencari alamat ini.

Sudah sekitar 10 kali aku muter muter komplek yang kumuh ini, belum ketemu juga rumah Nathan. Aku tanya ke warga setempat. Lima menit kemudian aku menemukan alamat rumah itu. Walaupun agak ragu sih.
“Assalamualaikum.” kataku sambil mengetuk pintu.
“Waalaikumsallam. Cari siapa ya?” jawab seorang ibu sambil terbatuk batuk.
“Nathannya ada bu?” tanyaku.
“Oh ada. Tunggu sebentar ya. Silahkan duduk dek.” jawab ibu itu sambil berbalik badan masuk ke dalam rumah.

“Ngapain kamu kesini?” tanya Nathan sambil duduk di kursi berhadapan denganku.
“Hmm, ini aku mau ngembaliin ini. Kemarin aku nemu di kolong meja waktu aku piket.” jawabku agak takut karena dia sinis banget.
“Oh.” jawabnya singkat.
‘aku timpuk pake sepatu kelihatannya enak nih, udah aku temukan bukunya kok gak terimakasih lah atau apa lah.’ batinku.
“Oh ya, ini ada hadiah buat kamu. Selamat ulangtahun ya.” kataku sambil ngasih hadiah yang aku bawa.
“Buat apa? Ya udah deh, makasih.” jawabnya jutek banget.
‘bisa ramah dikit gak sih ni orang? Aku tabrakin grobak aja biar seru. Aku punya niat baik kok dijutekkin.’ batinku.
Aku tidak menjawab Nathan. Aku langsung beranjak dan berjalan untuk pulang. Tiba tiba Nathan berkata….
“Hey, kamu anak orang kaya kan? Beli jilbab dong, biar tambah cantik.” jawabnya sambil tertawa geli dan berbalik masuk ke dalam rumah.
Mungkin dia lupa buka pintu dan keasikan ketawa…
Duuukk,
Dia pun menabrak pintu yang mungkin dia lupa bukannya atau kena balesannya karena udah ngejek aku.
Aku pun tertawa agak keras. Mungkin dia mendengarnya, dan melihatku dengan tatapan sinis. Aku segera lari pergi takut diterkan harimau laper. Hahaha..

Paginya aku tertawa mengingat kejadian kemarin. Saat aku masuk kelas, aku melihat Nathan dengan plaster pembungkus luka di judatnya. Mungkin itu luka karena kejedot pintu kemarin. Aku tersenyum geli melihat dia. Dia menatapku sinis.

Jam pertama sudah dimulai. Pelajaran pertama FISIKA. Pelajaran paling enggak aku sukai. Setelah guru fisika menerangkan berulang ulang, aku masih saja enggak paham.
“Re, kamu gak belajar ya. Dari dulu pelajaran fisika kok gak bisa bisa. Kamu les aja biar enggak keberatan.” kata Firda, sahabat sekaligus temen sebangku aku.
“Fir, fisika tu hantu buat aku Firrr. Betul juga tu saranmu.”
“Ahh, kamu mah lebay Re. Hantu, emang nakutin?”
“Bukan fisikanya yang nakutin, tapi gurunya galak sih. Eh, Fir kalau seumpama aku les sama Nathan gimana. Dia kan terkenal pinternya to?”
“Beneran kamu Re? Kamu enggak ngigo kan?”
“Bener. Aku coba mulai nanti siang pulang sekolah ahh.”
“Ya udah lah. Sukses ya les sama Nathan.”
Aku tidak menjawab Firda. Aku hanya tersenyum.
‘Tapi mungkin rencanaku ini bisa membuatku deket sama Nathan. Jadi aku bisa tau jalan fikirannya kenapa dia kayak gini.’ batinku.

“Assalamualaikum nek. Reva pulang.”
“Waalaikumsallam.” jawab nenek yang muncul dari kamar bersama papaku.
Udah lama aku enggak komunikasi dengan papa semenjak mama meninggal. Semenjak itu, papa sangat sibuk ngurusin kerjaannya.

Aku langsung pergi ke atas tanpa melirik papa sedikitpun. Aku membenci papa sejak tujuh tahun lalu saat mama sakit parah hingga meninggal. Papa lebih mementingkan kerjaan ketimbang menunggu istrinya yang sakit parah. Saat mama sakit parah, papa malah pergi ke luar negeri.
Ahh, sudah lah. Lupain tentang papa.

Aku langsung masuk kamar dan bersiap untuk ke rumah Nathan. Yapp, ke rumah Nathan untuk les sama dia.
Aku teringat kata Nathan kemarin. Lalu aku mencari jilbab yang dari dulu gak pernah aku pake. Aku pake jilbab itu. Aku belum sempat makan karena malas makan bersama papa. Aku memutuskan untuk membeli makan di luar nanti dan ku makan bersama Nathan.

Setelah selesai bersiap siap, aku langsung turun dan pergi mencari Pak Budi untuk mengantarku ke rumah Nathan. Akhirnya ketemu juga Pak Budinya. Aku langsung berangkat. Aku mampir dulu ke sebuah toko roti yang cukup mewah untuk membeli roti yang nanti akan ku makan bersama Nathan. Aku membeli dua kotak roti untuk dimakan bersama Nathan dan yang satu untuk ibunya Nathan.

Sampai rumah Nathan, aku disambut ramah oleh ibunya yang ramah. Berbeda 180 derajat dengan natan yang sangat judes.
“Ayo dek, masuk dulu. Ibu panggilkan Nathannya.” kata ibu itu sambil masuk ke sebuah kamar.
Aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala. Dan tak lama kamudian, Nathan pun keluar dari kamarnya.
“Ngapain kamu kesini?” tanya Nathan sadis.
“Hmm, Ini, aku mau minta tolong di ajarin.”
“Maksudmu?”
“Mau gak kamu jadi guru les aku. Ngajarin apa yang aku enggak bisa. Sampe ujian nasional aja deh.”
Awalnya dia enggak mau banget. Malah kelihatannya haram buat ngucapin kata ‘ya’. Tapi setelah aku bujuk bujuk dia, akhirnya mau juga.

Aku membalik badanku untuk mengambil tas. Aku melihat kotak roti yang aku beli tadi.
“Oh ya Nat, ini buat ibu kamu.” kataku sambil menyodorkan sekotak roti itu.
“Udah gak usah.” Kata Nathan.
“Enggak apa apa. Ini.” akhirnya diterima juga oleh Nathan.
“Makasih ya. Aku taruh ini di belakang dulu. Kamu tunggu di sini.”
Aku hanya mengangguk.

Saat Nathan di belakang, aku mendengar suara orang batuk.
“Nat, yang batuk tadi siapa?”
“Oh, itu tadi ibuku.”
“Ibu kamu gak papa kan?”
“Enggak papa kok. Ayo belajar lagi.”
“Oh ya Nat, ini ambil. Aku beli dua kotak tadi.”
“Udah gak usah, aku lagi puasa.”
Seketika aku tersedak gara gara kaget. Dia menawariku minum tapi aku menolak. Nathan tersenyum geli.

Setelah dua bulan aku les dengannya, aku lebih dekat dengan bundanya. Sampai sampai kita curhat tentang keluarga kita yang amburadul. Ternyata Nathan adalah mantan orang kaya. Papanya pengusaha sukses. Tapi papanya Nathan dituduh korupsi dan akhirnya terkena serangan jantung. Seluruh hartnya disita. Dan akhirnya papanya meninggal. Aku seneng bisa deket dengan Nathan. Ternyata dia asik juga orangnya. Coba dari dulu aku deket sama dia.

“Nat yang ini gimana?” tanyaku.
Pyarrr…
Tiba tiba terdengar suara gelas beling pecah dan disusul suara orang terbatuk batuk.
Ternyata itu ibunya Nathan.
“Bunda..” teriak Nathan.
Ibunya Nathan sudah tergeletak tak berdaya di lantai dapur yang kotor. Aku segera menelephon pak Budi untuk mengantar ibunya Nathan ke rumah sakit. Tak lama kemudian pak Budi datang.

Sudah 10 menit ibunya Nathan di ruang UGD, dokter pun belum juga keluar. Namun selang tiga menit dokter pun keluar. Dokter menjelaskan keadaan ibunya Nathang.
Ternyata beliau mengidam penyakit TBC. Katanya baliau dua bulan yang lalu mengalami gejala TBC.
Dokter lalu menyarankan untuk pindah ke rung rawat karena keadaannya mulai membaik. Aku meminta untuk di pindah ke ruang VIP. Namun Nathan menolak. Setelah ku bujuk dia, akhirnya mau juga. Dan aku minta izin ke nenek untuk membantuku untuk membayar biaya rumah sakit karena uang tabunganku tidak akan cukup. Akhirnya nenek setuju.

Sejam kemudian setelah ibunya Nathan dipindahkan ke kamar inap, nenek pun datang. Nenek datang dengan papa. Yaa, papa ikut menjenguk ibunya Nathan. Papa bersikap sangat manis sekali.
“Kenapa papa kesini.”
“Papa mau nengokin ibunya temen kamu masak enggak boleh.” jawab papa sok manis.
Aku hanya diam saja.

Setelah dua minggu ibunya Nathan dirawat, papa yang selalu ikut menjenguk ibunya Nathan, jadi lebih deket dengan keluarganya Nathan. Aku masih agak sedikit risih dengan perilakuan papa selama dua minggu ini. Papa bersikap sok manis di depan keluarga Nathan.

Ternyata papa bukan bersikap sok manis. Namun benar benar manis. Setelah nenek menceritakan semuanya kepadaku kejadian tujuh tahun lalu saat mama sakit parah, akhirnya aku mengerti. Ternyata papa keluar negeri mencarikan mama dokter yang profesional.
“Maafkan aku ya pa. Selama ini aku salah menilai papa.” kataku hampir menangis.
“Iya, enggak apa apa kok Re. Papa minta maaf karena ke luar negeri gak bilang bilang kamu buat cariin mama dokter.” Jawab papa dengan lembut.

Lima bulan kemudian…
“adek, kamu udah siap belum. Ayo cepetan kita berangkat. Nanti kita terlambat. Kakak udah gak sabar nih.”
“Iya kak Nathan. Aku udah selesai kok.”
Yapp… Sekarang Nathan jadi kakakku. Setelah kejadian ibunya Nathan sakit TBC dan Nathan jadi guru les ku, keluargaku dan keluarga Nathan jadi lebih deket. Lalu papa jatuh cinta dengan ibunya Nathan. Dan akhirnya mereka menikah. Mingkin mereka berjodoh.
Aku seneng banget punya mama baru. Tapi sekarang aku manggilnya bukan mama, namun bunda. Masih agak aneh sih, namun jalani saja. Nathan juga memanggilku dengan ‘dek’. Aku sebel banget kalo dipanggil dek. Tapi mau gimana lagi. Pertama kali ibunya Nathan ketemu aku manggilnya dek. Ya udah deh, Nathan ikut kutan. Apa boleh buat, bagaimanapun juga dia sekarang jadi kakakku.

Hari ini adalah pengumuman hasil ujian nasional. Kak Nathan dapet peringkat satu nasional. Sedangkan aku Cuma peringkat tiga se sekolahan. Ya sukuri aja lah, yang penting lulus kan. Ini semua berkat bantuan kak Nathan. Mungkin kalau aku enggak les sama kak Nathan, bagaimana nasib ku.

Kak Nathan dapet beasiswa di jerman. Di universitas apa ya aku lupa. Kak Nathan ambil jurusan kedokteran. Sedangkan aku, sebenarnya aku enggak dapet beasiswa, tapi papa bantu aku biar dapet beasiswa di negara yang sama kayak kak Nathan. Biar gak repot gitu. Aku masuk ke universitas yang beda dengan kak Nathan. Aku ngambil jurusan seni, yang enggak kebanyakan ngitung rumus rumus membingungkan.

Di hadapan kami berdua, ada papa, bunda, nenek, dan orangtua siswa yang lainnya. Papa dan bunda bertepuk tangan dan tersenyum gembira melihat kita berdua di wisuda.
“Aku senang punya adik kayak kamu Re.” kata kak Nathan berbisik.
“Aku bangga punya kakak sehebat kak Nathan.” jawabku berbisik juga.

Untuk merayakan kesuksesan kita berdua, papa mengajak untuk liburan ke Paris. Itu adalah negara favoritku. Dari dulu aku pingin banget ke sana. Dan akhirnya kesampaian juga. Aku senang sekali. Bukan Cuma karena liburan ke Paris, tapi karena perginya bareng sama bunda dan kak Nathan. Rasanya ada kesan tersendiri gitu.
Aku seneng banget, akhirnya punya keluarga yang bahagia kayak sekarang ini. Dan punya kakak yang baik banget kayak kak Nathan.

Sekarang aku dan kak Nathan akur banget. Kita gak pernah berantem. Kak Nathan juga selalu ngalah buat aku. Kita gak pernah cuek cuekan kayak dulu lagi.
“Kak, maaf ya, dulu aku udah beranggapan buruk sama kakak. Kakak tu baik, asik dan lainnya deh. Maaf ya, aku udah salah sangka sama kakak.” kataku kepada kak Nathan.
“iya dek gak apa apa kok.. Kakak kira juga kamu dulu cerewet banget.” kata kakak sambil memelukku.

SELESAI…

Cerpen Karangan: Alifia Nabila
Facebook: alifianabila20[-at-]yahoo.co.id

nama penulis: alifia nabila pramesti
lahir tanggal 20 november 2000 di madiun.
sekarang bersekolah di SMP Muhammadiyah Plus Gunungpring, kelas 7b..
ia adalah seorang gadis yang santun, pendian, tapi asik buat diajak bercanda. dia punya cita cita ingin bersekolah di jerman..

Cerpen Salah Sangka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ego

Oleh:
Masih di pojokan kamar yang gelap. Dengan rambut acak acakan, mata berkantung dan sayu aku terlihat seperti orang gila. “Ayka, buka pintunya nak, ibu harus bicara sama kamu” teriak

Mama

Oleh:
Kini aku membenahi diriku dalam kamar. Aku tak tau akan sikap mama yang berubah. Ia menjadi sering marah tak menentu tanpa aku ketahui sebabnya. Deru mobil ku dengar samar-samar

Hafalan Qur’an untuk Ibu

Oleh:
Hai namaku Salma. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Nama kakakku Aisyah. Kita selalu bercanda kadang bertengkar. Aku pusing, ketika aku melihat Ibu selalu ditampar Ayah, gara-gara disuruh shalat

Mencari Rumah

Oleh:
Entah, sudah untuk keberapa kali aku diajak Ayah untuk melihat-lihat rumah. Kami sekeluarga memang berencana untuk pindah dan mencari rumah baru. Sebelumnya kami menempati apartemen kalibata city di daerah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *