Sampai Jumpa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 2 October 2015

Suasana jenkel dan penuh kebencian melandaku berat rasanya ketika Mamah dan Papa menyuruh aku pindah sekolah dari California terus pindah ke jakarata sedangkan aku tak tinggal dengan mereka, melaikan mereka harus pindah dan mengurus bisnis di Maroko. Namaku Xira. Sudah begitu aku harus tinggal di rumah temen Papa namanya Om Aldi. Ketika itu Om Aldi menyuruh salah satu anaknya yang bernama Virgo untuk menjemputku di bandara.

Seketika aku sedang duduk termenung menunggu jemputan yang sudah lama tak kunjung datang. Nampaklah dari ujung jalan terlihat parkir mobil mewah dengan laki-laki berdasi yang sedang menyapaku.
“Kamu Xira kan?” ucap laki-laki itu kepadaku.
“Ia kamu siapa?” ucapku dengan kejengkelan kepada dia. Ternyata cowok itu adalah Virgo, dia adalah salah satu anak Om Aldi. Kami pun tak mengucapkan sedikit tutur kata dan banyak bicara, ataupun saling mengenalkan diri.

Ketika sampai Rumah Om Aldi, beliau menyambutku dengan antusias.
“Xira kamu semakin besar cantik juga ya,” ucap Om Aldi kepadaku.
“Wah om ini bisa saja memujiku,” ucapku kepadanya. Rasanya hatiku begitu bahagia tinggal di rumah ini karena mereka begitu peduli terhadapku.

Aku mulai belajar menyesuaikan diri tinggal di rumah ini tapi, ada satu hal yang membuatku tak nyaman tinggal di rumah ini karena anak Om Aldi tak ada yang perempuan. Kebetulan Om Aldi juga sudah bercerai dari istrinya. Om Aldi mempunyai dua orang anak laki-laki, anak yang pertama namanya Virgo sedangkan yang kedua bernama Leo. Karakter mereka begitu berbeda. Virgo lebih cenderung ramai dan suka bercanda namun berbeda sekali dengan Leo. Aku juga kurang tahu mengapa dia hanya menjadi orang pendiam. Dia begitu aneh hanya diam dan diam.

Ketika aku sedang duduk di pinggir halaman rumah Om Aldi aku hanya ingin melihat pemandangan, aku melihat Leo berada di pinggir kolam. Aku mulai mendekati dia yang duduk termenung dan aku mulai menyapanya.
“hay Leo sudah sarapan apa belum?” tanyaku kepadanya.
“Sudah memangnya kenapa?” jawab Leo dengan jutek.

Aku pun tak mengerti kenapa sikap Leo begitu berbeda dengan Virgo. Padahal mereka dilahirkan dari rahim yang sama dan Ayah yang sama. Sikap Leo begitu dingin dan jarang sekali berbincang-bincang dengan kami. Leo lebih suka ke luar dan pergi dari rumahnya, aku menjadi tak enak hati rasanya.
“apakah itu semua gara-gara aku tinggal di sana?” tanyaku dalam hati. Rasanya tak nyaman sekali hidup ini jika gara-gara aku tinggal di rumah ini itu menyebabkan hubungan Leo dan keluarganya menjadi renggang.

Ketika aku mulai menyiapkan makan malam untuk keluarga Om Aldi, di situ hanya nampak Om Aldi dan Virgo saja.
“ke mana Leo, sepertinya dia tak nampak di sini?” ucapku dengan penuh khawatir kepadanya. Ketika aku sedang melamun memikirkan sesuatu, kemudian Om Aldi mulai bertanya kepadaku.
“Xira kamu kenapa kok hanya melamun saja, sepertinya ada yang kamu pikirkan?” ucapnya kepadaku. Aku hanya diam tanpa kata karena aku tak mampu menjawab pertanyaan itu bukan karena apapun, tapi aku takut untuk menjawab semua ini, rasa khawatir mulai menyelimuti hatiku ini aku pun tak mengetahui apa penyebabnya semua ini.

Kebetulan hari itu Kak Virgo sedang pergi jadi rasanya aku lebih mulai leluasa untuk mengobrol dengan Om Aldi perihal masalah sikap Leo itu. Ketika aku sedang melihat Om Aldi yang sedang membaca koran sambil meminum kopi di teras depan rumahnya. Aku mencoba memberanikan diriku untuk mulai menanyakan hal ini kepada Om Aldi. Di saat aku mulai mendekat dan aku pun mulai bertanya kepadanya.
“Om Aldi kenapa hari ini Om tidak berangkat ke kantor?” tanyaku kepadanya. Sambil mengusap kepalaku dia pun membalas pertanyaanku.
“Om kan punya Virgo jadi dia sudah bisa menghendel segalanya,” ucapnya dengan penuh kebahagiaan.

Jika dilihat sepertinya Om Aldi begitu bangga dengan Virgo tapi bagaimana dengan Leo, Om Aldi sepertinya tak terlalu peduli dengan Leo. Aku pun menjadi semakin penasaran kenapa Om Aldi begitu berbeda sikapnya terhadap Leo. Biasanya dalam sebuah keluraga terjamin secara harmonis tapi di keluarga ini hubungan mereka terlihat dingin hanya Om Aldi dan Virgo yang sifatnya hangat beda dengan Leo yang kaku. Tekadku semakin kuat untuk mulai bertanya kepada Om Aldi, “aku harus berani, berani dan berani!” dorongan hatiku berkata demikian. Dengan modal nekad aku mulai bertanya kepada Om Aldi.

Di saat beliau sedang diam dan duduk di pinggir kolam aku mencoba menghantarkan roti dan teh hangat.
“Om ini tehnya diminum ya!” ucapku kepadanya.
“Terimakasih atas suguhannya ya,” ucap Om Aldi kepadaku. Aku mulai membuka perbincangan kepada Om Aldi.
“Om Xira boleh tidak bertanya sesuatu kepada Om?” tanyaku dengan terbata-bata.
“Tanya saja apa masalahnya?” ucap Om Aldi makin penasaran.
“Kok saya tidak pernah melihat Leo di sini ya om bukankah dia juga anaknya Om?” tanyaku kepada Om Aldi.

Raut muka Om Aldi menjadi berbeda aku pun menjadi semakin takut, ketika itu Om Aldi sedang sejenak diam aku menjadi sangat takut.
“ada yang salah ya Om dengan pertanyaanku ini?” tanyaku kepadanya. Kemudian dengan sigap beliau menjawab pertanyaanku.
“Semenjak aku bercerai dengan istriku Hani, sikap Leo semakin berubah dia lebih senang ke luar dan cenderung tak mau berinteraksi dengan orang lain,” ucap Om Aldi. Kini aku semakin tahu permasalahan keluarga ini. Aku menjadi merasa iba dengan Leo kenapa dia malah semakin bersikap demikian kepada Ayah dan Kakaknya itu.

Ketika itu Leo sudah kembali dari main kebetulan Om Aldi sedang pergi dengan Kak Virgo. Dia hanya terdiam namun aku mencoba bertanya kepada Leo.
“Leo kenapa kamu harus pergi tak jelas arahnya?” tanyaku tanpa pikir panjang.
“Kenapa kamu tuh jadi cewek rese banget?!” jawab Leo dengan nada keras.
“Aku tuh bertanya baik-baik kok kamu malah nyolot sih?!” jawabku dengan lantang. Suara kegaduhan mulai terdengar. Datanglah Kak Virgo yang melerai aku dan Leo.
“Leo cepat masuk ke kamar Kakak bilang masuk ya masuk,” ucap Virgo. Tanpa berpikir panjang Leo mulai masuk ke kamarnya sambil menutup pintu dengan keras.
“Jedaaaarr!!!” suara daun pintu kamar Leo yang dibanting olehnya.

Aku menjadi semakin takut tinggal di rumah ini karena sikap Leo yang sedemikian kasar dan dingin.
“Maafin Leo ya Xira dia memang orangnya sangat dingin,” ucap Kak Virgo kepadaku.
“Kenapa sikap Leo sedemikian rupa kak?” ucapku kepada Kak Virgo.
“Semenjak percerain Mamah dan Papah Leo menjadi berubah, selalu saja berbuat ulah untuk mencari perhatian dari kami, dia hanya ingin mendapat perhatian lebih dari orang-orang terdekatnya,” ucap Kak Virgo kepadaku. Rasanya bercampur aneh aku mengenalnya dia menjadi begitu dingin dan sepertinya tak begitu suka dengan kehadiranku di keluarga ini. Aku rasanya ingin cepet pulang kembali ke rumah bertemu dengan Mamah dan Papah.

Meskipun sikap Leo keras dan menyebalkan tapi perhatian keluarganya begitu besar kepada Leo. Aku menjad iri melihat kasih sayang keluarga kecil ini terhadap Leo. Kabar jika Leo sedang sakit didengar oleh Tante Hani. Kebetulan pada hari itu Om Aldi dan Kak Virgo sedang pergi ke luar kota jadi aku harus menjaga dan merawat Leo di rumah. Ketika Tante Hani datang dia begitu kawatir kepada Leo, Tante Hani datang dan marah-marah di rumah aku menjadi takut.

“Tante mau minum apa?” aku bermasud bertanya.
“Kamu itu siapa selingkuhan mantan suami saya?” ucapnya sangat menyakitkan.
“Tante aku ini Xira anak pak Wildan dan bu Maya temen Om Aldi?” ucapku sambil menjelaskan.
“Oh maaf ya aku jadi sensi sama kamu?” ucap Tante Hani. Setelah aku mengobrol panjang lebar kini aku mulai akrab dengan Tante Hani.

Pada saat Tante Hani terdiam dan melamun dia pikirannya kosong rasanya ingin sekali aku mendekat dan memeluknya, sepertinya banyak masalah yang menderanya. Hati kecilku pun berkata, “apakah Tante Hani mau berbagi kesedihanya dan bercerita kepadaku?” Aku mulai mencoba untuk membuka obrolan dengan Tante Hani.

“Tante kenapa sepertinya banyak beban yang mengganjal?” ucapku kepada Tante Hani.
“Aku hanya bingung memikirkan kesehatan Leo!” ucapnya dengan penuh kekhawatiran.
“Memangnya ada apa dengan Leo Tante?” ucapku.
“Sejak kecil Leo sudah banyak mengalami penderitaan dan beban hidup yang sangat berat!” ucap Tante Hani.
“Apa Tante dia tak pernah bercerita kepadaku?” ucapku kepada Tante Hani.
“Semenjak perceraianku dengan Mas Aldi, perhatianku mulai berkurang kepadanya, hingga sebuah kecelakaan menerpanya Leo terjatuh dari kolam renang padahal dia tak bisa berenang dan harus menderita penyakit pernapasan,” ucap Tante Hani.
“Tapi dia tak pernah sedikitpun bercerita kepadaku Tante,” jelasku kepada Tante hani.
Kini aku mulai mengetahui kenapa Leo begitu jutek dan pemarah ternyata dia hanya ingin mendapatkan kasih sayang dari keluarganya yang telah lama berpisah.

Ketika senja mulai menyingsing pada saat itu datanglah Om Aldi dan Kak Virgo baru pulang dari bekerja. Ketika itu di rumah masih ada Tante Hani yang merawat Leo, sedangkan aku mulai menyiapkan makan malam untuk mereka. Namun suasana malam yang begitu dingin dan suasana menjadi tambah dingin karena suasana makan malam ini tak ada senda gurau, aku jadi bingung bagaimana aku harus memulai pembicaraan. Seketika malam makin mencekam hanya terdengar suara jangkrik yang menyaksikan heningnya malam ini.

Tiba–tiba Leo yang sedang sakit dan lemah ia pun mulai terbangun dan terjatuh di depan pintu. Semua orang di keluarga ini begitu sangat khawatir pada Leo. Rasanya tak tega melihat kondisi badannya yang makin kecil tiap hari.
“Leo kenapa kamu tidak pernah bercerita tentang keadaan kamu?” ucapku kepadanya.
“Apa pedulimu sama aku, aku tak begitu penting bagi keluarga ini?!” ucap Leo.
Sontak ucapan yang ke luar dari mulut Leo menambah rasa bersaalah Om Aldi dan Tante Hani.

Akhirnya karena mereka semakin takut dengan kondisi mental dan psikologi Leo Om Aldi dan Tante Hani rujuk kembali. Kini senyum Leo kembal mulai muncul, Rasanya senang sekali melihat dia bisa tersenyum Lagi. Rasanya jiwa ini sudah mulai tenang dengan keluarga ini semua mulai terlihat baik sepertinya perhatian keluarga Leo begitu besar kepadanya.

Hujan deras mengguyur kota Jakarta rasanya ingin ke mana tapi aku tak Bisa. Hal yang sangat membahagiakan mulai menyelimuti perasaanku karena Ayah menelponku dan mulai mengajak aku untuk kembali ke california. Ketika itu aku sedang mempersiapakan keperluanku untuk menuju asa dan rajutan mimpi dalam lembah rindu kepada keluargaku. Desah dan desiran kabar kepulanganku mulai terhembus oleh keluarga Om Aldi dan mereka pun mulai tahu jika aku akan kembali ke daerah tercintaku California.

Terlihat di ujung daun pintu seorang yang sedang berdiri.
“Leo kenapa kamu bangun bukankah kamu masih sakit?” ucapku kepada Leo.
“Kata Mama sama Papa kamu mau kembali ya ke California?” ucapnya dengan penuh ketidakikhlasan.
“Tapi aku harus tetap kembali karena aku punya keluarga di sana!” ucapku dengan penuh bahagia. Leo hanya terdiam sepertinya dia mulai menyimpan sesuatu, aku pun tidak tahu akan hal itu.

Keluarga Om Aldi mulai mengantarkanku sampai bandara namun hanya Leo yang tidak menyaksikan kepergianku karena kondisinya belum pulih. Kini aku mulai di perjalanan menuju California pada saat aku masih ke rumah Nenekku di washington DC. Aku mulai membuka hp-ku ada sebuah pemberitahuan email baru di dalamnya bertuliskan pesan.

“Dear Xira, aku harap kesehatan kamu tetap terjaga jangan sepertiku yang lemah ini aku tahu aku bukanlah yang sempurna ini aku Leo, sejujurnya aku mulai cinta dan sayang sama kamu begitu juga Kak Virgo sama kami selalu bersaing demi mendapatkan kasih sayang kamu, aku tahu aku tak akan mungkin memilikimu, karena semuanya sudah terlambat sampai jumpa Xira. Sampai jumpa leeeeooooxi@yahooo.com.”

Rasanya mulai pengen kembali ke sana namun apa daya semuanya terlambat dan sampai jumpa karena hidupku bukan di jakarta melainkan di california.

Cerpen Karangan: Evi Nuraini
Facebook: Evi Nuraini

Cerpen Sampai Jumpa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hingga Akhir Waktu (Part 1)

Oleh:
Merakit tujuan hidup ini memang tak semudah kita mengedipkan mata. Yang hanya satu kedipan tak dapat memakan waktu satu detik untuk kita lakukan. Namun apa daya Tuhan yang maha

Terima Kasih, Ma

Oleh:
19 Desember. Sebentar lagi hari ibu. Apa yang akan aku berikan untuk Mama? Mungkin dalam kondisi seperti ini aku hanya bisa mengatakan ‘Selamat hari ibu’ ke Mama. Tapi aku

Cinta Gugur Sakura

Oleh:
Hai namaku Andrian dwi novesal panggil saja aku Kevin, eh gak nyambung yah, hehe paanggil saja aku Andrian kini aku duduk di bangku SMA lebih tepatnya madrasah sih dan

Tinta Hitam

Oleh:
“Innalillahi wainnailaihi rajiun. Telah berpulang ke Rahmatullah, salah satu rekan kita, Bapak Abdullah. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT. Amin.” Pengumuman itu disampaikan tepat sebelum jam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *