Sampai Ku Menutup Mata

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 27 February 2014

Tarian hujan di atas genting semakin meramaikan pementasan alam malam ini. Belum lagi nyanyian gerimis yang menjadi pembuka acaranya. Sempurna memang. Sesempurna Tuhan yang telah menciptakan sesosok bunda kepadaku. Walaupun bunda tidak mengindahkan kehadiranku. “Kamu mati saja” bosan aku mendengarya. kalimat itu yang selalu bunda lontarkan kepadaku.

“Kamu dari mana saja tolol?” jam segini baru pulang. Kamu enggak lihat di luar hujan deras?”
“Maaf bun, tadi di sekolah ada pelajaran tambahan.” Aku menjawabnya senang. Setidaknya bunda menghawatirkannya.
“Apa kamu senyum-senyum Dera? cepat siapkan makan untuk nanti”
Kutundukan kembali kepalaku, senyumku redup setelah sedikit menyala tadi. “Ah bunda. Tak peduli seberapa keras kau meyuruhku mati. Aku akan tetap hidup untuk menjagamu” gumamku sambil berjalan ke arah dapur.

Seperti biasa. Suara sendok yang bertabrakan dengan piring menghiasi makan malam yang sunyi. Bagaimana tidak. Di terlas ini hanya ada dua orang wanita. Aku dan Bunda. Aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan ayahku. Pernah aku menanyakan tentang ayah kepada bunda. Tapi bunda memarahiku sambil berkata “Ayah? kamu mati dulu baru bisa bertemu dengan ayahmu itu di neraka”. Bunda merawatku seorang diri sampai sekarang berumur 16 tahun. Bicara bunda memang kasar. Belum lagi tangannya yang selalu aktif memukul badanku saat bunda marah. Tapi aku belum menemukan alasan untuk bisa membenci bunda hanya karena sikap bunda.

Makan malam pun selesai. Bunda langsung kembali ke kamarnya tanpa sekalipun melihat ke arahku. “Selamat malam bunda” kataku sambil melambaikan tangan ke arah kamar bunda.

Pagi harinya. “Dera. Cepat bangun!” tangannya memukul-mukul pipiku keras. Aku langsung bangun sambil memegang pipiku. Sakit rasanya. Setibanya di sekolah, guru dan semua teman menanyakan kenapa pipiku biru dan bengkak. Aku hanya menjawab aku jatuh di jalan.

“Bunda, kenapa bunda sangat membenciku” bisiku sambil mengetuk pintu rumah. Bunda pun membukanya. “Sini bodoh, kenapa kamu tadi tidak sarapan dulu sebelum berangkat sekolah?” Ibu kembali bertingkah brutal. Ibu melemparkan piring kaca berisi nasi ke kakiku. Kakiku berdarah tapi bunda terus saja melempari barang ke arahku. “Ampun bun, tadi aku buru-buru berangkatnya. Jadi tidak sempat sarapan”. Tapi bunda malah menjambak rambutku. Ingin rasanya aku berontak melawan bunda. Tapi rasa sayangku ke bunda selalu menahanku agar jangan terpancing. Aku hanya diam menahan sakitku. Sampai akhirnya bunda kelelahan memukuliku. Dia pun pergi meninggalkanku yang babak belur.

Siang hari aku disuruh bunda membeli obat ke warung. Di jalan orang-orang melihatku. Mereka sudah tau siapa yang membuatku menjadi begini. Warga sini memang sudah terbiasa melihat aku dipukuli Bundaku. Sesudah membeli obat, aku singgah dulu makan bakso yang ada di dekat warung itu. Saat aku sedang melahap bakso itu. Ada seseorang menariku, dan itu bunda. “Kamu disuruh beli obat malah makan bakso. Kamu ini bego apa?” ucapnya keras. Semua pembeli disana menatapku iba. Aku dipukul lalu diseret ke rumah. Di rumah aku menangis sekerasnya. Bukan karena pukulannya yang keras itu. Tapi karena sakit hati. Tadi ketika ibu memukuliku, orang berkata kalau ibuku sudah gila. Aku sesak mendengarnya.

Ternyata obat itu bunda berikan kepadaku. Sewaktu tadi bunda memukulku. Tak sengaja bunda menyentuh keningku. Suhu badanku panas. “Makan obat itu” kata bunda melangkah pergi. Aku bahagia bukan main. Tapi kenapa bunda terus bersikap seperti itu? Aneh.

Seperti biasa makan malam malam yang sunyi menghiasi kami. Tak sengaja aku menjatuhkan gelas sampai pecah. Aku tau bunda akan menyergapku lalu menonjok badan yang sudah bengkak ini. Seperti biasa, aku hanya diam menahan sakitnya bunda menyiksaku. Tapi kali ini terasa beda. Pukulan bunda tak bertenaga. Aku khawatir. Selepas bunda pergi, aku lihat bunda ke kamar. Bunda sedang terbaring lemah disana. Wajahnya sangat pucat. “Bunda. Bunda kenapa?” sambil mengelus rambut bunda. Bunda menepis tanganku. “Kamu itu anak haram Dera. Kamu terlahir dari gadis yang hamil di luar nikah. Dan ayahmu. Ayahmu mati tertabrak mobil saat dia akan kabur meninggalkan bunda”. Aku tertergun dengan ucapan bunda. Aku menangis di kamar sampai tertidur. Ah tapi aku tak memperdulikannya.

Pagi ini tak ada pukulan bunda menyapaku. Aku langsung pergi ke kamar bunda. Ternyata bunda masih terbaring disana. Dan, bunda tidak sadarkan diri. Aku langsung membawanya ke rumah sakit. Bunda pun dirawat disana. Aku tidur di sampingnya. Air mataku turun saat memegangi kakinya yang dingin. Aku teringat kata dokter yang memeriksa bunda tadi. “Bundamu mengalami gagal ginjal. Dia harus segera dioperasi. Kalau tidak…” ah aku tak mau mengingat kata terakhirnya itu. Aku terus saja mencari orang yang mau mendonorkan ginjalnya untuk bundaku. Dengan bayaran aku akan menjadi pembantunya seumur hidup kepada pendonor itu. Sampai akhirnya…

Bunda bangun, matanya terlihat sayu. Dia mencari-cari seseorang, ya Dera. Dimana Dera?. Bunda melangkahkan kakinya untuk mencari Dera. Tangannya memegang perut yang masih sakit setelah operasi itu. Bruk bunda bertabrakan dengan suster. Bunda menanyakan keberadaan Dera. “Anakmu ada di ruang itu bu. Tadi beliau yang telah mendonorkan ginjalnya”. Bunda kaget, anak yang sering disiksanya itu malah menyelamatkan penjahatnya. “Dera siapa kamu? Mahluk apa kamu? Hatimu bagai bidadari nak”. Bunda berencana akan meminta maaf kepada Dera. Tangannya yang gemetar tidak sabar untuk memeluk Dera. Langkahnya dipercepat. Dan sampailah di kamar itu. Tapi?

Ternyata hanya ada sesosok orang yang terbaring dan ditutupi kain putih. “Maaf bu, anak ibu sudah tiada” ucap suster yang tadi. Bunda langsung gontai. Suster membantu langkah bunda ke arah jasad Dera. Bunda memanggil Dera histeris. Tangis bunda bergema di kamar itu. Bunda memeluk jasad itu. Matanya melihat kertas di pinggir kasur lalu bunda membukanya. Dan isinya adalah…

Bunda sayang. Bagaimana operasinya? Sakit bun? Tapi itu tidak sesakit ketika aku melihat bunda terbaring lemah di kasur pasien itu. Tak peduli seberapa banyak pukulan yang kau layangkan ke badanku ini. Pada akhirnya aku tetap ingin memeberikan ginjalku untukmu bun. Agar bunda sehat lagi. Bunda, aku berterimakasih karena diizinkan tidur di rahimmu lalu dilahrikan dari perjuanganmu. Aku senang sekali ketika bunda memukulku dengan tangan bunda. Setidaknya ada sentuhan tangan dari kedua tanganmu bun. Oh ya bun, aku selalu mencium pipi bunda saat bunda tidur di malam hari. Senang rasanya bun. Bunda aku ingin bertahan sampai bunda lelah memukulku bun. Tak peduli seberapa sakitnya itu. Karena aku hanya ingin menjagamu “SAMPAI KU MENUTUP MATA”. Aku menyayangimu bun, lebih dari aku menyayangi diri sendiri. Selamat tinggal bun. Hiduplah dengan baik.

Putrimu, Dera.

Cerpen Karangan: Dae Husaini
Blog: daehusaini.blogspot.com

Cerpen Sampai Ku Menutup Mata merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My Father My Hero

Oleh:
“Is, nanti sore ke rumahku ya?” sebelum berangkat ke sekolah, kubaca sebuah pesan singkat dari Septi, sebelumnya Septi mengatakan kepadaku kalau mama papanya memang tidak ada di rumah setiap

Adakah Waktu Untuk Ibumu

Oleh:
‘Ketika waktu memisahkan kita, jarak dekat ku inginkan bersamamu. Walau kau tak menginginkan waktuku bersamamu, karena kesibukanmu yang tak terhitung. Ketika aku mencari perhatianku kepadamu, kau tak menginginkan rasa

Aku Dan Senyum Ku

Oleh:
Di wilayah ini, siapa yang tak kenal Andi Abbas Pasolangi. Pengusaha kaya dari sudut barat kota Aru Palakka, sosok orang paling disegani seantero kota beradat ini. Semua orang percaya

Siapa Diriku

Oleh:
Pagi mulai menampakkan siratan cahayanya, semerbak harum pagi kian menyapa dengan iringan suara cicitan burung yang bertengger. Pagi masih menyisakan rasa dingin, ya semalam hujan deras dengan kilatan petir

Pengulangan

Oleh:
Hujan rintik rintik turun beberapa saat setelah Jenazah Kakakku dimasukkan ke dalam ruang peristirahatannya yang terakhir. Isak tangis yang masih terlihat di beberapa sanak saudaraku termasuk orangtuaku belum terhenti.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *