Samudera Cinta

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 16 March 2018

Kenalin nama aku, Airiana Samudera, panggil aja aku Airiana atau Air, kata Bunda, Airina Samudera artinya air yang berasal dari samudera, bukan tanpa sebab aku dinamakan seperti itu, kata Bunda, aku terlahir di samudera, kalian tidak percaya?, sungguh aku tidak berbohong, aku lahir saat di laut.

15 tahun yang lalu…
“Perhatian, kepada para penumpang kapal ini harap segera memakai pelampung darurat yang berada di ruangan belakang, cuaca sedang tidak mendukung, demi keselamatan sebaiknya kita bersiap sebelum terlambat” kata salah seorang maskapai kapal pada seluruh penumpang.

Seperti semut yang mengeroyok makanan, penumpang-penumpang itu segera memakai pelampung darurat itu.
Badai datang begitu mengerikan, Sita tak yakin ia dan calon bayinya akan selamat, tapi ia tak mau menyerah, apa lagi ia sudah merasakan tubuh bayinya yang meronta tak sabar ingin melihat dunia luar.
“Tidak sekarang Nak, ini bukan waktu yang tepat” ujar Sita pada bayi di kandunganya.

“Sita pakai ini, Cepat, setelah itu pergilah menuju skoci kapal” ujar Rama, tampaknya ia cemas.
“Tapi kenapa aku harus ke skoci, aku ingin di sini” bantah Sita.
“Di sini tidak aman, kapal akan tenggelam, kau dan bayi kita harus selamat”
“Bagaimana denganmu?” tanya Sita cemas.
“Skoci hanya muat beberapa orang, kau saja, aku tetap di sini”
“Ta!”

Angin bertiup begitu kencang, seakan mengamuk, ombak pun begitu, skoci bergoyang terombang-ambing di tengah lautan, Sita tengah kesakitan, bayinya terus meronta ingin keluar, di atas skoci itu hanya ada sang pengemudi dan seorang wanita, apa yang harus ia lakukan.

“Mbak, kakimu mengeluarkan darah?” ujar wanita itu.
“Tolong aku… Saki i i t tt…”
“Gawat ombak besar berlari menghampiri kita” ujar Sang pengemudi panik.
“Ma u kah ka au me no long ku” Sita bicara terbata-bata, “ji ka di a la hir, to long ja ga di a…”.
Wanita itu kalut harus berbuat apa, air laut perlahan masuk ke dalam skoci, Sita terus berteriak kesakitan.

“Apa yang harus kulakukan?” gerutu wanita itu.
Aaaaaaaaaaaaaa!!!

Oe’oe’oe’.
“Hah?! Bayinya sudah lahir? Ta tapi bagaimana mungkin?”
Sita, sudah tak sadarkan diri, saat anaknya lahir dia sempat tersenyum pada anaknya yang digendong wanita itu lalu hilang bersama bayang hitam.

“Kita akan tenggelam! ombak mendekat!!!” teriak sang pengemudi.
Wanita itu mengambil pelampung di tubuh Sita, lalu memakaikannya di tubuh mungil bayi Sita.
Entah ia akan selamat atau tidak, tapi bayi ini harus selamat.

Terdengar suara peluit kencang dari kejauhan, ada yang melambaikan tangan, syukurlah, wanita itu sedikit lega, tapi ombak itu semakin dekat, skoci tak mampu melawan arus, apa yang harus mereka lakukan.
“Ya tuhan, selamatkan Bayi yang baru terlahir ini, ia bahkan belum bertemu ayahnya”
BYUR!!!

“Pak itu ada wanita!” teriak salah satu tim sar di atas kapal pencarian.
Dengan alat bantuan, tim sar berhasil mengangkat wanita yang tengah berjuang menyelamatkan dirinya, dan, tunggu, dia membawa bayi?
“Ukhuk! Ukhuk!” wanita itu terbatuk dan perlahan sadar.
“Di mana? Di mana bayi itu?”
“Anak ibu aman di ruang perawatan bayi bu, keadaannya sangat memprihatinkan tapi ia masih bernyawa” ujar suster yang tengah berjaga.
“Anakku?”

5 tahun kemudian…
“Airiana, mam dulu nak, abis itu kita main ke rumah nenek” ujar Ana pada Airi.
“Bunda, nanti di rumah nenek aku boleh main air kan?” tanya Airi pada Ana.
Ana mengangguk, Airi pun bahagia bukan main, ia langsung lahap menyantap makanannya.

Mendengar kata Air, Ana kembali teringat pada pada kejadian 5 tahun lalu, saat ia dan wanita yang tengah hamil, berjuang menyelamatkan Airi, bayi yang baru keluar dari rahim wanita tersebut.

10 tahun kemudian…
Sudah percayakan aku terlahir di samudera, Bunda Ana bukanlah ibu kandungku, tapi dia yang sudah berjuang menyelamatkan nyawaku dulu, ia bahkan tidak mengenal orangtua kandungku tapi dia mau menolongku, dan tanpa dibayar ia mau merawatku hingga aku sebesar ini, aku sungguh berterima kasih pada Bunda Ana, dia sudah kuanggap ibu kandungku sendiri, karena tanpa dia mungkin sekarang aku sudah mati di samudera.
Bunda Ana menyayangiku seperti aku anaknya sendiri, dan begitu pun aku, menyayanginya seperti dia ibuku sendiri, kami saling menyayangi dan mengasihi, Cinta kami sangatlah luas, seluas Samudera tempatku dilahirkan.

Cerpen Karangan: Ukhti Rika
Facebook: Ukhti Rika

Cerpen Samudera Cinta merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Blackforest Untuk Bunda

Oleh:
“Bunda berangkat ya nak!” seru Bunda. “Iya Bunda! Hati-hati di jalan, ya!” seru Ara dan Hanny. Pagi itu, Bunda Ara dan Hanny pergi ke keluar kota. Tepatnya Jakarta. Ia

Menulis Di Atas Waktu

Oleh:
Dibawah gema azan maghrib, suasana perkampungan yang hening, hanya ada terdengar suara imam di mushola-mushola yang samar tedengar. Dari bilik pintu terlihat tangan yang begitu lincah memainkan pulpen di

Impian

Oleh:
Ini adalah kisah dari seorang gadis lugu yang mempunyai sejuta impian di dalam dirinya, namanya Zahra setiap menjelang fajar menyingsing dari balik gelapnya malam ia sudah siap dengan sekeranjang

Derita Seorang Anak

Oleh:
Di suatu desa terpencil, ada keluarga yang hidup harmonis. Mereka hidup berkecukupan, ayahnya bekerja sebagai seorang petani dan ibunya sebagai seorang ibu rumah tangga. Kehidupan mereka sangat bahagia. Mereka

Selalu Sayang Ibu dan Ayah

Oleh:
Seperti biasa, pukul empat pagi aku sudah bangun untuk bersenam pagi bersama orangtuaku. Dari kecil orangtuaku selalu mengajariku untuk hidup sehat. Aku langsung membereskan tempat tidurku dan bergegas mandi.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *