Sandiwara Oh Sandiwara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 1 February 2017

Semburan cahaya keemasan dari mentari yang disanjung-sanjung menusuk mata bulat kehijauan yang aku miliki, memperjelas tubuhku yang tinggi semampai, hidung mancung, yang berpadu manis dengan wajah bulat ovalku. Gorden putih beterbangan mengabarkan jika hari sudah senja. Kuambil langkah seribu untuk melihat kabar dari dunia yang penuh sandiwara. Sandiwara termanis yang menusuk kalbu.

Aku berdiri di depan rumah panggung, yang aku dan Ayah juluki surganya dunia kami. Menjadi saksi bisu betapa dramatisnya panggung senja ini. PLAK! “Jalang, cepat pergi dari rumah ini. Aku tak ingin surga duniaku ternodai oleh dirimu.” Teriak Ayah, lelaki manis dengan mata yang sama dengan milikku.
Aku tautkan alisku meminta keterangan. “Apa salah, Ifa? Ayah, dengrin Ifa! Ifa perlu penjelasan.” Aku meminta penjelasan sembari menggoyangkan tubuh lelaki yang rela merawatku setelah Ibu meninggal.
“Kau, sudah aku bilang jangan pernah dekati Rega lagi. Harga diri Ayahmu ini sudah jatuh di hadapan adat. Apalagi jika kau menikah dengan Rega. Pergi kau!” Pekik Ayah seraya menepiskan tanganku yang memegang bahunya.

Tamparan pedas miliknya masih terasa di pipi putihku. Aku melupakan bahwa Ayahku sangat jatuh cinta kepada Indonesia, beliau rela meninggalkan Benua Eropa demi tinggal di Indonesia. Dia rela melakukan jenis adat apapun di Indonesia, terutama tanah yang dijuluki sekepal tanah surga ini. Ia sampai rela sebulan tiga kali datang ke tanah ini, sapai meninggalkan pekerjaannya. Aku tarik kakiku menjauh dari rumah yang mulai dari detik ini menjadi neraka duniaku.

Kejadian tiga tahun silam menyebabkanku harus pergi ke Jakarta. Tamparan itu seakan menjadi virus permanen dalam memori hidupku. Ayah sekarang menganggapku tak ada, ia tak pernah mencariku. Entah, benci atau rindu menusuk sukma kalbuku. Jelasnya, yang aku tahu Rega sudah menikah dengan wanita pilihan ibunya. Ada segores luka tepat di hatiku ketika mendengarnya. Sekarang aku tahu, bahwa aku dan dia memang tak ditakdirkan Tuhan untuk bersatu padu.

Berita malam tadi menjadi tamparan keras dalam duniaku yang baru. Walaupun sempat terselip dendam, tapi rindu masih ada. Siang ini, aku injakkan kakiku memasuki perkarangan rumah yang seharusnya tak kuinjakkan lagi. Nyawaku seakan terbang melihat terpampangnya bendera kuning di teras rumah ini.

Perlahan aku memasuki ruang tengah yang ramai dipenuhi tetangga, mereka segera memberiku jalan untuk menatap seorang yang terbujur kaku. Tangisku pecah, tak sempat bibir ini terucap maaf. Namun pria yang mewarisiku mata hijau ini, dan darah eropanya telah meninggalkanku jauh. Jauh pergi, yang membuatku mengingat kenangan-kenangan saat ia rela diusir penjaga toko, karena permintaan gilaku menyuruhnya pura-pura menjadi pengamen untuk melihat betapa ahlinya ia akting. Ia rela pontang-panting mencari uang, setelah aku merengek memintanya membatalkan semua jadwalnya membuatnya harus membayar ganti rugi. Tak cukup waktuku untuk bernostalgia, mengingat betapa banyaknya keegoisan yang aku pinta padanya. Seperempat abad ia menorehkan bubuk kebijakan padaku.

Kupegang sebuah surat lusuh pemberian bibiku, peninggalan terakhir dari ayah. Tetes demi tetes membentuk luapan air dari mataku. Ayah, orang yang sempat aku benci membuatku meratapi kebodohanku. Ternyata, kejadian tiga tahun silam ia tak membenciku. Ia hanya berlatih untuk syuting film terbaru yang diperankannya. Iya, ayahku seorang aktor kondang dimasa kejayaannya tiga tahun lalu. Aku baru sadar, semenjak kejadian itu ayahku tak pernah lagi kembali ke dunia akting. Aku merutuki diriku, betapa pentingnya bertahan terhadap perihnya rintangan yang ada, karena berapapun sakitnya akan lebih menyakitkan melihat hasil ketidak sabaran dari rintangan itu.

Cerpen Karangan: Sania Sauni
Facebook: Sania Sauni

Cerpen Sandiwara Oh Sandiwara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Idola Melly

Oleh:
Ada seorang anak yang bernama Melly Defira Putri. biasanya, dia di panggil Melly. Melly bersekolah di SD Hermina I. “Melly!!” panggil seseorang. ternyata itu Helena. Helena adalah sahabat nya

Aku Ingin Tetap Melihatmu

Oleh:
Celena Acacia anak kelas X SMA L Collage, nama Celena yang berarti bintang dan Acacia yang berarti terhormat, sungguh indah bagai putri kerajaan nama itu. Celena adalah anak kedua

Salam Rindu

Oleh:
Biarkan kata-kata itu terbang, terbawa angin semilir menyelusup liang-liang bawah tanah, naik ke surga bersama dengan rinduku padamu wahai penikmat surgawi” Ku berteduh di bawah pohon yang rindang di

Akhirnya Aku Bisa Merasakan

Oleh:
Adit, itulah nama panggilanku. Aku memiliki saudara kembar yaitu adib. Dia sangat cerdas dan tanggap dalam menyelesaikan masalah. Sedangkan aku, aku adalah kebalikan dari adib. Sering kali aku disbanding-bandingkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *