Sang Anak Yang Durhaka

Judul Cerpen Sang Anak Yang Durhaka
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 1 September 2013

Namanya Dinda. Dinda adalah anak yang cantik dan pintar, tetapi dia miskin. Dia masih SD. Dia mempunyai ibu yang bermata 1 saja. Oleh karena itu, dia sering bersikap kasar padanya.

Saat dia sekolah, ibunya menghampiri Dinda saat bermain. Saat teman-temannya tahu kalau itu ibunya, mereka langsung menertawainya. “Hahaha…. Kau cantik dan sempurna, tapi kenapa ibumu bermata satu yah? Hahaha!” Seru teman-temannya. Dinda hanya mencibirkan bibirnya. Dia berjalan pulang bersama ibunya.

Sampai di rumah, Dinda membentak ibunya. “Ibu! Kalau kamu adalah ibuku, jangan membuat aku menjadi bahan tertawaan!!!” Ibunya hanya terdiam, masuk ke kamarnya, dan menangis. Dinda tidak peduli pada ibunya.

Suatu saat Dinda sudah lulus kuliah dengan prestasi yang membanggakan. Dia menikah dengan orang kaya. Dan dia sampai meninggalkan ibunya yang tidak bisa apa-apa ke Singapura.

Di sana, Dinda membuka bisnis yang sangat sukses. Sampai ia masuk koran. Dan kebetulan, ibu Dinda melihat anaknya yang sukses. Dia ingin sekali bertemu anaknya. Langsunglah ia membongkar tabungannya, lalu pergi ke Singapura.

Sampai di Singapura, dia mengunjungi kantor anaknya. Di kantornya, ada seorang anak kecil. Anak kecil itu sangat mirip dengan Dinda, lalu ia berbicara dengan anak kecil itu. Belum sempat berbicara, anak kecil itu langsung berlari memeluk ibunya.

Dan yang benar saja, ibu anak kecil itu adalah Dinda. “Ibu, ibu! Ada nenek tua yang menyeramkan! Dia bermata satu karena cacat. Dinda langsung memaki ibunya, “Untuk apa kau ke sini?! Pergi! Jangan menakuti anakku! Dan jangan kembali lagi! Aku bukan anakmu lagi!” “Tapi Dinda…” “PERGI!!!” Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pulang ke Indonesia dengan tangan hampa.

Suatu hari, Dinda datang ke Indonesia untuk reuni SD. Kebetulan dia melewati rumah lamanya. Dinda mengetuk pintu rumahnya. Tapi, tidak ada orang. Lalu ia bertanya pada Bu Sus, tetangganya. “Eh, Dinda. Mencari ibumu?” Tanya Bu Sus. “Iya bu. Ibu mana ya?” Tanya Dinda.

Bu Sus terdiam. “Sebenarnya… Ibumu sudah meninggal.” Kata Bu Sus. “Oh…” Kata Dinda tanpa kaget, sedih, dan senang. “Oh ya, satu lagi! Ini surat dari ibumu.” Kata Bu Sus sambil menyerahkan surat. Dinda membuka surat itu, lalu membacanya. “Anakku Dinda, ini ibumu. Kau adalah anak yang memaki aku terus. Kau memaki aku karena aku bermata satu kan? Aku ingin kau berjanji untuk tidak menangis setelah membaca surat ini, tetapi sadar. Aku tidak ingin aku dikasihani. Makanya aku tidak memberitahukanmu. Sebenarnya, kau pernah kecelakaan, dan matamu rusak sebelah. Aku tidak ingin kau menjadi anak yang tidak sempurna, makanya aku memberikan mataku kepadamu. Aku harap, kau sadar setelah membaca ini. Ibu tidak bisa berkata banyak padamu. Dari ibumu untuk anakku tersayang.” Itulah isi surat dari ibu Dinda.

Dinda tidak bisa menepati janjinya. Dia menangis, tetapi dia sadar. Dia sudah memaki ibunya, padahal ibunya sudah sangat mengasihinya. Kasih ibunya tidak bisa dibeli. Dinda sadar, harusnya dia berterima kasih, bukan memaki ibunya.

Cerpen Karangan: Develyne de Meichella
Facebook: www.facebook.com/develyne.demeichella

Cerita Sang Anak Yang Durhaka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Alien Dan Penyihir

Oleh:
Pagi yang benar-benar cerah, hh.. badanku benar-benar segar pagi ini. Aku ke luar dari kamarku dan berjalan menuruni tangga dengan senyum yang merekah, semangatku benar-benar menggumpal hari ini, pasalnya

Anak yang Tak Tahu Balas Budi

Oleh:
Gadis itu Oeral, selalu berpenampilan mewah kalung melingkar di lehernya bertumpuk-tumpuk, memakai pakaian seksi serta cincin melingkar di jari manisnya bahkan Oeral juga mengenakan binggel kaki. Walaupun usianya masih

I Can’t Save My Friend

Oleh:
Sahabatku meninggal 3 tahun yang lalu. Aku sungguh bodoh saat itu. Sangat bodoh!!! Kenapa.. Kenapa saat dia terjatuh dari tangga, aku tidak langsung menolongnya?. Kenapa saat dia menjerit padaku,

Cinta Sejati

Oleh:
Awal pertemuanku dengannya di sebuah halte bus. Waktu itu, aku dan temanku urip melintas di depan halte bus jalan pramuka. Urip yang membawa motornya dan aku membonceng di belakang,

Sesal Tak Terduga

Oleh:
Hujan tak surut terhenti, suara petir pun terus menggelegar. Hujan semakin mendinginkan badan, apalagi jika sampai harus menunggu hujan itu reda. Iya cerita ini dimulai ketika hujan turun di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sang Anak Yang Durhaka”

  1. sudah sering aku baca cerita seperti ini,maaf nyinggung kak/dik!!! tapi tetap bagus kok! teruslah berkarya!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *