Satu Jam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 April 2018

Hiduplah seorang anak dan ibunya di dalam rumah yang miskin. Bapak mereka telah lama mati. Kini tinggalah mereka berdua.

Sehari hari sang ibu sibuk mengurus pekerjaan dan rumahnya, dan jarang mempunyai waktu untuk sang anak. Sang anak pun memaklumi keadaan ini, betepa repot ibunya.

Bila Pagi sampai siang sang anak sibuk sekolah, dan bila sore hari sang anak pergi ke langgar untuk mengaji. Bila ada hari libur sang anak tak segan segan menemani ibunya untuk keliling menjajakan jajanan kecil pagi sampai sore di sebuah stasiun, kalau dagangan mereka sepi mereka berdagang sampai malam.

Hari libur adalah hari yang menyenangkan bagi sang anak, betapa tidak, karena dihari itulah ia dapat seharian bersama ibunya berjualan. Sang anak tak pernah mengeluh atas kehidupannya yang serba kekurangan. Pernah waktu itu meskipun sepatunya telah robek, tapi sedikit pun sang anak tak pernah meminta kepada ibunya untuk dibelikan yang baru. Malah ia mendapat sepatu baru dari guru mengajinya sebagai hadiah karena sang anak prestasi hafalannya mendapat nilai A.
“Hem… Kasian ibu bila harus membelikanku sepatu, dari hasil dagangan sehari dapat membeli beras secanting saja.. Sudah Alhamdullillah sekali” Bisiknya dalam hati.

Biasanya setiap pulang dari jualan, ibu langsung istirahat dan subuh subuh harus ke stasiun lagi. Sang anak juga rajin memijiti kaki ibunya hingga sang ibu terlelap. Pernah beberapa kali terjadi, ketika sang anak sedang bercerita tentang sekolahnya, sang ibu malah ketiduran. Sang anak sadar kalau dirinya kurang diperhatikan oleh sang ibu, tapi sang anak selalu percaya kalau sang ibu sangat menyayanginya, meskipun ibunya tidak pernah bisa datang untuk mengambil rapotnya-, ibu tidak pernah bisa mendampinginya ketika ada lomba mengaji, semua itu dimakluminya, ibu terlalu sibuk, tidak seperti anak anak yang lain yang masih punya bapak.

Datanglah suatu hari, masa musim penghujan, sang anak jatuh sakit dan tergeletak penuh di ranjang, berjalan kakinya tak mampu.
“Ibu Aden kedinginan Ibu… Temenin Aden di sini Bu…” Lirih Sang anak memanggil ibunya
“Sebentar Nak… Ibu selesaikan menyapu dulu.” Jawab ibunya dari arah luar.
Aden pun menunggu.

Satu jam berlalu…
“Ibu… Aden kedinginan Ibu.. badan Aden sakit semua. Tolong temenin Aden Ibu.” Pinta Aden sambil menggigil
“Nanti Nak… Ibu mau memasak dulu.” Sahut ibu dari dapur.
Sang anak pun bersabar menunggu.

Satu jam berlalu…
“Ibu…temani Aden Bu.. Aden badannya sakit sekali.” Pinta sang anak sekali lagi, dan suaranya semakin lirih
“Sebentar lagi Nak, ibu akan mencuci pakaian dulu.” Sambut sang ibu dari arah sumur.

Satu jam berlalu…
“Ibu.. Aden sudah tidak kuat lagi Ibu… temani Aden… kedi..nginan…” Suara sang anak bercampur tangis
“Sebentar lagi Nak.. Ibu tinggal menjemur.” Sang ibu mempercepat pekerjaannya.

Satu jam berlalu…
Ditemuinyalah sang anak yang sedang tertidur. Diusap usap kepalanya dengan kasih sayang. Sang ibu mencoba membangunkan anak semata wayangnya itu, tapi sang anak tidak bangun juga, berkali kali sang ibu mencoba membangunkannya lagi, tapi tetap tidak bangun. Sang ibu mulai cemas ketakutan, matanya mencair.
“Anakku ayo bangun, Ibu mu sudah di sini.” Pinta sang ibu “Bangun anakkuuu.. banguun…” Sang ibu menangis dengan tubuh yang gemetar.

Sang anak sudah tidak mendengar lagi, badannya kaku dan dingin… Sisa airmatanya yang membekas di bantal menambah pilu… Dipeluk anaknya erat erat.. kali ini barulah sang ibu tersadar.. telah lama dirinya tak memeluk buah hatinya… betapa banyak hal hal yang terabaikan…
Tulang terasa lemas… dada sesak… amat menyedihkan.. kehilangan…
Betapa kerinduan dapat membunuh…

– Dan Tuhan memberikan waktu yang singkat untuk kita… Hargai orang orang sekitarmu… Jangan abaikan orang orang yang kau cintai dan yang mencintaimu.. Selagi kamu bisa memberi saat ini.. Jangan ditunda lagi. –

Cerpen Karangan: Antonio Victor P
Facebook: Vap Jingga
Salam kenal salam sejahtera para penulis dan pembaca

Cerpen Satu Jam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lighter (Part 1)

Oleh:
Ku temukan janji manis dari kumpulan kata-katanya, teduh dari gema suara baritonnya. Seperti gulali dari toko manisan di depan rumah, manisnya mengikat lidah. Seperti pohon besar menjulang tinggi di

Aku dan Perempuan Tua

Oleh:
Namaku Lyra. Usiaku 15 tahun. Sejujurnya aku tak suka nama itu, terkesan terlalu cengeng. Tapi perempuan tua yang selalu mengetik sepanjang malam memberiku nama tersebut. Aku tak bisa mengelak

Setangkai Bunga di Tebing Gunung

Oleh:
Syifa Nisa Aulia, begitu nama lengkapnya. Aku memanggilnya dengan sebutan Bunda Nisa, karena Bunda telah mempunyai suami dan anak. Kehidupan keluarga Bunda begitu harmonis. Berbingkaikan cinta dan kasih sayang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *