Satu Rindu di Tetesan Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 17 November 2013

Hiruk pikuk kota semakin terasa. Cuaca yang terasa begitu panas di siang hari, banyak kendaraan bermotor yang ramai melintas setiap detiknya, bahkan kurang dari satu detik sudah lebih dari lima kendaraan bermotor yang lewat. Begitulah kehidupan yang kujalani setiap harinya, jauh dari keluarga. Semenjak tiga tahun lalu aku diajak oleh pamanku untuk merantau ke ibu kota sekaligus untuk meneruskan sekolahku ke pendidikan yang lebih tinggi atau bahasa kerennya yaitu kuliah.

Namaku Fitria Nuraini. Saat ini aku mengenyam pendidikan tinggi mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, dan sekarang aku sudah memasuki semester 6. Kebanyakan gadis di desaku pasti sudah menikah atau dijodohkan di usia sepertiku. Tapi tidak denganku, pamanku tak mau melihat aku menikah terlalu dini. Maka dari itu paman membawaku ke ibu kota agar aku bisa memiliki kehidupan yang lebih baik dan berkembang dari kekolotan pedalaman desa. Paman sudah ku anggap seperti ayahku, semenjak ayah pergi menghadapNya biaya sekolah ditanggung oleh paman meskipun untuk biaya sehari-hari aku harus berusaha sendiri dan berhemat.

Cuaca yang tadinya panas tiba-tiba berubah menjadi rintik-rintik hujan, mengingatkanku pada satu rindu, ibu. Ingin rasanya aku pulang ke kampung halaman untuk menumpahkan semua rinduku pada ibu. Tapi apalah daya. Aku harus menabung lebih giat lagi agar cukup untuk ongkos pulang nanti.

“Hemm.. masih kurang. Padahal hampir cukup uangnya. Tapi karena kepepet untuk menambah bayar spp harapanku harus pupus dulu untuk pulang kampung,” ucapku lirih di dalam kamar. Tanpa aku sadari seorang gadis kecil bernama Risa menghampiriku. Risa adalah sepupuku yang baru baru berusia 6 tahun.
“Kakak kenapa terlihat sedih?” tanya Risa dengan wajah polosnya.
“Tidak. Kakak Cuma ingat sama ibu kakak yang ada di kampung. Apalagi kalau hujan seperti ini,” jawabku sambil mengelus halus kepala Risa. “Tau tidak, waktu kakak sebesar Risa kakak itu anaknya lumayan nakal. Kalau hujan-hujan seperti ini setelah pulang sekolah pasti kakak sengaja main hujan-hujanan sampai semua badan kakak basah kuyup,” ceritaku.
“Oh ya? Gak sakit kak nanti?” tanya Risa.
“hehe.. kalau ketahuan ibu pasti kakak akan dimarahi, tapi kakak gak pernah jera. Sampai akhirnya kakak demam tinggi dan sakit hampir tiga hari,” sambungku. “Selama sakit ibu khawatir banget sama kakak, sampai-sampai ibu gak bisa berladang karena khawatir kakak ada apa-apa. Dari situlah akhirnya kakak jera, dan sadar kalau semua yang dilarang ibu pasti ada penjelasan kenapa jadi gak boleh,” ceritaku pada Risa.
“Jadi setiap hujan kakak jadi teringat itu, dan kakak pasti kangen banget sama bibi ya?” ucap Risa. Aku hanya tersenyum sambil menatap rintik-rintik hujan.
“Fitri ayo siap-siap,” ucap paman menghampiriku dan Risa di kamar.
“Siap-siap untuk apa paman?” tanyaku bingung.
“Paman janji kan kalau liburan semester kamu akan paman antar menemui ibumu dan setengah jam lagi bus travel akan menjemputmu. Kita sama-sama ke sana untuk mengantarmu melepas rindu pada ibumu,” jelas paman.
“paman serius?” tanyaku masih bingung namun rona bahagia terpancar jelas di wajahku. Risa mengangguk mengiyakan begitu juga paman dan tanteku. Aku langsung tersenyum bahagia dan langsung membereskan pakaian untuk segera melepas rindu pada ibu.

Hari ini adalah hari yang begitu membuatku bahagia. Setelah tiga tahun berpisah dengan ibu, akhirnya aku punya kesempatan untuk pulang ke kampung halamanku. Dengan menaiki bus travel yang membawaku pulang untuk menumpahkan semua rasa rindu pada ibu. Tetes gerimis hujan mengiringi perjalananku pulang menambah rasa rindu dan rasa bahagia di hatiku.

Cerpen Karangan: Nia Kurnia Latifah
Facebook: Nia Kurnia Latifah
aku berasal dari marabahan, kalsel. Lagi belajar nulis-nulis cerpen. Semoga yang membaca menyukainya.

Cerpen Satu Rindu di Tetesan Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Layang Layang Koin Si Akbar

Oleh:
Anginnya sepoi-sepoi kala itu, namun wajah seorang anak yang mempunyai pipi tembem nampak pucat kusam, entah apa yang dipikir Akbar kala itu, ternyata tak jauh dari situ pula matanya

Saudara Tiriku

Oleh:
“Apa? Saudara baru? Enggak. Ya masa aku harus punya saudara tiri. Aku lebih suka jadi anak tunggal. Pokoknya Papah sama Mamah harus milih antara tetep ngangkat anak gembel yang

Saudaraku

Oleh:
Pada zaman dahulu di bawah laut hiduplah keluarga ikan. Keluarga Pak Lionfish. Pak Lionfish memiliki 2 anak. Anak Pak Lionfish bernama Lino dan Loni. Anak kembar Pak Lionfish tidak

Siapa?

Oleh:
“Pak, temanku bilang, bulan ini aku harus sudah mengganti hpnya.” “Bukannya sudah diganti dengan hpmu itu?” “Nggak bisa, pak. Hp Ahmad tidak sebanding. Cuma murahan. Lagian dia menuntut harus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *