Satu Satunya Harapan Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 1 December 2017

“Huahm… aduh sudah jam tujuh nih. Gak biasanya aku bangun jam segini. Untung hari ini hari minggu.” Ucap Diana sembari membereskan tempat tidurnya. “Eumzz… ini semua karena si jago lupa bangunin aku”

Diana pun pergi ke dapur, memasukkan dedak ke dalam baskom lalu menyeduhnya dengan air dingin. “Maaf ya jago hari ini tidak ada dedak hangat! karena salah kamu sendiri sih lupa bangunin aku. Kamu pasti masih tidur sekarang. Pasti semalam kamu begadang nonton bola sama ayah.”

Diana pun pergi ke kandang ayam yang berada di belakang rumahnya. “Maaf ya jago aku nyeduh dedaknya gak seperti biasanya. Karena kalau pakai air panas. Lama nunggu dinginnya. Dan aku tahu perut kamu gak akan bisa nunggu lagi.” Diana pun memasukkan baskom berisi dedak itu ke dalam kandang. Si jago biasanya berontak kalau mau dilepaskan dari kandang. Itu tandanya dia sudah kenyang dan juga akan berkokok beberapa kali.

Memanfaatkan waktu, Sembari menuggu, Diana pun membaca komik horor kesukaannya.

Dilihatnya jam tangan, waktu sudah menunjukan pukul 08.00. Itu artinya sudah hampir sejam dia menunggu. Tapi si jago tidak juga menunjukkan kalau ia ingin dilepaskan. Dilihatnya dedak di baskom itu masih utuh dan alangkah kagetnya Diana. Ternyata si jago sudah mati. Rasa takut menghampiri Diana. Dia takut ayahnya yang pemarah dan ringan tangan itu akan menghukumnya.

Setelah tahu ayam kesayangannya mati. Diana jadi gelagapan dia pun menguburkan si jago tepat di samping kandangnya. “Semoga ayah tidak tahu!” Diana menyimpan harapan. Dan ia juga menyiapkan kebohongan yang akan dia katakan apabila ayahnya pulang dari kebun magrib nanti.

Tetapi tidak lama kemudian ayahnya pulang dengan dibopong dua orang karena tak bisa berjalan. Kaki ayahnya kecangkul. Sewaktu mencangkul di kebun tadi. Diana melihat luka ayahnya itu, dia merasa kasihan meski hatinya masih dipenuhi rasa marah pada ayahnya. Karena baginya kematian ibundanya setahun yang lalu itu gara-gara ayahnya.

Setelah membalut luka ayahnya dia pun meninggalkan ayahnya itu di ruang tamu. Diana lalu menonton Tv sembari menyembunyikan wajah bersalahnya.

“Diana diana, ambilkan ayah minum.” Ayahnya memanggil sampai beberapa kali tapi Diana tak menyahut karena dia keasyikan menonton tv. Akhirnya ayahnya memaksakan diri untuk mengambil air minum sendiri. Diana tak menyadari kalau ayahnya sudah berada di dapur, dia baru sadar setelah mendengar suara gelas pecah di dapur. Pecahan gelas itu langsung menggores tangan ayahnya dan memutus urat nadinya. Diana hanya bisa menangis melihat ayahnya tergeletak tak bedaya dengan luka di tangan dan kakinya.

Diana menjerit histeris sampai orang-orang kampung mendatangi rumahnya. Mereka pun membawa ayah Diana itu ke rumah sakit. Tidak bisa dibohongi bahwa Diana sangat sayang sama ayahnya. Dia pun Bertekad untuk bicara sejujurnya tentang kematian si jago.

Malam telah larut Diana yang duduk menunggu ayahnya akhirnya tertidur. Dan ia pun memimpikan kenangan buruk yang menimpanya setahun yang lalu. Dia melihat ayah dan ibunya bertengkar, dia mengintip dari balik pintu kamarnya. Dia juga melihat saat ayahnya menampar ibunya beberapa kali, sampai ibunya lari karena tak tahan. Ayahnya mengejar Dan akhirnya ibunya itu tertabrak motor berkecepatan tinggi. “ibu” Diana pun tersadar. Dan dia melihat ayahnya sudah siuman. Diana pun menceritakan tentang kematian si jago.

“Ayah boleh menghukumku apa saja” ucap Diana sambil memegang tangan kiri ayahnya dan mengarahkannya ke wajahnya. Tapi ayahnya itu malah mengusap lembut wajah putri kecilnya itu seraya berkata “ayah tidak akan menghukum kamu Diana, biarlah ayah kehilangan si jago asal ayah jangan kehilangan kamu. Sejak peristiwa setahun yang lalu itu ayah menyadari semua kesalahan ayah. Dan Saat ini, di dunia ini, yang ayah punya hanya kamu, kamulah satu-satunya harapan ayah.”
“Aku sayang ayah” ucap Diana sembari memeluk ayahnya.

TAMAT

Cerpen Karangan: Kartono Anwar
Blog / Facebook: Kartono-Bilang.blogspot.com / Kartono Anwar Nasution
Penulis: Kartono Anwar, dari Garut Jawa Barat
Email: anwar_kartono[-at-]yahoo.com
pangerankartono[-at-]gmail.com

Cerpen Satu Satunya Harapan Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalanku Atas Kepergian Ayah

Oleh:
Saat itu pagi pagi sekali ayah duduk di teras depan, dengan kopi dan pisang dari ibu, aku melihat wajah ayah yang begitu pucat, terdiam menatap anak anak yang sedang

Senyuman Via

Oleh:
Livia Maharani Alfaro atau yang lebih dikenal dengan ‘VIA’ adalah seorang gadis SMA yang amat cantik, kulitnya kuning langsat, tubuhnya langsing, tinggi semampai, rambutnya yang panjang dipirang berwarna merah

Permata

Oleh:
Hari ini aku sangat terkejut, bagaimana tidak mamaku mengadopsi seorang anak seusiaku. Anak itu sangat cantik kulitnya putih, hidungnya kecil, kurus, matanya tajam, aduhh pokoknya cantik banget. Beda banget

Aku Tetap Anakmu Ayah

Oleh:
Aku bertemu laki-laki itu. Kuingat saat masa kecilku ia selalu berada di dekatku. Tapi sekarang, ia berada di mana, Ibu? Mengapa ia tak sedekat dulu denganku? Apakah ia sudah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *