Satu Senyuman Untuk Kakak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 7 August 2019

Hari masih siang tapi hujan sudah mengguyur ibu kota, Dania yang baru saja keluar dari kelas tak sempat pulang karena hujan turun begitu deras. Dania mencoba menelepon kakaknya tapi tak diangkat dan dia mencoba sms tapi tak dibalas, “Ishh, kesel deh! Masa gue harus pulang ujan ujanan sih” kesal Dania.

Akhirnya ia terpaksa hujan hujanan, Tapi saat ia melangkahkan satu kakinya, sebuah mobil sport berwarna hitam datang, lalu keluar seorang laki laki bertubuh tinggi yang tak lain adalah Kak Alvin, kakak Dania.
“Dek, maaf yah kakak telat jemput kamu soalnya tadi kena macet” jelas Kak Alvin sembari memayunginya. “Palingan itu alesan, bilang aja kakak banyak tugas jadi gak sempet jemput aku tepat waktu” cetus Dania dengan raut muka sinis. Kak Alvin hanya menghela nafas dan tersenyum karena Dania sudah terbiasa seperti ini. Dania pun segera masuk ke dalam mobil lalu menutup pintu itu dengan sangat keras.

“Dek, kapan kamu berubahnya sih, kakak pengen banget liat kamu senyum, mungkin itu khayalan yang gak mungkin terjadi” gumam Kak Alvin dalam hati. “Woyy!!! Kak, cepetan dong makin deras nih hujan” teriak Dania dengan rasa kesal. Lalu, Kak Alvin kaget mendengarnya akhirnya ia segera menutup payungnya dan segera memasuki mobil.

Di perjalanan, Dania dan kakaknya diam tak bersuara tak ada sedikitpun candaan di antara mereka, Kak Alvin ingin sekali bercanda dengan Dania hanya saja sikapnya yang gampang sekali marah, ia mengurungkan niatnya untuk sesekali bercanda dengan adik tercinta yang disayanginya itu.

Kak Alvin terus menatap Dania dan tak menyadari kalau di depannya adalah sebuah mobil bak. “Kak, awas kak ada mobil nanti ketabrak kak!!!” panik Dania. Akhirnya, kak Alvin mencoba menghindar dan membelokkan mobil, namun naas mobilnya menabrak sebuah pohon besar. Mereka pun terluka parah terkecuali kak Alvin yang wajahnya terkena pecahan kaca mobil hingga mengenai matanya, Dania hanya terluka di bagian kepala saja.

Ketika hujan berhenti, warga yang melihatnya segera menghampiri mobil itu lalu menghubungi ambulan. Berselang beberapa menit, dua ambulan datang dan membawa mereka ke rumah sakit.
Dania dan Kak Alvin dibawa ke ruangan UGD dan segera ditangani oleh dokter.

Beberapa menit kemudian Dania sadar dan melihat sekelilingnya “Saya ada dimana?” tanya Dania pada seorang dokter dengan tubuh masih lemas.”Kamu lagi ada di rumah sakit, tadi kamu mengalami kecelakaan mobil dan sekarang saudara kamu masih belum sadar kemungkinan dia mengalami kebutaan pada matanya” jelas dokter itu. Dania pun mengingat kembali peristiwa yang terjadi, “Kak Alvin!!” teriak Dania dengan beruraian air mata lalu ia menghampiri ranjang kakaknya yang berdekatan dengan ranjangnya. Lalu ia memeluk tubuh kakaknya yang terbaring lemas dan tak berdaya dengan perban di matanya, “Kakak maafin aku kak, selama ini aku sering membuat kakak sedih, kesal dan marah aku janji aku bakal berubah dan menuruti apa kata kakak, sekarang kakak bangun kak!! Bangun!!” ucap Dania sembari memeluk kakaknya dengan air mata penyesalannya. Mungkin kak Alvin mendengar apa kata katanya, tangannya bergerak pelan pelan dan mengusap kepalanya dengan lembut namun Dania tak menyadari dia terus saja memeluk kakaknya dan menangis, lalu ia merasakan usapan itu dan dia melihat ke sekelilingnya, “kok perasaan tadi ada yang ngusap rambut gue tapi kok ada yahh” ucap Dania dengan rasa penasaran. Lalu ia melihat kakaknya, ternyata ia menyadari bahwa kakaknya yang mengusap kepalanya karena ia melihat tangannya yang bergerak “Kakak? Udah sadar” panggil Dania pada Kak Alvin, dia hanya meraba raba sekelilingnya. “Kakak, ini aku Dania” ucapnya pada Kak Alvin dengan mendekatinya “Adek? ini beneran kamu?” Tanya kak Alvin dengan meraba raba tubuh Dania, “iya ini aku kak” jawab Dania dengan perasaan senang.

Lalu Dania memeluk kakaknya dengan erat, “kak maafin Dania yah! Dania tau kalau ini salah, maafin aku yah kak” ucap Dania dengan berurai air mata. Air mata pun jatuh dari pipi kak Alvin dan tersenyum bahagia “Iya, gak papa dek ini bukan salah kamu ini salah kakak sendiri, kakak emang lalai jadi kaya gini akhirnya”

Dania melepaskan pelukan kakaknya. “Kak, kakak mau apa dari nanti biar Dania turutin apa yang kakak mau” pinta Dania. “Kakak cuma pengen adek selalu tersenyum walaupun kakak udah gak bisa lihat tapi kakak bisa ngerasain kalau kamu itu tersenyum dan satu lagi, kakak gak mau adek terbebani oleh masalah itu aja yang kakak pengen, sederhana kok dan gampang juga”. Dania pun termenung dan menyadari bahwa selama ini ia tidak pernah tersenyum pada kakaknya dan ia pun tersenyum pada kakaknya walaupun dia tak melihatnya. “Ini Satu Senyuman Buat Kakak” katanya sembari memeluk kakaknya. Kini hari harinya dihiasi dengan senyuman dan ditemani oleh kakak yang selalu menemani dirinya sepanjang waktu.

Cerpen Karangan: Eva Fadilah
Tempat/Tanggal Lahir: Bandung, 25 Mei 2002
Kelas X IIS 2
Sekolah di MAN 1 Bandung

Cerpen Satu Senyuman Untuk Kakak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rahasia Mama

Oleh:
Aku bersedekap. Menunggu datangnya mama sambil di tempat tidur. Menurut kakakku, itu sangat membuang waktu. Aku tidak mengerti. Mama kenapa pergi tanpa penjelasan padaku? Aku minta mama memberitahuku kemana

Maafkan Dela Bunda

Oleh:
“Bunda! Dela mau minum, tolong ambilkan!” Perintah Dela kepada Bundanya. “Tapi kan, Dela bisa ambil sendiri. Bunda lagi cuci piring, nak.” Jawab Bunda lembut. “Argh!” Gerutu Dela kesal lalu

Setelah Setahun Dua Bulan

Oleh:
Tok, tok, tok. Ketukan kuat pun terdengar di pintu kamar, suara Kak Sifa pun terdengar dari balik pintu. “Caa, buka pintunya, ayo ke sini, ayo keluar, lihat Papa sebentar,”

Maafkan Aku Vannesa

Oleh:
Vannesa nama yang bagus, untuk diberikan kepada anak yang cantik, imut, baik dan pintar. Tapi tidak untuk Vanesa yang ini, dia memang cantik, pintar dan baik. Tapi dia selalu

Bocah Penjual Es Batu

Oleh:
Di persimpangan jalan yang sempit, seorang bocah lelaki berteduh di bawah pohon mahoni rindang yang ada di pinggir jalan itu. Hari ini hujan deras sekali. Bocah itu membawa sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *