Saudara Tiriku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 14 April 2017

“Apa? Saudara baru? Enggak. Ya masa aku harus punya saudara tiri. Aku lebih suka jadi anak tunggal. Pokoknya Papah sama Mamah harus milih antara tetep ngangkat anak gembel yang nggak jelas itu atau aku akan ikut nenek di Kuala Lumpur.” Penolakan terlontar dari bibirnya. Menuju kamar. Mengadu pintu dengan dinding sekeras-kerasnya. Tak lama kemudian keluar dari kamar. Membawa tas sekolah yang biasa Ia gunakan. Melangkah keluar tanpa sekelumit pamit kepada Papah dan Mamah yang selama ini selalu memanjakannya. Mengambil sepeda gunung kesayangannya lalu memacunya secepat yang Ia bisa.
“Vika mau kemana, Nak?” tanya Mamah sambil menyusulnya diikuti Papah yang kemudian menarik tangan Mamah.
“Sudahlah Mah. Dia Cuma butuh sendiri dan penyesuaian saja. Ini semua juga salah kita. Selama ini kita terlalu memanjakan Vika. Sampai-sampai Ia kelewatan seperti ini.”
“Tapi, Pah…”
“Sudahlah Mah. Dia bakal baik-baik saja kok.” hibur Papah.

Sepanjang jalan Ia berpikir ‘Papah sama Mamah sudah nggak sayang sama Vika. Masa aku disamain sama anak Gembel yang nggak jelas itu. Udah item, rambutnya keriting lagi. Aduh! Nggak banget. Awas aja kalau itu sampai itu nggak dibatalin. Aku bakal… Ah, bodo lah.’. Tasnya yang berat rupanya tak dihiraukannya.

Akhirnya Ia sampai di rumah sahabat karibnya, Viska. Turun dari sepeda gunungnya. Berlari dengan memanggil Vika. Kemudian memeluknya sambil menangis. Viska yang sedang menyiram bunga pun terkejut.
“Viska…” panggilnya.
“Eh!!! Kamu kenapa? Ayo, masuk dulu.” ajak Viska padanya.
Vita pun merangkulnya dan mempersilahkannya untuk duduk di sofanya yang empuk.
“Sini duduk dulu! Mau minum apa?” tawar Viska pada Vika yang sedari tadi masih menunduk saja.
“Air putih saja.” sahut Vika setelah mendongakkan kepalanya.
Ia merasa kehausan. Apalagi setelah Ia berteriak kepada orangtuanya dan mengayuh seepeda dengan tergesa-gesa. Tak sampai lima menit segelas air putih dan orange juice serta satu toples enting-enting sudah tersedia di meja ruang tamu.

“Nih, minum dulu!” kata viska. “Makasih, ya. Yang kamu mintain bantuan tadi siapa?” tanya Vika yang setelah itu meminum air yang tadi sudah disiapkan oleh Viska.
“Oh, itu? Itu kakak tiriku. Ia diangkat sebagai anak sama Papah dan Mamah. orangtuanya meninggal 3 bulan yang lalu. Dia juga baru dua minggu di sini.” jelas Viska yang duduk tepat di samping Vika.
“Hah! Yang benar? kamu mau punya kakak tiri? Bukannya lebih enak jadi anak tunggal?” tanyanya dengan keheranan.
“Awalnya sih. Emang aku nggak mau. Tapi setelah tiga hari dia di sini aku ngerasa nyaman-nyaman aja. Nggak seburuk yang aku kira. Kita juga sering hang out bareng, belajar bareng, olahraga bareng, terus kadang juga sama Mamah sama Papah bareng-bareng ke tempat wisata gitu. Pokoknya seru deh!” jelas Viska panjang lebar sambil menghitung jarinya yang selalu bersih dan rapi. Maklum, dia itu tipikal orang yang sangat memperhatikan penampilan.
“Terus gimana? Sikap orangtua kamu ke kamu ada yang berubah nggak?” tanya Vika dengan penuh perhatian.
“Enggak, sih. Bahkan mereka semakin sayang sama aku. Juga semakin perhatian tentunya.” Jawab Viska dengan penuh antusias dan semangat.
Vika pun merasa heran dan juga sangat terkejut. Jawaban yang diberikan Viska sangat jauh berbeda dari perkiraannya selama ini. Yang Ia tahu kalau orangtuanya mengangkat anak Ia pasti akan diacuhkan. Namun, ternyata tidak. Buktinya Viska. Ia sudah mengalami sendiri. Dan dari info yang diberi Viska padanya telah membuktikan kalau dugaannya selama ini salah. Salah besar.

“Oh, ya. Kamu kenapa? Kok, tadi tiba-tiba nangis? Coba kamu cerita sama aku. Ada apa?” tanya Viska penuh simpati. Vika pun terkejut.
“Ha, o.. o… Eh.. Anu…” Vika bingung mau jawab apa. Walaupun memang Viska sudah seperti kakaknya sendiri.
“Kok, kamu jadi gugup gitu sih? Ada apa? Cerita aja. Nggak apa-apa.” Kata Viska.
“Itu aku nggak bisa ngerjain pr dari bu Susi kemarin. Yang konfigurasi elektron itu lho.” kata Vika dengan mencoba menenangkan diri. Ia memang kesulitan mengerjakannya. Tapi bukan itu masalah yang sebenarnya.
“Kamu itu lho. Bikin kaget aja. Sebentar aku ambil bukuku dulu.” Kata Viska.
Dalam hati Vika masih bertanya-tanya ‘Apa benar kata Viska? Tapi, kan nggak mungkin dia bohong sama aku. Sahabatnya dari kecil’. Rasa penasaran masih saja berkutat di pikirannya.

“Nih, catatannya. Bawa saja dulu. Tapi jangan lupa besok bawa. Kan, besok ada jadwalnya.” kata Viska sambil menyerahkan bukunya kepada Vika. Menyadarkan Vika dari lamunannya.
“Makasih ya. Kalau gitu aku pulang dulu. Daaa…” kata Vika sambil terburu-buru.
Vika segera mengayuh sepedanya dengan terburu-buru. Ia ingin segera pulang. Dan meminta maaf kepada Mamah dan Papahnya karena Ia telah membentak mereka tadi. Padahal Ia sendiri belum tahu bagaimana rasanya kalau punya saudara tiri. Ia terlalu mementingkan ego-nya.

Ketika sampai di rumah Ia pun segera memarkirkan sepedanya di garasi dan masuk ke rumah mencari kedua orangtuanya. Di saat yang sama Mamahnya sedang ada di kamar tamu juga dengan Papahnya. Rupanya mereka sedang mempersiapkan kamar untuk saudara tirinya nanti.
“Assalamu’alaikum, Mah…” Ia memanggil mamahnya dan langsung memeluknya dari belakang sampai-sampai Mamahnya terkejut.
“Astagfirullah, Vika.” Sepertinya Mamahnya masih saja mengkhawatirkan Vika.
“Mah, maafin Vika ya. Vika udah ngebentak Mamah sama Papah tadi. Vika terlalu mementingkan Ego-nya Vika. Vika terlalu memikirkan diri Vika sendiri. Maaf ya, mah.” kata Vika penuh sesal.
“Sayang. Kamu tidak perlu minta maaf. Mamah ama Papah maklum kok. Kalau kamu marah seketika karena ini terlalu mendadak buat kamu.” Papah Vika menasehatinya sambil memeluk Vika.
“Terimakasih ya Mah, Pah. Love You. Vika sekarang setuju kok kalau anak itu jadi kakaknya Vika.” Kata Vika pada kedua orangtuanya.
“Alhamdulillah, akhirnya kamu faham juga.” Mamah dan Papahnya pun memeluk Vika dengan penuh kasih sayang.

Esoknya Vika dan juga kedua orangtuanya pergi menjemput Tesya di panti asuhan MELATI. Vika juga ikut. Dia bahkan tak sabar untuk segera mengajak saudara tinya pulang ke rumah. Dan sesampainya di rumah Vika dengan senang hati enunjukkan kamar baru yang akan ditempati oleh saudaranya. Papah dan Mamahnya pun sangat bahagia melihat Kedua putrinya yang sangat rukun.

Setelah satu minggu mereka semakin akrab. Memang sebenarnya Vika sangat mudah untuk bergaul. Hanya saja untuk berbagi dia masih belum begitu bisa. Namun dengan adanya Tesya di rumah ini tentu Vika akan belajar banyak bersamanya tentang banyak hal. Baru seminggu saja mereka sudah melakukan banyak hal bersama-sama. Mulai dari belajar, berangkat ke sekolah, menyelesaikan pekerjaan rumah hingga jalan-jalan bersama. Wahh… Senangnya…

Cerpen Karangan: Siti Marfuah

Cerpen Saudara Tiriku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebutir Rindu Untuk Zara

Oleh:
Siang seperti akan membimbing senja menemui malam. Keelokkan paras senja membuat siang seperti tak ingin lepas darinya. Namun, malam sudah tak sabar ingin menemui senja. Aku melangkahkan kakiku ketika

Maafkan Aku

Oleh:
Tak terasa sudah liburan semester. Aku dan keluarga berencana liburan ke pantai Pelabuan Ratu. Hari berlibur pun tiba, kami segera berkemas-kemas untuk pergi ke pantai. Terjadi keributan kecil ketika

Keluarga Ku Motivasiku

Oleh:
Aku adalah anak yang manja dan selalu mengandalkan orang-orang di sekelilingku. Aku sangat menyayangi ibu dan bapakku. Mereka selalu memberikan yang terbaik dan paling baik untuk ku. Sekilas aku

Suatu Kesalahan dan Penyesalan

Oleh:
Hai, perkenalkan namaku Sindy, aku berkalangan dari kelas ekonomi yang sangat bawah, ayahku tidak bekerja alias pengangguran, ibuku hanya seorang tukang judi yang tidak tentu hasilnya, kakakku tidak tahu

Sajadah Buat Emak

Oleh:
“Endraaa, mandi!” Emak memanggilku. Kutinggalkan lapangan. Itulah tempat bermainku dan kawan-kawan. Tidak luas sih, tapi cukuplah bagi kami bermain kejar-kejaran sampai badan dan baju basah kena keringat. Tak ingin

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *