Sayur Mayur Mengantarku Ke Istana

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Motivasi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 11 October 2017

Sintia adalah anak tunggal yang tinggal dengan keluarga dengan kehidupan yang sederhana, kegiatan sintia kalau pagi hari jam 05.00 membantu kedua orangtuanya berjualan sayur mayur di pasar di dekat rumahnya sambil membawakan barang daganganya, kemudian sekitar jam 07.00 sintia kembali ke rumahnya untuk bersiap-siap berangkat sekolah karena sekolah sintia masuk jam 08.00 dan jarak tempuh yang dilewati sintia ini sangat jauh, jadi sintia harus berangkat lebih awal.
Sintia setiap hari biasanya pergi dengan sahabatnya yang bernama ani, di perjalanan ani bercerita kepada tentang keinginannya menjadi Paskibraka.

“Sin, kamu punya keinginan nggak nanti pas 17 agustus jadi pengibar bendera gitu di istana”. Kata ani kepada sintia
“Itu mimpi aku an’ dari awal aku kelas X melihat kakak kelas kita yang jadi perwakilan sekolah untuk mengibarkan bendera di istana, itu merupakan suatu kebanggaan banget an’ terutama buat keluarga” ujar Sintia dengan senyum manis di bibirnya.
“Oh, ya kalau gitu kita punya tujuan yang sama dong sin, tapi kamu tau kan syarat-syaratnya itu susah banget” kata ani yang awalnya semangat menjadi cemberut.
“iya aku tau kok tapi kalau kita mau usaha, doa, mudah-mudahan ada jalan yang diberikan tuhan untuk umatnya yang mau bekerja keras, kamu percaya kan.” Jawab sintia yang memberikan semangat kepada sahabatnya
“Iya kamu bener sin, kita gak boleh menyerah kita harus berusaha.” Ujar ani yang kembali bersemangat.
“Gitu dong, ini baru namanya sahabatku, eh cepetan gerbangnya udah mau ditutup” ujar sintia yang melihat dari kejauhan gerbang sekolahnya yang hampir mau ditutup.
Mereka berdua pun mempercepat jalannya supaya mereka bisa masuk sekolah dengan tepat waktu.

Sintia memang anak yang pekerja keras dan optimistis, dia dilahirkan dari keluarga yang sederhana dimana di dalam keluarganya harus mempunyai sifat percaya diri dan selalu berusaha, karena sintia selalu ingat kata-kata yang diucapkan di keluaraganya yaitu “kita memang gak kaya, gak punya rumah mewah tapi jangan karena keadaan kita seperti ini kita hanya mengeluh, pesimis, dan tidak semangat usaha untuk menjalani keadaam ini, kita harus selalu syukuri apa yang ada, karena tuhan tidak akan mengubah suatu kaumnya jika kaumnya itu tidak mau berusaha dan doa” pesan yang selalu disampaikan kepada sintia, dan pesan itulah yang selalu dipegang dan dijadikan prinsip oleh sintia sendiri.

Beberapa jam kemudian di dalam kelas saat sedang berlangsung pelajaran kimia salah satu guru masuk dan memberikan pengumuman kepada kami.
“Assalamualaikum selamat siang anak-anak maaf menganggu jam belajarnya ibu di sini ingin mengumumumkan suatu hal yang penting dari kepala sekolah.” Kata guru tersebut yang memegang sebuah map.
Tiba-tiba ani bilang sesuatu kepada sintia
“Sin, kira-kira apa ya pengumumannya, gak biasanya seperti ini dalam jam belajar lagi?” tanya ani yang dari tadi penasaran.
“Ah, palingan ada siswa baru yang mau masuk kelas kita an”, tukas sintia yang memang sedikit cuek dengan pengumuman itu.

Ternyata guru tersebut membawa pengumuman dimana ada calon siswa yang akan seleksi untuk paskibraka nasional, setelah diumumkan salah satu diantaranya yang akan seleksi sintia dan ani yang dimana memang sekolah sintia memang selalu ada perwakilan yang terpilih menjadi paskibraka nasional maupun kota.
Tentu saja berita itu mengundang kehebohan di kelas, tidak terkecuali ani dan sintia yang mendapatkan selamat dan tepuk tangan dari teman teman sekelasnya. Disela kehebohan sintia menangis haru, yang dimana awalnya sintia cuek dengan pengumuman itu tetapi sintia sendiri yang dibuat nangis haru oleh pengumuman tersebut.

“Sin, kamu kenapa? Kamu kok nangis, jangan nangis dong, kan jadi sedih juga ni.” Tanya ani yang sempat haru juga,yang mengusap air mata sahabatnya itu.
“Aku nangis bahagia an, aku bayangi kedua orangtua aku gimana kalau kedua orangtua aku mendengar kabar ini, mereka pasti ikut bangga.” Ujar sintia mengusap air matanya.
Kemudian sintia kembali semangat dan menghapus air matanya dengan senyum manis di bibirnya, dan dia memberikan semangat buat dirinya dan ani
“ani, ni awal ani kita tidak boleh berleha leha karena masih banyak sekali seleksi yang harus kita lewati.” Sambil memberi semangat dan bangkit.

Tiba sampai di rumah sintia melihat ibunya yang sedang menemani ayahnya yang lagi batuk-batuk dari dalam kamar, ayah sintia memang sudah lebih dari 3 minggu batuk dan belum diobati karena keterbatasan ekonomi, sintia sedih melihat ayahnya yang lagi sakit seperti ini, sintia akan memberitahu ayah dan ibunya setelah ia selesai mandi dan makan.

Selesai mandi dan makan siang sintia menjenguk ibu dan ayahnya di kamar dan mau memberi tahu pengumuman di kelas tadi.
“Bu, gimana keadaan bapak?” ujar sintia yang mulai pembicaraan
“bapakmu…” tiba-tiba pembicaraan dipotong oleh bapak sintia.
“Bapak gak papa nak, yang penting kamu rajin belajar supaya kamu jadi orang sukses supaya kamu gak jadi kayak bapak sama ibu” tutur bapaknya yang sambil batuk.
Sintia tau keadaan bapaknya yang sebenarnya tidak dalam keadaan baik, dia hanya menunduk dan menangis
“Pak maaf, sintia belum bisa bahagiain bapak, sintia hanya bisa nyusahin bapak sama ibu, maafin sintia pak.” Ujar sintia yang menangis
“Kamu gak nyusahin bapak ibu nak, jangan peduliin kita’ yang penting kamu rajin belajar, rajin sekolah, doa shalat jangan lupa, doain ibu sama bapak supaya bapak ibu diberi kesehatan terus, supaya bisa lihat sintia sukses nanti.” Ungkap ibunya yang mengusap air mata sintia yang terus mengalir dari tadi.

Setelah itu sintia akhirnya memberitahukan kabar gembiranya sekolah tadi kepada bapak ibunya, kemudian mengusap air matanya.
“bu pak sebenarnya ada yang ingin sintia sampaiin pengumuman dari sekolah.” Ujar sintia yang kembali senyum dengan manisnya.
“ada apa nak?.” Jawab bapaknya sintia.
“Pak bu, sintia masuk jadi perwakilan dari sekolah untuk ikut seleksi masuk paskibraka nasional bu,” ungkap sintia dengan senang sambil megang tangan bapak ibunya.
“Alhamdulillah nak, semoga kamu bisa ngibarin itu bendera, ibu bapak juga mau lihat kamu di istana nak,” kata ibunya kepada sintia
“Iya pak bu ni juga berkat doa ibu sama bapak, mohon doanya terus pak bu katanya seleksinya banyak bu jadi terus doain sintia ya pak bu.” Ungkap sintia yang penuh haru.
Sintia kemudian memeluk dan cium bapak ibunya di kamar, mereka pun terbawa suasana yang mengharukan.

Akhirnya tiba dimana sintia dan sahabatnya ani mulai melakukan seleksi dari 500 siswa 30 diantaranya lulus seleksi paskibraka kota termasuk sintia dan ani yang lulus, kemudian sintia dan ani akan lanjut seleksi ke provinsi yang dimana akan diambil 17 orang yang lulus seleksi, dan dengan usaha dan doa sintia dan ani mereka pun berhasil masuk keprovinsi, tinggal menuju satu langkah lagi sintia dan ani akan menggapai impian mereka menuju ke istana yaitu paskibraka nasional.

Setelah beberapa hari kemudian sintia dan ani sedang menunggu hasil yang diumumkan dimana hasil yang akan diumumkan menyatakan mereka akan menjadi pengibar bendera di istana negara kelak. Tiba-tiba berapa jam kemudian seleksi pun diumumkan
“No 45” seru panitia disana
Di mana NO 45 adalah nomor punggung dari Sintia di mana pada saat itu ruangan yang lolos dan tidak lolos dipisahkan, akhirnya sintia pun ikut bersama rombongan yang dipanggil ke ruangan lainnya.
“Selamat kalian yang berada di ruang ini kalian lulus seleksi untuk Pakibraka nasional” ujar panitia dari sana.
Dan sintia pun menangis haru dan sujud syukur serta berpelukan dengan temannya yang lulus, ternyata sintia dan seorang cowok dari SMA yang berbeda merupakan perwakilan dari provinsinya bersama 33 provinsi lainya. Dibalik kebahagiaannya sintia tahu sahabatnya ani pasti sedih dia tidak lolos ke nasional tetapi sintia tau pasti ani akan mengibarkan bendera untuk paskibraka provinsi bersama gubernur.

Akhirnya sintia pun mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtuanya.
“Pak bu makasih doa-doanya sehingga sintia bisa lolos ke istana bu, sekarang ibu bapak sintia nanti akan ke istana bu, lihat presiden, kan biasanya bu pengen banget lihat presiden secara langsung, jadi sintia persembahin ini buat bapak sama ibu” tutur sintia yang matanya berkaca kaca sambil memandang ibunya.
“Ni jerih payahmu nak, ibu sama bapak Cuma bisa doain yang terbaik buatmu nak, nanti kalau di sana jangan lupa shalat dan jangan melawan sama kakak pembinanya ya.” ujar ibunya yang menangis haru sambil memeluk sintia.
“Bapak bangga sama kamu nak, dengan keadaan bapak seperti ini kamu terus menoreh prestasi, maafi bapak ya nak, belum bisa bikin kamu bangga, doai bapak supaya bapak bisa melihat kamu mengibari bendera di istana ya nak.” Ungkap bapak sintia yang masih sakit.
“Bapak ngomong apa, bapak pasti sembuh bapak jangan kalah sama penyakit bapak, bapak harus lihat sintia di istana ya pak nanti, sintia sayang bapak.” sintia mencium pipi kanan dan kiri bapaknya.

Akhirnya hari yang ditunngu sintia akan pergi ke jakarta untuk masa karantina selama sebulan, sintia ditemani oleh ibunya kebandara karena bapak sintia masih sakit.
“Sintia ingat selalu pesan ibu sama bapak ya.” Kata ibunya yang kembali menangis.
“Iya bu, sintia tidak akan pernah melupakan pesan ibu dan bapak, salam buat bapak ya bu, ibu juga jangan banyak kerja, nanti sakit.” sintia dan ibunya pun berpelukan dalam tangis yang haru.
Dengan berat hati sintia pun pergi meninggalkan ibu dan bapaknya yang lagi sakit di kamar yang kecil, namun sintia tau dia harus tetap profesional dan berangkat menuju jakarta.

Setelah beberapa hari sintia dikarantina, untuk mengikuti pelatihan, tiba-tiba terdengar kabar bahwa bapaknya sintia telah meninggal dunia karena sakitnya yang parah, sontak kabar itu pun terdengar dari pelatih tetapi semua pelatih belum berani untuk memberi tahu kan kepada sintia sendiri karena sintia sendiri anaknya tekun dan rajin selalu bagus dalam pelatihan, jika mendengar kabar ini akan menurunkan konsentrasinya untuk mengibarkan bendera.

Hari terus berlalu, jam terus berputar sintia tetap menjalani aktivitasnya di karantina, sintia selalu menjalankan pesan kedua orantunya untuk tidak meninggalkan namanya Shalat 5 waktu, walaupun sintia sendiri belum mengetahui keadaan bapaknya di rumah yang sudah meninggal.

Tepat dimana hari pengukuhan pasikibraka nasional oleh presiden disaat itu lah hari yang pas untuk memberitahukan kepada sintia apa yang terjadi pada bapaknya. Sintia dipanggil khusus oleh presiden, karena presiden sendiri sudah mendengarkan kabar bahwa bapaknya sudah meninggal.

“Sintia anakku, saat ini engkau sudah menjadi putri terbaik bangsa, terus semangat dan raihlah prestasi sebanyak mungkin dan pantang menyerah, kamu tahu saya akan memilih kamu untuk membawa kan baki bendera pada pengibaran bendera nanti” Tutur Presiden
Tentu saja itu membuat sintia bangga dan terkejut mendengar kabar itu, di dalam hati sintia dia ingin sekali bapak dan ibunya segera tahu bahwa dia yang akan membawa baki nantinya.
“Tapi sintia saya mohon kamu akan kuat mendengar kabar ini dan jangan menyerah, karena kamu sudah melewati ini, kamu harus tetap kuat apapun itu.” ungkap presiden yang mulai haru
“Siap pak” tutur sintia yang mengangguk
“Sintia saya turut berduka cita karena bapakmu sudah meninggal karena sakitnya yang parah.” Presiden pun mulai haru dan berat menyampaikan informasi ini.
Sontak sintia terkejut dan menangis sejadi-jadinya diistana dan sintia pun terduduk lemas hampir mau pingsan mendengar kabar tersebut.
“Bapak… bapak sudah janji ingin melihat sintia di istana, kenapa bapak pergi begitu cepat, bapak jangan tinggalin sintia pak, sintia belum bikin bangga bapak, maafin sintia yang jauh dari bapakkkkk…!!!” ungkap sintia yang menangis dan sedih

Dukungan moril dari teman-teman seperjuangan yang terus didapatkan sintia kembali membuat sintia semangat kembali, dalam suasan hati yang tak menentu sintia bertekad dia harus bikin bangga bapaknya yang sudah ada di surga, dia tidak ingin mengecewakan bapaknya lagi, sintia berjanji dia akan membawa baki bendera ini dengan sukses demi almarhum bapaknya.

Tepat dihari 17 agustus sintia pun menjadi pembawa baki dengan seragam paskibrakanya dengan bangganya sintia membuktikan bahwa ia bisa profesional dalam menjalankan tugasnya karena sintia tahu tugasnya ini adalah tugas yang berat dan dia tidak akan mengecewakan almarhum bapaknya dan negara Indonesia. Sampai di anak tangga dimana sintia akan menerima bendera dari presiden dengan tenangnya sintia melakukan dengan lancar seperti tidak terjadi masalah apapun.

Pengibaran bendera pun telah selesai semua para hadirin istana negara memberikan tepuk tangan karena paskibraka nasional ini sudah berhasil mengibarkan bendera dengan lancar tanpa hambatan, tanpa disadari air mata haru sintia menetes dengan sendirinya karena sintia merasa bangga apa yang sudah dilakukanya selama ini sudah membuahkan hasil, mimpinya menjadi anggota paskibraka nasional akhirnya tercapai.

Saat yang mengharukan sintia melihat ibunya dari kejauhan, ibunya yang merawatnya, yang jualan tiap pagi subuh untuk menyekolahkannya kini di istana melihat dia membawa baki untuk presiden, sintia pun berlari memeluk ibunya penuh haru dan sedih.
“Bu maafin sintia, disaat bapak sakit sintia tidak ada, tidak merawat bapak bu, maafkan sintia ya bu” ungkap sintia menangis sejadi-jadinya di pelukan ibunya.
“Nak, kamu sudah membahagiakan bapakmu yang di sana nak, jadi kamu jangan sedih ini sudah jalan takdir allah nak.” Tutur ibunya sedih mengusap air mata sintia
“Terima kasih ya bu sudah menjadi penyemangat sintia selama ini, ibu sehat selalu ya supaya bisa melihat sintia sukses nanti,” ujar sintia yang tidak bisa lepas dari pelukan ibunya.

Ibunya dan sintia pun akhirnya menangis haru dan bahagia, kini mereka menjalani kehidupan denga berdua tanpa seorang pria yang hebat yang menjaga mereka dan membimbing mereka seperti dulu, sintia membuktikan bahwa anak yang kurang mampu pun bisa menggapai impianya, dari jualan sayur mayurlah sintia bisa meraih impianya yaitu menjadi “PASUKAN PENGIBAR BENDERA PUSAKA NASIONAL”

Cerpen Karangan: Memo Lukito
Facebook: Memo Lukito
Nama saya memo lukito, saya tinggal dipalembang provinsi Sumsel, tanggal lahir saya 02 05 1995 hobi saya membaca, menulis, browsing, dan mencari pengalaman yang baru, saya sekarang masih mahasiswa semester VII dijurusan Ilmu Keperawatan di Perguruan tinggi kota Palembang, alamat twitter/Instagram : @lukitomemo. Dan alamat email saya : Memolukitolukito[-at-]gmail.com Motto hidup saya : Pintar adalah bagian dari Usaha.

Cerpen Sayur Mayur Mengantarku Ke Istana merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Siapa yang Bersabar Pasti Akan Beruntung

Oleh:
“Assalamua’alaikum ibu, Aku pulaanggg…” teriakku setelah sampai rumah. Tidak ada yang menyahut. Kemana ibu? pikirku. Apakah ibu bekerja? tapi ini kan hari Sabtu, biasanya hari Sabtu dan Minggu ibu

Sebuah Cerita dari Sepasang Mata

Oleh:
Merah pada tangkup bibirnya boleh jadi tiada bergeming. Namun kelopak retinanya, lihatlah. Atau lebih tepatnya, dengarlah. Ia tengah bercerita. Tengah mengibaratkan dirinya sebagai sepasang kekasih. Dalam hal ini mungkin

Sepatu Yang Tertukar

Oleh:
Saat itu jam kelima baru dimulai. Jam kelima senin ini adalah matematika. Pelajaran yang cukup membosankan di siang hari. Ditambah dengan soal-soal rumit yang diberikan guruku waktu itu. Kelas

Cinta Indah Yang Kau Berikan

Oleh:
Adit, itu namaku, aku aku dikenal sebagai anak yang pendiam di kelas tapi kata teman teman ku aku mempunyai wajah yang cukup ganteng, tapi sampai saat ini aku ngak

Tak Selamanya Pahit Itu Pahit

Oleh:
Gelap. Semuanya menjadi gelap. “Fira bangun Firaaa” teriak orang yang mengelilinginya. Siang itu sangat panas belum lagi sesak orang yang mengerumuni gadis enam belas tahun yang begitu lemah untuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Sayur Mayur Mengantarku Ke Istana”

  1. dinbel says:

    Kerensss, sukses bikin aku baper bacanya. Goods jobs deh buat pengarang. Di tunggu karya selanjutnya yaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *