Seakan Tuhan Tak Adil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 10 September 2014

Terkadang kita hidup seakan merasa sendiri walau banyak orang di sekeliling kita. Entah mengapa itu yang aku rasakan saat ini, aku memang anak terakhir dari 6 bersaudara dan kelima kakakku sudah menikah mereka semua laki-laki aku perempuan sendiri. Kini aku seolah seperti binatang buas peliharaan yang di kandang namun tetap masih mempunyai status ada yang memiliki dan ada yang merawat, tapi sepertinya aku adalah peliharaan yang kurang beruntung karena aku tak semestinya dirawat sama si pemilik melainkan hanya sebagai pajangan dan status bahwa si pemilik memiliki binatang peliharaan yang buas.

Mungkin sekilas hidupku dipandang enak oleh orang lain, karena mereka menganggap aku adalah anak orang kaya yang memilik 5 saudara laki-laki yang semuanya sukses dan memiliki banyak uang. Tapi apa mereka tau saat ini yang aku rasakan?

“Tok.. tok.. tok”
“mmm.. siapa?”
“La, bangun ini udah siang sarapan dulu”
“iya mba, sebentar”

Inilah kehidupanku, saat ini aku sedang berada di rumah ayahku. Aku sedang liburan semester ke-3, sehingga aku memutuskan untuk liburan di rumah dan meninggalkan kost. Ibuku sudah lama meninggal sejak aku lahir, sampai sekarang aku pun tak pernah melihat wajah asli ibuku selain di foto.

Pagi ini kakakku yang nomor 3 kak Fadil bersama istrinya mba Bintang sedang mengunjungi ayah. Di rumah ayah tinggal sendiri, kalau aku tinggal di kost dan kakak-kakakku tinggal di rumahnya masing-masing ayah sendirian di rumah. Namun tampaknya hari ini sedikit berbeda, ayah tidak sendiri lagi karena ada aku, kak Fadil dan mba bintang yang nemenin ayah untuk beberapa hari kedepan.

“La, kamu libur semeter berapa minggu?”
“Mungkin sampe 1 bulan lebih mba, kenapa?”
“terus apa kamu mau disini terus bersama ayah sampai liburanmu selesai?”
“sepertinya begitu mba”
“baguslah kalau begitu, kakak sama mba bintang Cuma 2 minggu disini La. 2 minggu yang akan datang kakak sama mba Bintang mau pulang ke rumah, karena kakak harus kembali bekerja begitu juga mba Bintang”
“oh, iya kak ngga apa apa biar aku sama ayah disini berdua”
“tapi inget yah La, kamu jangan keluar rumah. Lala cukup di rumah aja nggak usah keluar buat main-main yang nggak penting dan hanya buang-buang waktu saja”.
Begitulah kak Fadil, ia mulai melarangku untuk ini dan itu. Dan entah mengapa bisa kebetulan mba Bintang juga bersifat sama seperti kak Fadil. hhhh…
“Iya La, kamu mending di rumah bantuin ayah dari pada kamu keluar rumah yang ngga perlu mending waktunya kamu gunain buat belajar aja”
“iya… iya Mba, kak. Lala denger kok dan Lala mengerti”
“baguslah kalu kamu mengerti itu tandanya kamu sudah dewasa, ayo lanjutkan makan”
Hhhh… seakan telingaku menolak mendengarkan aturan-aturan kakak-kakakku yang serba semuanya dilarang. Berfikirnya aku udah dewasa tapi masih diatur-atur seperti anak kecil saja.

Dua minggu berlalu, dan ini berarti waktunya kak fadil dan mba Bintang pulang ke rumahnya sendiri, dan tinggal aku sama ayah yang di rumah. Aha, aku berfikir akan sedikit bebas bila kak fadil dan mba Bintang tidak ada di rumah ayah.
“La, kakak sama mba Bintang pulang dulu. Kamu hati-hati disini jaga ayah ya”
“Iya kak, siaaap”
“Ayah, aku sama Bintang pergi dulu ya ayah sama Lala hati-hati di rumah”
“Ya sudah, kalian juga hati-hati di jalan yah Dil”
“Iya yah…”
Saat itu hatiku berbunga-bunga melihat kak Fadil sama Mba Bintang memasuki mobilnya dan akan segera pergi dari rumah ini. Ini tandanya aku bakalan bebas untuk main.. heheheh.
Namun, entah apa yang membuat pintu mobil itu terbuka dan kak fadil keluar dari mobilnya lalu menghapiri aku dan ayah.
“loh, kak fadil kok balik lagi? Ada yang ketinggalan?”
“La, kakak mau ingetin sekali lagi sama kamu. Kamu nggak boleh keluar rumah kecuali keluar sekeliling desa kita. Kamu cukup bantuin ayah di rumah dan nggak boleh kemana-mana”
Baru saja aku fikirkan, mungkin kak fadil akan lupa dengan pesannya minggu lalu. Tapi ternyata masih ingat juga. Hhh…
“Iya kak, Lala inget kok pesan kak fadil”
“Ya sudah bagus, Ayah tolong jangan biarakan Lala keluar rumah untuk hal yang tidak perlu ya yah?”
‘iya, sudah.. sudah lah Dil, kamu segera berangkat istrimu menunggu itu”
“iya yah fadil permisi dulu. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”

Akhirnya kak Fadil pergi juga dan hanya ada aku dan ayah berdua dirumah. Siang itu, aku bingung mau ngapain di rumah, hari-hariku terasa bosan aku saja sampai tak punya teman banyak. Hanya beberapa saja yang aku kenal. Ufff…
“Lala, kamu ngapain melamun disitu?”
“Ayah, Lala bosan yah di rumah terus. Sejak Lala kecil lala selalu nggak punya teman. Bahkan sekolah lala pun di asrama yah. Dan sekarang Lala udah kuliah, kak Fadil masih bersikap seolah-olah lala masih seperti anak kecil. Bahkan bukan hanya kak fadil, Kak Ridwan, Kak Gusti, kak Rofi dan Kak Rudi juga begitu yah sama Lala. Kenapa sih yah?”
“La, mungkin kakak-kakakmu besikap seperti itu juga untuk kebaikan kamu. Sejak ibumu meninggal, kakak-kakakmu berusaha ingin menjagamu. Karena kamu anak perempuan satu-satunya di keluarga ini.”
“tapi kan yah, Lala juga punya rasa bosan dan jenuh, lala pengen punya banyak temen dan nggak sendiri di rumah seperti ini”
“ya sudah, nanti sore lala jalan-jalan saja keliling kampung ini pakai motor sambil refreshing supaya lala nggak jenuh lagi”
“mmm.. boleh yah jalan jalan pake motor?”
“iya boleh, itu kan motor Lala”
“asiikkk.. makasih yah ayah. Tapi ayah jangan bilang-bilang sama kak fadil ya yah?”
“ya tentu enggak donk La, ya sudah sekarang masih siang mending Lala tidur dulu nanti sore baru Lala keluar jalan-jalan”
“iya yah, iya makasih ya ayah”

Hari itu setelah kepergian kak fadil dari rumah, aku merasa senang karena ayah mengijinkan aku untuk jalan-jalan keliling kampung membawa motor.
Sore hari aku mempersiapkan diriku dan kendaraanku untuk berkeliling kampung. Argg.. sungguh sedikit agak terbebas dari penjara bisa menghirup udara segar. Tapi belum jauh dari rumah aku merasa sangat haus hingga aku berhentikan sepeda motorku di sebuah toko.

“Permisi bu, saya mau beli minuman dingin”
“Iya silahkan mba,”
“ini Bu, uangnya”
“makasih mba, oya mba sepertinya bukan orang sini yah? Baru lihat saya”
“loh bu, saya asli orang sini. Saya anaknya pak Syarif”
“Oh, kamu anaknya pak syarif yang terakhir itu ya?”
“Iya Bu.. ya udah saya permisi dulu ya Bu”
“iya, iya Mba”

Hhh… aku sampai heran padahal toko itu tidak begitu jauh dari rumahku, bahkan mereka pun tak mengenali aku yang jelas-jelas asli orang kampung situ juga. Mungkin karena aku jarang di rumah, dan sekalinya di rumah aku nggak boleh keluar sama sekali, hanya duduk nonton tv di rumah tidak ada kegiatan lain. Membosankan!

Setelah berkeliling lama, tak terasa hari sudah larut dan waktu sudah menunjukan pukul 8 malam. Aku lupa, aku harus pulang karena ini sudah malam. Akhirnya aku menancapkan gas menuju rumah. Sampai depan rumah, terlihat sebuah mobil parkir tapi aku tak berfikir itu mobil kak Fadil karena kak fadil sudah pulang. Aku masuk ke dalam dan ternyata …
yah memang bukan kak fadil, tapi kak Gusti kakakku yang nomer 4. Aku berfikir ngapain dia datang ke rumah ayah?
“Lala! kamu darimana saja! Sudah larut begini baru pulang?”
Aku terkaget karena suara kak Gusti seperti suara petir yang tiba-tiba muncul.
“jawab Lala!”
“Aku abis dari rumah temen yang di desa sebelah kak”
“Lala, bukannya kak Fadil sudah melarangmu keluar rumah! Kenapa masih kamu langgar sih”
Ahh… bagaimana bisa kak Gusti tau semua ini? Apa mungkin kak Fadil cerita? Sepertinya begitu.
“La, perempuan malam-malam jam segini baru pulang nggak baik”
Aku kaget, tak aku kira mba Bella istri kak Gusti juga ikut kak Gusti ke rumah ayah. Argghh.. aku seperti sedang dikeroyok beribu lebah yang membisingkan telingaku dengan ocehan mereka.
“tapi, mba ini kan baru jam setengah 9”
“Lala, setengah 9 itu sudah malam. Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama kamu”
“tapi kak?”
“Akh sudahlah, kakak mau telfon kak fadil dulu kamu ini sungguh keterlaluan!”
“Jangan kak gusti”
“Sudahlah Gusti, kamu tak perlu mengadu segala.. ini semua aku yang menyuruhnya, mungkin memang kesalahan Lala yang pulang agak telat, tapi kan nggak usah kamu sekasar itu”
“nggak bisa yah, Lala harus dikasih pelajaran”
Tak peduli dengan omongan ayah, kak Gusti nekad menelfon kak fadil untuk mengadukan semua yang aku lakukan hari ini. Entah apa yang mereka bicarakan di telfon dan sepertinya kak fadil marah besar atas kejadian ini.

“Besok kak Fadil akan dateng kesini dan dia akan beri peringatan ke kamu, Ayok Bela kita pulang”
Dengan buru-buru pamit dengan ayah, kak Gusti keluar dari rumah dan pergi mengendarai mobilnya bersama istrinya. Aku tak bisa menahan air mataku malam itu. Aku berfikir, akan ada apalagi besok?
“Ayah, Lala takut.. kenapa kak Gusti sejahat itu sama Lala yah?”
“sabar lala, mungkin kak Gusti memang bermaksud baik sama kamu, tapi ia tidak bisa menangani kamu jadi ia menelpon kak Fadil. Karena kak Fadil lah yang mengurus semua keperluan kamu dari kecil.”
“tapi yah, apa yang akan dilakukan kak fadil besok sama aku? Aku takut, kak fadil pasti marah besar sama aku”
“udahlah, kamu tenang saja.. ayah akan bela kamu. Sekarang sudah malam kamu tidur sana”
Tanpa berfikir panjang lagi aku meninggalkan ayah sendiri, aku langsung masuk ke kamar dan berbaring di kasur sambil membayangkan. Hal apa yang akan terjadi besok saat kak Fadil datang? Entahlah…

Pagi hari pun tiba, aku bangun pukul 06.00 wib. Dengan terkejut aku melihat kak Fadil sudah berada di depan TV yang ruangannya tidak jauh dari kamarku. Tapi nampaknya dia sendiri tak bersama Mba bintang. Aku berlari ke kamar mandi untuk mencuci muka. Selesai aku dari kamar mandi sepertinya kak Fadil melihatku, tanpa basa-basi kak fadil memanggilku.
“Lala! sini kamu!”
“Iya kak,”
“Apa bener kamu keluar rumah kemarin sore dan pulang malam?”
“Iya kak, maaf!”
“lala, kamu sudah berani membantah kakakmu”
“maafin Lala kak”
“sudah.. sudah.. kali ini kakak maafkan kesalahanmu tapi lain kali kalau terjadi lagi, kakak akan mencabut semua fasilitas yang kakak beri ke kamu. Dan uang saku, kakak nggak akan kasih lagi. Terserah kamu mau seperti apa kakak tidak peduli”
“tapi kak, nggak harus uang saku juga kak”
“La, kamu itu sudah dewasa, kuliah udah semester 3 kamu harusnya sudah paham dan bisa mandiri. Sudahlah kakak nggak mau berlama-lama ngomong sama kamu. Kamu pasti bisa mengerti semua omongan kakak tadi dan kakak harap kamu tidak menyepelekan. Kakak pergi dulu.”

Kak fadil pergi menninggalkan rumah ayah. Dan sepertinya ayah sedang pergi ke sawahnya karena sejak aku bangun aku tak melihatnya. Arrgghhh… apalagi ini? Kak fadil sampai mengancamku. Dan aku yakin ini bukan hanya sekedar ancaman. Arrggghh begitu hidupku sulit untuk dimengerti, kenapa aku lahir dalam keluarga ini yang penuh aturan.
Hari itu aku melewatkannya seperti biasa hanya duduk-duduk di depan tv. Sungguh sangat membosankan.

Tak terasa sudah 1 bulan liburan berlalu dan berarti kini tinggal satu minggu lagi jatah liburku dirumah bersama ayah, karena minggu depan aku sudah harus kembali ke kost untuk memulai aktifitas kuliah lagi.
Pagi itu saat aku sedang bersantai di teras depan rumah, aku mendapat pesan singkat dari salah seorang temanku dari desa sebelah yang dulu waktu SMA satu asrama. Ia mengirim pesan bahwa aku mendapat undangan ulang tahun dari temanku tapi tak sempat memberikan kartu undangannya untukku jadi hanya lewat pesan singkat saja. Rini nama temanku yang akan berulang tahun dia juga satu asrama dulu denganku waktu SMA. Dalam pesan singkat itu dia berharap sekali aku datang untuknya hari rabu jam 7 malam. Aku berfikir ini gawat karena aku tak mungkin bisa keluar malam aku takut kakakku akan tau seperti halnya kemarin. Tapi di sisi lain aku ingin sekali bertemu teman-temanku waktu SMA dulu aku ingin bersenang-senang dengan mereka. Hingga aku putuskan untuk datang ke pesta ulang tahun Rini.

“Ayah, aku mau minta izin”
“Ada apa Lala?”
“Ayah, teman Lala ada yang ulang tahun besok malam. Lala ingin datang kesana yah?”
“jam berapa La?”
“jam 7 malam Yah, boleh ya? Tapi ayah jangan bilang-bilang kak Fadil ya Yah?”
“Baiklah La, kalau kamu mau datang. Tapi kamu hati-hati ya La malam malam pergi sendiri”
“beneran boleh yah? Asiikk.. iya yah makasih yah ayah”

Hari rabu malam kamis tepat pukul 19.00 wib aku berangkat dari rumah menuju rumah Rini untuk menghadiri pesta ulang tahun Rini, tak lupa dengan kado yang aku bawa untuk hadiah ulang tahun Rini. Sampainya di rumah Rini, sungguh ramai dengan hiasan dinding dan balon-balon serta kue ulang tahun Rini yang begitu menggugah selera. Aku benar-benar menikmati pesta malam itu dengan bercanda dengan teman-teman, seakan hidupku terbebas dari jerat yang selama ini ada pada diriku.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 wib. Acara pun akan segera berakhir, aku tak enak hati dengan Rini apabila aku harus pulang sebelum acara selesai. Acara selesai tepat pukul 22.30 wib, tapi ini sudah larut malam aku takut kalau pulang mengendarai motor sendiri. Sehingga aku memutuskan untuk menginap di rumah Rini malam itu.
“Rin, ini udah malem banget. Aku boleh yah nginep di rumah kamu?”
“ya tentu boleh donk La, lagian mana tega aku biarin kamu pulang sendiri. Ayok tidur di kamarku”

Akhirnya malam itu aku tidur di rumah Rini. Pagi harinya aku memutuskan untuk pulan pagi-pagi sekitar jam 6 pagi, karena aku takut akan ada kakak yang tiba-tiba nongol di rumahku.

Sesampainya di rumah, aku merasa lega karena tidak ada mobil kakak yang parkir depan rumah, berarti ini tandanya aku tidak akan kena marah.. yeesss!
Tepat depan pintu, ketika aku akan membuka pintu tiba-tiba pintu kebuka sendiri dan ada suara orang dari balik pintu itu.
“Lala, dari mana saja kamu semalaman!”
Kakak, iyah itu suara kak Fadil. Bagaimana ia ada disini sedangkan mobilnya tidak terparkir di depan. Aduh… mampus aku!
“Lala, masuk!”
“kak Fadil, kok ada disini mana mobilnya kak?”
“kamu jangan mengalihkan pertanyaan kakak!”
“Darimana saja kamu semalaman ini sampai pulang pagi begini!”
“ma… ma… maaf kak aku dari acara ulang tahun temen, tapi acaranya selesai tengah malem aku nggak berani pulang jadi aku tidur di rumah temenku yang ulang tahun itu.”
“kamu udah berani melanggar aturan kakak yah La! ngapain kamu ikut ke pesta itu segala, disitu banya anak-anak yang tidak benar! kamu mau ikut-ikutan rusak! kamu sampai tidak menghubungi ayah kalau kamu nginep di tempat temen kamu! Kamu nggak tau kalau ayah khawatir sama kamu!”
“maaf kak, aku Lupa”
“Lupa kamu bilang! Bener-bener kamu itu nggak bisa diatur yah La. Sudah sini kunci motor dan ATM.. sudah pernah kakak bilang kan, kalau kamu langgar aturan kakak, kakak bakal cabut semua fasilitas yang kakak kasih ke kamu! Cepet sinih!”
“tapi kak,”
“tapi apa lagi? Cepet sini kasihkan ke kakak!”
“kakak itu egois banget sih! Kakak itu nggak tau perasaan aku, aku udah bukan anak kecil lagi kak, dari aku kecil aku selalu nurut sama omongan kakak sama aturan kakak. Dan sekarang aku udah gede kak, aku juga pengen punya temen. Sampai tetangga kita sendiri aja nggak tau aku ini anaknya pak syarif karena aku selalu dikurung di rumah dan nggak boleh kemana-mana! Sampai kapan sih kak, kakak mau seperti ini terus sama aku? Aku capek kak dengan semua aturan-aturan kakak itu!”
“oh, ya bagus.. berarti sekarang kamu urus saja diri kamu sendiri dan kembalikan semua fasilitas yang kakak kasih ke kamu La”
“ini kak ambil semuanya aku nggak butuh!”
“Fadil, kamu ini apa-apaan sama adik kamu jangan terlalu keras begitu. Beri Lala sedikit kebebasan untuk bergaul dengan teman-temannya, dia udah dewasa dia pasti tau mana yang baik dan mana yang buruk”
“sudahlah ayah, percuma ngomong sama orang yang keras kepala seperti kak Fadil ini. Aku sudah capek”
Aku sudah nggak tahan lagi dengan sifat kakakku yang terlalu posesif dengan aku, selalu mengekang dan selalu melarang apa yang aku lakukan. Kadang aku berfikir, seandainya ibu masih ada, mungkin tak akan seperti ini? Kenapa ibu harus meninggal saat melahirkan aku, kenapa aku harus lahir di keluarga ini. Seakan Tuhan tak adil kepadaku. Semua fasilitas yang kakak kasih sudah tidak di tanganku lagi, aku sudah tidak punya apa-apa sekarang.

Liburan tinggal 3 hari lagi, apa yang harus aku lakukan? bagaimana aku kembali ke tempat kost kalau tidak ada kendaraan dan uang? Apa aku harus minta sama ayah? Kasihan ayah, selama ini juga semuanya diatur oleh anak-anaknya. Kenapa sih harus ada kakakku!

Sudah 2 hari ini, aku malas sekali keluar kamar. Apa yang harus aku lakukan juga aku bingung, sehingga aku memutuskan untuk berdiam diri di kamar.
“Tok, tok, tok”
“masuk…”
“La, kamu udah 2 hari ngga keluar kamar. Kamu kenapa? Ayok sarapan La”
“Ayah, aku bingung kenapa aku harus punya kakak yang begitu jahatnya sama aku Yah..”
“ssttt.. kamu jangan bicara seperti itu, bagaimanapun juga dia adalah kakakmu dan sebenernya mereka sangat sayang sama kamu”
“sudahlah ayah, tak usah ayah membela mereka terus menerus”
“maafkan ayah Lala”
“tak apa Yah… ayah, aku bingung hari minggu besok aku harus sudah kembali ke kost karena senin pagi aku sudah mulai kuliah tapi aku bingung ayah semua fasilitas yang kakak kasih ke aku sudah diambil termasuk uang dan atm ku ayah. Aku harus giamana?”
“tenang saja Lala, ayah masih punya simpanan uang untuk kamu besok berangkat ke kota. Sebentar ayah ambilkan uangnya dulu yah”
“Yang bener yah? Iya.. iya.. makasih ya ayah”
Ayah ternyata masih punya simpanan uang untukku dibawa, setidaknya aku ada ongkos untuk kembali ke kost. Untuk hari selanjutnya biar nanti aku fikirkan jalan keluarnya.
“Lala, ini uang untuk kamu besok pergi kembali ke kost. Kamu simpan yah”
“makasih ayah”
“Lala, kembalikan uang itu sama ayah!”
“Kak fadil?”
Aku terkejut kenapa bisa kak fadil tiba-tiba sudah ada di rumah ayah.
“kamu sudah berbuat kesalahan masih saja meminta uang sama ayah, kembalikan uang itu. Dan kamu harus berusaha sendiri untuk mencari uang”
“fadil! kamu itu sudah keterlaluan, biarkan Lala memakai uang ayah”
“Ayah, dia harus bisa terima hukuman atas semua perbuatanya!”
“kamu jangan keterlaluan seperti itu, bagaimanapun juga dia itu adik kamu. Kamu jangan seenaknya begitu. Kamu sudah keterlaluan Fadil”
“tapi ayah..”
“argghh sudah sudah, ini kak uang yang kakak mau! ambil kak ambil. Dan sekarang juga aku akan pergi dari rumah ayah!”
Aku berlari keluar dari rumah ayah, kak fadil sudah bener-bener keterlaluan.
“Lala, kamu mau kemana?”
Ayah sepertinya memanggilku tapi aku tak berbalik arah karena saat itu aku sudah benar-benar muak dengan kak Fadil.

“Liat fadil, ini semua gara-gara kamu”
“Biarin saja ayah, dia sudah besar dia bisa mengurus dirinya sendiri”
“kalau sampai terjadi sesuatu sama Lala, aku tidak akan menganggapmu anakku lagi! Dasar keras kepala!”

Aku tidak tahu kemana harus aku langkahkan kaki ini, mungkin aku akan ke rumah Rini. Sungguh aku benar-benar tidak tau harus bagaimana.
“Loh, lala?”
“Rini,”
“kenapa kok kamu nangis? Ayo sini masuk. Duduk La, ada apa coba cerita sama aku La”
Aku tak bisa menahan air mataku ketika aku bercerita dengan Rini.
“Rin, aku sudah capek hidup Rin.. aku capek”
“huss jangan bicara seperti itu, kamu ini kenapa?”
“aku capek Rin, kenapa aku lahir di keluarga seperti ini. Aku punya kakak yang keras kepala terutama kak fadil. Dari kecil aku udah nurutin semua aturannya dan sekarang aku mau bebas Rin, tapi kenapa masih dikekang! Orang di luar sana mungkin mikir jadi Lala itu enak, punya kakak kaya raya semua, tapi menurutku engga Rin. Aku capek dengan semua ini. Kenapa Tuhan nggak adil sama aku. Kenapa Tuhan memberikan cobaan begitu besar sama aku Rin?”
“sssttt… La, kamu jangan seperti itu, kamu tidak boleh menyalalahkan Tuhan. Semua ini adalah takdir dan kamu tidak boleh menyalahkan takdir juga. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya, percayalah”
“tapi, aku sudah capek Rin.. capek dengan semua ini”
“Sabar La”
Aku sampai menangis tersedu-sedu di pangkuan Rini kenapa nasibku seperti ini? Aku memang punya segalanya, tapi aku bener-bener nggak bahagia dengan semua ini.

“Ya udah Rin aku mau pergi dulu”
“Loh, La kamu mau kemana? Disini aja sama aku”
“entahlah Rin aku mau kemana, aku bingung.. tapi biarkan aku sendiri”
“ya sudah kalau maumu begitu, tapi hati-hati yah La”
“Iya Rin..”

Keluar dari rumah Rini aku pun tidak tahu aku harus kemana, mungkin ke pantai tempat yang cocok untuk aku menyendiri. Iyah, aku pergi ke pantai siang itu.
“Mba, mau kemana?”
“ke pinggiran pantai Pak”
“jangan deket-deket pantai mba, soalnya ombak lagi tinggi”
“Makasih pak, tapi aku akan hati-hati”
Aku tak menghiraukan ucapan nelayan itu, kakiku terus melangkah dan aku duduk di pinggiran pantai dengan merenungi semua nasibku. Kenapa aku terlahir di keluarga seperti ini. Aku capek ya Tuhan.. aku capek, engkau tak adil. Aku berteriak melepaskan beban fikiranku.
“arrrggghhhhhh!!! Tuhan tidak adil, kenapa aku terlahir di keluarga ini? keluarga yang sama sekali tak membuatku bahagia!!”

Sejak saat itu aku tak ingat apa-apa lagi, aku seperti tergulung ditelan ombak. Sampai aku terbangun, aku sudah terbaring di sebuah kamar yang asing bagiku. Ada ayah, Kak fadil, Kak Gusti, kak Ridwan, kak rofi dan kak Rudi serta Rini di sekelilingku. Aku terkejut, aku sebenernya dimana? Kenapa semua keluargaku berkumpul disini? Aku mulai membuka mataku pelan-pelan.
“Lala, kamu sudah sadar”
“aku dimana ayah, kenapa semuanya berkumpul disini”
“tadi siang kamu terbawa ombak di tepi pantai La, untung saja ada seorang nelayan yang bisa menyelamatkanmu”
“benarkah ayah?”
“Iya La, tapi syukurlah kamu sudah sadar dan tidak apa-apa”
“lalu kenapa, kak Fadil, kak Ridwan, kak Rofi, kak gusti dan kak Rudi ada disini?”
“La, maafkan kak fadil yah.. kakak tau kakak selama ini keras sama kamu. Tapi ini semua untuk kebaikan kamu La, kakak sayang sama kamu karena kamu anak perempuan satu satunya pengganti ibu. Tapi mungkin cara kakak salah dan kelewatan, kamu mau kan maafkan kak fadil La”
“Iya, kak Fadil maafkan Lala juga yah”
“Iya, La.. kakak janji nggak akan seperti dulu lagi kakak akan membebaskan Lala bermain sama temen-temen Lala.. tapi Lala harus janji Lala bisa jaga diri Lala yah. Kak fadil percaya sama Lala karena Lala sudah dewasa dan pasti tau mana yang baik dan mana yang buruk”
“makasih yah kak Fadil”
Aku tersenyum ketika itu, ketika mendengar pernyataan kak Fadil. Kita semua berpelukan dengan ayah. Terimakasih Tuhan engkau telah membukakan pintu hati kak fadil hingga ia tersadar. Sekarang aku yakin, bahwa Tuhan itu adil dan setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.

Selesai

Cerpen Karangan: Intan
Facebook: Jhovita Intan Sulistiiya

Cerpen Seakan Tuhan Tak Adil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cobaan Hidup

Oleh:
Tak pernah aku bayangkan, hubungan yang selama ini aku pertahankan akhirnya berantakan juga. Tak terasa sudah hampir 8 tahun aku menjanda. Awalnya aku mengira bahwa keputusanku untuk menikah lagi

Sebuah Pertemuan

Oleh:
Ya Tuhan, kenapa hidupku seperti ini? Kenapa aku tak bisa seperti mereka yang bisa asyik bermain sedangkan aku tidak?” Ujar Andi saat beristirahat di bawah pohon setelah seharian mengorek-orek

34 Km

Oleh:
Sejuk semilir angin menembus tulang rusukku. Ku singkap anak rambut yang menutupi telinga Lani. Ku usap lembut. “Vin, vin…” Ku dengar seseorang memanggilku dari luar pintu. “Vin, maaf aku

Ibu

Oleh:
Kutarik lagi tas yang melorot di pundak kananku. Pegal rasanya berjalan kaki mengelilingi kota ini. Mungkin tidak hanya diriku yang berjalan dengan menenteng amplop cokelat di tengah kota yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *