Sebatang Cokelat Dari Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 4 October 2015

Ayahku adalah sosok yang kadang menyebalkan dan kadang menyenangkan. Aku tak mampu menceritakan apa yang membuat Ayah sedikit menyebalkan. Karena itu adalah rahasia bagi keluarga kami. Intinya, Ayah bersifat otoriter. Ayah kadang menyenangkan ketika setiap pulang dari luar pulau, seperti dari Jakarta, Kupang, atau dari manalah pasti pulangnya membawakan aku dan Kakak-Kakakku sebatang cokelat. Tak hanya cokelat, kadang parfum dan peralatan mandi dari hotel yang pernah Ayah singgahi selama bekerja. Tapi, yang paling berkesan dan paling sering Ayah berikan adalah sebatang cokelat. Sebatang cokelat dari Ayah pasti mampu menyelimuti hati pahitku dengan manisnya cokelat di tiap gigitannya.

Suatu hari, Ibuku memintaku untuk membantu bersih-bersih ruangan di mana biasa Ayah bekerja di depan laptop putih itu. Aku memindahkan buku-buku Ayah ke tempat yang lebih jarang dari barang-barang lain, agar meja itu tampak lebih rapi dan berharap Ayah mampu bekerja lebih baik. Sayangnya, sepulang mengajar di suatu universitas, malam itu gempar gara-gara kemarahan Ayah. Aku masih mengunci diri dalam kamar sambil membaca buku. Tapi, wajahku sedikit takut karena perdebatan Ibu dan Ayah semakin menjadi-jadi. Ternyata, Ayah mencari buku yang tadi sebelum ku rapikan ada di meja itu. Aku pun sudah lupa dimana menaruhnya.

Tak lama kemudian, Ayah memanggilku. Aku bergegas ke luar dari kamar dan menjumpai Ayah. Ayah bertanya tentang buku itu. Ah, aku lupa betul ada di mana. Tak lama kemudian, Ayah memakiku, “bangs*t orang-orang yang pindahkan itu buku!” Padahal aku yang memindahkan. Hatiku remuk, dan mataku menahan tangis. Aku ingin segera cepat ke kamar lagi. Lalu, Ayah menemukannya. Wajahnya masih menyiratkan kemarahan dan kedendaman. Ayah kembali bekerja di depan laptop. Aku bergegas lari ke kamar dan mengunci diri. Aku menangis tersedu-sedu tapi ku tahan suara tangisku, agar tak seorang pun mengerti bahwa aku sedang menangis. Seketika itu aku benar-benar merasa tak punya siapa-siapa dan tak berharga. Karena, selama ini Ayah tak pernah sedikit pun berani memaki, memarahiku meskipun aku kadang menyebalkan. Baru kali ini.

Beberapa hari setelah itu Ayah pulang dari rumah teman dan membawakanku cokelat.
“Satu bagi dua saja ya nak. Papa hanya beli 3. Yang lain untuk Kakakmu yang ujian nasional.” aku sedikit tersenyum seraya menerima sebatang cokelat SilverQueen yang ada kulit jeruknya di dalam cokelat tersebut. Aku memakannya saat lapar melanda dan saat aku bosan melahap nasi. Lalu, ku patahkan 5 potong cokelat dan ku bawa ke ruang atas. Tapi, entah bagaimana mataku terdorong melihat Ayah.

Sepulang dari rumah kawannya, Ayah langsung bekerja di depan laptop hingga hari menjelang dini hari. Mengetik, membaca dan mengetik lagi. Atau sesekali apabila ada telepon masuk dari kolega atau mahasiswanya, dia ke luar ruangan dan berbicara lewat telepon. Suaranya mendengung di tiap ruangan dalam rumah. Bahkan tetangga kerap mendengar dan terbangun oleh suara Ayah yang keras memecah heningnya malam.

Ayah tak kenal lelah dalam bekerja menghabiskan waktu duduk di kursi ditemani sepinya ruangan. Hatiku sedikit iba. Ayah membuktikan cintanya pada anak-anak terkhusus aku dengan membeli beberapa batang cokelat. Ketika aku melahap cokelat itu, hatiku yang awalnya pahit akibat makian Ayah waktu itu telah hilang terselimuti oleh manisnya cokelat yang ku gigit.

Cerpen Karangan: Jessica Desideria Tanya
Facebook: Jesica Tanya

Cerpen Sebatang Cokelat Dari Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bioritmik Abyad

Oleh:
“Assalamuaaikum mak, Felly pulang Mak!” “Waalakumussalam, Subhanallah tambah cantik aja nak.” “Iya dong Mak, anak siapa dulu dong, Emak gitu loh, hehehe,” kata Felly sambil nyungir sumringah karena kembali

Ridho Di Tangan Suami

Oleh:
Hari yang menyenangkan bagi Sudirman, karena dia baru saja mendapkan bonus dari atasanya di tempat dia bekerja. Sudirman bekerja di sebuah Industri bagian suku cadang bidang otomotif. Setelah jam

Sejumput Kembang Untuk Dia

Oleh:
“Ibu.. bu, Ibu…” teriakku dengan suara lantang. Sore ini aku kehilangan Ibuku lagi. Sudah lebih dari seminggu. Setiap aku bangun dari tidur siangku yang sebentar, dan ketika hendak meminta

Maafkan Aku Bunda

Oleh:
Aku berada di sebuah taman hijau yang indah dipenuhi dengan bunga-bunga merah yang bermekaran, di tengahnya ada kolam air bundar yang penuh dengan susu coklat yang sangat menggiurkan, di

Aku dan Ayah

Oleh:
“Hoaahhmm…” Hari Sabtu yang melelahkan. Pagi-pagi berangkat sekolah, lalu mengerjakan PR, dan lalu mengikuti kegiatan Pramuka. Aku beranjak tidur karena sangat lelah. Minggu pagi yang cerah, aku segera mandi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *