Seberkas Cahaya Dalam Gelap

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 29 November 2016

Hari ini ulang tahunku yang ke sebelas. Tak seperti ulang tahunku yang telah lalu, kali ini aku merasa senang sekali karena pagi ini dibangunkan Ibu. Sehabis mandi, lekas kupakai seragam sekolah, memakai ransel yang sudah kusiapkan semalam, memakai kaos kaki, lalu mengambil sepatu untuk kupakai di luar.

Aku turun ke meja makan. Namun tak seorangpun yang kulihat, hanya kudengar dengungan seorang wanita dari arah dapur. Pagi ini aku tak nafsu makan. Tapi karena suasana hatiku sedang baik, maka langsung kumakan semangkuk bubur di atas meja. Melahapnya dengan rakus, walaupun rasanya agak aneh, tapi tetap terasa enak karena aku sedang senang.

“Rizky! Ayo berangkat!” Suara pamanku terdengar dari luar. Dengan cepat kutuntaskan acara makanku. Aku berlari ke luar, memakai sepatu dengan tergesa.
“jangan berlari seperti itu. Nanti perutmu sakit,” lanjutnya. Aku tak menggubrisnya.
“paman, hari ini aku dibangunkan ibu,” Kataku pada paman antusias. Namun paman hanya memandangku dengan aneh. Aku jadi heran.
“sudahlah cepat naik!” Teriak paman mengagetkanku. Mau tak mau aku segera memboncengnya.

Sepeda melaju menuju sekolahku yang bising oleh suara teman-teman.
“disini saja,” Aku tersenyum, mencium tangan paman, lalu berlari menuju temanku yang berjalan di depan.

“hei, hari ini aku ulang tahun lho!” Tukasku dengan ceria pada Eko. Temanku yang agak tambun itu menatapku dengan sebal,
“lalu apa urusannya denganku, sana pergi! dasar aneh!”

Aku benar-benar pergi setelah itu, berlari menuju kelasku yang berisik. Sangat kontras dengan aku yang terpasung hening. Hari ini hari ulang tahunku tapi tak ada yang mau menyelamati atau sekedar tersenyum padaku. Yah, aku sudah kebal dengan itu semua. Sebenarnya aku juga tak peduli apakah mereka tahu ulang tahunku atau tidak. Tak ada ruginya untukku. Yang penting hari ini aku senang. Dan aku harus memanfaatkannya dengan baik.

Kelas dimulai dengan membosankan, pelajaran bahasa kuhabiskan dengan memandang sekeliling. Dari tempat duduk paling belakang, aku melihat guru yang membosankan, papan tulis yang membosankan, kelas yang membosankan, dan teman-teman yang membosankan. Padahal hari ini ulang tahunku. Kenapa semua membosankan? Ah … Lebih baik tidur saja!

Aku pulang dari tempat yang membosankan itu dengan berlari sekencang mungkin. Aku ingat hari ini paman pasti lembur, jadi aku tak langsung pulang ke rumah karena disana pasti sepi. Aku berbelok ke sebuah tempat, di samping jalan banyak sekali pohon bambu yang melengkung. Aku berjalan penuh semangat menuju tempat yang menjadi favoritku belakangan ini.

“Ibu! Hari ini ulang tahunku lho! Aku senang Ibu membangunkanku tadi pagi, senang sekali. Walaupun siangnya aku merasa bosan, tapi hari ini aku tetap senang karena aku bisa melihat Ibu lagi.”

Kupeluk gundukan tanah yang lebat rumputnya. Rebahan disini sungguh menyenangkan. Jikapun setelah ini Ibu marah-marah padaku karena bajuku kotor, aku akan beralasan bahwa bajuku kotor karena memeluk Ibu, pasti dia tak akan marah setelahnya.

“Bu, aku baik-baik saja bersama paman, selama ini aku makan dengan baik. Bubur yang dibuatkan Ibu pagi tadi enak sekali. Aku makan dengan lahap. aku jadi tidak kangen lagi dengan Ibu, karena Ibu selalu membangunkanku setiap pagi. Aku janji akan selalu kesini setiap hari. Aku sayang Ibu.” kataku dengan semangat. Sambil kucabuti rumput di atas gundukan tanahnya, aku bernyanyi dengan senang.

Di sampingku kulihat Ibuku yang merebahkan tubuhnya, tersenyum padaku walaupun wajahnya agak pucat. Aku membalasnya dengan tertawa.

“Bu, Hari ini aku senang sekali. Terimakasih sudah menjagaku, Ibu.”

Pemalang, 1 Juni 2016.

Cerpen Karangan: Resty Indah Yani
Facebook: Indah Cho
Terimakasih sudah membaca

Cerpen Seberkas Cahaya Dalam Gelap merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Daddy O Daddy

Oleh:
Inilah rumahku, rumah yang penuh “kejutan”. Kejutan? yah, “Kejutan”. Di rumah ini aku tinggal bersama Daddy dan Mom-ku¬, ada juga beberapa penjahat kecil yang mengaku dirinya sudah dewasa yang

Gadis Kecil Tunawisma

Oleh:
Ia hidup namun ia mati Ia bernapas namun sesak yang ia dapat Ia benyanyi hanya dengan melodi perih Ia tersenyum hanya pada maut yang mendengung Tiada kasih, tiada sayang

Bersama Adikku

Oleh:
Tak mungkin. Tak mungkin ia pergi begitu saja. Aku masih sayang dia, karena dia adikku tercinta. Aku tak bisa membayangkan ia pergi untuk selamanya. Badannya yang kecil itu, mengapa

Gadis Cantik Dari Dunia Bawah

Oleh:
Di sebuah kota yang ada di negara yang terletak di belahan bumi bagian barat, tercipta sebuah hukum yang sangat aneh dan sama sekali tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadialan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *