Sebuah Mimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 January 2014

Kenapa ya di keluarga kecilku tak kutemukan kasih sayang mereka untukku, namaku Rahmi, sekarang orangtuaku tak menyayangiku, mamaku tidak peduli padaku, papaku apa lagi, aku hanya memiliki seorang adik, dia menyayangiku, namanya yunita panggilannya bisa yuni, nita atau ita tapi aku biasa memanggilnya nita.

Suatu hari aku mendengar keras jeritan adikku, mamaku terlihat khawatir dan panik sekali “apa kalau semua itu terjadi padaku mama juga akan seperti itu?” batin ku dalam hati, lalu ku pergi ke kamar. Cklek terdengar suara pintu dibuka itu adalah mamaku “mi, jika mama minta sesuatu padamu apa kamu mau melakukannya kau harus janji pada mama” kata mama “iya ma, aku mau” jawab ku “donorkan ginjal mu untuk adikmu” jawab mama dengan lantangnya “apa! Mama ingin aku mendonorkan ginjalku pada nita itu sama saja mama menginginkan aku mati. Tapi kalau itu mau mama baiklah aku akan melakukannya” jawab ku dengan perasaan sedih.

Esok harinya…
Oh, ya aku harus Periksa darah, aduh kenapa aku baru bangun jam 10 sih” kataku sambil menepuk dahiku “maaf, ma aku telat ya” kataku sambil menunjukkan wajah sedih “dari mana saja kamu. Kamu sengaja kan supaya nggak jadi periksa darah agar adikmu mati iya kan?” omel mamaku “maaf ma, aku lupa” jawabku sambil menitikkan air mata “dasar anak cengeng, bisanya nangis doang” kata mamaku dan diselingi tamparan papaku aku kembali menangis dan langsung periksa ke dokter. Ternyata darah ku cocok dengan darah nita.

Aku pulang dan kekamar nita “kak rahmi” panggil nita lembut “iya, nita ada apa” “apa kakak ingin mendonorkan ginjal kakak padaku” “iya” “tapi kenapa kak?” “karena itu merupakan kebahagiaan buat mama. Mama nggak peduli sama kakak mama lebih senang kakak mati. Ingin nit, kakak ingin merasakan dipeluk dan di cium sama mama ingin sekali tapi itu hanya sebuah mimpi, kakak bersedia mendonorkan ginjal kakak kapan saja, tapi mama menyuruh kakak mendonorkan ginjalku pada hari ulang tahun kakak hari kebahagiaan kakak. Seharusnya orang lain memberi kakak hadiah tapi kakak sendirilah yang harus menghadiahkan ke orang lain berupa ginjal untuk nita adikku, mama tega nit, mama tega” curhat ku pada nita.

Nita dan aku menangis dan papaku yang mendengar curhat ku pada nita masuk sambil memasang wajah marah “apa apaan kamu rahmi bisanya ngarang cerita supaya adik kamu kepikiran dan mati iya kan papa, tau kamu itu nakal” kata papaku ku berlari meninggalkan kamar dan adikku bercerita pada papa “pa, sebenarnya 2 tahun lalu saat papa kecelakaan dan membutuhkan donoran ginjal, itu kak rahmi yang donorin ginjalnya cuma kakak tau pasti papa bilangnya untuk cari perhatian makannya kakak bilangnya nita yang donorin ginjal buat papa” tadi ku menangis dan memaksa sahabatku Luna untuk ikut ke rumah sakit “luna temani aku ke rumah sakit ya untuk mendonorkan ginjalku untuk nita dan sampaikan surat ini untuk mama, dan papa ya aku mohon please” pinta ku sambil memohon pada luna dan ia mengangguk.

Sesampainya di rumah sakit aku langsung memohon pada dokter sementara luna mengajak adikku, akhirnya operasi pun selesai luna segera menyampaikan pesanku yaitu memberikan surat dari ku “maaf om, tante luna mengganggu sebentar ini ada surat yang dititipkan rahmi ke saya” ucap luna dengan lembut, mama dan papa pun membaca surat itu

Dear, mama papa ma, pa rahmi tau rahmi itu nakal tapi rahmi harus tepatin janji aku ke mama untuk mendonorkan ginjalku. Aku ingin pa, ma sebenernya dipeluk, dicium atau diucapkan selamat ulang tahun pada hari ini tapi itu hanya sebuah mimpi yang tak pernah tersampaikan, rahmi pengen kalau rahmi pergi mama sama papa nggak boleh nangis karena dari dulu mama pengen rahmi mati, sayangi terus nita dan buku diary rahmi yang di rumah harus mama atau papa baca setiap lembarnya sampai halaman terakhir, untuk luna terima kasih karena telah memberi tahuku apa arti persahabatan dan semuanya sekarang aku ada di surga untuk menemui ichi anjingku dahh jangan nangis ya

tak menyangka semuanya menangis tapi apa boleh buat sekarang rahmi hanya tinggal kenangan dan hanya tersedia namanya Rahmi Tsurayya sahar

TAMAT

Cerpen Karangan: Charisa Dwi Santika
Hai namaku Charisa Dwi Santika aku duduk di bangku kelas 5 sd
Hobbyku menggambar aku waktu itu pernah mengirim cerpen judulnya karangan alyena semoga dimuat ya ^^

Cerpen Sebuah Mimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat Kecilku

Oleh:
Ini adalah hari pertama bagiku menginjakkan kaki di sebuah tempat masa kecilku dahulu. Yaitu tepatnya Kota Pekanbaru. Berbagai memori dan kenangan indah telah ku lalui bersama seseorang yang aku

Kiran

Oleh:
Malam hari yang sunyi, terdengar desiran ombak yang begitu merdu. Di langit terlihat Bintang dan bulan yang indah jauh di atas sana. Kiran gadis remaja yang duduk di bangku

I’m Telatan Not Teladan

Oleh:
Senin pagi seperti biasa Indah berangkat sekolah dengan tergesa-gesa. Karena, lagi-lagi dia harus mengalami suatu kejadian yang membuatnya gelisah, Terpepet Waktu! “Pukul 06.45,” desis Indah sambil mempercepat langkah setengah

Cangkul Rindu

Oleh:
Padahal sudah jam 23:30, Lita belum juga tidur. Bocah 4 tahun ini teringat ibunya yang meninggal tiga tahun yang lalu. Ditatap terus foto ibunya lewat KTP lusuh yang ia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

5 responses to “Sebuah Mimpi”

  1. Muhamad Faruq says:

    bagus banget. aku mau nangis sendiri bacanya. hampir keluar air mataku. teruskan inspirasimu ya. kutunggu cerita yg lebih bagus dari ini :”)

  2. Mutiara says:

    aku sangat suka dengan post kamu, saat ku baca sampai menitihkan air mata. sukses selalu buat karya nya ya 🙂

  3. sindy says:

    ceritanya keren sampe terharu bacanya,terus berkarya charisa ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *