Sebuah Mukena

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 14 July 2017

Mentari tak henti-hentinya mengeluarkan senjata andalannya untuk menyerang bumi, sang panas yang masih setia bersamanya. Dapat dilihat, tampaknya mentari tersenyum begitu lebar, sebab ia tengah berada di puncaknya. Bumi pun semakin terang, eh panas maksudnya. Langkahan kaki masih terus mengiringi di sepanjang trotoar. Pemuda bernama Raka adalah pemilik kaki itu. Keringatnya bercucuran bagai air mengalir. Lembaran rupiah tampak telah dipegang oleh tangan kanannya. Itu hasil keringatnya, bekerja keras di sebuah toko bangunan.

Tiba-tiba, langkahnya membelok pada sebuah toko, semacam toko baju. Ia terdiam, begitu melihat sebuah lipatan kain berwarna putih lengkap dengan hiasan yang memperindah kain putih itu. Sebuah mukena. Mengingat mukena sang ibu telah begitu usang, ia sangat ingin membelikannya yang baru. Namun ia sadar, uangnya belum cukup untuk membeli mukena itu. Ia kembali pergi meninggalkan toko tersebut.

Hari demi hari, Raka lalui dengan bekerja lebih giat lagi. Rencananya, ia akan memberikan mukena baru itu dihari ulang tahun ibunya yang jatuh pada hari ini. Raka bersyukur lega, uangnya telah cukup untuk membeli mukena. Ia terus berjalan menuju toko yang tempo lalu ia kunjungi. Tiba-tiba, seorang lelaki memakai jaket jeans hitam, kaos hitam, semua serba hitam, berlari dengan kecepatan penuh mengambil uang yang berada di tangan Raka. Begitu sadar, Raka langsung berlari mengejar orang itu sambil berteriak-teriak menyuruh orang tersebut berhenti dan mengembalikan uangnya.

Aksi kejar-kejaran terjadi begitu sengit. Raka tak kunjung berhasil membuat orang itu berhenti berlari, meskipun pandangannya tak pernah terlepas dari orang tersebut. Ke manapun, Raka tetap mengejarnya. Pasar, parkiran, jalan raya, semua diterjang. Ia tak peduli, demi uang itu. Sebab mendapatkannya bukanlah dengan cara yang mudah. Raka sedikit tersenyum, tatkala melihat pagar tembok cukup besar berdiri kokoh di hadapan lelaki itu. “Jalan buntu.” fikirnya. Raka tetap meminta uang itu secara baik-baik. Namun hal itu ditolak mentah-mentah oleh lelaki tersebut. Justru ia berbalik menyerang Raka. Cukup cekatan Raka melayaninya. Perkelahian yang tak kunjung usai. Beberapa bagian tubuh Raka mengalami luka memar juga berdarah akibat goresan benda tajam milik lelaki itu. Namun tak apa. Bagi seorang Raka, pantang menyebutkan bahwa itu sakit untuknya. Pantang terlihat kesakitan di hadapan musuh. Sebab musuh akan tersenyum manis penuh kemenangan, begitu melihat ia kesakitan karenanya. Raka adalah pantang menyerah. Sampai akhirnya ia berhasil menumbangkan musuhnya dan mengambil kembali uangnya. Cukup mengagumkan.

Raka berjalan menuju toko itu dengan kaki kanan sedikit diseret sebab terluka akibat benda tajam tadi. Ia duduk di kursi panjang sambil menunggu mukena itu dibungkuskan. Sang kasir sedikit kasihan melihat kondisi Raka, kaki kanan terluka, kemeja kotak-kotak sobek, juga luka memar di mukanya. Namun ia tak berbuat apa-apa, hanya memberikan mukena itu lalu kembali ke meja kasir.

Satu jam kemudian… Raka sampai di rumah, mengucapkan salam, berjalan susah payah, sambil memanggil-manggil ibunya. Ibunya yang datang, shock melihat keadaan anaknya. Ia langsung membantu anaknya untuk duduk di kursi.

“Kamu kenapa nak? Kamu berantem lagi?” tanya ibu Raka penuh kekhawatiran.
“Raka enggak apa-apa kok bu. Ibu enggak usah khawatir! Biasalah, Raka kan cowok. Raka ada sesuatu untuk ibu.”. Raka mengambil sesuatu yang sedari tadi ia sembunyikan di belakangnya.
“Ini untuk ibu. Selamat ulang tahun ya bu. Maafin Raka kalau selama ini Raka belum bisa jadi anak yang berbakti sama ibu.” ucap Raka penuh ketulusan pada ibunya. Ibu Raka menangis mendengar ucapan anaknya dan melihat sesuatu yang Raka beri untuknya. Sebuah mukena. Dengan senyum terharu, ibu Raka memeluk anaknya erat-erat.

Cerpen Karangan: Ria Puspita Dewi
Facebook: Elfa Puspita

Cerpen Sebuah Mukena merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Keinginan Terakhir Ayah

Oleh:
Ali, itulah nama dari seorang anak yang dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu di Kampung Mekarsari, Sleman, Yogyakarta. Sebuah perkampungan kecil di antara perkebunan salak. Ia adalah anak pertama

Lampion Terakhir

Oleh:
Mungkin itu hanya kenangan. Biasanya, aku dan Reila membuat lampion bersama, untuk dijadikan hiasan kamar kami. Tapi, ada satu lampion yang istimewa, membuatku selalu ingin memegangnya, seolah ketika aku

Kebahagiaan Untuk Ibu

Oleh:
Aku melihat kesedihan yang mendalam dari matanya. Matanya yang dulu semangat kini seakan rapuh, bagaikan pohon yang sudah berumur ratusan tahun. Aku merasa kasihan kepada ibu karena semenjak ayah

Hijrah (Part 1)

Oleh:
Orang-orang bilang, masa SMA adalah masa-masa keemasan. Masa itu pula, orang-orang akan memilih lingkungan mana yang sreg dengan hatinya dan menjadikannya zona nyaman. Ya, mungkin begitu. Tetapi bagiku, masa-masa

I Love You Mom

Oleh:
Hari-hari aku jalani dengan susah payah. Berusaha untuk tetap sekolah. Ayahku sudah meninggal. Hanya ibu yang ku punya di dunia ini. Aku selalu iri melihat teman-temanku di antar-jemput oleh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *