Sebuah Penyesalan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Sunda, Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 6 January 2014

Bogor, Rumah Sakit PMI, Selasa 18 September 2012, 03.25 WIB

“Mah, bangun Mah…! Jangan tinggalkan Angga sendiri! Angga belum siap ditinggal Mamah! Angga janji kalau Mamah bangun, Angga akan jadi anak yang baik. Angga gak akan bikin Mamah kecewa lagi. Angga gak akan bikin Mamah dipanggil guru BP lagi. Angga janji akan bantu mamah bekerja sepulang sekolah. Mah, bangun… ayo bangun… maafin Angga mah. Angga menyesal. Tuhan jangan ambil Mamah. Aku belum bisa bahagiaakan dia Tuhan…!” teriak seorang anak yang tengan menyaksikan sang Mama berkain putih di rumah sakit. Air matanya membasahi kain penutup itu, kain pembawa kesedihan. Kain yang akan membuat Angga sendiri untuk selamanya. Kain yang akan mengubah jalan hidupnya. Kain yang akan mengubah statusnya menjadi Piatu. Piatu? mungkin lebih tepat yatim piatu. Karena dia tak pernah tau siapa Ayah kandungnya.

Bogor, Kamis 13 September 2012, 18.35 WIB

“Mah, sebenarnya Ayah Angga sipa sih…? kok Angga gak pernah tau. Angga sudah besar mah, Angga sudah 15 tahun. Atau jangan-jangan Angga anak haram seperti apa kata orang?” kata seorang anak kepada Ibunya agak sedikit kesal.
“Ayahmu telah meninggal nak. Jauh ketika kamu masih dalam kandungan Mamah!” Jawab sang Ibu penuh kasih.
“Selalu itu jawabanya. Tak adakah jawaban lain yang lebih jelas. Mamah tau, Angga kangen Ayah. Angga pengen seperti teman-teman Angga yang pulang sekolah dijemput Ayahnya.”

Anak itu lari dan pergi. Sang Mamah hanya bisa merasakan sesak dalam dadanya ketika lagi dan lagi anaknya terus bertanya tentang siapa Ayah kandungnya. Walau bagaimanapun dia tak akan mungkin bisa berterus terang pada anaknya tentang siapa Ayahnya untuk saat ini. Lagi pula itu akan mengorek rasa sakit di masa lalu yang tak mungkin terobati.
“Maafkan Mamah nak. Kamu akan tahu siapa Ayahmu bila sudah waktunya. Mamah janji, tapi bukan sekarang. Yang harus kamu tahu adalah Mamah menyayangimu lebih dari nyawa ini. Kamu adalah semangat hidup Mamah, yang membuat Mamah bisa terus bertahan. Semoga kamu bisa menjadi anak yang bisa membuat orang-orang di sekitarmu bahagia. Mamah cinta kamu anakku.” Lirih sang Ibu dalam hati.

Bogor, Rumah Sakit PMI, Selasa 18 September 2012, 03.35 WIB

“Mah… kunaon Mamah teu gugah-gugah. Angga janji, moal tanya-tanya soal saha Ayah Angga. Cukup Mamah anu aya dinu hate. Angga alim Mamah mangkat. Mah… saur Mamah, Mamah sayang ka Angga, terus kunaon Mamah bet ninggalkeun Angga? Apa ieu nu disebut kasih sayang (Mah… kenapa Mamah gak mau bangun-bangun. Angga janji, gak akan tanya-tanya lagi soal siapa Ayah Angga. Cukup Mamah yang ada di hati Angga… Angga gak mau Mamah pergi. Mah… kata Mamah, Mamah sangat sayang Angga, lalu kenapa Mamah ninggalin Angga. Apa itu arti sebuah kasih sayang)?.”
Anak itu menangis dengan semakin menjadi. Tak peduli dengan Dokter dan para Suster yang sedang ada di sampingnya. Yang Ia mau saat ini adalah Mamahnya bangun dan tersenyum seperti hari-hari sebelumnya. Mama yang tak pernah absen menyiapkan sarapan pagi walau sang Mama sendiri kadang tak makan.

Bogor, Sabtu 15 September 2012, 23.05 WIB
Di sebuah simpangan

“Ga… bukannya cewek itu nyokap loe ya? Ngobrol sama siapa dia. Wuis keren… cowoknya bawa mobil man… bokap loe kali ya…!“ kata Jun.
“Masa sih? bukanya bokapnya Angga udah meninggal bro? Atau jangan-jangan selama ini nyokap loe gak pernah ngasih tau siapa bokap loe karena dia istri simpanan cowok itu? Tapi… kok tega ya dia nelantarin loe sama nyokap loe begini. Pusing gua…” sambut Iwan.
Jun menyikut Iwan seraya berbisik “jangan mancing-mancing. bodo siah (bodoh kamu)!”

Jun dan Iwan adalah sahabat yang Agga miliki. Mereka selalu kompak di setiap konser di dalam angkot, bis maupun kereta ketika mencari sepeser dolar local (Rupiah). Dan malam ini kebetulan mereka mengamen sampai tengah malam karena sepi. Mungkin orang-orang sedang terjangkit wabah Virus P3L1T. Padahal mereka bernyanyi bak Judika lagi serak. Semakin ngerok. Hehehe…

“Bro, urang kaditu heula (aku kesana dulu)? Rek balik mah duluan wae. Ke urang nyusul (kalau mau pulang duluan aja. Nanti aku nyusul)!” Angga pergi meninggalkan kedua temanya, kemudian menuju Mamanya yang tengah bersama seorang laki-laki yang entah siapa.
“Apa mungkin ini pekerjaan Mamah?” batin Angga bergolak.
“Mah… !” Angga berteriak.
Sang Mamah yang tadinya tersenyum-senyum bersama laki-laki bermobil tadi sekarang kaget.
“A… Aa… Angga…?” setengah tak percaya sang Mama berkata.
“Ia, ini Angga… Jadi ini kerjaan Mamah tiap malem, yang Mamah bilang HALAL itu? Bener kata orang, Mamah PEL*CUR…!!!”
Plak… Serasa ditampar Anak yang ia sayang, dan memang Angga anak yang ia sayangi. Sementara sang laki-laki yang membawa mobil sedan itu pergi.
“Tidak Angga… Mamah bisa jelaskan semuanya.” jawab sang Mamah seraya menangis.
“Apa yang mau Mamah jelasin. Semuanya udah jelas. Angga ningali sorangan mama jeung germ* eta (Angga melihat mamah dengan mata kepala sendiri mamah sedang bersama germ* itu). Angga Kecewa. Sangat kecewa!”

Angga berlari tak tentu arah dan tujuan, di fikiranya hanya ada satu hal. Minum… ya, minuman keras lah yang saat ini ia perlukan. Minuman keras yang hanya ia minum ketika rindu akan sosok seorang Ayah.

“Angga… maafkan Mamah nak. Mamah memang tidak pantas dipanggil Ibu. Tidak seharusnya Mamah menghidupi kamu dengan cara seperti ini. Kamu benar, Mamah memang pel*cur. Mamah memang salah. Mamah kotor. Dan kamu berhak membenci Mamah. Tapi asal kamu tahu nak, semua yang Mamah lakuin hanya untuk kamu!“ sang Mama menangis. Lututnya lemas. Sangat menyesal itulah yang ia rasakan. Seandainya ia punya ijazah, mungkin ia takkan kerja seperti ini. Dan memang hidup di kota besar bukanlah hal mudah. Kadang pekerjaan terhormat sekalipun belum tentu halal. Sekarang halal atau tidaknya suatu pekerjaan tergantung orang dan niatnya. Tapi itu bukanlah sebuah pembenaran untuk pekerjaan seperti apa yang dilakoni Mamahnya Angga. Kini biarlah Tuhan yang menilai baik buruknya orang. Karena Tuhan lebih tahu. Karena kita hanyalah makhluk sok tahu.

“Ga… loe kenapa? Mata loe merah? Nangis loe ya?” Iwan penasaran.
“Gandeng Anj*ng (Berisik Anj*ng). Gobl*k… Aing lamun nyaho kieu mah moal menta dilahirkeun (Aku kalau tau begini gak akan pernah minta dilahirkan).” Angga berteriak dengan penuh emosi.
“Wan… Jun, gua mau minum. Uang hasil tadi berapa?” Angga bertanya pada kedua temanya.
“Sedikit aja Ga, 53 rebu. Kan hari ini sepi.” jawab Jun.
“Wan… Sekarang loe beliin minuman, gua pusing.” kata Angga lagi.
“Lah, loe tuh gimana sih… Uang 53 rebu mana bisa bikin m*bok. Beli guines dua botol aja kaga cukup. Apalagi mau beli yang mahal. Sarap. Lagian uang yang kita dapet harus dibagi 3. Dan gua gak mau jatah gua dipake m*bok. Nanti Bini gua minta duit, gua mau bilang apa? bisa-bisa gak dikasih jatah Ng*nt*t, gua! Lagian loe kenapa sih? Sewot gak jelas…!“ Iwan berkata kemudian.
“Sia ngajak ribut ka aing (kamu mengajak aku ribut)? Bosen hirupnya (bosan hidup ya)? Bawa tuh duit 53 rebu. Ng*nt*t sepuasnya sama bini loe. Sebelum bini loe di*nt*t sama orang lain. Hahahaha!” Angga melempar uang tepat di wajah Iwan.
“Bangsat… dasar banci. Loe jangan bawa-bawa bini gua. Anj*ng.” Iwan merasa tersinggung dan langsung meninju muka Angga.
Buk… tepat di hidung. Jun langsung melerainya “Wan lebih baik loe pulang. gua gak mau masalah tambah runyam. Biar gua yang ngurus Angga.” pinta Jun pada Iwan.
“Kalau gua gak inget lo temen gua, habis loe!” Iwan pergi meninggalkan Angga dan Jun.

“Ng*nt*t terus sampai mampus. M*m*k terus yang dipikirin. Udah tahu hidup belangsak, masih aja bikin anak!” teriak Angga pada Iwan.
“Ga, kenapa sih loe? Tiba-tiba marah terus minta m*bok. Sampe jual Hp pula. Bener-bener. Inget sama Bokap loe lagi?“ tanya Jun hati-hati.
“gua gak lagi kangen sama bokap gua Jun, gua cuman kecewa sama seseorang. gua sangka selama ini dia ngidupin gua pake duit halal, sekalinya duit haram. Malu gua punya Ibu macam Dia.“ jawab Angga setengah sadar karena dalam pengaruh alkohol.
“Emang nyokap loe kenapa?”
“Nyokap gua P*cun. Eh br… loe kan sohib gua, gua numpang nginep beberapa hari ya… hehehe!”
“gua sih gak masalah, tapi nyokap loe gimana?”
“gua gak peduli sama dia. Dia selalu bohongin gua. Rencana minggu depan gua mau cari kerja ke Jakarta!”
“Emang mau kerja apa? Terus sekolah loe gimana? Tanggung, bentar lagi juga kan kelar.”
“gua mau jadi penyayi di terminal Pulo Gadung! hehehe… sayang kalo bakat gua gak tersalurkan. Masalah sekolah, gua dah males bro. uo…” Angga muntah.
“Terserah loe. Yang penting sekarang kita pulang sebelum loe ambruk. gua gak mau gendong loe.”

Bogor, Selas 18 September 2012, 00.13 WIB

Tokkk… tok… tok…
Terdengar ketukan keras di pintu rumah Angga. Lantas Mamanya Angga membuka pintu.
“Eh cewek mur*han, loe jangan ganggu suami gua ya. gua bunuh baru tahu rasa loe!” ancam seorang wanita pada Mamahnya Angga.
“Maaf mba, mba siapa ya?” Mamahnya Angga bertanya.
“Dasar per*k murahan, belaga pilon lagi. Loe tahu, Andi itu suami gua! heran gua, apa sih bagusnya loe. Per*k. Miskin. cantikan gua kemana-mana!” cewek itu terus nyerocos tanpa memberi kesempatan Mamanya Angga berbicara.
“Eh per*k, ini ganjaran yang musti loe dapet. Rasa sakit ini belum seberapa dibanding rasa sakit yang gua rasain!“ Slep… slep… slep… cewek tadi menusukan benda berkilap ke perut Mamahnya Angga. Sekilas benda itu tampak seperti pisau.
“Mampus loe, makanya jangan suka ganggu suami orang.” cewek itu berkata dan kemudian lari dan menghilang di tikungan yang agak gelap.
Darah segar mengalir dari perut Mamanya angga. Merah, amis.
“Ang… ga, ma… ma… maafin Mamah. Ma… mah sayang ka… kamu nak!“ Sang Mama bergumam dan akhirnya menutup mata.

Bogor, Rumah Sakit PMI, Selasa 18 September 2012, 01.35 WIB

Aku tak akan berhenti mencintai dan menyayangimu… hingga matahari tak terbit lagi… bahkan bila aku mati… ku kan berdoa pada Ilahi… tuk satukan kami… di surga nanti. Hp Jun berdering pertanda ada panggilan masuk.
“Halo… ini dari siapa ya?” tanya Jun.
“Ini dari Rumah Sakit PMI Bogor. Ini benar dengan Bapak Jun?” jawab suara di seberang.
“Ti saha Jun (dari siapa Jun)?” Angga bertanya.
“Dari RS PMI Ga. Hik… hik… Abang gua kecelakaan mungkin, dia belon pulang dua hari ini. Loe sendiri pan tau badungnya dia.” jawab Jun sambil menangis.
“Maaf Pak, bukan abang Bapak yang kecelakaan.!” suara di seberang berbicara lagi.
“Alhamdulillah, terus Mba ada apa ya kok telepon? Saya heran? Lagian kalau mau minta darah saya, kok malem-malem?” Jun sedikit lega tapi semakin heran.
“Bapak benar temanya Bapak Angga? Dan apa Bapak tahu keberadaan beliau sekarang di mana?”
“Ditanya kok malah balik nanya sih Mba. Hmmm… saya temannya, dan Angga ada di samping saya saat ini!”
“Bisa bicara dengan Bapak Angganya?”.
Jun memberikan ponsel centernya (ponsel senter = ponsel Nokia) pada Angga.
“Ya, saya Angga, ada apa ya?”
“Maaf sebelumnya Pak Angga, saat ini, Ibu Pak Angga sedang berada di IGD. Harap bapak segera datang ke Rumah Sakit.”
Tanpa sadar Angga menjatuhkan Hp, jantungnya berdebar kencang, lututnya lemas.
“Ga, loe kenapa sih? kaya kesambet. Kalo dapet kerjaan gak segitunya juga kali, maen jatuh-jatuhin Hp orang aja. gua gak mau tahu, loe harus ganti pas gajian pertama nanti. Btw selamat bro, gua turut senang…!” Jun kemudian menyalami sahabatnya itu.
“Mamah…!” Angga berteriak kemudian lari masuk angkot. Sementara Jun mematung sesaat tak mengerti. Tanpa pikir panjang, Jun mengikuti angkot yang dinaiki Angga.

Bogor, Rumah Sakit PMI, Selasa 18 September 2012, 03.55 WIB

“Ga, gua dan Iwan turut berduka cita. Iwan juga minta maaf atas kejadian tempo hari. Ga… loe gak sendiri, loe masih punya kita-kita. Ikhlasin nyokap loe pergi. Biar beliau tenang.” hibur Jun.
“gua belum minta maaf Jun, gua gak ada di hari-hari terakhirnya. Seharusnya gua gak perlu ngelanjutin sekolah. Seharunya gua yang kerja. Seharusnya gua gak marahin dia. Seharusnya gua pulang malam itu dan larang mamah kerja lagi!” Angga menangis semakin menjadi. Iwan memeluk sahabatnya itu.

Bogor, TPU, Selasa 18 September 2012, 15.15 WIB

Di atas gundukan merah Angga menangis. Kejadian seminggu ini sungguh diluar perkiraanya. Tak terduga sama sekali. Semua serasa cepat. Semua pelayat satu persatu pulang. Ada yang merasa kasihan tapi banyak yang mencibir. Hati Angga benar-benar sakit dibuatnya. Dia merasa ditertawakan dunia dalam kesendirian dan dukanya. Kini hanya tinggal dia, Jun, Iwan dan Pak Haji Junaidi. Pak haji Junaidi mungkin satu-satunya tetangga yang memanusiakan keluarganya.

“Ga, Bapak mau bicara sebentar. Sudah saatnya kamu mengetahui apa yang selama ini Ibumu tutupi. Sebelumnya, kamu harus tahu dulu kalau Ibumu itu amat sangat mencintaimu. Memang dia menghidupimu dengan cara yang tidak baik. Tapi itu dia lakukan semata-mata hanya untuk kamu. Bapak juga mau minta maaf karena Bapak gak bisa bantu kalian terlalu banyak. Hidup ini memang keras. Terkadang sesuatu yang terlihat baik belum tentu baik. Begitupun sebaliknya. Kita ambil hikmahnya saja. Oh ya, hari minggu kemarin Ibumu titip pesan, dia ingin Bapak menyampaikan ini bila waktunya telah tepat. Dan mungkin ini saatnya. Ayah yang selama ini kamu selalu tanyakan ada di daerah Subang. Dia mandor di perkebunan teh. Namanya Warsita. Tinggal di desa Tambak Mekar, Kecamatan Jalan cagak. Kamu bukan anak haram karena kamu mempunyai Ayah dan Ibu. Hanya saja waktu itu status ibumu adalah istri sirih. Ibumu dinikahi karena Istri Ayahmu mandul. Hidup ini selalu ada hitam di atas putih. Perjanjian waktu itu adalah Pak Warsita dapat anak dan Ibumu dapat uang untuk melunasi hutang Kakekmu. Tapi ketika kamu lahir, Ibumu tak tega memberikan kamu kepada Pak Warsita. Dan pada akhirnya Ibumu lari ke Bogor, tanpa tujuan yang jelas. Bapak ketemu ibumu di terminal Barangsiang. Bapak membawanya ke kampung ini. dia menolak tinggal di rumah Bapak. Dia memilih mengontrak dan bekerja. Selama ia bekerja, Umi istri Bapak yang jagain kamu. Kami menganggap kalian adalah keluarga kami. Tapi sayang, sampai saat kejadian itu, kami belum pernah tahu pekerjaan apa yang dia lakoni. Sekarang, pergilah ke Subang. Temuai Ayahmu!” Pak Haji bercerita panjang lebar.

Angga tertegun, lagi-lagi kejutan. Entah kejutan baik atau buruk.
“Heh… Ayah? Angga lebih baik tidak tahu sama sekali soal dia, Pak. Mungkin dulu Angga merindukanya. Tapi saat ini, Angga benci dia. Dia penyebab utama kami hidup seperti ini!”
“Ga, tak ada manusia yang sempurna. Maafkan dia. Lagi pula, apa kamu mau terus hidup dalam bayang-bayang kebencian dan dendam? Apa untungnya? paling tidak, kamu harus melunasi hutang Ibumu padanya!”
“Hutang?” Angga berkerut.
“Ya, hutang. Kamu adalah hutang yang dibawa lari! kamu adalah sebuah janji. Penuhi janji Ibumu. Bukankah kamu sayang sama Ibumu?”
Angga berusaha mencerna apa yang dikatakan Pak Haji.
“Ya, pikir-pikirlah dulu. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi Bapak atau Umi. Rumah kami selalu terbuka untukmu! Bapak mau pulang dulu. Assalamualaikum!!!”
“Waalaikumsalam…“

Pak Haji pulang, disusul Jun dan Iwan. Kini tinggalah Angga sendiri. Menatap kosong gundukan tanah di depanya. Pikiranya melayang jauh ke suatu tempat.

Tiba-tiba air matanya kembali menetes.
“Mah, kini Angga tahu siapa Ayah Angga dan alasan Mamah menyembunyikan kebenaran itu. Maafkan Angga, karena pertanyaan-pertanyaan Angga bikin Mamah sakit. Kini, setelah Mamah tiada, Angga tak tahu harus kemana. Apakah tetap tinggal disini, atau memenuhi janji Mamah pada Pak Warsita. Oh ya, Angga pulang dulu. Semoga Mamah mendapat tempat terindah di sisi Tuhan. Amin. Angga janji, dimanapun Angga nanti, Angga akan selalu mengirim doa untuk Mamah. Assalamualaikum.”
Angga penrgi meninggalkan pemakaman. Tidak mudah baginya menerima semua kenyataan ini. kenyataan pahit. Ia menghapus air mata di pipinya.
“Angga akan menjadi lebih baik setelah ini Mah. Angga tak ingin Mamah menangis di alam sana. Mamah tidur yang tenang. Angga akan baik-baik saja!” gumamnya dalam hati.

End…

‘Sesuatu itu akan terasa berharga bila sudah tiada’. Itulah yang dirasakan oleh Angga, kehilangan seorang ibu yang amat mencintanya. Tapi apakah kita harus menyesal bila hal itu terjadi? jawabanya harus. Menyesal kemudian memperbaiki. Ikhlas dan menjadi lebih baik itu adalah kunci untuk menebusnya.

BONUS RENUNGAN
Sebuah lagu, By: Neno Warisma

Tak ada ibu, tak ada ibu
Yang bodoh di dunia ini
Walaupun ibu, walaupun ibu
Ada yang tidak bersekolah tinggi

Tak ada ibu, tak ada ibu
Yang tak punya hati nurani
Walaupun ibu, walaupun ibu
Ada sisi gelap yang tersembunyi

Tak ada ibu, tak ada ibu
Yang tak mengenal Tuhanya
Walaupun ibu, walaupun ibu
Dia belum betul-betul teguh beriman

Tak ada ibu, tak ada ibu
Yang tak kuat dan teguh
Walaupun ibu, walaupun ibu
Sesekali pasti dia mengeluh

Semua ibu, adalah bintang
Semua ibu, patut disayang
Semua ibu, pasti memberikan
Yang terbaik tuk generasi masa depan

Se Seleq, 19 september 2012, 21.27 WITA

Cerpen Karangan: Kang Zaen
Facebook: zaenudin_setiawan[-at-]yahoo.com

Cerpen Sebuah Penyesalan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabat

Oleh:
Hari ini hari terakhir Ospek di SMA 52 Bandung. SMA ini termasuk salah satu SMA favorit di Bandung. Awalnya gue nggak nyangka gue bisa masuk ke SMA ini. Karena

Kau dan Sahabatku

Oleh:
Namaku Cindy. Usiaku 19 tahun. Dan aku kuliah di salah satu Universitas yang ternama di Medan. Hari-hariku selalu ditemani rasa kerinduan kepada Rey, orang yang dulu pernah hampir saja

Kupu-Kupu di Dalam Hujan

Oleh:
Saat sebuah kasih sayang tak dapat dipisahkan, jarak dan waktu selalu memaksakannya. Ketika sebuah kasih sayang mulai pudar, jarak dan waktu juga yang selalu membuatnya kembali hidup dan datang.

Akhirnya ibu Sadar

Oleh:
Kata orang, Ibu adalah malaikat dalam hidupnya. Tapi, aku tidak percaya. Karena, itu tidak terjadi denganku. “Zara!! Di mana kamu!? Dasar anak br*ngsek!!”, teriak Ibu. Aku hanya bisa terdiam

Who Am I?

Oleh:
Namaku Alexa. Aku adalah seorang gadis berambut lurus yang aneh. Tampak dari luar, mungkin tampak biasa-biasa aja. Tetapi keanehanku bukan dari situ. Aku memiliki keluarga yang aneh. Entahlah, ayah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Sebuah Penyesalan”

  1. Kang Zaen says:

    Makasih udah nyempetin baca dan ninggalin jejak. Salam kenal. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *