Secangkir Cokelat Terakhir (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 29 September 2016

Pena-pena mungil milik gadis jelita ini mulai mengisi coretan kertas putih. Cahaya rembulan dan sang bintang pun terpancar hingga ke dalam sudut-sudut kamar melalui sela-sela jendela.

“Kapan kak Mawar bisa nerima Airin sebagai adiknya? Kapan ia akan memanggil Ai dengan sebutan dik? Kapan kakak bisa memelukku, mendorong kursi rodaku dan menikmati secangkir cokelat favoritku berdua.” Tulis Airin di diary hariannya.
Pertanyaan itulah yang selalu menghantui Airin setiap malam.

Kapan kak Mawar bisa manggil Ai dengan sebutan dik?
Kapan Ai bisa merasakan pelukan hangatnya?
Kapan dia bisa mendorong kursi roda Ai?
Kapan kita bisa menikmati cokelat bersama?

Sejak Airin dilahirkan di dunia ini, ia belum pernah melihat kakaknya tertawa untuknya, ketika balita pun kak Mawar selalu memusuhi Airin. Fikiran Airin mulai melayang ke 14 tahun yang lalu, ketika ia berumur 2 tahun dan kakak berumur 8 tahun.
“Aduh kak sakit kak.” Rintih Airin ketika kakinya terjepit di rantai sepeda yang dikayuh kak Mawar.
“Hahaha.. tahan ya anak pembawa sial, jangan kamu fikir kakak dengan senang hati membiarkanmu bermain bersama kakak.”
Apa? Jadi ternyata kakak pura-pura baik di depan bunda tadi hanya untuk mencelakaiku. Ya Tuhan tolong Airin. Batin Airin sambil melihat darah ke luar memancar deras dari kakinya.

“Bunda, aku gak mau ribut sama bunda cuma gara-gara anak pembawa sial itu.”
Suara teriakan Mawar membuat hati Airin bagai tertusuk seribu pedang, matanya mulai berkaca-kaca, hatinya rapuh bila kakaknya selalu menyebutnya sebagai anak pembawa sial, padahal ia tidak pernah tau apa salahnya selama ini.
“Gak. Dia itu gak bisa ngembaliin semua, dia itu anak pembawa sial, bunda lupa gara-gara dia, kita kehilangan ayah dan kehidupan bahagiaku.”
Hati Airin semakin tertusuk rasanya, bulir-bulir putih itu sudah menggenangi pipinya sejak tadi, sejak keributan antara ibu dan kakaknya.
“Lihat saja bun, semenjak ada dia kita selalu aja ribut, itu karena dia, kita ribut karena anak pembawa sial itu.” Terdengar suara Mawar membentak.
Plak… suara tamparan keras mulai terdengar, dan disertai isak tangis Mawar dari luar kamar.

Airin membawa kursi rodanya ke luar kamar, ia berjuang sekuat tenaga hingga mencapai ruang tengah, dimana keributan terjadi.
“Pergi kamu! Kamu bukan anak bunda, kamu…” terputus,
“Airin.” Toleh bunda tersentak melihat Airin berdiri disana, menyaksikan kakak dan ibunya bertengkar itu.
Ya Allah, Airin.. kenapa kamu disini? Ya Tuhan, kuatkanlah hatinya agar bisa menerima semua ini, dan berikanlah hidayah pada Mawarku. Mawar yang sudah layu sejak lahirnya Airin yang menggantikannya. Batin bunda.

Brak… suara pintu tertutup keras membuyarkan lamunan bunda dan juga Airin.
“Kakak?” Airin mengayuhkan kursi rodanya ke pintu kemar Mawar.
“Kakak. Kak. Buka kak!”
“Airin. Sayang ini…”
“Ai kecewa sama bunda, kenapa bunda memarahi kak Mawar, kak Mawar itu baru saja pulang dari kampus bun, dia juga pasti cape.” Kata Airin sembari meninggalkan bunda menuju kamarnya.

Byur… air sedingin es itu membasahi wajah gadis yang tengah lelap tertidur ini, seketika mata indahnya terbuka, dan ia kaget mendapati sosok kakaknya yang menyiramnya menggunakan gayung.
“Enak tidurnya? Puas.” Bentak Mawar sambil melotot.
“Kak Mawar?” Airin bangun dari ranjangnya dan terduduk meraih kursi rodanya.
Dak.. kaki jenjang milik Mawar mendorong kursi roda itu hingga menjauh dari tubuh Airin, padahal ketika itu Airin sudah siap untuk mendudukinya, akhirnya tubuh Airin pun jatuh terduduk di atas lantai membuat tulang pinggangnya benar-benar terasa hancur, belum lagi kakinya yang terpaksa membentur lantai, membuat kaki itu kaku dan tidak bisa bergerak.
“Gimana? Sakit?” tanya Mawar mengangkat satu alisnya, bulir-bulir putih di wajah Airin pun mulai mengalir deras, Airin sudah tidak sanggup berbicara apa-apa, ia merasa kakinya sudah remuk saat ini.
“Ini belum seberapa anak pembawa sial, ini hanya untuk tamparan bunda kemaren, belum ketika bunda memarahiku, mencaciku, menusuk hatiku,”
“Belum juga atas kepergian ayah.” Lanjutnya tersenyum evil.
“Kak. Airin minta maaf kak, Airin bingung selama ini, apa salah Airin kak?”
“Salahmu,”
“Banyak. Udah membuat ayah pergi, udah merenggut kebahagiaan masa kecilku, udah membuat bunda membenciku, udah mengalihkan perhatian bunda dariku, udah merenggut semua yang ku,”
“Dan masih banyak, dan aku gak akan nyebutin sekarang karena apa? Karena udah gak ada waktu buat si anak pembawa sial bahagia.”
Setelah berkata seperti itu Mawar mulai menarik rambut Airin, ia menyeret tubuh Airin hingga sampai di kamar mandi. Untunglah rumah mereka sangat kecil, hingga jarak kamar Airin ke kamar mandi hanya sedikit.

Byur… Mawar mulai menyiram Airin dengan gayung di kamar mandi, Airin hanya diam ketakutan tak berdaya, dia mengigit bibir bawahnya tajam dan tubuhnya ikut bergetar karena kedinginan.
“Ini untuk rentetan cacian bunda kemarin, dan itu masih belum cukup, masih membekas di hatiku.”
Byur… Hingga pada siraman selanjutnya sesuatu telah menarik tubuh Mawar hingga terdorong ke belakang, ke luar dari kamar mandi, dan ternyata itu adalah bundanya.
“Bunda.” Lirih Mawar, Mawar pun segera berlari ke kamarnya sendiri.
“Bunda.. hiks.. hiks..” tangis Airin ketika sudah mendapati bundanya, Airin memeluk bunda erat-erat, begitu pun dengan bundanya.
“Ai. Sayang. Ai kedinginan? Sudah ya, Ai nggak usah takut, bunda ada disini.”
“Hiks.. hiks.. bunda..” Airin semakin mempererat pelukannya.
“Sayang, bunda akan membuatkan surat untuk kamu libur hari ini ya!”
“Ti.. tidak bun, Ai harus ikut acara perpisahan angkatan Airin.”
“Tapi Airin, keadaanmu tidak baik.”
“Bunda.”
“Kamu yakin?” jemari ibunda mengusap pipi bekas air mata anaknya itu. Airin mengangguk mantap.
“Mandi dan bersiaplah! Bunda akan mengantarmu.”
“Terima kasih bun.”

Setelah peristiwa tadi pagi, Airin jadi kepikiran terus sehingga ia tidak bisa konsentrasi dengan panggung perpisahan di depannya ini, ya hari ini adalah hari perpisahan angkatan Airin dari kelas tiga SMA.
“Baiklah, pengumuman selanjutnya, tentang murid teladan dan perolehan nilai rapor tertinggi selama tiga tahun terakhir adalah.. diraih oleh… Airin Arose Septianti.” Suara gemuruh tepuk tangan mulai terdengar, satu dua tiga detik lamanya Airin tersadar dari apa yang dilihatnya.
“Bunda, Airin bun.”
“Iya kamu sayang.” Airin pun berpelukan dengan bunda dan juga linangan air matanya.
Mereka pun maju ke panggung.

“Piala ini Ai persembahin buat bunda, juga buat kak Mawar yang selalu Ai tunggu dan juga untuk ayah dan kakak Ai, Ai ingin membuat kalian bangga sama Ai. Ai yakin suatu saat nanti kita bisa bersama lagi.” Semua yang ada disana terenyuh dengan keadaan Airin.

Setelah Airin dan bunda maju ke atas panggung, tak berapa lama Airin pergi sebentar ke depan lab IPA.
“Airin.” Kata seseorang di lab.
“Arsy. Ngapain gak ada di acara?”
“Lagi benahin lab nih, sayang gue mau cabut dari nih sekolah.”
“Hahahaha.. oh ya liat ini.” Airin memperlihatkan pialanya.
“Lo jadi murid teladan? Queen of the besting angkatan kita?” Airin mengangguk senang, Arsy pun lalu memeluk sahabatnya itu, ya mereka adalah dua orang tak terpisahkan.
“Selamat ya Ai. Selamat.” Kedua bola mata Airin pun berkaca-kaca.
“Ini juga berkat bantuan Arsy, Arsy udah mau selalu ada buat Ai.”
“Kan kita sahabat?”
“Ya kita sahabat.” Mereka pun berpelukan lagi.

Tiba-tiba Airin melihat sekelebat bayangan dari ruangan sebelah lab. Ya, di ruangan TIK, Ai segera melihatnya dari jendela, jendela itu memang dibuat rendah supaya komputer yang berjajar rapi terlihat.
“Kak Seto.” Lirih Airin.
“Kenapa?” tanya Arsy.
“Itu pacarnya Clara?”
“Iya, kak Seto, mahasiswa UGM,” Airin semakin tercengang.
“Lo kenal?”
“Di.. dia pacar kakak Ai.”
“Hah? Pacar? Ayo cepat kita bongkar kejelekan si muka belang itu.”
“Nggak usah, kita ke rumah Ai aja, biar Ai bicara sama kak Mawar.”

Airin dan Arsy pun pergi ke rumah Airin akhirnya, beruntung hari ini Mawar ada di rumah, karena tidak ada jam kuliah dan Seto yang sedang menemani si Clara.
“Kak. Kak Mawar.” Ketuk Airin di pintu.
“Lo yakin?” bisik Arsy.
“Arsy di luar aja ya! Biar Ai bicara sama kakak.”

bersambung

Cerpen Karangan: Aulia Taureza
Facebook: Ataureza Aulia
Chat fb aku atau email aja ya!
dengan senang hati menerima kritik dan saran yang membangun 🙂
terima kasih..

Cerpen Secangkir Cokelat Terakhir (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Journey of Life

Oleh:
Terkadang kita menanyakan apa itu perjalanan hidup, sebagian orang mengatakan bahwa jalan hidup itu adalah sebuah perjuangan tanpa henti namun ada juga yg mengatakan perjalanan hidup adalah sebuah takdir!

Satu Jam

Oleh:
Hiduplah seorang anak dan ibunya di dalam rumah yang miskin. Bapak mereka telah lama mati. Kini tinggalah mereka berdua. Sehari hari sang ibu sibuk mengurus pekerjaan dan rumahnya, dan

Smile

Oleh:
Tersenyum adalah cara termudah untuk bahagia. Aku mengerti konsep itu. Hanya butuh sedikit tarikan simpul manis dari sudut bibirmu dan dunia akan menjadi sedikit lebih indah. Yang tak ku

Rinay Sahabat Ku

Oleh:
Pagi ini aku berjalan pelan menuju kelasku. Oh ya, namaku Dinda Syahira. Aku punya sahabat. Sahabatku bernama Rinay. “Dinda! Cepat sini!! Ini penting!!” teriak Rinay saat aku sudah berada

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *